Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label KOTA JAMBI. Show all posts
    Showing posts with label KOTA JAMBI. Show all posts

    Kabut asap pekat menyelimuti Kota Jambi


     Kabut asap yang sangat tebal menyelimuti sebagian besar wilayah di Provinsi Jambi khususnya di Kota Jambi, dari pantauan saya yang baru tiba di Kota Jambi beberapa jam yang lalu terlihat sangat jelas kabut asap menyelimuti kota Jambi, seperti yang terlihat di gambar (gambar di ambil dari lantai 7 hotel Novita Kota Jambi )

    Keadaan seperti ini sungguh memprihatinkan bagi semua sektor, terutama kesehatan, bukan hanya kesehatan namun mempengaruhi sekotr sektor penting lainnya, penerbangan yang tidak aktiv, pendidikan yang terhenti, serta lesu nya perekonomian dikota Jambi hal ini tentu disebabkan oleh malasnya masyarakat untuk keluar rumah karena kabut asap.

    Pemerintah diharapkan bertindak cepat dalam menganggapi bencana kabut asap di Jambi dan beberapa daerah sekitar nya, jika tidak tentu akan berdampak sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat secara luas, terutama anak-anak, banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat jambi dalam menghadapi masalah ini, selain kabut asap Provinsi Jambi dan sebagian besar daerah di Indonesia mengalami bencana kekeringan, atau dengan kata lain tidak turun hujan dalam waktu yang cukup lama, hal ini dapat menyebakan permasalahan yang komplek bagi masyarakat Jambi.

    Selain mengatasi asap masyarakat juga harus di hadapkan pada sulitnya mendapatkan air bersih di karenakan kemarau yang berrkepanjangan, semoga dengan keadaan yang seperti ini dapat menjadikan keseriusan pemerintah dalam menghadapi bencamna kabut asapa dan kekeringan.

    Menara Gentala Arasy (ikon baru kota Jambi)



    Setelah proses pembangunannya dimulai sejak mei 2012 lalu, Kota Jambi akan segera memiliki sebuah ikon baru berupa menara jam besar setinggi 32 meter dengan nama Menara Gentala Arasy. Menara ini dibangun di kawasan cagar budaya Kota Seberang Jambi yang menjorok ke pinggiran Sungai Batanghari.

    Berada tepat di seberang Kawasan Taman Tanggo Rajo yang berlokasi di jantung Kota Jambi, anda dapat mencapainya dengan naik perahu ketek. Dengan waktu tempuh tidak lebih dari 10 menit anda sudah berada di Menara Gentala Arasy.

    Pada lantai dasar menara ini terdapat museum yang bercerita tentang sejarah masuk berkembangnya agama Islam ke Kota Jambi. Kemudian anda dapat menggunakan lift yang akan membawa anda pada ketinggian 25 meter untuk menikmati pemandangan Kota Jambi dan sekitarnya. Lingkungan di sekitar Menara Gentala Arasy akan disulap menjadi sentra wisata kuliner lengkap dengan floating restaurant/restoran terapung yang siap memuaskan anda dengan sajian kuliner khas Jambi.

    Akses menuju kawasan Kota Seberang Jambi dan Menara Gentala Arasy akan semakin mudah dengan dibangunnya Jembatan Pedestrian. Jembatan khusus pejalan kaki ini akan menghubungkan Taman Tanggo Rajo dengan Menara Gentala Arasy. Jembatan Pedestrian dibangun dengan konsep konstruksi cable stayed/kabel penahan yang ditopang oleh 2 buah tiang pancang setinggi 60 meter. Total panjang jembatan ini mencapai 532 meter dengan lebar 4,5 meter. Desain jembatan yang berliku menyerupai hurup “S” menjadikan jembatan ini unik dan spesifik dibandingkan dengan kebanyakan jembatan di Indonesia.

    So, dengan adanya kawasan cagar budaya Kota Seberang Jambi dan Taman Tanggo Rajo ditunjang dengan keberadaan Jembatan Pedestrian dan Menara Gentala Arasy menjadikannya sebagai satu ikon wisata dengan konsep Waterfront City Park yang siap menyambut Anda dengan kekayaan nilai religi, budaya dan kuliner khas Jambi.

    sumber : http://tourismjambi.info/berita-221-menara-gentala-arasy-dan-jembatan-pedestrian----.html

    Sejarah terbentuknya Kota Jambi


    Di Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901). Kesultanan ini memang tidak berhubungan secara langsung dengan 2 kerajaan Hindu-Budha pra-Islam. Sekitar Abad 6 awal 7 M berdiri KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Catatan Dinasti Tang mengatakan bahwa awak Abad 7 M. dan lagi pada abad 9 M Jambi mengirim duta/utusan ke Empayar China ( Wang Gungwu 1958;74). Kerajaan ini bersaing dengan SRI WIJAYA untuk menjadi pusat perdagangan. Letak Malayu yang lebih dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga perlu menyerang Malayu sehingga akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya. Muaro jambi, sebuah kompleks percandian di hilir Jambi mungkin dulu bekas pusat belajar agama Budha sebagaimana catatan pendeta Cina I-Tsing yang berlayar dari India pada tahun 671. Ia belajar di Sriwijaya selama 4 tahun dan kembali pada tahun 689 bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang ziarah Budha. Saat itulah ia tulis bahwa Kerajaan Malayu kini telah menjadi bahagian Sri Wijaya.

    Abad ke 11 M setelah Sri Wijaya mulai pudar, ibunegeri dipindahkan ke Jambi ( Wolters 1970:2 ). Inilah KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA berdiri di Muara Jambi. Sebagai sebuah bandar yang besar, Jambi juga menghasilkan berbagai rempah-rempahan dan kayu-kayuan. Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka membeli kapas, kain dan pedang. Dari Cina, sutera dan benang emas,sebagai bahan baku kain tenun songket ( Hirt & Rockhill 1964; 60-2 ). Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347. Di Abad 15, Islam mulai menyebar ke Nusantara.

    Kesultanan Jambi

    Tanah Pilih Pesako Betuah. Seloka ini tertulis di lambang Kota Jambi hari ini. Dimana menurut orang tua-tua pemangku adat Melayu Jambi, Kononnya Tuanku Ahmad Salim dari Gujarat berlabuh di selat Berhala, Jambi dan mengislamkan orang-orang Melayu disitu, ia membangun pemerintahan baru dengan dasar Islam, bergelar Datuk Paduko Berhalo dan menikahi seorang putri dari Minangkabau bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka dikaruniai Allah 4 anak, semuanya menjadi datuk wilayah sekitar kuala tersebut. Adapun putra bungsu yang bergelar Orang Kayo Hitam berniat untuk meluaskan wilayah hingga ke pedalaman, jika ada tuah, membangun sebuah kerajaan baru. Maka ia lalu menikahi anak dari Temenggung Merah Mato bernama Putri Mayang Mangurai. Oleh Temenggung Merah Mato, anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako. Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan agar mengikuti aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru itu dan bahwa tempat yang akan dipilih sebagai tapak kerajaan baru nanti haruslah tempat dimana sepasang Angsa bawaan tadi mahu naik ke tebing dan mupur di tempat tersebut selama dua hari dua malam.
    Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua Angsa naik ke darat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut “Tanah Pilih”, dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.

    Asal Nama Jambi

    Jambi berasal dari kata Jambe dalam bahasa Jawa yang bererti Pinang. Kemungkinan besar saat Tanah Pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan baru, pepohonan pinang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.
    Keris Siginjai
    Hubungan Orang Kayo Hitam dengan Tanah Jawa digambarkan dalam cerita orang tuo-tuo yang mengatakan bahwa Orang Kayo Hitam pergi ke Majapahit untuk mengambil Keris bertuah, dan kelak akan menjadikannya sebagai keris pusaka Kesultanan Jambi. Keris itu dinamakan Keris Siginjai. Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun keris Siginjai tidak hanya sekadar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi.
    Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain keris Siginjai ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).

    Sepucuk Jambi Sembilan Lurah
    Seloka ini tertulis di lambang Propinsi Jambi, menggambarkan luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang merangkumi sembilan lurah dikala pemerintahan Orang Kayo Hitam, yaitu : VIII-IX Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan. Ada juga yang berpendapat bahwa wilayah Kesultanan Jambi dahulu meliputi 9 buah lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama :
    1. Batang Asai
    2. Batang Merangin]
    3. Batang Masurai
    4. Batang Tabir
    5. Batang Senamat
    6. Batang Jujuhan
    7. Batang Bungo
    8. Batang Tebo, dan
    9. Batang Tembesi.

    Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi.
    Kesultanan Jambi (1790-1904)
    1790 – 1812 Masa Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
    1812 – 1833 Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
    1833 – 1841 Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat
    1841 – 1855 Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud
    1855 – 1858 Thaha Safiuddin bin Muhammad (1st time)
    1858 – 1881 Ahmad Nazaruddin bin Mahmud
    1881 – 1885 Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman
    1885 – 1899 Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad
    1900 – 1904 Thaha Safiuddin bin Muhammad (2nd time)
    1904 Dihancurkan Belanda

    Provinsi Jambi

    Wilayah propinsi Jambi hari ini pun terbagi atas 1 Bandar Ibukota (Jambi) dan 9 daerah mungkin agar sesuai seloka adat tadi. Tetapi nama daerahnya telah bertukar, iaitu :
    1. Muara Jambi beribu kota di Sengeti
    2. Bungo beribu kota di Muaro Bungo
    3. Tebo beribu kota di Muaro Tebo
    4. Sarolangun beribu kota di Sarolangun Kota
    5. Merangin/Bangko beribu kota di Kota Bangko
    6. Batanghari beribu kota di Muara Bulian
    7. Tanjung Jabung Barat beribu kota di Kuala Tungkal
    8. Tanjung Jabung Timur beribu kota di Muara Sabak
    9. Kerinci beribu kota di Sungai Penuh
    Jika anda berkunjung ke Jambi, pastikan anda mencoba tempoyak& Kueh2 Durian, Mee Tek-Wan, Kopi Jambi, Batik Jambi dan Songket Melayu Jambi. Semuanya tersedia di Pasar Besar Angso Duo, Kota Jambi.

    SEJARAH JAMBI

    Provinsi Jambi dibentuk tanggal 2 Juli 1958 bersamaan waktunya dengan pembentukan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Riau. Sebelumnya Jambi merupakan salah satu daerah keresidenan di wilayah Provinsi Sumatera Tengah. Sementara di awal kemerdekaan, hanya ada satu provinsi di Sumatera, yaitu, provinsi Sumatera dan jambi adalah salah satu keresidenan di provinsi yang sangat luas itu.

    Pada akhir abad ke 19 di wilayah Jambi terdapat kerajaan atau kesultanan Jambi. Tahun 1855, Kesultanan Jambi diperintah oleh Sultan Thaha Saifuddin. Pada saat Belanda mulai menduduki Kesultanan Jambi, tepatnya tahun 1858, Sultan Thaha menyingkir dari keraton dan melakukan perang gerilya. Dia gugur dalam perang melawan penjajah tahun 1904.

    Setelah gugurnya Sultan Thaha, Belanda menguasai wilayah Jambi sepenuhnya. Tahun 1906, Belanda mulai membentuk administrasi pemerintahan di Jambi. Hal ini berarti bahwa Jambi yang sebelumnya ditangani oleh Keresidenan Palembang, menjadi keresidenan sendiri. Sebagai residen Jambi yang pertama adalah O.L. Helfrich, sebelumnya dia menjabat sebagai Asisten Residen Palembang.

    Susunan pemerintahan pada zaman Belanda masih memperhatikan susunan adat seperti di zaman kesultanan, namun disertai dengan beberapa penyesuaian, disesuaikan dengan politik jajahannya. Singkatnya, pemerintahan Jambi di era penjajahan Belanda berturut-turut dari level teratas sampai terbawah adalah Residen-Kontrolir-Demang-Asisten Demang-Kepala Adat/Pasirah-Penghulu/kepala dusun-Rakyat.

    Rakyat Jambi tidak sepenuhnya mengakui pemerintahan kolonial Belanda. Hal ini terbukti dengan adanya perlawanan, yaitu, perang Sarikat Abang yang terjadi pada tahun 1916. Perlawanan ini dapat dihentikan Belanda dan tokoh-tokoh perlawanannya disidangkan dalam suatu pengadilan yang dinamakan Pengadilan Rapat Besar Istimewa. Tokoh-tokoh perlawanan tersebut kemudian dibuang ke Digul, Ternate, dan Nusa Kambangan.

    Setelah peristiwa pembangkangan tersebut, Belanda semakin memperketat ruang gerak rakyat dengan mengadakan pembatasan-pembatasan berbagai kegiatan perkumpulan dan organisasi politik. Akibatnya, semua perkumpulan dan organiasi politik vakum dan akhirnya mati. Jambi, akhirnya menjadi daerah yang kosong dari organisasi politik.

    Larangan Belanda tersebut ternyata tidak hanya pada organisasi politik, melainkan melebar pada dunia pendidikan. Belanda melarang rakyat Jambi untuk bersekolah atau mendirikan sekolah. Setelah beberapa tokoh memperjuangkan pendirian sekolah, seperti yang dilakukan oleh H. Nawawi, H.M. Chatib A.T. Hanafiah, akhirnya ada juga beberapa sekolah yang berdiri, namun dengan pengawasan yang sangat ketat.

    Karena ada pengaruh dari Jawa, tahun 1939 lahir beberapa partai politik di Jambi. Adanya partai politik ini membuka mata masyarakat Jambi bahwa mereka harus berjuang mencapai kemerdekaan. Kesadaran ini juga muncul karena, melalui partai-partai ini, mereka mengetahui bahwa di Eropa sedang terjadi peperangan sehingga terdapat ruang bagi rakyat di negeri jajahan untuk bangkit.

    Harapan untuk merdeka dan hidup sejahtera semakin besar ketika Jepang mendarat di Jambi. Rakyat tertipu dengan propaganda "Sang Saudara Tua" yang mengatakan bahwa mereka akan memberi kemakmuran. Namun janji Jepang tersebut ternyata tidak dilakukan. Alih-alih mensejahterakan rakyat Jambi, Jepang menerapkan pemerintahan yang kejam. Bahan pangan yang dimiliki rakyat dirampas, dan sebagian rakyat dijadikan romusha. Kegiatan politik rakyat dilarang, bahkan dalam kegiatan sehari-hari pun selalu dimata-matai oleh tentara Jepang. Keadaan ini berlangsung sampai Indonesia merdeka, tanggal 17 Agustus 1945.

    Di awal kemerdekaan, Jambi yang waktu itu berbentuk keresidenan, tidak pernah tenang. Kondisi ini disebabkan oleh adanya berbagai rongrongan keamanan, yaitu, dari Belanda yang berkeinginan menjajah kembali. Tanggal 28 Desember 1948, Belanda membombardir Jambi. Residen dan staf pemerintahan menyingkir ke dusun Rantaumajo.

    Sementara itu para pejuang melakukan perlawanan sengit terhadap Belanda. Dalam peperangan itu, banyak pejuang Jambi yang gugur dan ditawan. Peperangan itu berakhir dengan dicapainya kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB). Belanda kemudian membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang berisikan banyak negara bagian. Namun bentuk negara serikat ini tidak lama karena rakyat Indonesia tidak setuju dengan bentuk negara serikat dan berkeinginan untuk kembali kebentuk kesatuan. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1950, Republik Indonesia kembali berdiri.

    Setelah Jambi menjadi provinsi, terpisah dari provinsi lama, yaitu, provinsi Sumatera Tengah, rakyat dan pemerintah Jambi mulai menata administrasi pemerintahannya. Gubernur pertama Jambi dijabat oleh M. Juuf Singedikane. Namun Jambi tidak bias langsung melakukan pembangunan karena adanya beberapa pemberontakan, yaitu, PRRI dan PKI. Baru setelah G30S/PKI dapat ditumpas, Jambi mulai dapat melakukan pembangunan.

    Kemajuan pembangunan mulai terlihat pada masa pemerintahan gubernur RM Noer Atmadibrata yang memerintah dari tahun 1968 sampai 1974. Selanjutnya Jambi terus melakukan pembangunan seiring dengan program pembangunan yang dicanangkan pemerintah pusat. Lancarnya pembangunan ini terkait erat dengan terjaminnya keamanan sehingga membuat iklim dunia usaha semakin kondusif.

    Sumber : Data Pemkot Jambi

    Rumah Batu Olak Kemang

    Rumah Batu Olak Kemang, terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Bangunan ini merupakan rumah kediaman Said Idrus bin Hasan Al Djufri yang bergelar Pangeran Wirokusumo. Seorang keturunan arab yang mendapat kedudukan penting di Kesultanan Jambi. 

    Disamping itu menurut penuturan masyarakat Jambi, Wiro Kusumo juga besan dari Sultan Thaha Syaifudin (Sultan terakhir Kerajaan Jambi). Pangeran Wirokusumo wafat pada tahun 1901 dan rumah tersebut dihuni keturananya.

    Keunikan Rumah Olak Kemang terdiri dari dua lantai, mempunyai arsitektur perpaduan lokal, cina, dan eropa. Unsur lokal berupa rumah panggung, pengaruh cina pada bentuk atap, gapura, dan ornamen-ornamen berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Sedangkan unsur eropa terlihat dari tiang-tiang panggung dari bahan bata dan semen berbentuk pilar menyangga bangunan di atasnya. 

    Pada lantai bawah dilapisi ubin terakota sedangkan pada lantai kedua berupa papan kayu. Kedua lantai ini dihubungkan dengan tangga semen seperti layaknya tangga rumah bertingkat yang banyak dipakai pada bangunan indis.

    Candi Soloksipin

    Situs Soloksipin terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Legok, Kota Jambi. Situs ini berasal dari periode klasik Hindhu-Buddha. Di dalam situs saat ini hanya tinggal puing-puing berupa pondasi bata bangunan candi.


    Di Candi Soloksipin ini juga ditemukan arca budha terbuat dari batu pasiran (sand stone) setinggi 1,72 meter yang digambarkan dalam posisi berdiri memakai jubah.Kemudian 2 (dua buah) makara, lapik dan stupa. Baik arca dan makara sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta, sedangkan lapik dan stupa tersimpan di Museum Negeri Jambi.

    Riwayat penemuan di mulai dari catatan orang Belanda yang pernah datang ke Jambi. Sedangkan riwayat pembangunan candi tidak bisa diketahui dengan pasti, belum ada penelitian yang mendalam tentang keberadaan candi ini. Dari temuan arca budha yang ada tertulis //dang acharrya syuta// dapat diperkirakan arca berasal dari abad 8 M dan salah satu makara yang ditemukan memiliki angka tahun 1064 M

    Sayang baik situs dan candi ini sudah semakin terhimpit oleh pemukiman penduduk dan hanya beberapa bagian yang bisa diselamatkan. Berada di permukiman penduduk yang padat sangat menyulitkan dalam mengidentifikasi struktur bata yang terdapat di Legok. Bahkan diatas gundukan tanah yang di dalamnya terdapat reruntuhan bata telah berdiri tiga buah rumah.

    Klenteng Hok Tek

    Klenteng Hok Tek terletak di Jl. Husni Thamrin, Kelurahan Beringin, Kecamatan Pasar, Kota Jambi. Secara Astronomi terletak di 103 37’67” BT dan 01 37’46” LS.

    Menurut keterangan pengurus Klenteng Hok Tek, bahwa tempat ibadah ini merupakan klenteng tertua di Jambi. Tentang usia bangunan salah satunya seperti terlihat pada sebuah papan bertulis yang menyebutkan pertanggalan 154 tahun yang lalu. 

    Pada sisi lain dari papan tersebut, tertera penjelasan mengenai seorang yang telah memberikan sumbangan ketika berkunjung ke klenteng pada tahun 2489 Imlek (1838 M). Pada masa perjuangan melawan Belanda, bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat penyembunyian persenjataan para pejuang rakyat Jambi.

    Bangunan kelenteng Tuo Hok Tek menghadap timur laut, keberdaan arah hadap berdasarkan letak altar dalam tata ruang bangunan kelenteng Cina selalu menghadap ke arah gerbang masuk halaman kompleks. Bangunan Kelenteng ini berarsitektur Cina, ditandai dengan bentuk atap ruang depan berbentuk jurai dan pelana (hsuan shan), sedangkan ruang utama dan samping atapnya berbentuk pelana dengan dinding tembok (ngang shan). Kedua bubungannya membentuk simbol naga bermahkota bertanduk dan bertaring. Pada dinding kiri-kanan atas pintu masuk terdapat lukisan tembok yang mengisahkan peristiwa Sam Kok dan kisah seorang Ibu menyelamatkan bayinya dari serangan perusuh jalanan. 

    Kelenteng Tuo Hok Tek beberapa kali mengalami renovasi pada tahun 1931, 1970 dan sejak tanggal 4 Februari 1984 kelenteng ini sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat ritual. Renovasi terakhir tahun 1997 tetap mempertahankan bentuk bangunan seperti semula seperti semula karena dianggap sebagai kelenteng pertama di Jambi.

    Menara Air

    Menara Air yang kini menjadi reservoir PDAM Jambi merupakan salah satu tinggalan pemerintah Belanda. Terletak di Kelurahan Murni, Kecamatan, Telanaipura, Kota Jambi atau berada di depan Museum Perjuangan Rakyat Jambi dan berada di belakang Masjid Agung.

    Menara Air, Museum Perjuangan Rakyat Jambi, dan Masjid Agung pada masa Kesultanan Jambi merupakan bekas lokasi Istana Tanah Pilih yang kemudian dihancurkan Belanda dan didirikan benteng pertahanan. Sejarah mencatat di atas Menara Air ini pengibaran Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan oleh para pejuang Jambi pada tanggal 19 Agustus 1945 atau dua hari setelah diumumkan Proklamasi Kemerdekaan RI.

    Sebagai bangunan resevoir, menara tersebut berfungsi untuk menampung air minum dengan luas bangunan berdiameter 9,360 m dan tinggi 24,150 m. Menara air ini terdiri dari 3 buah bangunan, 1 buah bangunan yang paling tinggi (3 tingkat/bangunan induk) berada di tengah, dan 2 buah bangunan yang lebih rendah (2 tingkat) terletak di samping kanan dan kirinya. Untuk mencapai puncak bangunan dapat ditempuh dengan menaiki tangga. 

    Selain itu juga terdapat 2 buah bangunan lagi yang bentuknya lingkaran atau silindrik. Pada masa dulu masih terdapat 2 bangunan serupa namun saat ini sudah tidak ada lagi dan digunakan sebagai taman. Bangunan menara air secara keseluruhan masih asli belum mengalami perubahan.

    Objek Wisata Budaya di Kota Jambi

    A. Objekwisata Alam yang menjadi andalan Kota Jambi sebagai berikut :

    1. Danau Sipin Jambi

    Luas dana sipin 89 Ha. disebut juga danau oxbow (tapak kuda) yang berasal dari sungai mati.
    Danau Sipin mempunyai panorama yang indah dipandang dari kompleks perkantoran kantor gubernur Jambi. 

    Dalam kawasan dapat dijumpai dan dinikmati antara lain:
    1. Pemandangan alam 
    2. Pengamatan flora dan fauna 
    3. Pemancingan ikan di sungai 
    4. Hamparan keramba ikan 
    5. Tempat latihan dayung PODSI 
    Danau Sipin ini berhubungan langsung dengan Danau Buluran yang merupakan kawasan hutan kayu rengas. Dikawasan ini dapat dilakukan kegiatan memancing, perahu dan lain-lain. Untuk mencapai kawasan ini berjarak 9 km dari Bandara Sultan Thaha Saifuddin atau 7 km dari pusat kota.

    2. Danau Teluk

    Merupakan danau tempat budi daya ikan air tawar. Terletak diseberang kota lebih kurang 12 km darat dari pusat kota.

    B. Objek Wisata budaya disekitar kota Jambi sebagai berikut :

    1. Museum Negeri Jambi

    Lokasi ini terletak 5 km dari pusat Kota Jambi. Museum ini dibangun pada tahun 1981 diatas tanah seluas 13.350 m2 dan bangunan 4.000 m2. Berjarak 7 km dari Bandara Sultan Thaha Jambi. Di dalam museum ini banyak tersimpan benda-benda bersejarah abad VII-XI Masehi, maket rumah adat Jambi serta kehidupan suku-suku Melayu masa lampau. Di musium ini juga terdapat duplikat arca Prajnaparamita dan arca Adityawarman serta tinggalan-tinggalan kuno lainnya.

    2. Museum Perjuangan Rakyat Jambi

    Museum Perjuangan rakyat Jambi terletak di Kota Jambi yang berperan sebagai pusat dokumentasi perjuangan rakyat Jambi sekaligus sebagai salah satu objek wisata di provinsi Jambi. Museum ini berlokasi di pertigaan jalan Sultan Thaha, Sultan Agung dan Slamet Riyadi.

    Gedung Museum Perjuangan Rakyat Jambi mempunyai luas bangunan 1.360 m2 dan dibangun berlantai 3 (tiga) dengan gaya arsitektur tradisional Jambi yang telah disesuaikan dengan teknik masa kini. Dihalaman depan museum dipajang koleksi "model" pesawat udara Rl 05 .jenis Catalina, yang jatuh di sungai Batang Hari padu bulan Desember 1948 di masa perang mempertahankan kemerdekaan RI di daerah Jambi.

    Museum Perjuangan Rakyat Jambi dilengkapi dengan :

    a. Relief perjalanan sejarah Melayu Kuno sampai dengan kemerdekaan RI.
    b. Alat persenjataan dan pakaian laskar Jambi
    c. Diorama perjuangan rakyat Jambi pada masa perang Kemerdekaan RI di Jambi dengan Automatic Sensor Audio pada setiap diorama
    d. Patung Sultan Thaha Saifuddin, pahlawan nasional kita dengan didampingi oleh 2 ekor harimau peliharaannya

    3. Taman Mini Jambi
    Taman mini Jambi ini terletak di kecamatan Jambi Selatan bersebelahan dengan Bandara Sultan Thaha. Luas arealnya 37 Ha. Sangat cocok untuk rekreasi karena tempatnya rindang dan tertata rapi. Disini dapat kita lihat rumah adat daerah Provinsi Jambi dan anjungan rumah adat daerah dari enam Kabupaten/kota se-provinsi Jambi. Disamping itu Taman Mini Jambi rnemiliki fauna dengan beraneka ragam burung, gajah, buaya, rusa, ular dan lain-lain.

    4. Taman anggrek Prof.Dr. Sri Soedewi MS.

    Taman anggrek ini di kecamatan Telanaipura 6 km dari pusat kota Jambi tepatnya berada di depan kantor gubernur Jambi dengan luas areal 25.056 m2. Dibangun pada tahun 1984 dan dikelola secara teknis oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jambi. Di taman ini terdapat berbagai jenis dan spesies anggrek khas Jambi yang telah mulai langka.

    5. Sanggar Kerajinan Batik dan Kerajinan PKK Provinsi Jarnbi

    Sanggar ini berlokasi di kecamatan Pelayangan seberang Kota Jambi yang berjarak 9 km dari pusat kota Jambi. Sanggar ini digunakan untuk tempat penampungan batik dari pengrajin seberang kotayangberfungsi antara lain:

    a. Sarana untuk memperkenalkan budaya Jambi melalui batik Jambi.
    b. Tempat untuk mengadakan kegiatan pendidikan dan latihan keterampilan (batik, bordir, sulaman benang emas).

    Batik merupakan ragam hias geometris yang ditata sedemikan rupasehingga sehelai batik mempunyai berbagai ragam hias dan bersifat naturalis dengan nama tumbuh-tumbuhan khas Indonesia seperti bunga melati, bunga tanjung, bunga kaca piring, daun keladi, bunga cengkeh bunga durian dan lain-lan. Disamping ragam hias yang disebut, adapula ragam hias seperti intan bertaburan. Namun hampir tidak ada ragam hias yang berbentuk fauna. Warna asli batikJambi adalah biru tua, biru kehitam-hitarnan, merah tua dan kekuning-kuningan yang merupakan kekhasan warna batik Jambi.

    6. Taman Mayang Mengurai

    Lokasi ini berada di sebelah kiri kantor gubernur Jambi di Telanaipura. Dimana ditengah taman ini kita dapat melihat sebuah bangunan rumah tradisional Jambi.

    7. Komplek Makam Rajo

    Komplek makam rajo-rajo ini terletak di kampung baru Broni yang merupakan tempat makam Sultan Muhidin, makam Mattaher, makam Ratumas Kholijah (istri Sultan Thaha Syaifuddin). Disekitar kawasan ini terdapat objek wisata lain yaitu situs candi Solok Sipin abad VII-IX. Mesjid Agung Alfalah yang dikenal denganMesjid Seribu Tiang karena banyaknya tiang-tiang dalam mesjid.

    8. Taman Tanggo Rajo

    Dikawasan ini kita dapat menikmati pemandangan Sungai Batang hari yang membelah Jambi kota dengan Jambi seberang. Disamping itu disepanjang taman terdapat jajanan terutama sore dan malam hari. Dari tebing sungai dapat disaksikan sunset dengan siluet bayang-bayang bangunan indah tempat gubernur Jambi makan pagi / sore bersama tamu-tamu kehormatan yang datang ke Jambi.

    9. Taman Remaja

    Taman Remaja terletak di Kota Baru Jambi yang merupakan kawasan rekreasi dimana dalam kawasan ini terdapat tempat penjualan jajanan. Kerindangan pepohonan membuat sejuk para pengunjung yang bersantai di taman ini.

    1O. Hutan Kota

    Hutan Kota ini terdapat pada pa1 10 Kenali Asam Jambi yang merupakan satu-satunya hutan yang dilestarikan dalam wilayah kota Jambi.

    11. Biara/Kelenteng

    Kelenteng yang merupakan peninggalan tempat ibadah mat Budha terdapat di Kampung Manggis, Koni, Sungai Maram dan di Simpang Kawat.

    Kelenteng tertua dapat disaksikan di pinggiran sungai Asam diujung jembatan. Kelenteng ini tidak difungsikan lagi.

    12. Tempat souvenir

    Bagi yang senang mengoleksi keramik dapat menyalurkan hobinya itu di pasar dibelakang bioskop Mega/Ria atau langsung ke agennya di belakang Mapolda Jambi.

    13. Lokasi penambangan

    Sekitar 8 km dari pusat kota, tepatnya di kelurahan Kenali Asam Bawah dapat dilihat peralatan pengeboran minyak bumi yang masih aktif milik NIAM dan kini milik Pertamina.

    14. Taman Rekreasi Kampung Raja

    Tak jauh dari terminal Simpang Rimbo terdapat taman rekreasi Kampung Raja dengan berbagai atraksi yang membuat kita rileks ditengah suasana alami.

    15. Pemukiman seberang kota adalah aset cagar budaya dengan bangunan tradisional rumah panggung dan kerajinan batik.

    Pasar beduk menjadi tradisi bulan Ramadhan

    Di Jambi setiap bulan Ramadhan tiba akan muncul Pasar Beduk. Bagi kami bulan Ramadhan terasa kurang lengkap tanpa adanya Pasar Beduk. Pasar kagetan ini buka dari sore hingga menjelang buka puasa tiba ketika beduk digebuk. 

    Dari siang hari para pedagang mulai mengelar dagangannya di kios yang telah disewa seharga Rp 200-500 ribu.

    Meski harus membayar tapi para pedagang mengaku mereka tidak akan rugi karena di bulan ini pembeli akan melonjak.

    Pasar ini selalu ramai dikunjungi warga Jambi yang ingin membeli makanan untuk buka puasa dan persiapan makan sahur. Berbagai macam makanan dan minuman di jual di sini. 

    Dari makanan ringan hingga lauk pauk. Beberapa pedagang juga menjual makanan khas Jambi seperti tempoyak ikan patin, tepe yang berbahan dasar ikan, kue padamaran, pempek, kolak kolang kaling dan lain-lain.

    Dulu Pasar Beduk hanya ada di Pasar Jambi tapi 4 tahun belakangan ini Pasar Beduk sudah menyebar ke berbagai sudut di kota Jambi bahkan tidak hanya di kota kini sudah ada di kabupaten lainnya juga. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemacetan yang tertumpu pada satu titik.

    Pasar Beduk merupakan peluang rezeki bagi masyarakat di sekitarnya karena tak dipungkiri pendapatan mereka di bulan ini akan drastis naik.

    Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, khususnya bagi pedagang kecil seperti mereka.

    Legenda Cik Upik danau Sipin kota Jambi

    Legenda Cik Upik danau Sipin kota Jambi. Rasanya banyak masyarakat Kota Jambi yang belum tahu bahwa kota ini memiliki cerita legenda mirip Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Legenda Cik Upik namanya. Cerita yang dianggap dongeng itu begitu lekat bagi masyarakat Kampung Danau Sipin, Kecamatan Telanaipura. Tak hanya sekedar cerita atau dongeng.

    Bagi masyarakat Danau Sipin, kisah Cik Upik itu punya bukti. Mereka menunjuk daerah pinggiran danau, tepatnya di belakang Kantor Gubernur Jambi, atau persisnya di dekat bekas Restoran Batanghari, merupakan bekas taman bermain Cik Upik. Di sana pula Cik Upik kerap mandi setiap pagi dan sore. Lantas, siapa Cik Upik itu ? Tidak ada referensi tertulis mengenai legenda ini. Ceritanya hanya tersiar dari mulut ke mulut. 

    Namun menurut kisah seorang tetua Kampung Danau Sipin, Marzuki (81), Cik Upik adalah seorang wanita cantik asal Padang, Sumatera Barat (Sumbar) yang terdampar di daerah Danau Sipin. Cik Upik tidak sengaja datang ke daerah itu. Konon, dia menumpang sebuah kapal yang berlayar dari Padang. 

    Setibanya di Sungai Batanghari, tepatnya di kawasan Danau Sipin sekarang, kapal itu terbalik. Bekas badan kapal yang ukurannya sangat besar itu pulalah yang dipercaya masyarakat menjadi daratan Danau Sipin yang sekarang mereka diami. Sejak saat itu, Cik Upik tinggal di Danau Sipin. 

    Dia sering bermain di taman. Masyarakat Danau Sipin yakin, sisa-sisa taman itu masih ada hingga sekarang. Namun, lokasi bekas taman tersebut kini sudah ditumbuhi pohon-pohon besar dan semak-belukar, meskipun keindahannya samar-samar masih terlihat. 

    Menurut Marzuki yang mendapat cerita dari ayah dan kakeknya, dulu tepian Sungai Batanghari sebenarnya sampai ke daerah belakang kantor gubernur. Tapi sungai itu kemudian terbelah, karena bekas kapal Cik Upik yang terbalik lama-kelamaan mengering dan membentuk sebuah daratan. “Awalnya para awak kapal Cik Upik yang terdampar membuat tempat tinggal dan taman di dekat kapal mereka terbalik. 

    Taman dibuat untuk tempat mereka bersantai,” kisah Marzuki yang ditemui InfoJambi, di rumahnya, di Kampung Danau Sipin, persis di seberang Taman Cik Upik. Dari cerita turun-menurun, dulunya Taman Cik Upik dikenal sebagai sebuah taman yang sejuk, sehingga ramai didatangi orang untuk bersantai. Taman itu memiliki panjang 45 meter dengan lebar 10 meter. 

    Di tengah taman terdapat sebuah danau kecil yang diberi nama Danau Cik Upik. Danau Cik Upik memiliki luas sekitar 15 meter x 5 m dengan kedalaman air sekitar empat meter. Air danau itu sangat jernih dan sering digunakan masyarakat zaman dahulu sebagai tempat mandi dan sumber air minum. 

    Bahkan, ada juga yang menjadikan danau kecil itu sebagai tempat memancing ikan. Tetua Kampung Danau Sipin lainnya, Ibrahim (75), mengungkapkan, Danau Cik Upik merupakan anak dari Danau Sipin. Danau besar yang terbentuk karena kapal yang terbalik tersebut, dulu dikenal dengan nama Danau Pinago. 

    Namun begitu, Ibrahim mengakui sampai sekarang tidak tahu kapan sebenarnya danau-danau itu mulai ada. Seiring berjalannya waktu, Taman Cik Upik yang jaraknya hanya beberapa meter dari buntut Kantor Gubernur Jambi itu mulai terlupakan. 

    Tidak ada sedikitpun perhatian pemerintah kota terhadap kawasan itu. Taman Cik Upik nyaris hilang tak berbekas. Berpuluh tahun lamanya taman itu hanya dijadikan dermaga oleh penambang perahu. Ketika Abdurrahman Sayoeti menjadi Gubernur Jambi, dia sempat mengingat kembali keberadaan taman itu. 

    Dia pun ingin menghidupkannya kembali dan menjadikan objek wisata. Gubernur dua periode itu pula yang membuka lagi kawasan tersebut dengan membangun jalan dan mendirikan restoran besar. Sayangnya, belum sempat Taman Cik Upik dikenal lagi oleh masyarakat Kota Jambi, masa jabatan Abdurrahman Sayoeti keburu berakhir. 

    Alhasil, legenda Taman Cik Upik kembali tenggelam bersama kisah kapalnya yang terbalik di Sungai Batanghari.

    Tempat Kunjungan Wisata di Kota Jambi



    Tempat Kunjungan Wisata di Kota Jambi

    Di wilayah Kota Jambi, obyek wisata yang ada lebih banyak didominasi oleh obyek wisata buatan seperti taman rekreasi, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta; museum & situs peninggalan bersejarah; wisata budaya, belanja & wisata kuliner; serta hiburan rekreasional lainnya yang umumnya terdapat di wilayah perkotaan. Sementara obyek wisata alam lebih banyak terdapat di kawasan kabupaten di dalam Provinsi Jambi.
    Sebagian besar obyek wisata di Jambi saat ini belum semuanya dapat dikelola dengan baik oleh Pemerintah, walaupun usaha ke arah itu terus dilakukan, terutama dalam pengelolaan situs/obyek peninggalan bersejarah, obyek wisata alam dan hutan lindung beserta isinya.

    Berikut ini tempat kunjungan wisata yang ada di kota Jambi :
    1. Taman Mini Jambi dan Taman Rimba

    Taman Mini Jambi



    Taman Rimba


    Kawasan obyek wisata budaya, taman rekreasi dan sarana olahraga.

    Lokasi : Jl. Sunaryo, Kecamatan Jambi Selatan, 7 km dari pusat kota dan 500 m dari Bandara Sultan Taha.
    Wisata : Taman hiburan dan rekreasi seluas 18 ha.
    Fasilitas : Rumah adat dari 6 kabupaten-kota se-Provinsi Jambi, Bangunan gedung permanen,Stadiun terbuka dengan sistem penerangan,Tempat parkir luas,Terdapat pintu masuk (gapura) & dikelilingi pagar,Kebun binatang & taman, dengan flora & fauna yang dilindungi.

    Keterangan : Merupakan kawasan yang pernah digunakan untuk penyelenggaraan MTQ Nasional ke-18 tahun 1997, setelahnya biasa digunakan sebagai pusat kegiatan perayaan event- event penting baik oleh pemerintah maupun swasta.


    2. Tanggo Rajo / Ancol Jambi

    Ancol


    Kawasan di depan Rumah Dinas Gubernur yang berada di pinggir Sungai Batanghari yang sering di sebut juga sebagai Ancolnya Jambi oleh masyarakat Jambi, merupakan kawasan dengan panorama dan pusat jajanan murah.
    Lokasi : Kawasan di depan Rumah Dinas Gubernur Jambi, Jl. Sultan Taha, Kecamatan Pasar Jambi.
    Wisata : Wisata kuliner dan panorama dari tepi Sungai Batanghari.
    Fasilitas : Area pusat jajanan yang tertata rapi, Jalan aspal & tangga hingga ke pinggir sungai Batanghari.
    Keterangan : Merupakan kawasan yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi keluarga menikmati panorama sungai Batanghari, memancing, atau menikmati jajanan di sepanjang jalan raya di pinggir sungai. Dari Tanggo Rajo inilah tiap tahun Gubernur melambaikan bendera start dalam event tahunan Lomba Perahu Tradisional, dalam rangka HUT RI, 17 Agustus.


    3. Hutan Kota Mayang Mangurai Jambi

    Hutan Kota Mayang Mangurai
    Kawasan agro wisata, rekreasi dan sarana outbound serta perkemahan.
    Lokasi : Kecamatan Kota Baru, 7 km dari pusat kota
    Wisata : Hutan kota seluas 10 ha di Paal 10 dan 10 ha di Paal 11.
    Fasilitas : Bangunan pendopo peristirahatan dilengkapi toilet, Tempat parkir luas, Taman, dengan flora & fauna yang dilindungi, Kolam luas.
    Keterangan : Merupakan kawasan yang digunakan sebagai pusat konservasi hutan kota, pengembangan bibit gaharu yang dikelola oleh Kantor Kehutanan Kota Jambi, wisata outbound, & taman rekreasi keluarga. Lokasi tidak jauh dari pusat kota.


    4. GOR (Gelanggang Olah Raga) Kota Baru Jambi

    GOR(Gelanggang Olah Raga)


    Gedung olahraga dan kegiatan olahraga lainnya, serta pentas pagelaran musik, baik di dalam maupun di luar ruangan.
    Lokasi : Jl. H. Agus Salim, Kecamatan Kota Baru, 6 km dari pusat kota

    Wisata : Olahraga dan kegiantan kesenian

    Fasilitas : Bangunan gedung olah raga diatas area seluas 40.884 m² Tempat parkir luas Taman, lapangan sepakbola mini Dojo Judo disebelahnya, gedung Senam didepannya

    Keterangan : Merupakan kawasan yang digunakan sebagai pusat kegiatan berbagai cabang olahraga, seperti Tarung Drajad, Judo, Senam, Jogging maupun kegiatan lain seperti pagelaran seni, dll. Lapangan terbukanya sering digunakan untuk berbagai acara seperti pentas musik, otomotif dll.


    5. Kolam Renang Tepian Rajo

    Kolam Renang Tepian Rajo


    Kolam renang standard international.

    Lokasi : Jl. Kapt. Sujono, Kecamatan Kota Baru, 6 km dari pusat kota
    Wisata : Renang, polo air dan water boom.

    Fasilitas : Kolam renang standard international 20x50 m & kolam anak-anak
    Tempat parkir luas & taman, luas area 3 ha, Water boom mini.
    Keterangan : Merupakan kolam renang yang digunakan sebagai pusat kegiatan cabang olahraga renang dan polo air. Rutin digunakan berbagai sekolah di Kota Jambi sebagai tempat latihan renang. Pada hari libur selalu dipenuhi pengunjung terutama anak-anak di fasilitas water boomnya.


    6. Taman Ria Remaja

    Taman rekreasi dan tempat pagelaran seni yang sering digunakan oleh pelajar se-kota Jambi.
    Lokasi : Jl. H. Agus Salim, Kecamatan Kota Baru, 4 km dari pusat kota.
    Wisata : Taman rekreasi dan pentas pertunjukan.
    Fasilitas : Taman rekreasi seluas 2 ha yang rimbun oleh pepohonan, sering digunakan pula sebagai pentas seni, Tempat parkir luas & taman.
    Keterangan : Sering digunakan berbagai sekolah di Kota Jambi sebagai tempat pagelaran tari, musik, pertandingan kesenian, dll.


    7. Taman Anggrek Sri Soedewi

    Taman Anggrek Sri Soedewi


    Taman pengembangan tanaman anggrek, baik lokal maupun anggrek Nusantara.
    Lokasi : Jl. A. Yani, Kecamatan Telanaipura, 6 km dari pusat kota.
    Wisata : Taman botani dan rekreasi.
    Fasilitas : Taman rekreasi seluas 25.056 m² yang rimbun oleh pepohonan, dan berbagai jenis anggrek yang dikembangkan di taman ini, Kantin, kolam ikan, dll.
    Keterangan : Anggrek merupakan kekayaan flora yang dimiliki Indonesia, bunga yang tumbuh di hutan hujan tropis ini diduga masih banyak terdapat di pedalaman Jambi.


    8. Taman Mayang Mangurai - Telanaipura

    Taman Mayang Mangurai


    Di taman ini terdapat Rumah Adat Jambi, Kajanglako, dan perlengkapan adat.
    Lokasi : Jl. Atmadibrata, Kecamatan Telanaipura, 6 km dari pusat kota.
    Wisata : Taman dengan bangunan Rumah Adat Jambi, Kajanglako. Didalamnya terdapat koleksi peralatan pengantin Jambi dan pakaian adat kabupaten kota se-Provinsi Jambi.
    Fasilitas : Taman yang penuh pepohonan dengan bangunan Rumah Adat Jambi, berada diatas area seluas 0,75 ha. Tepat berada disebelah Kantor Gubernur Jambi, dan masih berada dalam kompleks perkantoran Pemerintah Provinsi.
    Keterangan : Taman ini bersebelahan dengan Kantor Gubernur dan berhadapan dengan Kantor DPRD Provinsi Jambi yang megah. Di dalam Rumah Adat tersimpan koleksi perlengkapan adat-istiadat Jambi.


    9. Sanggar Batik & Kerajinan PKK Provinsi Jambi

    Motif Batik Jambi


    Tempat pemasaran berbagai kerajinan karya ibu-ibu PKK se-Provinsi Jambi.

    Lokasi : Jl. Sri Soedewi, Kecamatan Telanaipura, 4 km dari pusat kota.
    Wisata : Merupakan tempat pemasaran berbagai macam batik khas Jambi, tenun Songket Jambi, sulaman benang emas, kerajinan anyaman rotan/bambu, ukiran kayu, perhiasan batu- batuan, bros dari sisik ikan dan berbagai macam hasil kerajinan khas Jambi. Sanggar ini dikelola PKK Provinsi Jambi sebagai tempat pelatihan membatik dan kerajinan tangan lainnya. Buka setiap hari pada jam 09.00 - 16.00 WIB.


    10. Dekranasda

    Dekranasda Provinsi Jambi


    Tempat pemasaran berbagai kerajinan karya pengrajin se-Provinsi Jambi.

    Lokasi : Jl. Sudirman (depan Mapolda) Kecamatan Jambi Selatan, 4 km dari pusat kota.
    Wisata : Merupakan tempat pemasaran berbagai macam batik khas Jambi, kerajinan anyaman rotan/bambu, ukiran kayu dari Betung, perhiasan batu-batuan dan berbagai macam hasil kerajinan khas Jambi. Selain itu juga tersedia produk makanan & minuman khas Jambi seperti, kopi, teh kayu aro, dodol nanas tangkit, keripik dan dodol kentang Kerinci, dll.


    11. Pasar Keramik

    Pasar Keramik


    Pasar penjualan keramik & kristal hiasan.
    Lokasi : Jl. Sisingamangaraja, belakang bioskop Mega, Pasar Jambi.
    Wisata : Merupakan tempat pemasaran berbagai macam jenis keramik, kristal hias & barang- barang import lainnya.


    12. Danau Sipin

    Danau Sipin


    Wilayah dengan wisata alam berupa kawasan perairan yang mengelilingi sebuah pulau (Pulau Pandan).
    Lokasi : Kecamatan Telanaipura, 4-7 km dari pusat kota dan 10 km dari Bandara Sultan Taha.
    Wisata : Kawasan dengan panorama alam seluas 200 ha dengan pulau seluas 89,2 ha. Tempat pemancingan & budidaya ikan.
    Keterangan : Hotel Ratu (bintang 4) & Batanghari Restaurant terdapat salah satu sisinya.


    13. Danau Teluk

    Danau Teluk


    Wilayah dengan wisata alam berupa kawasan perairan yang menjadi tempat budidaya ikan air tawar secara tradisionil.
    Lokasi : Kecamatan Danau Teluk, 12 km dari pusat kota melalui Jembatan Aur Duri (3 km di seberang Kota Jambi).
    Wisata : Kawasan dengan panorama alam dan perairan. Tempat pemancingan & budidaya ikan (keramba).
    Keterangan : Terletak di Jambi Kota Seberang, dan telah terdapat jalan aspal menuju lokasi.


    14. Mesjid Agung Al-Falah

    Mesjid Agung Al-Falah


    Mesjid ini memiliki banyak tiang & tidak berdinding, sehingga lebih dikenal sebagai Mesjid Seribu Tiang.
    Lokasi : Jl. Sultan Taha, Kecamatan Telanaipura, bersebelahan dengan Pusat Pendidikan Islam Al-Falah, Museum Perjuangan & IPAL Benteng.
    Wisata : Wisata keagamaan, mesjid ini adalah mesjid terbesar di Kota Jambi & menjadi pusat kegiatan dan dakwah Islam. Pada masa lalu diduga merupakan pusat Kesultanan Jambi (Kampung Gedang Tanah Pilih).


    15. Kompleks Makam Rajo-Rajo Jambi

    Kompleks Makam Rajo-Rajo Jambi


    Wilayah pemakaman kuno yang dikeramatkan penduduk setempat.
    Lokasi : Kecamatan Telanaipura, 4 km dari pusat kota.
    Wisata : Di tempat ini dimakamkan isteri Sultan Thaha Syaifuddin, Raden Mattaher, dll.


    16. Makam Datuk Sintai

    Makam kuno yang dikeramatkan penduduk setempat.
    Lokasi : Kampung Pecinan, Mudung Laut, Kecamatan Pelayangan, 15 km dari pusat kota melalui Jembatan Aur Duri.
    Wisata : Makam kuno yang dikeramatkan, terletak di Jambi Kota Seberang.


    17. Kampoeng Radja

    Kampoeng Radja

    Taman Rekreasi & Restaurant yang merupakan usaha swasta.
    Lokasi : Jalan lintas lingkar barat, dekat Terminal Alam Barajo, Simpang Rimbo.
    Wisata : Selain restaurant & taman rekreasi (terdapat danau buatan & tempat pemancingan didalamnya), juga tersedia sarana outbound, kolam renang, go car, dll.


    18. Museum Negeri Jambi

    Museum Siginjai

    Tempat rekreasi dan pendidikan sejarah Jambi.
    Lokasi : Jl. Urip sumoharjo No. 01 Telanaipura.
    Wisata : Museum Negeri Jambi memiliki berbagai jenis koleksi yakni: geologi, biologi, filologi, etnografi, arkeologi, sejarah, keramik, seni rupa dan tekhnologi.

    Monas ada loh di Jambi?

    Monas Jambi ini adanya di Kota Baru, disini juga jadi tempat nongkrong favorite anak-anak Jambi. pokoknya kalo malem, tempat ini berubah, dari tempat perkantoran menjadi tempat nongkrong anak muda. disini kalian juga bakal nemuin warung bandrek dengan musik yang kenceng-kenceng banget. asik pokoknya! x)

    itu dia sebagian tempat wisata yang paling kece di Kota Jambi. sebenarnya ada beberapa lagi sih yang keren. tapi itu aja yg mau gue bahas. dateng aja ke Jambi makanya :p

    Taman Rimba Kota Jambi

    Taman Rimba – Jika mendengar nama ini mungkin yang akan terbayang di benak anda adalah taman yang bernuansa hutan. Tapi jangan salah, kesan natural tetap akan terasa di objek wisata ini, namun tempat ini tidak sepenuhnya tampak seperti hutan, tempat ini juga memiliki fasilitas taman bermain untuk anak-anak dan hal menarik lainnya, Taman Rimba ini juga memiliki nilai budaya dari Provinsi Jambi. Maka dari itu, objek wisata ini menjadi salah satu tujuan favorit untuk menghabiskan waktu liburan.

    Lokasi dan Akomodasi

    Objek wisata taman rimba ini berlokasi di Jalan Sunaryo, tepatnya berada di Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Provinsi Jambi.

    Untuk menuju ke lokasi taman rimba Jambi ini, anda bisa menggunakan transportasi apa saja, bisa menggunakan kendaraan pribadi dan juga bisa menggunakan kendaraan umum atau bisa menggunakan transportasi taksi.

    Jika anda menggunakan mobil sendiri atau kendaraan pribadi, jika anda datang dari arah Bandar udara Sultan Thaha Syaifudin kota Jambi, anda hanya membutuhkan waktu 5 – 10 menit saja untuk mencapai Taman Rimba Jambi, karena memang jarak nya tidak terlalu jauh, kira – kira hanya 500 meter dari bandara tersebut.

    Namun jika anda menggunakan angkutan kota atau angkot, anda bisa naik angkot dengan jurusan Candra yang berwarna merah. Angkot ini berangkat dari terminal rawasari dan akan melewati beberapa jalan protokol dikota Jambi. Jika anda telah sampai di lrg. Chandra anda jangan meneruskan perjalanan dengan angkot, anda bisa melanjutkan perjalanan anda menggunakan ojek.

    Biaya ongkos yang harus anda keluarkan untuk sampai ke Taman Rimba Jambi ini sekitar Rp 5.000. dengan rincian Rp 2.000 untuk ongkos angkot dan Rp 3.000 untuk ongkos ojek. Selain itu, anda juga bisa menggunakan taksi sebagai sarana transportasi untuk menuju ke Taman Rimba Jambi ini. Biaya ongkos dari taksi ini sendiri beragam, tergantung kesepakatan anda dengan si sopir taksi.

    Wisata

    Objek wisata taman rimba ini mulai didirikan di atas sebuah lahan tanah yang luas kurang lebih sebesar 18 Ha, pada sekitar awal tahun 80an. Objek wisata taman rimba ini penataannya betemakan penggabungan dari dua jenis konsep wisata, yang antara lain adalah kosep wisata taman hiburan (sejenis taman bermain) dan konsep kebun binatang.

    Hal ini dilakukan agar para pengunjung tidak bosan untuk menghabiskan waktu taman rimba ini, karena selain bisa melihat beraneka ragam jenis-jenis hewan yang dilestarikan, para pengunjung juga bisa menghabiskan waktu dengan bermacam-macam jenis permainan yang telah di sediakan oleh pengurus setempat, anda juga bisa sekalian piknik bersama keluarga tercinta sembari mengawasi buah hati anda. Inilah alasan mengapa objek wisata taman rimba ini pada akhirnya diberi nama sebagai “Taman Mini dan Taman Rimba Jambi”.

    Objek wisata taman rimba yang ada di kota jambi ini memiliki koleksi hewan-hewan langka yang tidak jauh berbeda dari kebun-kebun binatang lainya, contohnya saja disana terdapat seekor beruang hitam, gajah, harimau sumatera, buaya, ular, kura-kura, orang utan, kuda poni, bahkan ada seekor kangguru yang akhir-akhir ini baru bergabung di taman rimba dan masih banyak lagi hewan-hewan langka yang di lindung dan dilestarikan di taman rimba ini.

    Yang paling banyak menarik minat para pengunjng taman rimba ini adalah koleksi burung-burungnya, yang antara lain adalah burung rangkok, burung pelikan laut, burung elang, burung rajawali, burung bangau, burung kasuari, hingga burung unta. Kenapa bisa koleksi tersebut yang lebih banyak menarik minat para pegunjung? Pastilah anda penasaran bukan.

    Hal itu di karenakan koleksi burung-burung yang telah disebutkan sebelumnya tadi, ditempatkan di dalam sebuah bangunan kaca yang berbentuk setengah lingkaran besar, mungkin bisa disebut sebagai sangkar raksasa yang dibuat dari kaca, keadaan sangkar tersebut dibuat semirip mungkin dengan habitat burung-burung tersebut, sehingga agak mirip seperti hutan kecil tepatnya.

    Nah, maka dari itulah para pengunjung dapat melihat koleksi burung-burung di objek wisata taman rimba ini dengan leluasa. Banyak para pengunjung yang memilih lokasi piknik disekitar sangkar kaca tersebut, karena memang bangunan tersebut berada di tengah taman, jadi selain pemandangan sekitarnya indah, tempatya juga sangat rindang.

    Bagi para pengunjung yang ingin berkeliling taman tersebut, anda bisa menunggang binatang seperti gajah atau kuda yang telah disiapkan untuk mengantar anda sekalian untuk berkeliling melihat – lihat di sekitar taman.

    Fasilitas

    1. Pusat Penjualan Souvenir.

    Ada sebuah bangunan besar yang disebut sebagai Rumah Adat Kejang Lako. Rumah Adat ini memiliki konsep bangunan yang lebih modern tapi tidak meninggalkan ciri khasnya, yaitu bubungan rumah yang diukir dengan ukiran burung angsa kejang lako.

    Dihalamanya yang luas terdapat 6 macam rumah adat daerah jambi yang masing-masing memiliki perbedaan, rumah-rumah ini sekarang dijadikan sebagai tempat penjualan cinderamata, oleh-oleh dan beberapa makanan khas daerah jambi.

    2. Arena Bermain

    Di objek wisata taman rimba ini disediakan arena boom boom car, komedi putar mini, arena permainan mandi bola, dan beberapa arena bermain lainnya yang sifatnya outdoor.

    3. Jogging Track

    Anda bisa berolahraga secara gratis di objek wisata taman rimba ini.

    Tips Berkunjung ke Taman Rimba :

    1. Lebih baik jika anda membawa kendaraan pribadi untuk berkunjung ke tempat wisata Taman rimba ini, karena memudahkan anda jika ingin berkeliling areal taman, jadi anda tidak perlu susah-susah lagi berjalan.

    2. Perhatikan keadaan cuaca sebelum anda berangkat, pergilah pada cuaca cerah agar anda bisa menikmati perjalanan anda secara total.

    3. Jangan lepaskan perhatian anda dari anak anda, memang ada pegawas, tetapi melihat pengunjung yang begitu banyak, tidak menutup kemungkinan mereka tidak bisa mengawasi secara detail, tapi mereka pasti akan mengingatkan anda sebelumnya.

    4. Bawalah makanan sendiri dari rumah, seperti yang anda tahu, tidak ada makanan yang murah di tempat-tempat objek wisata seperti itu, jadi untuk menghemat biaya, tidak ada salahnya anda membawa makanan sendiri dari rumah, kesehatannya juga lebih terjamin.

    5. Satu hal yang perlu anda ingat, jangan buang sampah sembaragan disana jika anda tidak ingin dikenakan denda besar jika ketahuan.

    Nah, sudah siapkah anda untuk mengunjungi tempat objek wisata taman rimba ini? masukkanlah ke dalam daftar kunjungan anda di akhir pekan ini, ajak keluarga dan teman – teman anda untuk bersenang – senang disini, dijamin anda tidak akan menyesal, apalagi pemandangannya sangat indah untuk berfoto, jadi tunggu apa lagi? selamat berlibur semuanya.
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger