Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label Cerita Rakyat Jambi. Show all posts
    Showing posts with label Cerita Rakyat Jambi. Show all posts

    Makara (Sanskerta: मकर) adalah makhluk dalam mitologi Hindu


    Makara (Sanskerta: मकर) adalah makhluk dalam mitologi Hindu. Hal ini umumnya digambarkan dengan dua hewan gabungan (di bagian depan berwujud binatang seperti gajah atau buaya atau rusa, atau rusa) dan di bagian belakang digambarkan sebagai hewan air di bagian ekor seperti ikan atau naga.
    Makara adalah wahana (kendaraan) dari Dewi Gangga dan dewa Baruna. Itu juga merupakan lambang dari Dewa Kamadeva. Kamadeva juga dikenal sebagai Makaradhvaja (satu bendera yang makara digambarkan). Makara adalah zodiak Capricorn, satu dari dua belas lambang zodiak. Hal ini sering digambarkan melindungi jalan masuk ke kuil Hindu dan Buddha. Makara sering dilukiskan dan dipahatkan dalam candi-candi di Indonesia.
    Sementara Makara Pada situs Percandian Solok Sipin, Kota Jambi, tingginya berbeda2. Ditemukan ada 4 buah makara dengan masa pembuatan pada tahun yang berbeda pula. ke 4 makara tersebut masing2 berukuran 1,10 Meter, 1,21 Meter, 1,40 Meter dan 1,45 Meter.
    Masing2 makara mempunyai hiasan berbeda2, dan perkiraan pembuatan pada waktu yang berbeda pula. Makarra pada foto menunjukkan ukuran 1,45 Meter, mempunyai hiasan raksasa digambarkan seolah berdiri membuka mulut. Setiap raksasa membawa tali dan tongkat besar, ujungnya terdapat hiasan kuntum bunga.
    Makara tertinggi (1,45 Meter) bertarikh 986 saka atau 1064 Masehi, yang bertulis // pasumba lini mpu Dharmmawira// i saka 986. Jika dilihat dari ukuran makkara, menunjukkan berasal dari bangunan yang besar.
    Foto : Salah satu temuan dari 4 Makara Solok Sipin, Situs Percandian Solok Sipin, Kota Jambi.

    Sejarah Singkat Sultan Thaha

    Pahlawan Nasional,lahir di Jambi pada tahun 1816. Tahun 1841 ia diangkat sebagai Pangeran Ratu (semacam perdana menteri) di bawah pemerintahan Sultan Abdurrahman. Sejak itu, ia memperlihatkan sikap menentang Belanda. 

    Ketika sebuah kapal dagang Amerika berlabuh di pelabuhan Jambi, ia berusaha mengadakan kerja sama dengan pihak Amerika. Sikap anti-Belanda semakin kelihatan setelah ia dinobatkan sebagai Sultan Jambi. Ia tidak mengakui perjanjian yang dibuat oleh sultan-sultan terdahulu dengan Belanda. Salah satu diantaranya perjanjian tahun 1833 yang menyatakan Jambi adalah milik Belanda dan dipinjamkan kepada Sultan Jambi. 

    Belanda mengancam akan memecatnya, akibatnya hubungannya dengan Belanda tegang. Karena sudah memperkirakan Belanda pasti akan menggunakan kekuatan senjata, maka Sultan Thaha pun memperkuat pertahanan Jambi.

    Belanda mengirim Residen Palembang untuk berunding dengan Sultan Thaha. Perundingan itu gagal. Sesudah itu, Belanda menyampaikan ultimatum agar Sultan Thaha menyerahkan diri. Karena Sultan Thaha menolak ultimatum, pada 25 September 1858 Belanda melancarkan serangan. 

    Pertempuran berkobar di Muara Kumpeh. Pasukan Jambi berhasil menenggelamkan sebuah kapal perang Belanda, namun mereka tidak mampu mempertahankan kraton. Sultan Thaha menyingkir ke Muara Tembesi dan membangun pertahanan di tempat ini.

    Perang utama sudah berakhir, tetapi perlawanan rakyat berlangsung puluhan tahun lamanya. Sultan Thaha membeli senjata dari pedagang-pedagang Inggris melalui Kuala Tungkal, Siak dan Indragiri. Rakyat dianjurkan agar tetap mengadakan perlawanan. Pada 1885 mereka menyerang sebuah benteng Belanda dalam kota Jambi, sedangkan pos militer Belanda di Muara Sabak mereka hancurkan. Karena itu, Belanda meningkatkan operasi militernya. 

    Pasukan bantuan dalam jumlah besar didatangkan dari Jawa. Sultan Thaha terpaksa meninggalkan Muara Tembesi dan pindah ke tempat lain. Beberapa tahun lamanya ia bertahan di Sungai Aro. Bulan April 1904 tempat ini diserang pasukan Belanda, ia berhasil meloloskan diri. Pada 24 April 1904 ia meninggal dunia di Muara Tebo.

    PERJUANGAN RADEN MAT TAHIR DALAM MENENTANG KOLONIALISME DI JAMBI

    Salah seorang panglima perang Jambi yang sangat terkenal dan ditakuti Belanda adalah Raden Mat Tahir. Osman Situmorang (1973) dalam Skripsinya Raden Mattahir Pahlawan Jambi, menuliskan nama asli Raden Mat Tahir ialah Raden Mohammad Tahir. Raden Mohammad Tahir sering dipanggil masyarakat sebagai Raden Mat Tahir. Masyarakat Jambi biasa menambah nama orang terkenal, pintar, cerdik dengan gelarannya yang baru, misalnya Mat Keriting, Mat Belut, Mat Itam, dll. Penulisan nama Raden Mat Tahir menurut berbagai sumber dijumpai banyak macam antara lain adalah sebagai berikut :
    • G.J. Velds, dalam De Onderwerping van Djambi in 1901-1907, menuliskan Raden Mat Tahir sebagai Raden Mat Tahir dan atau Mat Tahir.
    • Raden Syariefs (1969) di dalam bukunya Riwajat Ringkas Tentang Perdjuangan Pahlawan Djambi Raden Mattaher Panglima Sultan Thaha, menuliskan Raden Mat Tahir sebagai Raden Mat Tahir.
    • Keputusan Dewan Perwakilan Rakjat Daerah Gotong Rojong Tingkat II Kotapradja Djambi, Nomor 4/DPRD-GR/63, tentang Penetapan Nama-Nama Djalan Dalam Kotapradja Djambi, tanggal 1 Djuli 1963, memutuskan bahwa terhitung sejak tanggal keputusan ini “Djalan Batanghari, dari Sp. III Djl. Kartini s/d sebelah ilir Djembatan Sei. Asam, sebagai jalan lama dengan nama Djalan Batanghari diganti dengan nama baru yakni jalan R.M.Tahir”.
    • Osman Situmorang (1973) dalam Skripsinya Raden Mattahir Pahlawan Jambi, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Jambi, menuliskan nama Raden Mat Tahir sebagai Raden Mattahir.
    • Ratumas Siti Aminah Ningrat dalam bukunya Perjuangan Rakyat Jambi Raden Mat Tahier (1817-1907) menuliskan namanya sebagai Raden Mat Tahier.
    • J. Tideman di dalam Koninklijke Vereeniging Koloniaal Instituut Amsterdam, No. XLII, menuliskan nama Raden Mat Tahir sebagai Mattaher.
    • Elsbeth Locher-Scholten (1994) di dalam Sumatran Sultanate and Colonial State : Jambi and the Rise of Dutch Imperilasm1830-1907, menuliskan nama Raden Mattaher sebagai Mat Tahir.
    • Mukti Nasruuddin (1989) dalam bukunya Jambi Dalam Sejarah menuliskan nama Raden Mat Tahir sebagai Raden Mattahir.

    Rumah Sakit Umum Raden Mattaher, menuliskan Raden Mat Tahir sebagai Raden Mattaher.

    Raden Mattaher biasa dipanggil Mat Tahir, adalah anak dari Pangeran Kusin Bin Pangeran Adi, sedangkan Pangeran Adi adalah saudara kandung Sultan Thaha Syaifuddin. Dengan demikian, maka Sultan Thaha Syaifuddin adalah kakek bagi Raden Mat Tahir. Raden Mat Tahir dilahirkan di dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Batin VI, tahun 1871. Ibunya adalah kelahiran di Mentawak Air Hitam Pauh, dahulunya adalah daerah tempat berkuasanya Temenggung Merah Mato. Ayahnya Pangeran Kusin wafat di Mekkah. Raden Mat Tahir gugur dalam pertempuran melawan Belanda di dusun Muaro Jambi, pada hari Jum’at, waktu subuh, tanggal 10 September 1907. Raden Mat Tahir dimakamkan di komplek pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin Jambi.

    KELUARGA

    Menurut Raden Syariefs (1969) di dalam bukunya Riwajat Ringkas Tentang Perdjuangan Pahlawan Djambi Raden Mat Tahir Panglima Sultan Thaha, mengatakan bahwa Raden Mat Tahir mempunyai beberapa orang istri antara lain adalah sebagai berikut :
    1. Kawin dengan perempuan bernama Siti Esah (Aisah).
    2. Kawin dengan perempuan keturunan Ratumas Bilis Kumpeh yang berdiam di Merangin.
    3. Kawin dengan seorang perempuan dalam Sungai Sipintun.
    Masih menurut Raden Syariefs, disebutkan pula bahwa Raden Mat Tahir mempunyai beberapa orang anak, antara lain sebagai berikut :
    1. Raden Buruk, tinggal di Rambutan Temasam.
    2. Raden Mataji atau Raden Hamzah tinggal di Jambi.
    3. Raden Sulen atau Raden Kusen tinggal di Bogor.
    4. Raden Zainal Abidin adalah suami Ratumas Kandi.
    5. Ratumas Lijah.
    Menurut Osman Situmorang (1973) setelah Raden Mat Tahir meninggal dunia, dua orang putra Raden Mat Tahir dapat ditangkap Belanda sedang dalam asuhan (masih kecil) yakni Raden Hamzah dan Raden Sulen. Keduanya diserahkan Belanda kepada A. M.Hens, seorang Controleur Muara Tembesi. Tetapi karena controleur itu sedang cuti ke luar negeri, maka kedua anak itu diserahkan Belanda kepada Demang Ibrahim, yakni Demang Muara Tembesi untuk menjaga keselamatannya. Lalu kemudian Demang Ibrahim menyerahkan kedua anak Raden Mat Tahir kepada Residen O,L. Helffrich di Jambi. Oleh Residen O.L.Helffrich kedua anak itu bertempat tinggal di rumah residen, lalu oleh risiden disekolahkan di Olak Kemang dengan biaya ditanggung Belanda. Lalu kedua anak itu oleh Residen O.L.Helffrich dikirim ke Palembang untuk sekolah lebih tinggi. Kemudian pada tahun 1914 kedua anak Raden Mat Tahir itu di kirim oleh Pemerintah Belanda ke Batavia. Sedangkan tiga orang anak Raden Mat Tahir yang belum tertangkap Belanda, diungsikan oleh keluarganya di Malaya (Malaysia).

    Raden Mat Tahir mempunyai saudara yang lebih dahulu mengungsi ke Batu Pahat Malaysia, antara lain sebagai berikut :
    1. Raden Hasan.
    2. Raden Kasyim.
    3. Raden Thaib.
    4. Ratumas Jaliah.
    5. Ratumas Fatimah.

    KEPRIBADIAN

    Raden Mat Tahir suka pencak silat, bermain biola, kecapi, dan suling. Pada waktu pasukannya bergerilya di dalam hutan, untuk pengisi penat, Raden Mata Tahir suka mengajak prajuritnya bernyanyi, ia sendiri senang mengesek biola, sambil menyanyi dengan “lagu Nasip”. Raden Mat Tahir juga suka memakan daging menjangan sebagai lauk di saat bergerilya dalam hutan.

    Pada masa Sultan Thaha Syaifuddin masih berkedudukan dan memerintah di Istana di Kampung Gedang Tanah Pilih, Raden Ma Tahir adalah seorang pemuda beranjak dewasa, ia belum memikul suatu jabatan apapun di dalam kerajaan Jambi. Tapi ia telah memperlihatkan sebagai seorang kesatria, berani, cerdas, dan pandai mengatur strategi.

    Pasukan Raden Mat Tahir adalah pasukan bergerak dan menyerang secara tiba-tiba (mobil). Oleh karena itu pasukan Raden Mat Tahir tidak menempati suatu tempat tetap. Raden Mattaher menamakan pasukannya sebagai Sabillillah. Sebelum pergi melakukan penyerangan atas pasukan Belanda, maka Raden Mat Tahir terlebih dahulu melakukan sholat (sembahyang) agar mendapat petunjuk dan ridho Allah.

    BIVAK BELANDA

    G.J.Velds dalam tulisannya “De Onderwerving van Djambi in 1901-1907, Batavia Departement van Oorlog” terjemahan oleh S.Hertini Adiwoso dan Budi Prihatnamenyebutkan ada beberapa Bivak/pos/kompi Belanda di Batang Tembesi, Batang Batanghari dan perbatasan Jambi Palembang ; bivak Belanda di Muara Tembesi, bivak Belanda di Muara Sekamis, bivak Belanda di Banyu Lincir (Bayung Lincir), bivak Belanda di Muara Tabir, bivak / benteng Belanda di Muara Tebo, bivak Belanda di Penahat Muara Merangin, bivak Belanda di Surulangun-Jambi, bivak Belanda di Surulangun-Rawas, bivak Belanda di Dusun Tiga, bivak Belanda di Lidung, bivak Belanda di Tanjung Gagak, bivak Belanda di Sungai Bengkal, bivak Belanda di Merlung, bivak Belanda di Taman Rajo.

    PERJUANGAN

    Raden Mat Tahir sejak usia remaja telah bergabung dengan panglima perang sebelumnya untuk menggempur Belanda. Perlu penelitian lebih seksama untuk menentukan route griliya pasukan Raden Mat Tahir.

    Di awal tahun 1900 Raden Mat Tahir bersama Pangeran Maaji gelar Pangeran Karto di Tanjung Penyaringan melakukan penyerangan terhadap konfoi 8 jukung Belanda yang ditarik oleh kapal Musi. Kapal Musi dan jukung Belanda membawa senjata, perlengkapan perang, dan perbekalan, untuk dibawa dari Muara tembesi menuju Sarolangun. Persenjataan ini diperuntukkan Belanda untuk membantu militer Belanda yang sedang bertempur di benteng Tanjung Gagak. 

    Pasukan Raden Mat Tahir dan Pangeran Karto serta Panglima Tudak Alam dari Mentawak menyerang iringan jukung dan kapal Musdi Belanda. Semua serdadu Belanda mati terbunuh dan semua senjata berhasil dirampas. Pengawai paksa dari Palembang dan Jawa menyerah diri dan meminta perlindungan pada pasukan Raden Mat Tahir. Setelah penyerangan terhadap Kapal Musi dan 8 jukung ini di Tanjung Penyaringan menyebabkan nama Raden Mat Tahir sangat terkenal di masyarakat dan tentara Belanda. 

    Setelah itu berkembanglah berbagai cerita dan mitos kehebatan Raden Mat Tahir. Senjata rampasan itu sebagaian dikirimkan oleh Raden Mat Tahir ke Tanah garo, ke Merangin, Bangko Pintas, dan juga ke Tabir. Kabar keberhasilan Raden Mat Tahir ini sampai juga di telinga residen Belanda di Palembang, ia sangat murka dan marah.

    Masih Dalam tahun 1901, pasukan Raden Mat Tahir melakukan penyerangan lagi terhadap pasukan Belanda di Sungai Bengkal. Disini Raden Mattaher banyak merampas senjata Belanda dan karaben. Dari Sungai Bengkal pasukan Raden Mat Tahir dibantu pasukan Raden Usman dan Puspo Ali terus begerak menyerang Belanda di Merlung. Dari Merlung pasukan Raden Mat Tahir terus bergerak ke Labuhan Dagang, Tungkal Ulu. Dari Tungkal Ulu pasukan Raden Mat Tahir bersama 40 orang pasukannya lewat Pematang Lumut bergerak menuju Sengeti, lalu menuju Pijoan. Di Pijoan bivak Belanda diserang, pasukan Raden Mat Tahir memperoleh banyak senjata kerabin. Oleh Raden Pamuk gelar Panglima Panjang Ambur senjata itu diangkut ke Jelatang. Lalu kegaduhan timbul dikalangan pasukan Belanda di Kota Jambi dan Muara Bulian.

    Lalu Pasukan Raden Mat Tahir, Raden Pamuk dan Raden Perang gelar Panglima Tangguk Mato Alus pada pertengahan April 1901 bergerak/menyerang Pos Pasukan Belanda di Banyu Lincir (Bayung Lincir). Penyerangan terhadap Banyu Lincir merupakan gabungan pasukan Raden Mat Tahir, Raden Pamuk, dan pasukan Suku Anak Dalam dari Bahar, pimpinan Raden Perang. Kepala Bea Cukai dan pengawalnya mati terbunuh. Banyak senjata pendek Belanda dapat dirampas. Pada penyerangan itu uang sebesar 5.000 golden dan uang 30.000 ringgit cap tongkat di dalam brangkas milik perusahaan minyak berhasil dirampas pasukan Raden Mat Tahir. Pati kas baja berisi uang tersebut dibawa oleh Suku Anak dalam ke Bahar dan lalu dibongkar. Dalam penyerangan itu seorang pasukan Raden Mat Tahir tewas dan 3 orang luka-luka. Peranan Suku Anak Dalam pada penyerangan Banyu Lincir sangat besar jasanya.

    Tahun 1902 Pasukan Raden Mat Tahir di Tanjung Gedang Sungai Alai melakukan penyerangan terhadap 30 buah perahu jukung berisi serdadu Belanda. Perahu jukung berhasil di tenggelamkan dan semua serdadu Belanda mati terbunuh. Setibanya pasukan Raden Mat Tahir di Sungai Alai, secara kebetulan perang sedang berlangsung dipimpin Panglima Maujud, Panglima Suto, Panglima Itam dari Tanah Sepenggal, Rio Air Gemuruh, Rio Gereman Tembago, dari Teluk Panjang, yang telah bertempur lebih dahulu melawan Belanda. Masyarakat di sekitarnya tidak berani mengambil air minum di sungai Batang Tebo karena banyaknya mayat pasukan Belanda yang terapung dan membusuk.

    Setelah pertempuran di Sungai Alai, lalu pasukan Raden Mat Tahir terus bergerak menuju Jambi, khususnya akan menyerang Belanda di Muara Kumpeh. Parang Kumpeh adalah perang yang berkepanjangan dari tahun 1890-1906. Perang Kumpeh adalah perang yang panjang dan lama. Raden Mat Tahir terlibat secara langsung dalam perang Kumpeh tahun 1902 yakni menyerang Kapal Belanda di Sungai Kumpeh. Pasukan Raden Mat Tahir dibantu Raden Seman, Raden Pamuk, Raden Perang, kepala kampung yang masih hidup, dari Marosebo Ilir, dan dari Jambi Kecil. Kapal Belanda yang diserang itu adalah kapal perang yang baru datang dari Palembang. Konon kabarnya keberhasilan ini berkat bantuan jasa seorang jurus mesin kapal bernama Wancik yang merusak mesin kapal sehingga tidak mampu berjalan. Juru mesin ini adalah seorang keturunan Palembang yang bersimpati dengan perjuangan Jambi. Keberhasilan Raden Mat Tahir menyerang kapal perang Belanda ini, maka Raden Mat Tahir diberi gelaran sebagai Singo Kumpeh.

    MENANGKAP HIDUP ATAU MATI

    Menjelang akhir abad 19 Belanda menambah kekuatannya. Pasukan dari Palembang, Jawa dan Aceh mulai berdatangan ke Jambi, maka Sultan Thaha Syaifuddin menyusun strategi baru sebagai berukut :

    • Raden Mat Tahir ditetapkan sebagai panglima perang mencakup wilayah pertahanan Jambi Kecil, Muaro Jambi, Air Hitam Darat, Ulu Pijoan, Pematang Lumut, Bulian Dalam, Ulu Pauh, Payo Siamang, Jelatang dan Pijoan Dalam.
    • Bagian Batang Tembesi sampai Kerinci berada di bawah komando Pangeran Haji Umar Bin Yasir, gelar Pangeran Puspojoyo.
    • Bagian Batanghari dan Tebo langsung di bawah pimpinan Sultan Thaha Syaifuddin dan saudaranya Hamzah gelar Diponegara, yang terkenal sebagai pangeran Dipo.
    • Diawal abad 20 perjuangan rakyat Jambi melawan Belanda mengalami banyak tantangan, satu persatu pejuang Jambi gugur dan atau tertangkap lalu dibuang (internir) oleh Belanda.
    • Sultan Thaha Syaifuddin gugur di Betung Bedara pada tanggal 26 malam 27 April 1904.
    • Pangeran Ratu Kartaningrat tertangkap dan dibuang ke Parigi,Sulawesi Utara.
    • Tahun 1906 Depati Parbo di Kerinci tertangkap dan dibuang ke Ternate-Ambon.
    • Pangeran Haji Umar Puspowijoyo dan adiknya Pangeran Seman Jayanegara tewas di Pemunyian, Bungo, tahun 1906.
    • Tahun 1906 di Pemunyian tertangkap seorang pejuang perempuan bernamaRatumas Sina.
    • Raden Hamzah gugur tahun 1906 di Lubuk Mengkuang, dekat Pemunyian.
    • Tahun 1906 di kota Jambi yakni daerah Tehok, Raden Pamuk ditangkap Belanda.
    Dalam suatu waktu Raden Mat Tahir pernah berkata dihadapan anggota pasukannya bahwa “Bapak aku Raden Kusin meninggal di Mekkah saat menunaikan rukun Islam yang lima. Tentulah itu adalah yang sebaik-baik mati, mati dalam menunaikan rukun Islam yang lima. Akan tetapi kalau aku mati syahid melawan Belanda untuk mempertahankan negeri dan menegakkan Agama Islam tentu bandingan harganya terlebih tinggi, sebab bukan untuk kepentingan diri sendiri, akan tetapi untuk kepentingan negeri dan menegakkan Agama Allah yang diridhoi oleh Tuhan kita, semoga aku mati syahid hendaknya, jangan mati sakit atau tertawan oleh Belanda kafir laknatullah itu”.

    Di dalam buku Nederlandsch Militair Tijdschrift, Belanda mengakui kehebatan sepak terjang Raden Mat Tahir seperti yang dikutif oleh Mukti Nasruuddin (1989) dalam bukunya Jambi Dalam Sejarah menjelaskan bahwa “Mattahir onze onverzoenlijkste vijand en de meest gevreesde en actieve der Gouvernments tegenstanders”. Yang artinya diakui bahwa Pangeran Raden Mat Tahir adalah seorang yang keras kepala, tidak mudah ditaklukan dan seorang lawan yang gesit dan ditakuti.

    Belanda melalui Residen di Palembang mengambil jalan memerintahkan pasukan marsose untuk menangkap Raden Mat Tahir hidup atau mati. Maka pengejaran terhadap Raden Mat Tahir mulai ditingkatkan. Meningkatnya aktifitas pasukan marsose Belanda dibantu dengan Kapten Melayu dalam mengejar Raden Mat Tahir, dirasakan pula oleh para pengikut Raden Mat Tahir di Muaro Jambi.

    TEWAS DITEMBAK BELANDA

    Pada penghujung 1907 ada upaya untuk mengungsikan Raden Mat Tahir ke Batu Pahat, Malaysia. Uang 500 ringgit sebagai bekal telah terkumpul, perahu layar dan pasukan pengantar sudah disiapkan. Raden Syariefs (1969) di dalam bukunya Riwajat Ringkas Tentang Perdjuangan Pahlawan Djambi Raden Mat Tahir Panglima Sultan Thaha, menuliskan kisah meninggalnya Raden Mat Tahir adalah sebagai berikut :

    Pada awal September 1907 Raden Mat Tahir bersama pengikutnya berada di dusun Muaro Jambi.

    Para pemuka dusun Muaro Jambi dan sekitarnya termasuk para pengikutnya dan keluarganya, melakukan/bermusyawarah dan meminta agar Raden Mat Tahir mengungsi ke Batu Pahat Malaya (Malaysia). Masyarakat telah menyiapkan perahu pengantar, uang 500 ringgit, beberapa pengawal. Di Batu Pahat telah mengungsi beberapa keluarga keturunan Sultan Thaha Syaifuddin dan saudara Raden Mat Tahir.

    Jawaban Raden Mat Tahir dalam musyawarah tersebut antara lain disebutkan sebagai berikut :

    “Kesediaan kamu itu terima kasih banyak, akan tetapi kalau aku pergi ke Malaya (Malaysia), tentu aku akan selamat, tetapi bagaimana kamu yang tinggal akan menjadi korban, kampung ini akan dibakar oleh Belanda dan kamu akan didenda pula dan akan dihukum badan oleh Belanda. Pengorbanan dan penderitaan yang dirasai oleh rakyat terlalu banyak sebab dek aku. Dimana aku berada tentu rakyat memberi makan dan memberi bantuan yang diperlukan, akan tetapi mereka yang berbuat baik mendapat kesengsaraan oleh Belanda, aku tidak sampai hati lagi, apalagi aku berada disini, sudah tentu mata-mata Kemas Kadir telah mengetahui hal ini. 

    Mungkin di dalam tempo yang dekat ia telah telah datang kemari membawak Belanda untuk menangkap aku atau membunuh aku, aku tidak mau ditangkap, tetapi mati kena tembak oleh Belanda, jadi aku mati syahid namanya. Keduanya aku tidak mau disebut orang pelarian, untuk menyelamatkan diri sendiri, sedangkan kamu disini menderita karena Belanda. Lihat itu kampung Tachtul Yaman yang telah membantu aku, mereka sekampung didenda 15000 ringgit, sedangkan Kemas Temenggung Dja’far yang membantu alat senjata yang dibawak dari Malaya telah ditangkap dan ditahan, sekarang di Palembang, bagaimana jadinya beliau itu ?. Dan aku tidak mau disebut orang takut mati, itikad aku sudah tetap menunggu Belanda, tidak mau bersembunyi lagi”.

    Pada hari Kemis besoknya, hari hujan pagi, disana sini kedengaran guruh bersahut-sahutan, orang dahulu mempunyai tachyul, itu tanda akan ada kesedihan yang akan menimpa. Pada malamnya dengan cara diam-diam banyak orang kampung yang datang menemui Raden Mat Tahir di rumah dimana beliau tinggal dengan mengantar makan-makanan.

    Raden Mat Tahir berkata “kamu sekalian, ninik mamak, serta kawan-kawanku semuanya lekaslah kamu pulang ke rumah masing-masing, besok mungkin malam ini kita akan bercerai, adakah kamu mendengar bunyi gegap Keramat Talang Jawo (Jauh) sore tadi, telah aku dengar tiga kali dan ramo-ramo dari sana telah datang kemari hinggap di bahu aku, tanda aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Mendengar iu banyak orang yang terisak-isak menangis”.

    Sesudah berbicara itu, sebelum tengah malam Raden Mat Tahir bersalin pakaian dari yang biasa kepada pakaian yang bagus, pinggangnya dibebatnya. Senapang mauscher yang terbaru yang diberikan oleh Kemas Temenggung Dja’far Tachtul Yaman pada tahun yang telah lalu diisinya, dan senapang itu digantungkannya, maka adiknya Raden Achmad duduklah di dekat senapang tersebut. Dan di pintu belakang di tunggu oleh penjaga orang dari Mentawak disebut Pak Gabuk. Di atas (di dalam) rumah hanya dia berdua beradik saja. Kira-kira jam 09.00 malam, Raden Mat Tahir membunyikan kecapi, dan setelah tengah malam, ia sembahyang di tengah sunyi senyap itu.

    Lebih kurang pukul 03.00 malam Pak Gabuk menerima laporan dari temannya yang berjaga tidak jauh dari rumahnya, bahwa pasukan Belanda telah datang dari tiga penjuru, berarti tempat dimana Raden Mat Tahir telah terkepung rapat. Dan kawan-kawan pengikut Raden Mat Tahir yang tadinya disuruh pergi supaya hidup, akan tetapi kembali lagi ke tempat maut itu. Raden Mattaher menjawab baiklah, dan seraya katanya kalau kamu mau hidup menyingkirlah, dengan segera, dan kalau tidak maka kamu haruslah tetapkan imanmu, betul-betul mati karena Allah, kita datang dari padanya dan pulang pula kepadanya. 

    Sakit kena pelor itu hanya sebentar saja, yang kita harapkan janji dari pada Allah syurga yang tidak ada tolak bandingnya. Ingatlah apa yang telah dipetuahkan oleh pemimpin kita Sultan Thaha, Belanda itu kafir musuh Islam, karena ia ingkar kepada Tuhan, mengapa kita takut kepadanya, ini hari mati lain hari mati juga. Jangan kita mati di atas kasur empuk, tidak akan meninggalkan nama yang baik dan agung, marilah kita mati bermandikan darah karena membela negeri kita melawan kafir laknatullah, inilah yang kita harapkan.

    Kira-kira seperempat jam kemudian datanglah di rumah Raden Mat Tahir pasukan Marschouse Belanda dan terjadi dialog sambil memberikan ancaman “Belanda datang kemari ingin berunding, menyerahlah kau baik-baik, aku tanggung tidak kau diapa-apakan oleh Belanda, kalau kau menyerah dengan baik dan apa kehendak kau akan dikabulkan oleh Belanda, lihatlah segala orang yang melawan telah dibuang oleh Belanda ke Betawi. Dialog tidak berrlangsung lama dan tidak menghasilkan apa-apa, sehingga terjadilah tembak menembak di dalam rumah. Dalam pertempuran inilah Raden Mat Tahir tewas dan meninggal dunia. Meninggalnya Raden Mat Tahir di Muaro Jambi ditemui dalam beberapa sumber yang berbeda, antara lain adalah seabgai berikut :
    • G.J. Velds, dalam De Onderwerping van Djambi in 1901-1907, terjemahanS.Hertini Adiwoso dan Budi Prihatna, Raden Mat Tahir tewas 30 September 2007 bersama saudaranya dan lima pengikutnya di Muaro Jambi oleh patroli marsose pimpinan Letnan Geldorp.
    • Raden Syariefs (1969), Riwajat Ringkas Tentang Perdjuangan Pahlawan Djambi, Raden Mat Tahir tewas malam Jum’at bulan September 1907 di Muaro Jambi.
    • Osman Situmorang (1973) dalam Skripsinya Raden Mattahir Pahlawan Jambi, Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP Jambi, Raden Mat Tahir tewas bulan September 1907 di Muaro Jambi.
    • Ratumas Siti Aminah Ningrat dalam bukunya Perjuangan Rakyat Jambi Raden Mat Tahier (1817-1907), Raden Mat Tahir tewas 7 September 1907di Muaro Jambi.
    • J. Tideman di dalam Koninklijke Vereeniging Koloniaal Instituut Amsterdam, No. XLII, Raden Mat Tahir tewas bulan September 1907 di Muaro Jambi.
    • Mukti Nasruuddin (1989) dalam Jambi Dalam Sejarah, Raden Mat Tahir tewas 7 September 1907 di Muaro Jambi.
    • Fachrul Rozi, di dalam Mengunjungi Makam Pejuang Jambi Raden Mattahir, Pos Metro, Sabtu, 26 Desember 2009, Raden Mat Tahir tewas 10 September 1907.
    Dalam tembak menembak di Muaro Jambi itu dipihak pasukan Jambi pimpinan Raden Mat Tahir telah tewas 6 orang, tiga diantaranya adalah sebagai berikut :

    1) Raden Mattaher, gugur ditembak Belanda

    2) Raden Achmad (gelar Raden Pamuk Kecik), adik Raden Mattaher, gugur ditembak Belanda.

    3) Pengawal bernama Pak Gabuk, gugur ditembak Belanda.

    Setelah Raden Mat Tahir gugur di Muaro Jambi, maka pasukan Belanda mengangkut mayat Raden Mat Tahir serta mayat lainnya ke kota Jambi dengan kapal Robert, dan diikuti oleh 2 kapal Belanda lainnya. Kapal Robert ini dikenal oleh masyarakat Muaro Jambi sebagai kapal Ubar. Di Kota Jambi mayat Raden Mat Tahir dipertontonkan pada khalayak ramai. Atas permintaan para pemuka agama, maka Raden Mat Tahir dimakamkan secara Islam di pemakaman Raja-Raja Jambi di pinggiran Danau Sipin.

    “Uhang Pandak” : Legenda orang Kerdil dari gunung kerinci




    Orang Pendek adalah misteri sejarah alam terbesar di Asia; ahli binatang telah mendaftarkan laporan kera misterius di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun. Sampai hari ini, binatang yang di Kerinci dikenal sebagai “uhang pandak”, tetapi juga karena variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat, sampai sekarang masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.

    Orang pendek ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia?) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun yang kerap muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorangpun yang tahu, sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu. 

    Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini, namun hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut. Sekedar informasi, Orang pendek ini masuk kedalam salah satu studi Cryptozoology. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National Geographic Society. National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Kerinci, Jambi, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

    Adapun cerita mengenai orang pendek pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah Marco Polo tahun 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos oleh para ilmuwan, seperti halnya yeti di Himalaya dan monster Loch Ness Inggris Raya.

    Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.

    Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku anak dalam. Mungkin bisa dibilang, Suku Anak Dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada. Sejak dahulu Suku Anak Dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya. 

    Ada suatu kisah mengenai keputusasaan para Suku Anak Dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.

    Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Mr. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

    Pada suatu catatan kisahnya, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Mr. Heerwarden sadar mereka bukan sejenis siamang maupun perimata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar. Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.

    Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang didanai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek. Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, sejauh ini hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan. Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional (http://fauna-flora.org). 

    Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi di mana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka. Rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan.

    Hubungan Kekerabatan Yang Hilang

    Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?

    Banyak Paleontologiest mengatakan bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang. Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu. Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. 

    Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana serta telah mampu menciptakan api. Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 – 18000 tahun yang lalu.

    Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya. Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.

    Tambahan :

    Ciri lain yang ane ketahui berdasarkan informasi dari teman2 yang berasal dari kerinci,selain bertubuh kerdil orang tersebut juga tidak memiliki belahan di bagian atas bibir,n bentuk telapak kaki ny nya juga terbalik,jarinya di bagian belakang dan tumit di bagian depan..

    Misteri Kerajaan Orang Kayo Hitam Jambi



    Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..

    Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam.

    Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara.

    Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.

    Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.

    Kerajaan gaib ini adalah kerajaan yang dimiliki oleh seorang manusia sakti yang bernama Orang Kayo Hitam. Orang Kayo Hitam adalah salah satu anak Orang Kayo Pingai, raja dari Kerajaan Jambi. Orang Kayo Hitam dikenal sangat sakti, sebuah kisah menceritakan dahulu Kerajaan Jambi selalu mengirim Upeti kepada Kerajaan Mataram di Jawa, namun kebiasaan tersebut kemudian di tentang oleh Orang Kayo Hitam. Pembangkangan tersebut membuat kerajaan Mataram berang sekaligus bimbang karena Orang Kayo Hitam dikenal sangat sakti dan memiliki pasukan gaib. Dengan bantuan peramal kerajaan dari Pemalang titik kelemahan Orang Kayo Hitam ditemukan, ia hanya bisa terbunuh oleh sebilah keris yang logamnya terbuat dari langit dan di sepuh oleh air sungai yang nama sungainya di awali dengan huruf "P". Penempahanya pun harus hanya boleh dilakukan pada setiap hari Jumat yang telah melewat 40 kali Jumat. 

    Namun upaya untuk membunuh Orang Kayo Hitam tidak juga berhasil karena sebelum keris berhasil dibuat, Orang Kayo Hitam berangkat sendirian menggunakan rakit ke tanah Jawa untuk menghancurkan keris tersebut beserta kerajaan Pemalang itu sendiri. Pada pertempuran tersebut Orang Kayo Hitam menang besar karena dipercaya dibantu oleh pasukan Jin yang jumlahnya 7 kali lipat dibandingkan jumlah pasukan Mataram. Sadar tak bisa dibunuh akhirnya kerajaan Mataram memilih jalan damai dan menawarkan Orang Kayo Hitam menjadi raja di salah satu kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Raja Mataram. Namun Orang Kayo Hitam menolak dan memilih kembali ke kampung halamannya dan menjadi raja menggantikan ayahnya. Pada saat menjabat, kerajaannya berkembang besar sehingga kerajaannya tak mampu menampung lagi rakyat yang semakin banyak. Akhirnya dengan kesaktiannya, ia menghancurkan sebuah bukit batu hingga terpecah menjadi sembilan bagian. Orang Kayo Hitam pun memerintahkan rakyatnya untuk mendirikan kerajaan-kerajaan kecil di lokasi tempat batu-batu tersebut jatuh. Namun kerajaan-kerajaan kecil tersebut tidak dipimpin oleh raja, melainkan oleh seorang Rio. 

    Sebelum meninggal dunia, Orang Kayo Hitam memerintahkan pasukan gaibnya untuk menjaga kesembilan kerajaan yang ia bentuk dari segala macam serangan, bencana alam dan sebagainya. Kini pasukan gaib milik Orang Kayo Hitam tersebut dipercaya memiliki kerajaan di Gunung Kerinci, gunung tertinggi di Indonesia yang terdapat di kabupaten Kerinci. Salah satu lokasi yang kerap terjadi penampakan adalah danau kerinci, disana kerap ditemui prajurit setinggi pohon kelapa tengah berbaris.

    Cerita Legenda Jambi Orang kayo Hitam

    Cerita rakyat dari Jambi – adalah salah satu dari sekian banyak cerita rakyat nusantara yang menjadi legenda hingga ke saat ini. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang terjadinya daerah wilayah Jambi. Oleh karena itu cerita rakyat ini menjadi cerita rakyat ini termasuk cerita turun temurun bagi masyarakat Jambi.


    Orang Kayo JambiTuanku Ahmad Salim dari Gujarat berlabuh di Selat Berhala, Jambi. Kemudian Ahmad Salim mendirikan pemerintahan baru yang dipimpinnya berdasarkan ajaran islam, beliau bergelar Datuk Paduko Berhalo. Istrinya adalah seorang putri Minangkabau yang bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka di karuniai 4 orang anak. Tiga diantaranya telahpun menjadi datuk di wilayah sekitar Kuala. Hanya si bungsu yang belum menjadi datuk, dia bernama Orang Kayo Hitam. 

    Orang Kayo Hitam ingin memperluas wilayah kekuasaan ayahnya sampai ke pedalaman agar keluarga mereka bisa menjadi penguasa di seluruh wilayah manapun. Untuk mendukung cita-citanya itu, Orang Kayo Hitam melakukan perjalanan dengan menggunakan sampai menuju ke arah hulu sungai. Di tengah perjalanan Orang Kayo Hitam menemukan sehelai rambut yang melilit dahan pohon. Rambut itu panjang, hitam dan berkilat menandakan pemiliknya adalah seorang gadis yang cantik jelita. Orang Kayo Hitam bermaksud ingin mencari pemilik rambut tersebut dan akan menjadikannya sebagai istrinya. Kemudian berjalanlah Orang Kayo Hitam menyusuri wilayah sekitar tempat itu sambil berharap menemukan si pemilik rambut tersebut.

    Dalam perjalanan yang panjang itu akhirnya Orang Kayo Hitam sampai di sebuah wilayah yang di sebut Temenggung Merah Mato. Di namai Temenggung Merah Mato sebab penguasa daerah itu di panggil sesuai dengan nama daerah wilayah kekuasaannya. Temenggung Merah Mato memiliki seorang putri yang bernama Putri Mayang Mangurai. Putri ini sangat cantik dan memiliki rambut yang sangat indah. Ternyata rambut yang dijumpai oleh Orang Kayo Hitam adalah rambut milik Putri Mayang Mangurai. Kemudian Orang Kayo Hitampun menyampaikan maksudnya untuk mempersunting Putri Mayang Mangurai menjadi istrinya. Namun ternyata putri itu mengajukan syarat kepada Orang Kayo Hitam. Putri meminta Orang Kayo Hitam untuk mengalahkan pengawal pribadinya.

    Setelah melewati pertempuran yang menguras tenaga, Orang Kayo Hitam dapat mengalahkan pengawal pribadi Putri Mayang. Sebagai hadiahnya Orang Kayo Hitam minta segera dinikahkan oleh sang putri. Tapi ternyata putri kembali mengajukan beberapa syarat lagi. Orang Kayo Hitam memutuskan untuk pergi ke Pulau Jawa guna memenuhi semua syarat yang diajukan sang putri. Setelah menemui berbagai kesulitan, keempat permintaan Putri Mayang Mangurai dapat dipenuhi oleh Orang Kayo Hitam. Putri merasa senang sekali karena ternyata calon suaminya adalah orang yang memiliki tekad yang kuat dan tidak pantang menyerah.

    Atas ijin ayahnya, menikahlah Putri Mayang Mangurai dengan Orang Kayo Hitam. Sebagai hadiah pernikahan pasangan pengantin ini diberikan sebuah sampan yang benama Kajang Lako dan sepasang angsa putih yang cantik. Sang ayah kemudian berpesan kepada mereka berdua agar pergi berlayar di temani dua angsa tersebut. Temenggung Merah Mato berpesan agar mereka berlayar ke wilayah Sungai Batanghari dan apabila dua angsa tersebut berhenti disuatu wilayah hingga dua hari, maka di tempat itulah mereka akan tinggal. Setelah menyusuri Sungai Batanghari, kedua angsa itu berhenti dan menginap. 

    Maka di situlah sepasang pengantin ini hidup dan beranak pinak. Orang Kayo Hitam melihat di sekitar Sungai Batanghari itu banyak sekali di tumbuhi pohon pinang. Oleh karena itu Orang Kayo Hitam menamai daerah itu dengan nama Jambi dan kemudian menjadi pusat pemerintahan. Dalam bahasa jawa Pinang di sebut jambe. Orang Kayo Hitam mendirikan kerajaan yang secara turun temurun di kerajaan di jambi di kuasai oleh anak-anak Orang Kayo Hitam.

    Orang Kayo sebagai Cerita rakyat dari Jambi ini mengisahkan tentang sejarah berdiri daerah Jambi yang dikenal sebagai daerah Angso Duo (Dua Angsa). Cerita turun temurun ini terus diingat oleh penduduk Jambi hingga sekarang.

    Cerita Legenda Jambi Putri Pinang Masak

    Pada zaman dahulu, di belakang Dusun Pasir Mayang, ada sebuah kerajaan yang bernama Limbungan. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu Putri Reno Pinang Masak. Putri ini terkenal dengan kecantikannya yang menawan hati. Tak mengherankan banyak raja dan putra raja yang menghendaki mempersuntingnya. Namun tak seorang pun raja atau putra raja yang meminang yang diterimanya. Semua pinangan ditolaknya.

    Disamping cantik, putrid ini terkenal pula berbudi luhur, arif serta bijaksana. Kebijaksanaannya dipuji-puji oleh rakyatnya. Ia adil dan jujur, rakyatnya yang miskin mendapat jaminan hidup dalam hal makan dan minum. Yang kaya, diberi luang dan kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya. Golongan rakyatnya yang kaya ini kelak harus pula menjamin kelangsungan hidup bagi yang miskin. Dengan demikian terdapat suasana yang harmonis antara sesame anggota masyarakat negeri Limbungan.


    Dalam menjalankan pemerintahannya, sang ratu dibantu oleh tiga orang huluibalang yang baginda percayai. Hulubalang yang pertama bernama Datuk Raja penghulu, terkenal sebagai orang arif dan bijaksana yang kedua bernama Datuk Dengar Kitab, seorang hulubalang yang mempunyai keistimewaan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang akan dating melalui sebuah kitab yang dimilikinya. Hulubalang yang ketiga ialah datuk Mangun, bertugas sebagai panglima perang kerajaan.

    Kecantikan Putri Reno Pinang terdengar pula sampai ke telinga raja Jawa. Lama-kelamaan raja negeri Jawa lalu mengirim utusan untuk melamar sang putri. Ternyata lamaran tersebut ditolak oleh Putri Reno Pinang Masak. Raja Jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak dengan tegas. Timbuillah kemudian tekad raja Jawa untuk bersumpah bagaimanapun akan mengambil Putri Reno Pinang Masak dengan cara kekerasan.

    Putri Retno Pinang Masak tidak takut sama sekali akan ancaman raja negeri Jawa yang telah mabuk kepayang itu. Bahkan baginda ratu sangat gemas dan geram. Baginda memandang gelagat raja Jawa tadi sebagai yang akan merusak kedaulatan negertinya. Oleh sebab itu baginda memanggil ketiga hulubalang serta mengumpulkan rakyat negerinya. Bersama-sama dicarilah bagaimana cara untuk raja jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan. Mencari jalan yang sebaik-baiknya melalui pemikiran, musyawarah dan mufakat. Akhirnya didapatkan suatu cara yang telah disepakati bersama dalam perundingan tersebut. Negeri diberi berparit. Di samping itu harus dipagar pula dengan bambu berduri. 

    Bambu yang dahan dan rantingnya harus berduri. Maka dicarilah tumbuhan tersebut. Setelah dapat maka segera ditanam berlapis-lapis, sebagai pagar negeri untuk menghalangi supaya tentara Jawa jangan masuk. Pagar inilah nanti sebgagai benteng pertahanan. Negeri Limbungan sudah dilingkupi dengan pagar bamboo berduri. Untuk keluar masuk hanya ada sebuah gerbang. Di pintu masuk, ini telah menunggu Datuk. Mangun beserta anak buahnya.

    Raja Jawa beserta tentaranya datang jalan satu-satunya untuk memasuki Limbungan adalah sebuah gerbang yang dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya. Ke sanalah raja Jawa mengarahkan serangan. Terjadilah pertempuran yuang sengit. Ternyata tentara Jawa tak kuasa sedikit pun menembus pertahanan Datuk Mangun yang didapingi oleh prajurit-prajurit serta rakyat negeri Limbungan yang tangguh. Tentara Jawa perkasa mundur dengan menderita korban besar.

    Melihat tentaranya gagal memasuki Limbungan dan menderita kekalahan besar, raja Jawa memanggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya. Maka diadakan perundingan dicari akal melalui pikiran orang banyak. Maka dapatlah suatu akal tipu muslihat. Dikumpulkan semua uang ringgit logam. Uang logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan ke setiap rumpun bambu yang berlapis-lapis tadi. Ditembakkan berulang-ulang, sepuas-puas hati tentara Jawa, sehingga uang ringgit logam itu beronggokan di celah pohon bamboo berduri tersebut. Kemudian raja Jawa beserta tentaranya pun pergilah kembali.

    Dalam pada itu ada seorang penduduk negeri Limbungan tidak disengaja, bersua dengan onggok-onggokan uang ringgit logam itu sepanjang edaran pagar bamboo negeri. Melihat uang logam itu sangat banyak terniat di hatinya untuk memberitahukan hal tersebut kepada baginda ratu. Lalu diambilnya sebuah untuk diperlihatkan kepada sang ratu di istana.

    Dimana engkau dapat ringgit logam itu, Datuk?” Tanya baginda ratu penuh keheranan.

    “Di rumpun-rumpun bamboo benteng pertahanan kita. Tuanku!” jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap. “Bertimbun banyaknya.”

    “Baiklah!” kata sang ratu pula. “Aku yakin Datuk tidak berbohong. Mari kita lihat!”

    Benar saja! Ratu menemukan uang ringgit logam bertumpukan di sela-sela rumpun bamboo. Maka setelah dirundingkan dengan semua orang diputuskan untuk mengambil semua uang logam tersebut. Untuk memudahkan pengambilannya, pohon-pohon bamboo itu pun ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke istana. Pada saat itu pula ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke Istana. Pada saat itu pula raja Jawa bersama tentaranya datang menyerbu dengan tiba-tiba. Karena benteng pertahanan tak ada lagi pasukan negeri Jawa dengan mudah masuk negeri Limbungan. Tentara beserta rakyat Limbungan tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu.

    Putri Retno Pinang Masak sadar akan kesalahannya. Ia sangat menyesal akan kealpaannya. Dengan rasa masygul diam-diam pergilah baginda seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya.

    Ternyata kemudian tahu jugalah rakyat bahwa ratunya sudah tidak ada lagi di istana. Negeri Limbungan menjadi gempar. Berusahalah rakyat mencari kemana mana. Ada yang mencari ke hulu, ada yang ke hilir, ada pula yang mencari ke darat dank e baruh (pinggir sungai). Bahkan ada yang mencari sampai ke tepi laut. Namun ratu mereka tak kunjung bersua.

    Akan halnya ketiga hulubalangnya, Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, serta Datuk Mangun bermufakat ketika itu untuk bersama-sama mencari ratu Putri Reno Pinang Masak. Mereka masuk hutan keluar hutan. Bila bertemu dengan seseorang mereka tak jemu bertanya. Namun yang dicari tak kunjung bertemu. Maka mereka lanjutkan pula perjalanan. Lurah diturun, bukit di daki. Semak-semak disinggahi kalau-kalau ada putrid Reno Pianang Masak, atau mayatnya. Ketiga hulubalang itu bertekad berpantang berbalik, pulang sebelum yang di cari bersua hidup atau mati. Kalau perlu nyawa mereka sebagai taruhannya.

    Sementara itu seorang petani desa Tenaku sedang berada di rumahnya. Ia baru saja selesai bekerja menyiangi rumput hari baru tengah hari, petani itu akan beristirahat ke pondoknya. Menjelang ia sampai ke pondoknya ia sangat terkejut, di mukanya di udara yang cerah dilihatnya melayang-layang sepotong upih pinang. Kemudian upih tersebut jatuh tak berada jauh dari tempatnya berdiri. Ia sangat heran mengapa ada upih pinang di humanya. Kalau itu upih pinang yang ada di desanya, taklah mungkin sejauh itu, diterbangkan angina. Dalam keheranan, petani itu bergegas menuju ke tempat upih jatuh tadi. Sesampai di sana ia sangat terkejut. Dilihatnya sesosok tubuh wanita cantik tergeletak memucat yang dilihatnya itu tak dikenalnya. Ia cukup hapal semua penduduk desanya. Apalagi orang yang sudah dewasa seperti yang dilihatnya. Di baliknya sebentar. Memang wajah yang tak dikenalnya sama sekali. Maka diputuskannyalah untuk memberitahukan penduduk desanya.

    Ternyata semua penduduk desa Tenaku sama dengan petani tersebut tak juga mengenal siapa gerangan orang yang meninggal secar aneh itu. Semua yang hadir menjadi gempar. Mereka saling berpandangan dan bertanya satu sama lain. Di saat demikian maka dipanggil seorang dukun.

    Dukun telah datang. Ia segera membakart kemenyan. Setelah itu dibacanya jampi-jampi ramalan. Dalam waktu yang singkat dapatlah diketahuinya siapa gerangan mayat yang berbaring di huma itu.

    “Jenazah yang kita temui ini “Katanya mengabarkan kepada orang banyak yang mengelilinginya. “Jenazah yang melayang jatuh dari udara bagaikan upih pinang ini adalah jenazah Tuan Putri Reno Pinang Masak raja negeri Limbungan!”

    Mendengar ramalan dukun tersebut semua orang yang hadir sangat terkejut. Suara bergumam berdengung bagai suara lebah terbang. Wajah-wajah yang keheranan segera berubah menjadi suram dan sedih. Terbayang kepada orang banyak itu betapa sengsaranya tuan baginda ratu negeri pada saat-saat terakhir hidupnya.

    Pada saat itu juga diambil keputusan untuk memakamkan sang putrid di huma di desa Tenaku itu. Sang ratu dimakamkan secara sederhana tanpa disaksikan rakyatnya. Rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap rakyat dan negerinya sudah berakhir. Sampai sekarang makam di desa Tenaku tersebut dinamakan “Makam Upih Jatuh”.

    Lama-kelamaan ketiga hulubalang yakni Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, dan Datuk Mangun sampai pula ke tempat Putri Reno Pinang Masak dimakamkan. Setelah mereka ketahui bahwa itu adalah makam baginda ratu Puteri Reno Pinang Masak, tiba-tiba saja mereka jatuh pingsan dan terus meninggal. Ketiga hulubalang itu dimakamkan pula di sana di samping makam Puteri Reno Pinang Masak. Sampai sekarang makam keempat orang tersebut masiha dan dikeramatkan orang pula.

    Legenda Cik Upik danau Sipin kota Jambi

    Legenda Cik Upik danau Sipin kota Jambi. Rasanya banyak masyarakat Kota Jambi yang belum tahu bahwa kota ini memiliki cerita legenda mirip Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Legenda Cik Upik namanya. Cerita yang dianggap dongeng itu begitu lekat bagi masyarakat Kampung Danau Sipin, Kecamatan Telanaipura. Tak hanya sekedar cerita atau dongeng.

    Bagi masyarakat Danau Sipin, kisah Cik Upik itu punya bukti. Mereka menunjuk daerah pinggiran danau, tepatnya di belakang Kantor Gubernur Jambi, atau persisnya di dekat bekas Restoran Batanghari, merupakan bekas taman bermain Cik Upik. Di sana pula Cik Upik kerap mandi setiap pagi dan sore. Lantas, siapa Cik Upik itu ? Tidak ada referensi tertulis mengenai legenda ini. Ceritanya hanya tersiar dari mulut ke mulut. 

    Namun menurut kisah seorang tetua Kampung Danau Sipin, Marzuki (81), Cik Upik adalah seorang wanita cantik asal Padang, Sumatera Barat (Sumbar) yang terdampar di daerah Danau Sipin. Cik Upik tidak sengaja datang ke daerah itu. Konon, dia menumpang sebuah kapal yang berlayar dari Padang. 

    Setibanya di Sungai Batanghari, tepatnya di kawasan Danau Sipin sekarang, kapal itu terbalik. Bekas badan kapal yang ukurannya sangat besar itu pulalah yang dipercaya masyarakat menjadi daratan Danau Sipin yang sekarang mereka diami. Sejak saat itu, Cik Upik tinggal di Danau Sipin. 

    Dia sering bermain di taman. Masyarakat Danau Sipin yakin, sisa-sisa taman itu masih ada hingga sekarang. Namun, lokasi bekas taman tersebut kini sudah ditumbuhi pohon-pohon besar dan semak-belukar, meskipun keindahannya samar-samar masih terlihat. 

    Menurut Marzuki yang mendapat cerita dari ayah dan kakeknya, dulu tepian Sungai Batanghari sebenarnya sampai ke daerah belakang kantor gubernur. Tapi sungai itu kemudian terbelah, karena bekas kapal Cik Upik yang terbalik lama-kelamaan mengering dan membentuk sebuah daratan. “Awalnya para awak kapal Cik Upik yang terdampar membuat tempat tinggal dan taman di dekat kapal mereka terbalik. 

    Taman dibuat untuk tempat mereka bersantai,” kisah Marzuki yang ditemui InfoJambi, di rumahnya, di Kampung Danau Sipin, persis di seberang Taman Cik Upik. Dari cerita turun-menurun, dulunya Taman Cik Upik dikenal sebagai sebuah taman yang sejuk, sehingga ramai didatangi orang untuk bersantai. Taman itu memiliki panjang 45 meter dengan lebar 10 meter. 

    Di tengah taman terdapat sebuah danau kecil yang diberi nama Danau Cik Upik. Danau Cik Upik memiliki luas sekitar 15 meter x 5 m dengan kedalaman air sekitar empat meter. Air danau itu sangat jernih dan sering digunakan masyarakat zaman dahulu sebagai tempat mandi dan sumber air minum. 

    Bahkan, ada juga yang menjadikan danau kecil itu sebagai tempat memancing ikan. Tetua Kampung Danau Sipin lainnya, Ibrahim (75), mengungkapkan, Danau Cik Upik merupakan anak dari Danau Sipin. Danau besar yang terbentuk karena kapal yang terbalik tersebut, dulu dikenal dengan nama Danau Pinago. 

    Namun begitu, Ibrahim mengakui sampai sekarang tidak tahu kapan sebenarnya danau-danau itu mulai ada. Seiring berjalannya waktu, Taman Cik Upik yang jaraknya hanya beberapa meter dari buntut Kantor Gubernur Jambi itu mulai terlupakan. 

    Tidak ada sedikitpun perhatian pemerintah kota terhadap kawasan itu. Taman Cik Upik nyaris hilang tak berbekas. Berpuluh tahun lamanya taman itu hanya dijadikan dermaga oleh penambang perahu. Ketika Abdurrahman Sayoeti menjadi Gubernur Jambi, dia sempat mengingat kembali keberadaan taman itu. 

    Dia pun ingin menghidupkannya kembali dan menjadikan objek wisata. Gubernur dua periode itu pula yang membuka lagi kawasan tersebut dengan membangun jalan dan mendirikan restoran besar. Sayangnya, belum sempat Taman Cik Upik dikenal lagi oleh masyarakat Kota Jambi, masa jabatan Abdurrahman Sayoeti keburu berakhir. 

    Alhasil, legenda Taman Cik Upik kembali tenggelam bersama kisah kapalnya yang terbalik di Sungai Batanghari.

    Danau Kaco lempur

    Danau Kaco lempur. Legenda dan cerita rakyat tumbuh dan berkembang.kali ini misteri kerinci mengajak anda menelusuri cerita rakyat Lempur dan misteri yang ada di danau kaco.cerita ini dari berbagai sumber.yang layak dipercaya.

    Gunung Raya-Misterikerinci Puti suluh makan adalah seorang wanita cantik dizamannya. Puti suluh makan berasal dari Tanjung Gagak, berdekatan dengan Muara air Dikit atau Ujung Buki Pematang suo. Dusun Tanjung Gagak dikuasai raja gagak. Nama gagak diambil dari nama sejenis burung yaitu burung gagak.

    Puti suluh makan menurut kunun dilahirkan didusun Tanjung Gagak dan dibersarkan disana. Menurut riwayat sebelumnya “ Puti suluh makan “ bernama putrid letak ( maaf, kemaluan ) melinta kenapa diberi nama demikian ?.Sebab diberi nama melintang karena ada keanehan pada kemaluan atau vagina, adapun yang terdapat pada kemaluan adalah melintang. Dengan keanehan letak vagina itulah maka diberinama letak melintang.

    Wajah cantik, dimiliki oleh gadis letak melintang ini membuat para pemuda dan anak-anak remaja yang ada di desa Tanjung Banuang Dusun Tinggi dan Tanjung Kasri Kegirangan. Dalam wilayah pemuncak nan tigo kaum, punya keinginan atau jatuh cinta kepada puti letak melintang, sehingga namanya begitu populer seantaro negeri itu.
    Karena kecantikan dan kemolekannya banyak anak-anak raja dan pemuda waktu itu berkeinginan melamarnya.. Namun Puti Letak Melintang setiap lamaran diterima oleh Bapaknya sulit sekali raja gagak menolak lamaran. Sehingga lamaran sudah bertumpuk membuat raja gagak bingung siapa diantara mereka diterima lamarannya.

    Titipan tanda ikatan janji seperti emas dan intan diberikan anak raja dan pemuda seantaro kawasan negeri itu kepada Puti letak Melintang telah memenuhi kendi kecil, terbuat dari tanah.Keinginan anak raja dan pemuda terhadap puti membuat cerita pada versi lain pada ayahna Puti Letak Melintang juaga jatuh hcinta pada anaknya, hingga membuat niat durjana dan gilanya bangkit, bahkan ingin menikah dengan anaknya untuk dijadikan isteri.

    Makin hari keinginan menikahni anak makin kuat, maka akhirnya niat jahat untuk mesum dengan anak sendiri diketahui oleh isterinya, rupanya terjadilah pertengkaran antara raja gagak dengan isteri, serta timbul niat jahat membunuh isterinya.Setelah isterinya meninggal raja gagak membawa anaknya Puti untuk pindah ke Gunung Kunyit bagian barat, dipinggiran Sungai Manjuto. Kemudian menetap disana dan mendirikan desa, sekarng masih ada bekas atau peninggalan didesa itu diberi nama Dusun Batong Limok Purot.

    Kawasan yang dihuni oleh Raja gagak dan anaknya puti beserta rakyatnya tidak aman untuk tinggal disana, karena diganggu oleh ular yang banyak sekali, baik dalam maupun luar rumah. Merasa tidak aman tinggal di negeri itu, maka raja gagak membawa anaknya lari dari rakyatnya dengan membawa emas dan intan yang dipersembahkan sebagai tanda ikatan janji dari anak raja dan pemuda setempat yang tersimpan di kendi tanah.

    Sewaktu dibawa lari, tidak beberapa lama kemudian, konon kabar waktu itu anaknya hamil oleh bapak sendiri. Kemudian raja gagak punya rencana ingin pergi ke Tanjung Kasri. Setelah sampai di Muara Lambing Sungai Manjuto, raja gagak membatalkan niatnya.Kepergian raja gagak hendak menyembunyikan emas dna intan dalam kendi ke dalam lubuk Muara Labing ,setlah disembunyikan beberapa saat ternyata tidak bisa. Karena membiaakan cahaya kemilau pada alam sekitarnya. Dengan demikian kelak takut diambil siapa saja yang akan lewat dekas sana “ kalau saya simpan, karena kemilau pada alam sekitar, nanti diambil orang. Lebih baik saya simpan di tempat yang lebih aman” Kata Raja Gagak membathin

    Kemudian Raja Gagak mengambil kembali kendi Guci tadi dan berjalan mengikuti Arus Sungai Manjuto-Lempur, tidak beberapa jauh dari Sungai Manjuto Raja Gagak menyembunyikan emas dan intan didasar Danau Kaco.“ Saya simpan didasar Danau Kaco Saja.Inikan jauh dari pantauan orang “ Kata Raja Gagak dengan membenamkan ke Dasar Danau Kaco.

    Bahkan menurut riwayat Kendi Emas dan Intan yang berkilau didasar Danau Kaco diyakini masyarakat setempat masih tersimpan didasar Danau Kaco Itu. Percobaan pengambilan emas ini telah membuat Lisyuar Yusuf warga Koto Payang meninggal dunia.Kemudian setelah Raja Gagak menyembunyikan atau menyimpan emas dan intan di dasar Danau Kaco, maka melanjutkan perjalanan menuju Bukit lintang. Beserta anaknya “ Puti Letak Melintang “ setelah sampai di puncak bukit lintang. Raja gagak berpikir panjang dan panik. Karena anaknya sudah hamil dari perbuatannya sendiri disisi lain memikirkan emas da intan sudah banyak diambil dari tanda ikatan cnta dari anak-anak raja.

    Karena sudah hamil dan sangat malu, maka raja berpantun “ Bukit Lintang, kena cahaya matahari pagi. Puti Letak Melintang bila membawa membikin intang ( problem ) bila ditinggal membawa sedih hati" Aku malu pada diriku dan pinangan orang kutolak. Lebih baik aku membunuh Puti Letak Melintang “. Katanya membathin dalam hati. Setelah Raja Gagak Berpantun, kemudian ia memotong dan membunuh anaknya dengan keris.

    Puti Letak melintang dimakamkan di Puncak Bukit Lintang, tepatnya dipuncak Bukit Lintang kanan jalan Ipuh-Lempur. Sementara terdapat Buyang tapan yang selalu dibawanya dan berupa sebentuk jangki. Barang tersebut terbuat dari bambo kepunyaan bukit melintang bergulir dan jatuh kearah bukit giwo.Konon, Buyang ini menjelma menjadi ular sawo, ular besar.

    Versi lain berkembang, Puli suluh Makan bila makan dalam gelap telunjuk jarinya bercahaya, bagaikan lampu ( suluh ). Cerita lain, buyang tapan yang menjelma jadi ular bisa diketemukan bila anda menempuh perjalanan ipuh lempur. Cerita ini diangkat dari cerita rakyat lempur ( sumber terpilih )

    http://jonmisteri-kerinci.blogspot.com/2008/01/danau-kaco-lempur.html

    Cerita Orang kayo Hitam


    Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..

    Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam.

    Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara.

    Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.

    Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.
    Struktur Keris Siginjai



    1. Bilah Keris (Wilahan)
    Bilah keris, yang dalam istilah perkerisan disebut wilahan, adalah bagian utama dari keris. Walaupun wilahan mempunyai bentuk yang beraneka ragam, namun dapat dikelompokkan menjadi dua tipe (dapur), yaitu tipe lurus (dapur leres) dan berkelok (dapur luk). Pada wilahan terdapat gambar atau lukisan yang disebut pamor yang merupakan lambang kesaktian atau kekeramatan keris. Sedangkan, pada pangkal wilahan terdapat ganja, yaitu sudut runcing yang mengarah ke arah mata keris.

    Bilah Keris Siginjai panjangnya lebih kurang 39 sentimeter dan berlekuk (luk) 5. Permukaan bilah Keris Siginjai kemungkinan pada mulanya ditutupi lapisan emas murni karena pada saat ini masih terlihat adanya bekas lapisan emas yang terlepas. Lapisan emas itu berfungsi untuk memperindah keris dan yang lebih utama untuk menutupi pamor pada keris yang bermotif flora. Pamor keris ini semakin ke ujung semakin kabur. Pada lekuk pertama hingga keempat pamor itu tampak jelas, namun pada lekuk kelima sampai ke mata keris, pamornya sudah tidak jelas lagi.

    Keris Siginjai memiliki dua buah buah ganja, yang salah satunya melengkung ke arah mata keris. Sedangkan, pada sisi terlebar pangkal bilah keris terdapat bentukan yang menjorok ke luar dan memiliki 6 buah tonjolan yang ujungnya runcing, mirip dengan senjata penjepit pada binatang kalajengking. Tonjolan yang terbesar disebut belalai gajah atau keluk kacang.

    2. Hulu Keris
    Hulu (gagang) Keris Siginjei terbuat dari kayu kemuning yang bagian kepalanya dibuat menjorok ke arah permukaan badan keris. Sedangkan, pada bagian yang dekat dengan wilahan terdapat mendak1 yang berbentuk kelopak bunga teratai. Di atas mendak terdapat 16 buah garis lengkung yang di setiap lengkungannya dipasang sebuah batu mulia, yang terdiri dari 8 buah intan berbentuk segi tiga dan 8 buah berlian berbentuk lonjong (oval). Di bawah setiap intan dan berlian terdapat bidang lengkung yang semakin menyempit ke arah bilah keris. Pada permukaan bidang lengkung tersebut dilapisi dengan emas murni dan diukir hiasan bunga-bunga kecil. Dan, di atas garis lengkung itu terdapat jalinan berbentuk benang-benang email warna hijau dan kuning.

    3. Sarung Keris (Wrangka)
    Wrangka keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning. Sedangkan, pendok2 keris terbuat dari lempengan emas murni yang seluruh permukaannya dihiasi dengan ukiran bermotif flora. Pada wrangka Keris Siginjai ini juga terdapat gayaman berbentuk perahu agak kecil tetapi tebal. Di dekat gambar perahu terdapat lengkungan yang berbentuk sedikit bundar.
    S

    Asal usul nama Sungai Batanghari

    Sungai Batanghari Jambi ~ Sungai terpanjang di Pulau Sumatera adalah Batang Hari. Kata batang artinya sungai. Namun, orang sudah biasa mengatakan Sungai Batang Hari. Bagian terpanjang Sungai Batang Hari dan muaranya memang terletak di Provinsi Jambi, sebagian kecil bagian hulunya di Provinsi Sumatera Barat.

    Pada zaman dahulu, ketika penduduk Negeri Jambi sudah mulai banyak dan mereka memerlukan seorang raja yang bisa memimpin mereka, menyatukan negeri-negeri kecil supaya menjadi satu negeri yang besar, mereka mengadakan sayembara. Barang siapa yang ingin menjadi Raja Negeri Jambi, harus sanggup menjalani ujian, yaitu dibakar dengan api yang menyala berkobar-kobar, direndam dalam sungai selama tiga hari, dan digiling dengan kilang besi yang besar. Penduduk setempat tidak ada yang sanggup menjalani ujian it. Tokoh-tokoh terkemuka dari desa Tujuh Kuto, Sembilan Kuto, Batin Duo Belas, semuanya menyerah pada ujian keempat, yaitu digiling dengan kilang besi.

    Tokoh-tokoh masyarakat Negeri Jambi pada waktu itu lalu berespakat untuk mencari orang dari luar Negeri Jambi, yang sanggup menjadi Raja Negeri Jambi melalui ujian yang telah mereka tentukan itu. Perjalanan mencari orang luar Negeri Jambi tidak mudah karena zaman dulu orang harus menempuh jalan setapak, menerobod hutan, menyusuri sungai, menghadapi perampok atau binatang buas. Akhirnya, mereka sampai ke sebuah negeri asing, yaitu India bagian selatan, yang penduduknya kebanyakan hitam-hitam. Mereka lalu menyebutnya Negeri Keling (India). Mereka berjalan mengitari negeri yang besar dan sudah lebih maju itu berhari-hari lamanya, guna mencari orang yang sanggup menjadi raja di Negeri Jambi.

    Berkat ketekunan mereka, tidak kenal putus asa, di Negeri Keling itu mereka temukan juga satu orang yang menyatakan kesanggupannya menjadi raja di Negeri Jambi. orang itu sanggup menjalani berbagai ujian dan akan memerintah Negeri Jambi dengan bijaksana, serta berjanji akan membuat rakyat Negeri Jambi aman, makmur, dan sejahtera.

    Dengan gembira, calon raja itu pun dibawa pulang ke Negeri Jambi dengan dendang mereka. Perjalanan panjang melewati samudera luas kembali ke Negeri Jambi memakan waktu yang lama. Terkadang cemas menghadapi angin topan gelombang setinggi bukit, hujan deras bercampur petir, siang ataupun malam hari. Terkadang pula, berlayar dengan cuaca cerah, angin tenang mendorong dendang mereka dengan laju, atau di waktu malam terang bulan.

    Selama perjalanan itu, mereka juga banyak berbincang-bincang dengan calon raja mereka. Dari pembicaraan itu, tahulah mereka bahwa calon raja itu memang orang yang pintar. Dia mengenal ilmu perbintangan. Terkadang muncul keinginan dari orang-orang Negeri Jambi itu untuk menguji calon raja mereka, dengan banyak pertanyaan. Mereka takut, kalau ada pertanyaan yang sulit calon raja itu akan tersinggung dan membatalkan niatnya menjadi Raja Negeri Jambi.

    Deburan ombak, hembusan angin, gelapnya malam atau benderangnya cahaya bulan, teriknya matahari atau gelapnya awan hitam, sudah silih berganti. Perjalanan mereka menuju negeri asal, yaitu Negeri Jambi, belum juga sampai. Mereka juga singgah di Malaka (Malaysia) untuk membeli perbekalan, singgah di Negeri Aceh untuk beristirahat atau menambah persediaan air tawar. Dengan demikian, perjalanan mereka menjadi makin panjang dan makin lam sampai di Negeri Jambi.

    Pada suatu hari, rupanya dendang mereka sudah dekat Negeri Jambi. Mereka sudah memasuki muara sungai yang besar sekali, tempat mereka dulu memulai perjalanan mencari calon Raja Jambi. walaupun sungai besar itu sudah mereka kenal, sudah mereka layari dengan dendang, sudah mereka minum airnya, mereka belum mengetahui apa nama sungai besar itu. Apakah calon raja dari Negeri Keling itu mengetahui nama sungai itu atau tidak. Mereka ragu-ragu bertanya pada calon raja dari Negeri Keling itu. Apalagi saat itu mereka rasa kurang sopan bertanya karena hari sudah petang dan pemandangan menjadi remang-remang.

    Seorang dari mereka, orang Batin Duo Belas, memberanikan diri juga ketika sudah disepakati oleh yang lain, mengajukan pertanyaan kepada calon raja dari Negeri Keling itu.

    “Tuanku calon raja kami. Elok kiranya tuanku jika dapat menjawab sebuah pertanyaan kami.”

    “Tanyalah mengenai apa saja.”

    “Muara sungai besar yang sedang kita layari ini, apa gerangan namanya Tuan?”

    “Haa... Inilah yang bernama muara Kepetangan Hari.”

    Ternyata calon raja itu menjawab cepat, padahal sungai itu belum pernah dikenalnya.

    Para tokoh masyarakat pencari calon raja itu gembira sekali dan makin kuat tenaganya mendayungkan kayu pengayuhnya menyusuri sungai itu, menyongsong (melawan) arus menuju desa Mukomuko.

    Sesampai mereka di Mukomuko, mereka menyebarluaskan kepada setiap orang yang mereka temui. Mereka mengatakan bahwa nama sungai besar di Negeri Jambi itu bernama Kepetangan Hari. Setelah bertahun-tahun lamanya, kemudian berangsur terjadi perubahan menjadi Sungai Petang Hari, dan akhirnya menjadi Batang Hari.


    Ulasan

    Serasa kurang lengkap, menyebut Provinsi Jambi tanpa mengungkit-ungkit Sungai Batang Hari, sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Sungai Batang Hari adalah ikon Provinsi Jambi. Teramat panjangnya, sungai ini seakan membelah teritorial darat Provinsi Jambi jadi dua bagian, utara dan selatan.

    Sungai Batang Hari juga mendefinisikan dan hendak mewartakan pada kita bagaimana corak manusia Jambi, bagaimana mode produksi dan laku ekonomi masyarakat Jambi, bagaimana strategi politik-ekonomi kerajaannya, dan bagaimana filsafat kebudayaannya. Dan ia pun jadi saksi, bagaimana hutan-hutan Provinsi Jambi tumbuh, menyubur, layu dan kering di musim kemarau, bertunas lagi di musim penghujan hingga lebat menghijau, dan akhirnya orang-orang tak bermoral menebanginya demi kepentingan pribadi, menghanyutkan kayu-kayu hasil tebangan lewat Sungai Batang Hari.

    Sungai Batang Hari barangkali menatap sedih penambangan emas eksploitatif yang diperbuat korporasi, membuang limbahnya di Sungai Batang Hari, meracuni ikan-ikan air tawar, dan efeknya merusak ekosistem hayati. Rute harmonis keseimbangan rantai makanan jadi tak runtun lagi.

    Masyarakat yang bertempat tinggal di pinggiran Sungai Batang Hari pun panik. Mereka benar-benar merasakan pengikisan ruang hidupnya, perlahan tapi pasti. Tak hanya kelangsungan hidup alam yang terancam, namun kelangsungan hidup manusianya juga terancam.

    Sungai Batang Hari yang tercemari limbah, yang jumlah spesies ikannya kian berkurang, yang pemandangan di sekitarnya tak lagi memesona sebab gundulnya hutan di pinggir-pinggirnya, yang rona wajah para nelayannya memudar dan mengosong, telah menjelma menjadi tak akrab dengan penduduk. Penduduk lantas lama-lama memisahkan diri dari ruang hidupnya: Sungai Batang Hari.

    Mereka, karena terasing dengan ruang hidupnya, beradu nasib mengikuti rutin dan ritme modernitas. Sungai Batang Hari dilupakan. Dan rasa hayat kosmik mereka luntur berganti rupa sebagai rasa hayat komoditas.

    Ekspresi kebudayaan dan tradisi merawat-meruwat Sungati Batang Hari sedikit demi sedikit menghilang diserap, ditelan modernitas. Tradisi itu tak pernah dihiraukan, lebih-lebih oleh pemerintah, kecuali tradisi tersebut dianggap menguntungkan dan menjual. Ekspresi kebudayaan berubah menjadi ekspresi ekonomi pada sektor pariwisata. Aktivitas pemaknaan dan penghayatan bergeser menjadi aktivitas perdagangan.

    Demikianlah Sungai Batang Hari dan narasi yang melingkunginya. Sebab Sungai Batang Hari menyaksikan proses perubahan sejarah Provinsi Jambi, alangkah naifnya bagi kita, tuan dan puan yang terlahir di tanah Jambi, bila tak hirau dengan muasal Sungai Batang Hari.

    Karena itu, demi mensucikan diri kita dari kenaifan macam begitu, sambil memaknai dan menghayati pentinganya Sungai Batang Hari bagi manusia Jambi, kami, Komunitas Swarnabhumi, menyuguhkan satu cerita rakyat mitologis lagi dari Provinsi Jambi. Tajuknya, “Asal-Mula Nama Sungai Batang Hari”. Sebenarnya kisah ini telah include dalam mitos “Asal-usul Raja Negeri Jambi” yang kami posting sebelumnya. Mudah-mudahan cerita rakyat yang kami suguhkan ini mampu merangkai secara lebih holistik puing-puing terserak kebudayaan Jambi hingga kita dapat meniti-mendaki ke sebuah ruang kontinum pemaknaan absolut dengan ketotalan dinamikanya. Selamat menikmati. Mohon komentarnya. Trims.

    Sumber : Narasi cerita rakyat ini disadur dari buku "Cerita Rakyat dari jambi 2" karangan Kaslani terbitan Grasindo.
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger