Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label PENINGGALAN SEJARAH. Show all posts
    Showing posts with label PENINGGALAN SEJARAH. Show all posts

    Makara (Sanskerta: मकर) adalah makhluk dalam mitologi Hindu


    Makara (Sanskerta: मकर) adalah makhluk dalam mitologi Hindu. Hal ini umumnya digambarkan dengan dua hewan gabungan (di bagian depan berwujud binatang seperti gajah atau buaya atau rusa, atau rusa) dan di bagian belakang digambarkan sebagai hewan air di bagian ekor seperti ikan atau naga.
    Makara adalah wahana (kendaraan) dari Dewi Gangga dan dewa Baruna. Itu juga merupakan lambang dari Dewa Kamadeva. Kamadeva juga dikenal sebagai Makaradhvaja (satu bendera yang makara digambarkan). Makara adalah zodiak Capricorn, satu dari dua belas lambang zodiak. Hal ini sering digambarkan melindungi jalan masuk ke kuil Hindu dan Buddha. Makara sering dilukiskan dan dipahatkan dalam candi-candi di Indonesia.
    Sementara Makara Pada situs Percandian Solok Sipin, Kota Jambi, tingginya berbeda2. Ditemukan ada 4 buah makara dengan masa pembuatan pada tahun yang berbeda pula. ke 4 makara tersebut masing2 berukuran 1,10 Meter, 1,21 Meter, 1,40 Meter dan 1,45 Meter.
    Masing2 makara mempunyai hiasan berbeda2, dan perkiraan pembuatan pada waktu yang berbeda pula. Makarra pada foto menunjukkan ukuran 1,45 Meter, mempunyai hiasan raksasa digambarkan seolah berdiri membuka mulut. Setiap raksasa membawa tali dan tongkat besar, ujungnya terdapat hiasan kuntum bunga.
    Makara tertinggi (1,45 Meter) bertarikh 986 saka atau 1064 Masehi, yang bertulis // pasumba lini mpu Dharmmawira// i saka 986. Jika dilihat dari ukuran makkara, menunjukkan berasal dari bangunan yang besar.
    Foto : Salah satu temuan dari 4 Makara Solok Sipin, Situs Percandian Solok Sipin, Kota Jambi.

    Menguak Candi Muaro Jambi Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya




    Candi Muaro Jambi yang terdapat di tanah air tercinta ini adalah salah satu tempat peninggalan purbakala terluas di Indonesia. Situs purbakala yang terdapat di di kawasan Desa Muaro Jambi, Kecamatan Marosebo, Ulu Kabupaten Muarojambi ini, dipredisikan sudah berdiri kokoh pada abad ke-11 Masehi. Dimana pada saat itu masih berada di bawah masa pemerintahan Sriwijaya dan hingga saat ini candi tersebut masih utuh dan dan terawat dengan baik.



    Tak hanya itu, ternyata Candi ini merupakan salah satu warisan budaya agama Budha yang bernilai sangat tinggi. Dimana pada bagian-bagian yang terdapat pada bangunan Candi tersebut dapat menunjukkan bahwa, zaman dulu Candi Muaro Jambi ini pernah dijadikan sebagai salah satu pusat tempat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana di Indonesia. Bahkan hal ini juga diperkuat dengan adanya beberapa hasil temuan benda sejarah yang terdapat pada Candi Muaro ini. Seperti halnya hasil reruntuhan Stupa, Arca Gajah Singh, Arca Prajinaparamita dan lain sebagainya.

    Selain itu keberadaan Candi Muaro Jambi ini tambah dipertegas dengan datangnya sekelompok para Rohaniawan Budha yang berasal dari luar Negeri dan para Bhiksu asal Tiongkok yang juga datang berkunjung ke Candi Muaro Jambi ini pada beberapa waktu yang lalu.

    Para wisatawan asing tersebut, bertujuan ingin menyaksikan secara langsung dan ingin mengenal lebih jauh tentang keberadaan dan sejarah awal mula dari Candi Muaro Jambi ini. Sehingga saat inipun para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri juga mulai banyak yang berdatangan

    Akibat semakin banyaknya para wisatawan yang datang. Pada tahun yang lalu 2012, Candi Muaro Jambi ini telah diresmikan oleh Presiden yakni Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang mana dalam hal tersebut mengatakan bahwa, Candi Muaro Jambi ini dijadikan sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) yang terdapat di Sumatera.

    Tentunya berkat keberadaan Candi Muaro Jambi yang telah banyak menyedot para pengunjung (khususnya para penganut agama Budha). Pelestarian serta keamanannya harus tetap dijaga dan dilestarikan agar obyek wisata yang satu ini tetap dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata jambi bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

    Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir

    Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir terletak di Desa Tanjung Pauh Hilir, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º06’9.01” LS dan 101º26’0.35” BT.

    Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir dibangun pada tahun 1920 dengan denah bujur sangkar yang berukuran 18,5 x 18,5 m. Pada mulanya masjid ini terbuat dari kayu dan beratap ijuk, tetapi sekarang telah direnovasi oleh masyarakat setempat sehingga menjadi berlantai ubin keramik bermotif bunga, berdinding tembok, dan beratap seng. Pada bagian depan masjid terdapat 2 buah kolam yang berbentuk oval dan persegi panjang dengan ukuran 5 x 8 m dan 3 x 5 m. Kolam tersebut digunakan sebagai tempat bersuci.
    Seperti masjid-masjid kuno di Kerinci, masjid ini memiliki atap berbentuk tumpang 3 dengan kubah pada bagian atasnya. Pada bagian puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk bulan sabit. Selain itu,mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif geometris, serta tempelan tegel keramik. Pada bagian depan pintu terdapat tangga naik yang pipi tangganya juga dihias dengan tempelan tegel keramik. Pada dinding masjid dihiasi dengan tempelan tegel keramik. Pada setiap sisinya juga terdapat 4 buah jendela berdaun ganda.

    Keunikan masjid ini terletak pada pada 1 buah tiang saka guru berdiameter 0,6 m yang dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan terletak ditengah-tengah ruang utama masjid. Tiang saka guru ini dikelilingi oleh 4 buah tiang yang berdiameter 0,4 m. Keempat buah tiang tersebut dikelilingi oleh 8 buah tiang yang berdiameter 0,4 m.

    Mihrab masjid terletak di sebelah barat. Pada dinding barat mihrab terdapat jendela kaca yang berbentuk lingkaran dan dilengkapi dengan teralis besi bermotif bintang. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan tempelan tegel keramik. Mihrab ini mempunyai atap gabungan antara bentuk limas dan kubah yang pada bagian puncaknya terdapat mustaka berbentuk bulan sabit. Mimbar masjid memiliki atap berbentuk limas, ukuran mimbar 2,10 x 1,80 x 2,25 m dan dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan geometris, serta tempelan tegel keramik. Pada bagian depan terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran motif bunga cengkeh.

    Masjid Kuno Lempur Tengah

    Masjid Kuno Lempur Tengah terletak di Desa Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º14’51.89” LS dan 101º32’42.16” BT. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 M, kemudian sejak tahun 1940 sudah tidak difungsikan lagi karena masyarakat telah membangun masjid yang lebih besar. 

    Masjid Kuno Lempur Tengah sangat unik, dan termasuk masjid kayu yang dianggap masih utuh. Sebagaimana layaknya bangunan kayu di Kerinci, arsitektur bangunan termasuk kategori rumah panggung. Hal ini tampak pada bagian lantai terbuat dari susunan papan kayu, meskipun bagian kolong telah ditutup dengan dinding bata.

    Keunikan lain dari Masjid lempur Tengah, yaitu interior ruang masjid dan dinding luar penuh dengan pahatan motif geometris dan flora. Termasuk adanya motif terawangan sulur gelung yang terdapat pada keempat sudut dinging. Sedangkan atapnya sendiri berbentuk tumpang dua dengan kemuncak berbentuk gada. 

    Atap tersebut ditopang oleh 12 tiang kayu berbentuk segi delapan. Empat buah tiang saka guru berpahat motif tumpal, sulur-suluran, dan tali, sedang delapan buah tiang saka rawa.

    Masjid Kuno Lempur Mudik

    Masjid Kuno Lempur Mudik terletak di Desa Lempur Mudik, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 01º15’22” LS dan 101º32’34.45” BT. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 M, seperti halnya masjid kuno Lempur Tengah, demikian pula Masjid Kuno Lempur Mudik sejak tahun 1931 sudah tidak difungsikan dan tergantikan dengan masjid baru yang lebih besar dan luas. 

    Semula masjid ini terbuat dari kayu dan beratap ijuk, namun sekarang telah diubah menjadi bangunan semi permanen dengan lantai semen dan beratap seng. Masjid Kuno Lempur Mudik memiliki atap berbentuk tumpang 2, pada bagian kemuncak berbentuk bulan sabit dan bintang.

    Masjid berdenah bujur sangkar berukuran 11 x 11 m, kontruksinya ditopang oleh 16 buah tiang kayu yang berbentuk segi delapan. Empat buah tiang saka guru berdiameter 0,75 m dan dua belas saka rawa masing-masing berdiameter 0,61 m. Keseluruhan tiang dan permukaannya dipahat dengan motif sulur-suluran, sedangkan pada dinding kayu berukir motif flora, tali, medalion, dan baluster. 

    Ukiran ini merupakan hasil seni pahat khas masyarakat Kerinci, dan yang sangat mengesankan yaitu ukiran terawangan sulur gelung yang ditempatkan pada keempat sudut dinding bangunan. Kekhasan Masjid Lempur Mudik yang mempunyai kesamaan dengan masjid-masjid kuno di Kerinci, yaitu adanya tempat muadzin mengumandangkan adzan yang berupa panggung kecil dan terletak menempel tiang saka guru.

    Klenteng Hok Tek

    Klenteng Hok Tek terletak di Jl. Husni Thamrin, Kelurahan Beringin, Kecamatan Pasar, Kota Jambi. Secara Astronomi terletak di 103 37’67” BT dan 01 37’46” LS.

    Menurut keterangan pengurus Klenteng Hok Tek, bahwa tempat ibadah ini merupakan klenteng tertua di Jambi. Tentang usia bangunan salah satunya seperti terlihat pada sebuah papan bertulis yang menyebutkan pertanggalan 154 tahun yang lalu. 

    Pada sisi lain dari papan tersebut, tertera penjelasan mengenai seorang yang telah memberikan sumbangan ketika berkunjung ke klenteng pada tahun 2489 Imlek (1838 M). Pada masa perjuangan melawan Belanda, bangunan ini pernah digunakan sebagai tempat penyembunyian persenjataan para pejuang rakyat Jambi.

    Bangunan kelenteng Tuo Hok Tek menghadap timur laut, keberdaan arah hadap berdasarkan letak altar dalam tata ruang bangunan kelenteng Cina selalu menghadap ke arah gerbang masuk halaman kompleks. Bangunan Kelenteng ini berarsitektur Cina, ditandai dengan bentuk atap ruang depan berbentuk jurai dan pelana (hsuan shan), sedangkan ruang utama dan samping atapnya berbentuk pelana dengan dinding tembok (ngang shan). Kedua bubungannya membentuk simbol naga bermahkota bertanduk dan bertaring. Pada dinding kiri-kanan atas pintu masuk terdapat lukisan tembok yang mengisahkan peristiwa Sam Kok dan kisah seorang Ibu menyelamatkan bayinya dari serangan perusuh jalanan. 

    Kelenteng Tuo Hok Tek beberapa kali mengalami renovasi pada tahun 1931, 1970 dan sejak tanggal 4 Februari 1984 kelenteng ini sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat ritual. Renovasi terakhir tahun 1997 tetap mempertahankan bentuk bangunan seperti semula seperti semula karena dianggap sebagai kelenteng pertama di Jambi.

    Menara Air

    Menara Air yang kini menjadi reservoir PDAM Jambi merupakan salah satu tinggalan pemerintah Belanda. Terletak di Kelurahan Murni, Kecamatan, Telanaipura, Kota Jambi atau berada di depan Museum Perjuangan Rakyat Jambi dan berada di belakang Masjid Agung.

    Menara Air, Museum Perjuangan Rakyat Jambi, dan Masjid Agung pada masa Kesultanan Jambi merupakan bekas lokasi Istana Tanah Pilih yang kemudian dihancurkan Belanda dan didirikan benteng pertahanan. Sejarah mencatat di atas Menara Air ini pengibaran Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan oleh para pejuang Jambi pada tanggal 19 Agustus 1945 atau dua hari setelah diumumkan Proklamasi Kemerdekaan RI.

    Sebagai bangunan resevoir, menara tersebut berfungsi untuk menampung air minum dengan luas bangunan berdiameter 9,360 m dan tinggi 24,150 m. Menara air ini terdiri dari 3 buah bangunan, 1 buah bangunan yang paling tinggi (3 tingkat/bangunan induk) berada di tengah, dan 2 buah bangunan yang lebih rendah (2 tingkat) terletak di samping kanan dan kirinya. Untuk mencapai puncak bangunan dapat ditempuh dengan menaiki tangga. 

    Selain itu juga terdapat 2 buah bangunan lagi yang bentuknya lingkaran atau silindrik. Pada masa dulu masih terdapat 2 bangunan serupa namun saat ini sudah tidak ada lagi dan digunakan sebagai taman. Bangunan menara air secara keseluruhan masih asli belum mengalami perubahan.

    Keberadaan Makam Sultan Thaha

    Pagi semua, kali ini saya akan memberikan sebuah informasi mengenai sejarah jambi yang mana SULTAN THAHA merupakan pahlawan/Raja Jambi. Mungkin kita lupa akan sejarah sehingga jasa para pahlawan tidaklah kita pedulikan lagi contoh nya kita tidak pernah untuk melakukan ziarah / mengunjungi makam-makam mereka yang telah rela merpertaruhkan jiwa dan raganya untuk melawan para penjajah yang telah menyiksa rakyat Jambi baik nya di INDONESIA.

    Kali ini makam pahlawan/Raja Jambi yang mungkin banyak tidak di kenal oleh rakyat Jambi, yang mana letak dan lokasi pemakaman agak jauh dari pemukiman Kota Jambi. Di daerah pemakaman SULTAN THAHA banyak terdapat peninggalan baik yang bisa dilihat oleh dengan mata telanjang dan juga ada yang tidak bisa dilihat dengan secara biasa. Karena banyak para petua mengatakan bahwa semua harta peninggalan SULTAN THAHA terdapat disini ( Dusun Tanah Garo – Olak Kemang Muara Tabir Kab. Tebo ) merupakan tempat pelarian dan juga benteng pertahanan.


    Keberadaan Bunker Jepang di dekat Badar Udara Sultan thaha Jambi


    Bunker adalah sejenis bangunan pertahanan militer yang biasanya di bangun didalam tanah. Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan Bunker Jepang yang dibangun di zaman pendudukan Jepang, yang berada di Kota Jambi. Bangunan yang terbuat dari Beton ini berukuran 4 X 4 meter yang berada di dalam kawasan Bandara Sultan Thaha Jambi.

    Letaknya yang berada persis di pinggir landasan pacu pesawat, tidak memungkinkan bagi warga masyarakat leluasa untuk bisa masuk dan mengunjungi peninggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.
    Gbr. Bunker Jepang di Landasan Pacu Bandara Sultan Thaha, Kota Jambi.

    Bangunan yang berbentuk semi lingkaran tersebut masih terlihat kokoh meski sudah berusia puluhan tahun. sebuah gembok besar terlihat menggantung di pintu setinggi kurang lebih 1,5 meter yang terbuat dari baja. Jendela berbentuk persegi panjang seukuran sekitar setengah meter terlihat diberbagai sisi bangunan itu. Jendela atau lebih pas disebut lubang di tembok beton ini sepertinya merupakan tempat Serdadu Negeri Matahari Terbit (Jepang) meletakkan moncong senapannya.
    Gbr. Meja Besar di dalam Bunker Jepang.





    Gbr. Terowongan di dalam Bunker Jepang.


    Jika kita melongok lebih kedalam Bunker Jepang ini, akan terlihat ada sebuah meja besar yang terbuat dari beton yang berada di tengah ruangan berukuran sekitar 3 - 4 meter itu. Di dalam Bunker ini juga terdapat sebuah terowongan yang menghubungkan dengan Bunker lainnya yang terletak di kawasan Taman Rimba atau Kebun Binatang Kota Jambi .
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger