Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label PURBAKALA. Show all posts
    Showing posts with label PURBAKALA. Show all posts

    Desa Megalitikum di Muak Kerinci – Jambi

    Desa Megalitikum di Muak Kerinci – Jambi. Situs peninggalan zaman megalitikum yang terletak di Desa Muak, Kabupaten Kerinci – Jambi hingga kini kondisinya sangat memprihatinkan, dan Pemkab Kerinci nampaknya belum memiliki perhatian serius untuk memelihara situs purbakala yang sangat berguna bagi pengungkapan kebudayaan pra-sejarah yang ada di daerah itu.

    Megalithikum merupakan suatu istilah kebudayaan batu besar (Mega = besar; Lithos = batu). Kebudayaan Megalithikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolithikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi.

    Beberapa peradaban megalithik yang dapat kita jumpai di Muak ini antara lain; Situs Batu Patah, Situs Batu Berrelief, Situs Batu Gong yang kesemuanya itu terletak dalam kawasan permukiman warga.

    Situs Batu Berrelief

    Batu Berrelief atau lebih dikenal dengan Batu berlukis ini berada tepat disebelah Kantor Kepala Desa Muak yang berada tepat ditengah-tengah permukiman warga desa. Situs ini terlihat kurang sekali perawatan sehingga dikhawatirkan akan mengalami kerusakan. Di lain hal, desa yang kaya akan sumber daya alam dan peninggalan pra sejarah ini kondisinya tidak sebaik desa-desa lain yang kita jumpai di Kab. Kerinci. Hal ini dilihat dari pasokan listrik yang tidak terjangkau sampai ke desa, ketersedian air bersih yang belum diperoleh, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak ada dari Pemkab setempat.

    Di sisi lain, desa ini tergolong ramai dikunjungi oleh pihak luar karena merupakan jalur perlintasan propinsi yang menghubungkan Kab. Kerinci dengan Bangko – Jambi, Jikalau malam tiba, kita akan menjumpai desa yang tak berpenghuni diakibatkan tidak tersedianya pasokan listrik untuk desa. kondisi ini mengakibatkan desa ini rawan dengan tindak kejahatan yang berimbas hilangnya situs peninggalan purbakala. Begitulah yang ku tangkap dari pembicaraanku dengan Kepala Desa dan warga desa ini.

    Perjalanan 4 km dari desa mengantarkanku ke situs peninggalan megalithik berikutnya, Batu Patah, begitulah nama yang tertera ketika aku sampai di depan Situs yang telah dipagari sehingga mirip dengan kuburan para tokoh terdahulu. Sekilas terlihat situs ini seperti batu besar yang sangat panjang, akan tetapi ditengah-tengah batu ini terbelah menjadi dua bahagian sehingga nama Batu Patah pun tak lepas dinobatkan kepada batu ini. di badan batu inipun sangat jelas terlihat ukiran-ukiran yang menyerupai gambar hewan-hewan seperti gajah, kuda, kambing dan juga gambar manusia yang lagi bekerja. Hal ini menandakan bahwa pada zaman itu kehidupan masyarakatnya telah maju dan telah mengenal seni.


    Peninggalan purbakala ini hampir keseluruhannya terletak ditepi jalan besar desa yang ramai karena merupakan jalur lintas propinsi. Batu Patah inipun selain berada di tepi jalan propinsi juga terletak sitengah-tengah ladang masyarakat desa. Sehingga mudah disentuh oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab yang dapat merusak peninggalan prasejarah ini.

    Batu Gong merupakan situs ketiga peninggalan prasejarah yang dapat kita temui dengan menelusuri jalan sejauh 5 km dari Situs Batu Patah, jalan menuju ke Situs inipun tergolong sangat sepi dan setapak dikarenakan situs ini terletak ditengah-tengah ladang milik warga desa yang jauh dari jalan raya. Sehingga untuk menempuhnya kita hanya bisa berjalan kaki.



    Batu yang mirip dengan gong yang besar ini berdiameter ± 1,5 m dengan panjang ± 3 meter. Di Batu ini pun dapat kita temui ukiran-ukiran baik binatang maupun manusia yang hidup pada masa itu.

    Mungkin, kita pernah mendengar kebiasaan masyarakat dahulu yang sering memandikan benda-benda pusaka leluhur dan upacara-upacara sejenisnya. Semua itu merupakan rasa penghormatan yang tak terhingga dan merupakan salah satu upaya dari para penduduk desa untuk mensucikan benda-benda bersejarah dan merupakan bentuk syukur atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Esa sehingga hasil bumi-utamanya padi- dapat dinikmati oleh masyarakat.

    Konon di desa ini juga pernah disinggahi oleh Si Pahit Lidah (Legenda dari Sumatera Selatan) yang ditandai dengan ditemukannya Situs Batu Bertangkup, tapi sayang aku tidak sempat mengabadikan gambarnya karena saat itu matahari sudah mulai terbenam yang disertai dengan gerimis sore yang menyirami ladang-ladang desa ini.

    Sekian dulu petualanganku dari Desa Muak (desa yang kaya akan hasil bumi dan peninggalan sejarah) seakan dibiarkan begitu saja tertinggal dan terpendam bersama situs sejarahnya. Akankah desa ini terus tertinggal karena Pemkab setempat yang hanya haus akan kemewahan pribadinya saja??? Kita tunggu saja…

    Masuk Desa Muak rasanya seperti berwisata atau berada di dalam hidup dan kehidupan masa silam itu sendiri. Inilah warisan peninggalam masa lampau yang patut diketahui dan di jaga oleh kita bersama. Sudah pernah kesana apa belom? Kalau belom, saatnya mencoba untuk berkelana ke jaman tempo doeloe dengan mengunjungi Desa Muak. Tak lengkap jika hanya membaca artikel ini.

    http://obycrownz.wordpress.com/2009/05/18/megalitikum/

    Penemuan Susunan Batu di Sungai Tenang Diduga Peninggalan Megalitikum

    Penemuan Susunan Batu di Sungai Tenang Diduga Peninggalan Megalitikum. Penemuan kontruksi berupa susunan batu di Desa Koto Tapus, Kecamatan Sungai Tenang, Merangin diperkirakan merupakan penginggalan zaman batu besar atau megalitikum 600-10 ribu sebelum Masehi (SM).

    Hal ini dikatakan pengamat budaya sejarah Jambi, Junaidi T Noor. "Saya sudah melihat dokumen foto penemuan susunan batu di Merangin. Analisa saya itu peninggalan zaman megalitikum," katanya, Senin (23/3).

    Menurutnya, ciri-ciri peninggalan zaman megalitikum atau zaman batu besar adalah batunya sudah berbentuk. "Foto yang kita lihat memang batunya persegi, lonjong dan sebagainya. Itu pasti zaman batu besar yang usianya kisaran 600 - 10 ribu tahun sebelum masehi," ujarnya.

    Ia belum bisa memastikan apakah itu zaman batu tua, batu madya atau batu muda. "Bila dilihat dari batunya yang persegi, itu ada dua kemungkinan apakah zaman batu madya atau batu muda. Untuk memastikan itu, kita butuh penelitian langsung ke lapangan," katanya.

    Ia menjelaskan, peninggalan megalitikum banyak ditemukan disepanjang Bukit Barisan. Itu merupakan ras melayu tua yang bertempat tinggal di dataran tinggi.

    "Daerah Jangkat, Batang Asai, Kerinci dan daerah lainnya disepanjang Bukit Barisan merupakan warisan ras melayu tua. Itu jalur Bukit Barisan juga banyak ditemukan peninggalan zaman megalitikum. Tidak hanya di Bengkulu dan Palembang, tapi sampai di daerah Medan. Intinya dijalur Bukit Barisan," ujarnya lagi.

    Balai Cagar Budaga (BBC) Jambi, katanya habis lebaran Idul Fitri nanti, akan melakukan penelitian langsung ke lokasi penemuan bersama Balai Arkeologi Palembang.

    "Hasil penelitian akan dilaporkan ke Arkelogi Nasional (Arkeonas). Bupati Merangin Al Haris sangat antusias terhadap hal ini. Beliau sudah menyurati provinsi untuk segera melakukan penelitian, saya lihat suratnya," katanya.

    Hal senada dikatakan Kadis Budaya dan Pariwisata Jambi, Edi Erizon, melalui sekretaris Bujang.

    "Kita sudah liat fotonya, analisi kita itu zaman megalitikum. Itu banyak kemiripan dengan peninggalan megalitikum lainnya seperti batu larung di Desa Tuo Kecamatan Lembah Masurai, Merangin. Selain itu bentuk batunya juga menyerupai zaman batu besar," katanya kepada wartawan.

    Seperti diberitakan, baru-baru ini masyarakat Desa Koto Tapus kecamatan Sungai Tenang menemukan hamparan batu-batu besar mirip konstruksi Candi dan gua seluas 4 hektare.

    http://jambi.tribunnews.com/2014/06/24/penemuan-susunan-batu-di-sungai-tenang-diduga-peninggalan-megalitikum

    Situs Batu Silindrik Pratintuo

    Situs Batu Silindrik Pratintuo terletak di Desa Dusun Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi yang secara astronomis berada pada koordinat 02º21’21.08” LS dan 101º53’47.03” BT. 

    Batu silindrik tersebut terletak di puncak bukit lematang dan orientasinya menghadap ke puncak Gunung Nilodingin. Lokasi temuan tersebut dibatasi oleh sebuah aliran sungai serta parit keliling selebar 2 m. Menurut penuturan masyarakat setempat parit tersebut pada waktu ditemukan sangat dalam dan lebar. Batu silindrik yang oleh masyarakat sekitar disebut Batu Larung ini berbentuk bulat panjang dan berukuran 3,45 x 0,94 m. 

    Pada bagian pangkal dan ujungnya terdapat hiasan yang berbentuk lingkaran (cincin) yang ditengahnya terdapat bentuk gong. 

    Sementara pada bagian tengah batu terdapat hiasan yang berupa 5 buah lingkaran ganda. Selain itu, juga terdapat 6 buah relief manusia kangkang yang mengapit sebuah lubang segi empat berukuran 0,32 x 0,32 m yang ditengahnya terdapat sebuah lubang bulat berdiameter 0,20 m dengan kedalaman 0,12 m. Pada kedua sisi pahatan manusia tersebut diberi pembatas berupa 2 buah garis lurus yang memanjang sejajar dengan panjangnya batu tersebut.

    Situs Batu Silindrik Bukit Pematang Sungai Nilo

    Situs Batu Silindrik atau oleh masyarakat setempat disebut Batu Larung terletak di atas Bukit Pematang Sungai Nilo, Desa Dusun Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi, yang secara astronomis berada pada koordinat UTM: 0816876/ 9735702.

    Batu silindrik tersebut terbuat dari batu alam tanpa hiasan dengan ukuran 3,50 x 1,15 x 1 m. Pada permukaan atasnya terdapat lubang berbentuk persegi dengan ukuran 22 x 24 cm.

    Situs Batu Silindrik Bukit Ranah Luas

    Situs Batu Silindrik Bukit Ranah Luas
    Situs Batu Silindrik Bukit Ranah luas terletak di Bukit Ranah Luas, Desa Dusun Tuo, Kecamatan Lembah Masurai, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi. secara astronomis berada pada koordinat 02º06’12.97” LS dan 102º00’48.68” BT

    Batu Silindrik tersebut terletak di tengah hutan rimba di dekat Sungai Seluang. Saat ini kondisinya sudah tidak utuh lagi. Bagian pangkalnya telah hancur akibat dipecahkan oleh penduduk yang menduga di dalamnya terdapat emas. Batu silindrik tersebut berukuran 2,20 x 1 x 1 m. Posisinya telah berpindah tempat karena bagian dasarnya (bagian yang rata) tidak lagi berada di bawah, melainkan sudah berada pada posisi menyamping.

    Situs Renah Kemumu

    Situs Renah Kemumu terletak di Desa Renah Kemumu, Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi. Di situs ini terdapat tinggalan megalitik yang berupa tempayan kubur, batu silindrik berrelief (batu larung) dan alat serpih bilah.

    Sebaran tempayan kubur yang berjumlah 16 buah ditemukan di areal pemukiman. Tempayan-tempayan tersebut berdiameter antara 60-100 cm dan tinggi sekitar 80 cm, serta berisi pasir dan tanah. Menurut beberapa penduduk, dibawah jalan setapak selebar 120 cm dan tebal 20 cm yang terletak di tengah desa juga terdapat beberapa tempayan yang tertimbun di dalam tanah akibat adanya pembuatan jalan setapak.

    Penemuan pertama batu silindrik yang ada di situs ini dilaporkan oleh J. David Neidel pada tanggal 15 Januari 2002. Batu silindrik tersebut ditemukan sekitar 3 km ke arah timur Desa Renah Kemumu, tepatnya di sebuah lahan perkebunan di puncak bukit milik Bapak Jamin. Batu silindrik ini terbuat dari batu andesit yang berbentuk bulat panjang dengan ukuran 3,45 x 1,05 x 0,86 m. Pada bagian pangkalnya terdapat hiasan berupa relief binatang dengan posisi berdiri.

    Adapun alat serpih bilah ditemukan di permukaan tanah sepanjang jalan antara Desa Renah Kemumu dan Desa Tanjung Kasri, yakni sekitar 5 km. Alat serpih bilah ini terbuat dari batu obsidian berwarna hitam keabu-abuan dan mengkilap. Jenisnya berupa pisau, mata panah, mata tombak, serut ujung, dan gurdi. Sebagian besar berupa tatal dan batu inti.

    Rumah Batu Olak Kemang

    Rumah Batu Olak Kemang, terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi. Bangunan ini merupakan rumah kediaman Said Idrus bin Hasan Al Djufri yang bergelar Pangeran Wirokusumo. Seorang keturunan arab yang mendapat kedudukan penting di Kesultanan Jambi. 

    Disamping itu menurut penuturan masyarakat Jambi, Wiro Kusumo juga besan dari Sultan Thaha Syaifudin (Sultan terakhir Kerajaan Jambi). Pangeran Wirokusumo wafat pada tahun 1901 dan rumah tersebut dihuni keturananya.

    Keunikan Rumah Olak Kemang terdiri dari dua lantai, mempunyai arsitektur perpaduan lokal, cina, dan eropa. Unsur lokal berupa rumah panggung, pengaruh cina pada bentuk atap, gapura, dan ornamen-ornamen berbentuk naga, awan, bunga, dan arca singa. Sedangkan unsur eropa terlihat dari tiang-tiang panggung dari bahan bata dan semen berbentuk pilar menyangga bangunan di atasnya. 

    Pada lantai bawah dilapisi ubin terakota sedangkan pada lantai kedua berupa papan kayu. Kedua lantai ini dihubungkan dengan tangga semen seperti layaknya tangga rumah bertingkat yang banyak dipakai pada bangunan indis.

    Candi Soloksipin

    Situs Soloksipin terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Legok, Kota Jambi. Situs ini berasal dari periode klasik Hindhu-Buddha. Di dalam situs saat ini hanya tinggal puing-puing berupa pondasi bata bangunan candi.


    Di Candi Soloksipin ini juga ditemukan arca budha terbuat dari batu pasiran (sand stone) setinggi 1,72 meter yang digambarkan dalam posisi berdiri memakai jubah.Kemudian 2 (dua buah) makara, lapik dan stupa. Baik arca dan makara sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta, sedangkan lapik dan stupa tersimpan di Museum Negeri Jambi.

    Riwayat penemuan di mulai dari catatan orang Belanda yang pernah datang ke Jambi. Sedangkan riwayat pembangunan candi tidak bisa diketahui dengan pasti, belum ada penelitian yang mendalam tentang keberadaan candi ini. Dari temuan arca budha yang ada tertulis //dang acharrya syuta// dapat diperkirakan arca berasal dari abad 8 M dan salah satu makara yang ditemukan memiliki angka tahun 1064 M

    Sayang baik situs dan candi ini sudah semakin terhimpit oleh pemukiman penduduk dan hanya beberapa bagian yang bisa diselamatkan. Berada di permukiman penduduk yang padat sangat menyulitkan dalam mengidentifikasi struktur bata yang terdapat di Legok. Bahkan diatas gundukan tanah yang di dalamnya terdapat reruntuhan bata telah berdiri tiga buah rumah.

    Batu Silindrik Kumun Mudik

    Batu Silindrik Kumun Mudik. Tradisi megalitik adalah kebiasaan mendirikan bangunan dari batu besar, yang biasanya dikaitkan dengan pemujaan terhadap leluhur (ancestor worship). Salah satu bentuk bangunan megalitik adalah batu silindrik (monolit). Kepercayaan akan adanya pengaruh yang kuat dari orang yang telah mati terhadap kesejahteraan kehidupan masyarakat mendorong masyarakat mendirikan bangunan batu besar (megalitik). 
    Dengan pendirian bangunan tersebut, masyarakat berharap leluhur mereka dapat ikut menjaga dan melindungi kehidupan mereka.

    Dusun Kumun Mudik, Desa Ulu Air, Kecamatan Kumun Debai, Kota Sungai Penuh, Propinsi Jambi merupakan salah satu daerah yang masih bisa ditemukan tinggalan megalitik berupa Batu Silindrik. secara astronomis situs ini berada pada koordinat 02º 06′ 04.4” LS dan 101º 24’ 51.2” BT.

    Tinggalan megalitik yang terdapat di situs ini berupa batu silindrik yang berbentuk bulat memanjang dan pada bagian ujungnya dipangkas sehingga menyerupai bentuk gendang. Batu silindrik ini berukuran 2,05 x 0,7 x 0,85 m. Seluruh bagian permukaannya, kecuali bagian bawah, dihias pahatan berbentuk tonjolan. Motif hias lain yang dipahatkan pada batu ini adalah geometris pada sisi-sisinya, sulur-suluran dan spiral pada sisi kanan dan kiri. 

    Batu berbentuk silindrik dengan pangkal berukuran lebih besar dan ujung meruncing. Bagian permukaan terdapat hiasan relief manusia dalam posisi tegak dengan kedua tangan ke atas dan kaki mengangkang.

    Arca Dwarapala

    Arca Dwarapala merupakan salah satu arca yang ditemukan di Kawasan Percandian Muarajambi. Arca Dwarapala ditemukan pada Bulan April 2002 di depan reruntuhan Gapura Candi gedong II. Arca tersebut ditemukan pada saat dilakukan ekskavasi arkeologi di lokasi gapura keliling candi.

    Arca Dwarapala sering disebut dengan arca penjaga bangunan suci atau candi. Umumnya arca penjaga ini berpasangan atau 2 buah, berkedudukan di depan sisi kanan dan kiri gerbang atau gapura pintu masuk candi.

    Sebagai penjaga gerbang, umumnya anatomi tubuh maupun atribut yang dikenakan digambarkan seram, menakutkan, atau garang. Misalnya mata melotot, gigi bertaring badan gemuk, dan membawa senjata serta memakai atribut menyeramkan yakni gelang dari ular, kalung tengkorak, dll. Namun Arca Dwarapala dari Candi Gedong II ini penggambarannya lebih tenang dari Arca Dwarapala pada umumnya, kesan penjaga hanya ditunjukkan pada atribut senjata gada dan perisai, suatu bentuk yang sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan arca dwarapala dari candi-candi di Jawa maupun penjaga pada Pura Agama Hindu di Bali.

    Kompleks Candi Kembarbatu

    Kompleks Candi Kembar batu terletak 250 meter disebelah tenggara Candi Tinggi, sedangkan luas lahan Candi Kembarbatu 59 x 63 meter. Komponen Kompleks Candi Kembarbatu antara lain : 1 candi induk, 5 perwara yang telah dipagar, 2 perwara yang belum dipagar, 2 stuktur bagunan yang belum diketahui fungsinya, pagar keliling, gapura dan parit keliling.

    Secara keseluruhan komponen bangunan yang ada di Kompleks Candi Kembarbatu terbuat dari bata. Arah hadap candi induk menghadap ke timur, perwara I menghadap ke timur barat, perwara II dan V menghadap ke timur dan perwara II dan perwara IV mengahadap ke utara. 

    Candi-candi yang terdapat di kompleks Candi Kembarbatu sebagai berikut. Candi induk 11,39 m x 11,33 m x 2,85 m, Perwara I 11,60 mx 11 m x 1,86 m, Perwara II 3,7 m x 3,45 m x 1,30 m. Perwara III 8,09 m x 5, 79 m x 1,46 m, perwara IV 12,32 m x 12,17 m x 0,65 m, Perwara V 5,10 m x 5,07 m x 0,92 m. 2 buah bangunan perwara yang masing-masing terletak di timur dan selatan mempunyai lubang-lubang yang dahulunya merupakan tempat berdirinya tiang-tiang kayu. Lubang tersebut ada yang berbentuk bulat dan ada pula yang berbentuk persegi.

    Artefak yang ditemukan di Candi Kembarbatu ini antara lain adalah gong perunggu yang bertuliskan huruf cina kuno dan kepingan emas berbentuk kelopak bunga.

    Candi Tinggi 1, Situs percandian Muara jambi

    Candi Tinggi 1, Situs percandian Muara jambi. Candi Tinggi merupakan salah satu candi di kompleks Situs percandian Muara jambi yang pertama kali menyebut Candi Tinggi yaitu F.M. Schnitger dalam laporannya tahun 1937, meskipun ada kesalahan dalam penyebutan deskripsi dengan Candi Gumpung.

    Luas kompleks Candi Tinggi 2,92 Ha dari 1 bangunan Induk, 5 bangunan perwara dan pagar keliling. Pagar keliling candi berukuran 90 x 74 meter. Bangunan Induknya telah dipagar berdenah bujursangkar, berukuran 16 x 16 meter dengan tingginya 7,6 m. penampil bangunan terletak di sisi selatan berukuran 5 x 7 meter dan memiliki anak tangga.

    Candi ini memiliki 2 buah selasar yang masing-masing terletak pada bagian di atas kaki candi dan di atas tubuh candi. 2 buah susunan anak tangga masing-masing terhubung dengan selasar kaki candi dan selasar tubuh candi.

    Kedua selasar ini berbentuk datar mengelilingi candi. Di selasar kaki candi tepar di kiri kanan depan tangga masuk terdapat susunan bata berbentuk persegi panjang ukuran 1 x 1 meter dengan tinggi 1 meter. Pada awalnya bangunan ini dibangun dalam 2 tahap strukutur bangunan yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh di bagian dalam bagunan.

    Sedangkan bangunan perwara berbentuk bujursangkar terletak menyebar di timur laut, barat, barat daya dan selatan dari bangunan induk. Keadaan sekarang ini bangunan perawara tersebut yang tersisa hanya bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Perwara di selatan candi induk berukuran 11 x 11 meter dengan bagian tengah terisi susunan bata, perwara di barat daya berukuran 7 x 7 meter dengan susunan bata hanya disekelilingi saja, bagian tengahnnya hanya tanah. Dua perwara berjajar kembar di sisi barat laut masing-masing berukuran 4 x 4 meter. Dan sebuah lagi berada di sudut timur laut berukuran 3,5 x 3,5 meter.

    Gapura besar berdenah segi 20 berukuran 12 x 12 meter menuju kearah candi ini terletak ditengah pagar keliling sisi timur, namun di bagian barat pagar keliling juga terdapat gapura dengan ukuran yang lebih kecil. Candi Tinggi dibatasi bagian utara oleh Parit Johor dan kebun, bagian timur oleh halaman luar candi, bagian selatan oleh jalan setapak, dan bagian barat oleh halaman luar candi.

    Candi Gumpung

    Candi Gumpung. Bangunan Candi Gumpungmerupakan salah satu kawasan candi yang cukup luas dan besar yang ada di Kawasan Kompleks percandian Muara Jambi. Candi Gumpung ini memiliki halaman yang dibatasi dengan pagar keliling berbentuk bujur sangkar yang berukuran 150 meter X 155 meter, sedangkan bangunan induk yang ada di dalam pagar ini berukuran 17,9 meter X 17,3 meter dan menghadap ke arah timur.

    Tata ruang Candi Gumpung ini terbagi atas beberapa ruang yang masing-masing berpagar bata dilengkapi pintu gerbang masuk. Kini, pagar-pagar dan pintu masuk hanya tersisa di bagian bawahnya dan selebihnya telah hilang. Pemugaran candi ini telah dilakukan pada tahun 1982, dan hanya berhasil mengembalikan struktur bangunan yang masih tersisa.

    Di Candi Gumpung ini, ditemukan prasasti-prasasti emas berisi data-data mengenai asal-muasal candi ini. dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa candi ini merupakan Candi Umat Budha yang dibangun pada pertengahan abad ke-9 hingga permulaan abad ke-10 masehi. Hal ini juga didukung dengan adanya temuan arca Prajnaparamitha serta artefak lain yang berhubungan dengan ajaran Budha.

    Candi Gumpung merupakan candi terluar dan terdekat dari pintu masuk kawasan percandian Muara Jambi, dengan lapangan sekeliling candi yang luas sehingga digemari oleh para wisatawan.

    Kompleks Percandian Muaro Jambi

    Situs purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian Hindu-Buddha yang terluas di Indonesia. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu dari abad ke-11, dan termasuk sebagai salah satu candi kuno terluas di kawasan Asia Tenggara. Lokasinya di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Tepatnya di tepi Sungai Batang Hari.

    Dari kota Jambi, situs ini dapat dijangkau melalui jalan darat sekitar 30 menit ke arah timur menuju Pelabuhan Talang Duku, kemudian dilanjutkan dengan menyeberangi Sungai Batanghari ke Desa Muaro Jambi.

    Luas kompleks percandian ini mencapai 2.612 hektar. Sebagai sebuah mahakarya, kebesaran situs ini terlihat dari arsitektur dan sisa-sisa bangunan yang ada.

    Kompleks Candi Muaro Jambi

    Di kompleks situs ini tak hanya terdapat candi, namun juga berbagai artefak kuno seperti keramik, manik-manik, mata uang kuno, arca, dan lain-lain. Ada 8 kompleks percandian, dan sebuah kolam kuno yang oleh penduduk setempat dinamai Kolam Telago Tajo. Kolam ini berukuran 100 x 200 mdengan kedalaman 2-3 m dari permukaan tanah. Selain itu diperkirakan lebih dari 60 buah menapo, atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno yang juga terdapat di sana.

    Masih di dalam kompleks situs, terdapat museum Situs yang menjadi pusat informasi dan tempat penyimpanan koleksi temuan purbakala yang berasal dari situs. Di antara peninggalan yang ditemukan, terdapat Arca Prajnaparamita yang berwujud Dewi Kebijaksanaan menurut agama Budha Tantrayana, yang menjadi simbol tercapainya kebenaran tertinggi (sunyata) yang berupa unsur wanita (Sakti).

    Terdapat pula belanga yang merupakan temuan wadah logam terbesar dari Situs Muaro Jambo. Belanga ini memiliki berat 160 kg serta tinggi 67 cm, dengan diameter 106 cm. Penduduk setempat menemukannya saat sedang menggali tanah tak jauh dari kompleks Candi Kedaton. Candi-candi yang juga berada di kompleks situs ini antara lain Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Astano, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, Candi Kedaton, Candi Kotomahligai.

    Awalnya situs ini tidak banyak dikenal orang. Baru pada tahun 1820, seorang perwira Inggis, S.C Crooke mengunjungi daerah tersebut berdasarkan laporan dari penduduk setempat. Kemudian pada tahun 1935-1936, F.M. Schnitger melakukan ekspedisi ke daerah tersebut dan melakukan penggalian di situs Muaro Jambi.

    Sayangnya, keberadaan situs ini terancam rusak akibat perindustrian batubara dan sawit. Padahal, Kompleks Percandian Muaro Jambi pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha, selain Nalnda di India. Kawasan ini pun memiliki peran penting di bidang perdagangan dan diplomasi, karena terltak di jalur Maritime Silk Road.

    Pada tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi diajukan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger