Pada saat sekarang ini banyak sekali fenomena fenomena yang membuat hati kita terusik dengan menyaksikan siaran televisi, bagaimana tidak banyak sekali acara televisi yang tidak sedikitpun memberikan edukasi bagi penikmat nya terlebih kepada anak-anak, hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang paling utama adalah faktor pengaruh budaya asing yang sudah menjelma menjadi kekuatan tersendiri bagi sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Fenomena ini tidak bisa kita biarkan terus menerus, selaian dapat merusak bahkan menghilangkan nilai-nilai kebudayaan bangsa indonesia juga akan berdampak sangat buruk bagi perkembangan moral dan mental generasi penerus bangsa, tidak ada yang bisa menjaga semua pengaruh yang masuk kedalam alam pikiran anak-anak kita selain kita sebagai orang tua dan para guru.
Untuk itu peran penanaman pendidikan agama sangat di butuhkan, agar dapat mengembalikan akar budaya budi pekerti bangsa Indonesia yang di amanatkan oleh UUD 45, ya kita harus sadar bahwa para pejuang mengiginkan kita semua meneruskan perjuangan mereka untuk menjadi bangsa yang tidak di jajah lagi, bangsa yang mandiri, bangsa yang besar. namun dengan fenomena yang ada pada saat sekarang ini kita merasakan hal yang pesimis terhadap cita-cita para pejuang kita, alangkah durhaka nya kita ketika kita mengkhianati amanat yang telah diperjuangkan oleh para pejuang kita.
Untuk membentuk suatu bangsa yang hebat tentu diperlukan sumber daya manusia yang kuat pula, lalu sudah seberapa kuat kah kita untuk membawa bangsa ini menjadi besar dan hebat, kita semua sudah hebat dan kuat untuk bersaing dengan negara luar, sudah banyak yang membuktikan dari segi keilmuan apapun kita bisa bersaing denga amerika, cina, jepang, arab, lalu kenapa bangsa kita tetap seperti ini dan malah nyaris 'oleng' dan tidak terperdaya dengan keadaan saat ini, korupsi merajalela, narkoba dimana mana, asusila tidak mengenal usia, semua hal-hal negatif selalu tersaji dan menjadi topik hangat di media.
Tidak bosankah kita melihat berita yang menyayat nyayat hati, tidak muak kah kita dengan keadaan ini, lalu siapa yang harus disalahkan dengan keadaan ini, ya yang patut disalahkan tentunya kita semua, karena kita tidak bisa mewarisi amanat para pejuang kita, dengan apa dan siapa yang akan merubah keadaan bangsa ini, ya tentu kita semua warga negara Indonesia.
Disinilah peran pendidikan agama untuk anak-anak mulai sedini mungkin perlu di terapkan hal ini dimaksudkan agar membentuk karakter dan mental anak yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab dengan apa yang terjadi sebelum nya, dengan pendidikan anak dari usia dini nilai nilai religius sangat dirasakan dan mulai membentuk kepribadian anak-anak bangsa. manusia modern saat ini seakan-akan mengabaikan dan memandang sebelah mata pendidikan agama, padahal pendidikan agama yang baik dan benar lah yang akan membentuk karakter anak-anak sejak usia dini secara otomatis juga pasti akan membentuk moral dan mental bangsa ini ke arah yang lebih baik. kita semua berharap perubahan yang nyata terjadi pada bangsa ini.
Di provinsi Jambi sendiri pendidikan agama sudah di terapkan bahkan Gubernur Jambi Hasan basri agus telah mewacanakan anak-anak yang masuk ketingkat sekolah menengah wajib bisa membaca al-qur'an hal ini tentu sudah menjelaskan betapa peduli nya pemerintah Provinsi jambi dalam menanam nilai-nilai keagamaan terhadap para generasi penerus bangsa, bukan hanya itu langkah pemprov jambi dalam mendidik anak bangsa dengan penanaman nilai-nilai agama juga di terapkan pada cara berpakaian anak-anak sekolah khususnya siswi agar menutup aurat nya dalam mengguanakan seragam sekolah, semoga dengan cara-cara sperti ini negara kita nantinya menghasilkan para pemimpin yang mempunyai moral, mental yang berkarakter sesuai dengan cita-cita para pejuang kita.
Setelah menyaksikan film Sokola Rimba berdurasi 90 menit di bioskop. diharapkan kita dapat mengambil pelajaran dan lebih menghargai lagi terhadap sesama khusus nya di dunia pendidikan, tidak mengenal apa, siapa dan darimana kita beraasal, setiap manusia layak mendapatkan pendidikan. Film yang diangkat dari kisah nyata Saur Marlina “Butet” Manurung yang mengajar anak-anak rimba di hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Kisah itu diterbitkan Butet dalam buku berjudul Sokola Rimba.
Ketika duet Riri Riza dan Mira Lesmana mengangkatnya ke layar lebar, banyak orang berharap mereka mengulang sukses mengangkat kisah anak-anak Belitong dari novelLaskar Pelangi. Sokola Rimba merupakan film keempat yang mereka adaptasi dari buku, setelah Gie (2005) yang dibuat berdasarkan buku Catatan Seorang Demonstrankarya So Hok Gie (1983), serta Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009) dari novel karya Andrea Hirata.
Tokoh Butet diperankan Prisia Nasution. Seperti Laskar Pelangi, Riri kembali melibatkan orang lokal dalam filmnya kali ini. Mereka adalah Nyungsang Bungo, Beindah, dan Nengkabau, serta dibantu sekitar 80 anak rimba yang berasal dari pedalaman hutan Bukit Dua Belas. Meski bukan aktor profesional, Riri mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mengarahkan peran mereka.
Sang produser, Mira Lesmana mengatakan film yang memakan waktu 14 hari syuting itu menelan biaya sebesar Rp 4,6 miliar. Selain melibatkan 80 orang kru Orang Rimba, film ini juga melibatkan 35 kru film dari Jakarta, 15 kru dari Jambi. Syuting film 95 persen di Provinsi Jambi yakni di Kabupaten Merangin dan Tebo.
Orang Rimba adalah masyarakat adat yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah di pedalaman Jambi. Dengan memegang teguh adat-istiadat, mereka mencoba bertahan meski tanah tempat mereka berdiam tak serimbun dulu. Binatang buruan semakin langka. Orang-orang Rimba hanya bisa menatap ketika satu per satu pohon madu raksasa yang selama ini mereka keramatkan roboh dihajar gergaji mesin.
Segulung kertas berisi surat perjanjian yang kadung diberi cap jempol oleh kepala adat membuat mereka tak berdaya. Surat yang tak pernah mereka ketahui isinya lantaran mereka buta huruf itu jadi tameng bagi orang terang – sebutan bagi orang kota – untuk mengeksploitasi tanah leluhur mereka.
Butet, yang lahir pada 1972, bertekad membuat masyarakat Rimba menjadi pintar supaya tak gampang dibodohi. Tak sekedar membuat mereka melek huruf dan bisa berhitung. Dia juga menyelenggarakan pendidikan yang membuat Orang Rimba bisa “bersuara” dan memberdayakan diri. Tentu itu tak mudah. Bagi Orang Rimba, pendidikan merupakan hal tabu dan melanggar adat mereka. Butet tak pernah menyerah.
Tentu tak semua pengalaman Butet yang kaya warna di bukunya setebal 348 halaman itu divisualkan. Ada keterbatasan durasi. Inti film berpijak pada tokoh Butet dan Nyungsang Bungo, anak Rimba yang tinggal di Hilir Sungai Makekal. Dia adalah remaja cerdas dan serius ingin belajar. Dari Nyungsang inilah konflik dibangun.
Film ini diawali saat Butet, yang telah tiga tahun mengajar anak Rimba di hilir Sungai Makekal Ulu, terserang malaria. Dia pingsan di tepi sungai di tengah belantara dan ditolong seorang anak Rimba dari hilir. Inilah pertemuan awal Butet dan Nyungsang.
Nyungsang diam-diam memperhatikan Butet mengajar. Keinginan kuat untuk bisa membaca dan menulis mendorong Butet memperluas wilayah kerjanya ke hilir Sungai Makekal, tempat tinggal Nyungsang. Muncul masalah. Tidak hanya memanaskan hubungan Butet dengan atasannya. Butet juga mesti berhadapan dengan sikap sinis orang-orang Rimba di hilir yang menentang kehadirannya.
Butet diceritakan sebagai pekerja di Wanaraya, sebuah lembaga konservasi yang memberikan pendidikan alternatif bagi anak rimba. Tanpa disangka, perkelanaan Butet di tengah rimba itu berkembang menjadi tak sebatas kewajiban semata. Dia malah menjadi ‘abdi’ bagi ratusan anak rimba.
Dalam sebuah adegan tergambar ketegangan pecah. Menggetarkan wilayah rombong(kelompok) Tumenggung (tetua) Belaman Badai. Nyungsang bergegas menyongsongsusudungan (pondok kecil) di jantung hutan Bukit Dua Belas, Jambi. Dengan wajah gusar, ia meluapkan kemarahan. ”Ke mano Bu Guru Butet pegi? Akeh ndok bolajor pado Bu Guru,” ujar Nyungsang meradang.
Anggota Orang Rimba yang masih remaja ini tidak bisa merima sikap Tumenggung Badai yang mengusir secara halus sang ibu guru. Dalam adat Orang Rimba, belajar atau sokola adalah pantangan. Mereka yakin, sokola akan mendatangkan bala, kutukan, bahkan kematian.
Bungo lari dari rombong-nya. Diam-diam ia menyusuri hutan demi ikut sokola. Di tangannya sudah ada pensil dan buku. Tapi masih saja ia ragu mengutarakan niat ingin belajar. Tekadnya itu dipantang oleh hukum adat. ”Bungo, ayo bolajor,” suara lirih Guru Butet mengajaknya bergabung belajar bersama anak rimba lainnya. Butet sadar dilema dalam diri Bungo yang terlanjur mencintai sokola, tapi juga terlahir untuk mencintai adat, kaum, dan tanah pusakanya.
Potret kehidupan Orang Rimba tersaji apik dalam film ini. Mulai dari kondisi hutan Orang Rimba yang dikepung kelapa sawit, gelondongan-gelondongan kayu bergelimpangan di sana-sini, hasil buruan yang makin berkurang seiring dengan masifnya pembabatan hutan, sampai pada transaksi ekonomi di pasar yang kerap menipu orang-orang rimba.
Riri mengungkapkan, agar bisa mendapat gambaran utuh tentang kehidupan Orang Rimba, ia dan timnya riset turun ke lapangan sebelum memulai rangkaian proses pengambilan gambar. Mereka tinggal berhari-hari di dalam hutan, merasakan hidup bersama Orang Rimba. Mira Lesmana, produser Sokola Rimba, mengaku sudah lama mengenal dan kagum pada sosok Butet Manurung. ”Ada perempuan yang mau tinggalkan kehidupannya di kota demi mengajar Suku Anak Dalam,” katanya.
Berbeda dengan novel Laskar Pelangi, buku Sokola Rimba bukanlah fiksi, yang semua adegan dan deskripsinya sudah tersaji. Dramatisasi juga tidak ada. Artinya Riri mesti membuat sendiri pengadeganannya agar muncul cerita. Di banyak tempat, Prisia Nasution yang memerankan Butet terdengar “berceramah”, menarasikan apa yang seharusnya diadegankan.
Pada tayangan premier 21 November 2013 lalu, Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) memborong 700 tiket empat teater bioskop 21 WTC, Jambi. Hasan Basri, Riri Riza, Butet Manurung, Prisia Nasution bersama kru film Sokola serta 568 siswa SD dan SMP yang ada di Kota Jambi cukup antusias menonton bareng.
Kepala Biro Humas Pemprov Jambi, Rahmad Hidayat berpendapat menonton Sokola Rimba sepertimenonton film dokumenter National Geographic. Namun kata Rahmad, bagaimanapun juga film sarat pesan dan dapat memberi gambaran secara utuh kehidupan sehari-hari Orang Rimba. “Pak Gubernur juga bilang bahwa belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja, termasuk di hutan. Ayo generasi muda rajinlah belajar. Film ini jelas memotivasi kita,” kata Rahmad kepada Mongabay Indonesia.
Sebagai sebuah film cerita, Sokola Rimba memang memasukkan tokoh rekaan dan dramatisasi. Tapi itu tak membuat Riri menghilangkan narasi. Dia mungkin punya alasan lain. Dengan membuatnya seperti film dokumenter, kita justru bisa melihat kehidupan anak Rimba yang natural. Misalnya cara mereka bicara, berpakaian, berburu, dan berhubungan dengan orang lain, hingga ritual adat. Apa yang mereka ungkapkan dalam film terasa betul murni dari hati.
Butet sampai mendidik Orang Rimba itu karena bekerja untuk Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi sejak 1999 hingga 2003. Setelah Butet resign, dia mendirikan SOKOLA RIMBA – sebuah lembaga yang concern di bidang pendidikan dan belakangan menyebar hingga ke Makasar, Aceh, Papua, dan Kupang.
Sayang pihak KKI Warsi belum satu orang pun yang menonton film Sokola Rimbasehingga belum bisa berkomentar atas film itu. “Saya belum tahu jika film itu sudah beredar. Bagaimanapun karya seni harus diapreasiasi. Karya seni ya karya seni,” kata Rakhmat Hidayat, Direktur KKI WARSI kepada Mongabay Indonesia.
Dewi, seorang guru yang ikut nonton bareng juga berkata bahwa film tersebut sangat bagus dan mendidik serta banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik. “Filmnya luar bisa bagus. Yang paling berkesan yaitu seorang guru yang mengajar anak Rimba yang awalnya sama sekali tidak mengenal baca tulis. Akhirnya mereka bisa membaca dan menulis. Itu pesan penting bagi kalangan guru agar tanpa pamrih mendidik anak muridnya,” kata guru SMP ini.
Beindah dan Nengkabau mampu mencuri perhatian penonton lewat tingkah polahnya yang mengundang tawa. Terlebih umpatan mereka,”rajo penyakit” dan “melawon”. Seusai menonton, para siswa masih saja tertawa teringat dengan dua kata tersebut.
Sumber : di ambil dari berbaagai sumber ( mongobay.co.id )
Jambi memiliki motto “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” yang diangkat dari khasanah lama dan mempunyai arti kebesaran wilayah Jambi. Luas wilayah Provinsi Jambi tercatat 50.160,05 km2, yang terbagi atas 9 (sembilan) kabupaten dan 2 (dua) kota. Salah satu kabupaten yang terdapat di Jambi adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan ibukotanya Muara Sabak. Jarak dari Kota Jambi yang merupakan ibukota provinsi ke kota Muara Sabak yaitu 129,44 km. Jarak tersebut dapat ditempuh dengan waktu satu setengah jam memakai kendaraan roda empat atau mobil dan kurang lebih dua jam dengan menggunakan roda dua atau motor. Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki luas wilayah 5.445,00 km2 dengan jumlah penduduk 213.781 jiwa dan kepadatan penduduk mencapai 39,26 orang/km2. Penduduk terbanyak berdomisili di sekitar kota Muara Sabak yang merupakan pusat kota, pusat pemerintahan, pusat perekonomian dan perdagangan, serta pusat pendidikan. Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang memiliki wilayah cukup luas serta memiliki potensi alam yang besar. hal ini, memberi peluang pada para pendatang untuk bermukim di daerah tersebut. Oleh sebab itu, selain suku-suku bangsa penduduk asli Jambi yaitu sukubangsa Melayu Jambi, ada pula orang-orang dari sukubangsa lain yang menetap, diantaranya adalah sukubangsa Palembang, Jawa, Minang, Bugis, dan Banjar. Disamping itu, terdapat pula golongan penduduk pendatang keturunan asing seperti Cina, Arab, dan India. Percampuran antara penduduk asli Jambi dan kaum pendatang menyebabkan percampuran budaya diantara para penduduknya. Namun demikian, budaya dan tradisi Jambi sampai saat ini masih lestari dan dikembangkan. Dewasa ini kebudayaan daerah semakin berkembang dengan tidak meninggalkan pakem tradisi lama. kebudayaan daerah yang menjadi dasar dari kebudayaan nasional terus dikembangkan untuk menunjukkan jati diri bangsa dan memupuk rasa persatuan. Untuk itu, pelestarian dan pengembangan tradisi daerah menjadi hal yang penting dalam pembinaan kebudayaan. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau yang wilayah kerjanya mencakup empat provinsi yaitu Provinsi Kepulauan Riau, Riau, Jambi, dan Bangka Belitung memandang perlu untuk menginformasikan budaya yang ada di setiap daerah yang menjadi cakupannya, agar masyarakat pendudukung budaya setempat lebih memahami dan mencintai budaya warisan leluhur. Seperti diketahui, kebudayaan mencakup semua sisi kehidupan antara lain pemerintahan, ekonomi, perdagangan, pendidikan, religi, dan budaya termasuk kesenian. Demikian pula kesenian yang berkembang di wilayah Muara Sabak, Tanjung Jabung Timur. Para seniman dan budayawan setempat yang bermitra dengan instansi terkait berusaha melestarikan dan mengembangkan budaya setempat. Dari sekian banyak budaya Jambi, kesenian tradisional maupun modern paling banyak diminati oleh pendukung kebudayaan. Salah satu kesenian tradisi yang masih bertahan di daerah Muara Sabak adalah Bangsawan yang merupakan teater rakyat. Jenis kesenian ini dapat ditemui di Kecamatan Muara Sabak Timur. Sesuai dengan namanya “Bangsawan” maka pertunjukkan ini berceritera tentang kehidupan istana. Menurut informan yang menggeluti pertunjukkan Bangsawan, teater rakyat ini dikenal dengan nama “Panggung Bangsawan” karena setiap pertunjukkan menggunakan media panggung dan bercerita tentang kehidupan di sekitar istana yang menyajikan kisah seribu satu malam atau “sahibul hikayat” demikian mereka menyebutnya. Asal-usul panggung bangsawan sendiri tidak diketahui dengan pasti, namun demikian karena memakai cerita seribu satu malam sebagai lakonan dalam setiap pementasannya, maka dapat diketahui bahwa kesenian ini kemungkinan masuk ke Jambi bersamaan dengan penyebaran agama Islam. Biasanya para penyebar agama menyisipkan syiar-syiar Islam dalam cerita atau lakon bangsawan. Sampai saat ini, panggung bangsawan masih memainkan peranan sebagai media informasi dari pemerintah kepada masyarakat misalnya dalam menyampaikan pesan untuk berkeluarga berencana, memelihara kebersihan lingkungan, bahkan pemilihan umum (pemilu), dapat disampaikan secara luwes oleh para pemainnya. Panggung Bangsawan merupakan teater rakyat yang memadukan unsur-unsur cerita, nyanyi, dan tari.
Panggung Bangsawan dimainkan oleh kurang lebih 13 orang sebagai pelakon yang terdiri atas peran seorang raja, seorang permaisuri, seorang putera mahkota, seorang puteri raja, seorang perdana menteri, seorang khadam, dan dua orang pengawal. pemain yang lain bertugas untuk inang dayang dan penari. Selain pelakon juga ada empat orang pemain musik yang memainkan alat berupa biola, accordion, gendang, dan gong atau tawak-tawak. Untuk pemeran khadam, bertugas sebagai juru bicara kerajaan sekaligus penghibur keluarga istana. Keluarnya pemeran ini paling dinanti oleh para penonton, karena kekocakannya dalam menyusun kata-kata sehingga mengusir kebosanan penonton dari keseriusan cerita yang disuguhkan. Peran khadam dalam setiap cerita dapat dikatakan sebagai peran utama dibandingkan dengan peran-peran yang lainnya. Durasi pementasan panggung bangsawan pada zaman dahulu dapat menghabiskan waktu semalaman yaitu dari selepas isya sampai hampir waktu shubuh. Pada masa kini, waktu yang dibutuhkan untuk sekali pementasan tidak kurang hanya satu jam saja. menurut mereka hal ini disesuaikan dengan kebutuhan atau alokasi waktu yang diberikan dalam setiap kali pentas (nampil: mereka menyebutnya demikian). Pada umumnya untuk memahami cerita-cerita Panggung Bangsawan, dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai sumber melalui medium penyampaiannya. Pertama, melalui teks tulisan baik berupa Hikayat, Syair, ataupun naskah Sejarah Melayu. Kedua, melalui teks lisan berupa Cerita Rakyat, Legenda, Mitologi yang disampaikan oleh penutur atau tukang cerita. Ketiga, melalui proses pemanggungan berupa teks pertunjukan di atas panggung. Ketiga medium tersebut masing-masing memiliki perbedaan, tetapi yang lebih penting, semuanya berhubungan dengan audien yaitu publik pembaca atau pendengar atau penonton. Apabila berhubungan dengan publik, mau tidak mau publik tersebut dapat memberikan makna atau reaksi terhadap apa yang dihadapinya, baik secara spontan maupun melalui proses pentahapan. Reaksi yang cepat atau bisa disebut juga tanggapan, dapat bersifat pasif dan dapat pula bersifat aktif. Dikatakan pasif, apabila seorang pembaca, pendengar atau penonton dapat memahami suatu teks hanya dengan melihat hakekat estetika saja. Sedangkan dikatakan aktif, jikalau seorang pembaca, pendengar atau penonton dapat melihat bagaimana merealisasikannya (Junus, 1985). Hal ini berarti mengkaji teks pertunjukan dapat mencakup relasi antara penonton dengan teks pertunjukan yang disaksikannya. Pada kenyataannya, sekarang, panggung bangsawan sangat jarang “nampil” karena masyarakat pendukungnya kurang mengapresiasi teater rakyat tersebut. Pementasan panggung bangsawan menggunakan sebuah panggung untuk para pelakon bermain. ukuran panggung tidak ada ketentuan baku. Di bagian belakang dipasang tirai atau layar yang akan diganti setiap tukar adegan, misalnya ketika para pelakon sedang beradegan di istana, maka layar akan menunjukkan suasana istana atau ketika para pemeran sedang ada di hutan layarnya pun harus disesuaikan dengan suasana di dalam hutan, dan seterusnya. Pertunjukan yang disebut Rampai Cerita Wayang Bangsawan dipentaskan oleh beberapa Panggung Bangsawan di tanah Melayu. Di sini akan diperlihatkan bagaimana seorang sutradara dengan latar belakang sosial budayanya mementaskan Hikayat, Cerita Rakyat, Legenda, dan lainnya supaya memenuhi harapan penontonnya yang multietnis dan multikulutur. Di daerah ini, hikayat dan legenda diyakini penduduknya sebagai cerita sejarah dan dianggap sakral oleh para pendukungnya. Selain itu, dalam rampai ini merupakan ringkasan cerita yang akan memperlihatkan bagaimana sang sutradara mewujudkan teks pertunjukan untuk mengubah resepsi hikayat kepada para penontonnya. Hikayat dan legenda adalah suatu cerita yang mencerminkan sikap kesetiaan penduduknya kepada khasanah budaya, sebagaimana hasil karya sastra lama yang masih terpelihara hingga saat ini (Sudjiman, 1995). Hasil karya tersebut tidak menyebutkan nama pengarangnya dan tahun berapa ia dikarang. Kalau jaman dulu Panggung Bangsawan dapat dimainkan selama 5 jam atau lebih, pada saat ini sering dikemas menjadi 2 jam untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu, hikayat atau legenda tertentu yang dipentaskan telah disempitkan latarnya dan jumlah tokohnya diperkecil disesuaikan dengan jumlah pem”babak”-an dalam penyajiannya. Menurut Syam Rusli yang masih setia menggeluti panggung bangsawan, hanya sesekali saja mereka dapat menampilkan kesenian ini. Berbeda dengan masa dahulu, panggung bangsawan akan tampil hampir di setiap pesta atau kenduri yang diadakan masyarakat setempat seperti pada acara perkawinan maupun khitanan. Pada masa kini, paling mereka hanya diminta oleh instansi terkait untuk pementasan di festival-festival atau mengisi acara pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, yang nota bene hanya setahun sekali saja. Untuk melestarikan dan mengembangan kesenian ini, maka para generasi muda hendaknya diperkenalkan dan diajak bermain agar mereka dapat memahami keberlangsungan pewarisan tradisi setempat. Pementasan panggung bangsawan menggunakan sebuah panggung untuk para pelakon bermain. ukuran panggung tidak ada ketentuan baku. Di bagian belakang dipasang tirai atau layar yang akan diganti setiap tukar adegan, misalnya ketika para pelakon sedang beradegan di istana, maka layar akan menunjukkan suasana istana atau ketika para pemeran sedang ada di hutan layarnya pun harus disesuaikan dengan suasana di dalam hutan, dan seterusnya.