Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label MUARA JAMBI. Show all posts
    Showing posts with label MUARA JAMBI. Show all posts

    Menguak Candi Muaro Jambi Peninggalan Sejarah Kerajaan Sriwijaya




    Candi Muaro Jambi yang terdapat di tanah air tercinta ini adalah salah satu tempat peninggalan purbakala terluas di Indonesia. Situs purbakala yang terdapat di di kawasan Desa Muaro Jambi, Kecamatan Marosebo, Ulu Kabupaten Muarojambi ini, dipredisikan sudah berdiri kokoh pada abad ke-11 Masehi. Dimana pada saat itu masih berada di bawah masa pemerintahan Sriwijaya dan hingga saat ini candi tersebut masih utuh dan dan terawat dengan baik.



    Tak hanya itu, ternyata Candi ini merupakan salah satu warisan budaya agama Budha yang bernilai sangat tinggi. Dimana pada bagian-bagian yang terdapat pada bangunan Candi tersebut dapat menunjukkan bahwa, zaman dulu Candi Muaro Jambi ini pernah dijadikan sebagai salah satu pusat tempat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana di Indonesia. Bahkan hal ini juga diperkuat dengan adanya beberapa hasil temuan benda sejarah yang terdapat pada Candi Muaro ini. Seperti halnya hasil reruntuhan Stupa, Arca Gajah Singh, Arca Prajinaparamita dan lain sebagainya.

    Selain itu keberadaan Candi Muaro Jambi ini tambah dipertegas dengan datangnya sekelompok para Rohaniawan Budha yang berasal dari luar Negeri dan para Bhiksu asal Tiongkok yang juga datang berkunjung ke Candi Muaro Jambi ini pada beberapa waktu yang lalu.

    Para wisatawan asing tersebut, bertujuan ingin menyaksikan secara langsung dan ingin mengenal lebih jauh tentang keberadaan dan sejarah awal mula dari Candi Muaro Jambi ini. Sehingga saat inipun para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri juga mulai banyak yang berdatangan

    Akibat semakin banyaknya para wisatawan yang datang. Pada tahun yang lalu 2012, Candi Muaro Jambi ini telah diresmikan oleh Presiden yakni Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang mana dalam hal tersebut mengatakan bahwa, Candi Muaro Jambi ini dijadikan sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) yang terdapat di Sumatera.

    Tentunya berkat keberadaan Candi Muaro Jambi yang telah banyak menyedot para pengunjung (khususnya para penganut agama Budha). Pelestarian serta keamanannya harus tetap dijaga dan dilestarikan agar obyek wisata yang satu ini tetap dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata jambi bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

    Perkebunan Duku di Kumpeh




    Duku (Lansium domesticum) merupakan buah penting di Indonesia dan memiliki pasar yang luas mulai dari pasar tradisional hingga supermarket modern. Buah duku banyak digemari karena rasa yang manis dan aroma tidak menyengat serta baik untuk dikonsumsi. Kandungan gizi dalam setiap 100 gram buah duku masak yaitu energi (63 kkal), protein (1 g), lemak (0,2 g), karbohidrat (16,1 g), kalsium (18 mg), fosfor (9 mg), vitamin C (9 mg), besi (0,9 mg), vitamin B1 (0,05 mg), air (82 g) dan 64% bagian yang dapat dimakan. Potensi sumberdaya alam Provinsi Jambi, khususnya agroklimat sangat mendukung untuk pengembangan duku.

    Duku di daerah Jambi juga menjadi buah unggulan dan plasma nutfah yang mempunyai nilai komersial tinggi, banyak ditanam dan menjadi sumber pendapatan petani. Daerah sentra duku di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Muaro Jambi, Batanghari, Sarolangun, Merangin, Tebo dan Muaro Bungo. Duku Kumpeh yang terdapat di Kabupaten Muaro Jambi dan duku Muaro Panco dari Kabupaten Merangin merupakan varietas unggul nasional yang dilepas pada tahun 2000 dan 2009. Duku Kumpeh memiliki rasa manis, legit, daging buah bening, tekstur daging kenyal, tidak berserat, dan hampir tidak berbiji, sedangkan duku Muaro Pancojuga buahnya bening, berbiji kecil dan rasa manis. Rasa manis duku Kumpeh dapat bersaing dengan duku Palembang, Matesih dan Condet yang lebih dulu dikenal dan komersil.

    Luas pertanaman duku di Provinsi Jambi pada tahun 2008 mencapai 7.660,36 ha dengan luas panen 1.661,50 ha dan rata-rata hasil 12,40 ton/ha. Hasil ini lebih rendah dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 14,66 ton/ha dengan luas panen yang lebih sempit yaitu sebesar 1.474 ha (Dispertan Prov. Jambi 2009).

    Usaha pengembangan dan pelestarian tanaman duku perlu didukung dengan ketersediaan bibit bermutu dalam jumlah cukup, waktu singkat dan harga terjangkau. Bibit bermutu adalah tanaman muda yang sehat, seragam dan memiliki sifat-sifat istimewa seperti cepat berbuah, produksi tinggi dan kualitas buah baik. Bibit duku bermutu diperoleh dengan metode sambung pucuk, karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain, tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan perbanyakan vegetatif lainnya, bibit yang dihasilkan memiliki sifat sama seperti tanaman induk, dapat berproduksi lebih cepat dan tanaman cenderung tumbuh lebih rendah daripada bibit yang berasal dari biji. 

    Duku yang ada di Provinsi Jambi saat ini umumnya berasal dari biji, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk berproduksi (15-20 tahun), sedangkan dengan teknologi sambung pucuk dan dosis pupuk yang tepat dapat mempercepat umur produksi menjadi 6-7 tahun. Dengan teknologi tersebut diharapkan populasi tanaman duku dapat terjaga kelestariannya. Populasi tanaman saat ini mulai berkurang akibat pengelolaan kebun duku sehat yang hampir tidak pernah dilakukan, sehingga tingkat serangan penyakit kanker batang duku semakin meningkat di Provinsi Jambi.

    Pengelolaan penyakit pada tanaman duku antara lain dapat dilakukan dengan menggunakan bibit bermutu dan pemupukan. Pemupukan secara langsung dapat menghambat perkembangan patogen, memodifikasi lingkungan sehingga tidak mendukung perkembangan patogen dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap patogen. Pemupukan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan hasil, kualitas dan kandungan nutrisi tanaman duku. Dosis pupuk yang tepat pada pohon duku merupakan faktor yang sangat penting. Kelebihan dan kekurangan hara dapat menyebabkan masalah serius pada tanaman duku. Metode terbaik untuk menentukan dosis pupuk pada pohon duku adalah dengan analisis daun, yang efektif mengukur kebutuhan hara dan menentukan status hara tanaman.

    Tanaman duku Kumpeh yang berproduksi sekarang sebagian besar telah berumur lebih dari 50 tahun bahkan ada yang berumur lebih dari 100 tahun, merupakan tanaman warisan dari orangtua atau nenek mereka. Peremajaan dan perbanyakan tanaman dilakukan secara generatif (asal biji) atau bibit yang tumbuh secara liar di sekitar tanaman duku. Kelemahan dari perbanyakan dengan biji antara lain memerlukan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan hasil buah (berproduksi) yaitu 15 s/d 25 tahun dan keturunan yang dihasilkan tidak selalu sama dengan induknya, sehingga untuk mempertahankan sifat suatu varietas unggul tidak tercapai. Kondisi yang demikian tidak saja menyebabkan terjadinya penurunan jumlah produksi, tetapi lebih jauh dapat mengancam populasi tanaman duku itu sendiri dan bila hal ini berlangsung terus dan tanpa adanya perluasan areal atau peremajaan serta pembudidayaannya maka populasi tanaman duku akan terancam langka, bahkan terancam punah.

    Kendala yang dihadapi petani dalam pengembangan areal dan pembudidayaan tanaman duku adalah memperbanyak tanaman duku secara vegetatif dan lamanya menunggu usia produksi. Alternatif untuk menunjang pengembangan budidaya dan kelestarian tanaman duku di Provinsi Jambi adalah penyediaan bibit tanaman duku bermutu dengan cepat dan dalam jumlah banyak yaitu dengan teknik sambung pucuk.

    Dunia Nanas Di desa Tangkit Baru Muaro Jambi

    TUMPUKAN buah nanas banyak ditemukan di sepanjang jalan Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Desa yang dijuluki Desa emas sejuta nenas ini memang banyak diantara penduduknya memanfaatkan lahannya untuk menanam buah yang mempunyai nama latin Ananas Comulus.

    “Dari sekitar 1.800 hektar luas lahan Desa Tangkit, sekitar 800 hektar diantaranya adalah untuk ditanami nanas,” kata Abdul Rahman, Kasi Pemerintahan, Desa Tangkit Baru. Menurutnya karakter tanah gambut yang ada di Tangkit baru memang sangat cocok untuk dibudidayakan untuk tanaman nanas. Dikatakannya, di desa yang baru dimekarkan pada tahun 2006 ini andalan utamanya adalah industri olahan dari nanas.

    “Kebanyakan warga disini memanfaatkan nanas untuk diolah menjadi dodol, selai dan manisan dari nanas,” kata Rahman. Dikatakannya ada banyak sekali industri rumah tangga pengolahan buah nanas yang ada di Tangkit Baru, namun untuk industri yang besar menurutnya tak lebih dari sepuluh yang besar, “Ada sekitar 4-6 lah yang besar,” kata Rahman.

    Rahman mengatakan kebanyakan industri tersebut adalah industri rumahan, “Mereka akan bergabung menjadi satu kalau ada semacam pameran dan adanya bantuan dari pemerintah,” kata Rahman. Dikatakannya saat ini pihak desa belum memeilik data yang pasti mengenai berapa jumlah pengrajin nanas yang ada di desanya dan berapa jumlah hasil produksi mereka setiap harinya

    “Untuk yang besar setiap hari mereka melakukan produksi, tetapi untuk yang industri kecil rumahan produksi akan dilakukan setelah melihat stok yang beredar di pasaran tinggal sedikit,” kata Rahman. Menurutnya lonjakan produksi akan terjadi menjelang hari raya Idul Fitri. “Kadang bisa berproduksi hingga 2 sampai 3 kali lipat,” ujar Rahman. Menurutnya komoditi bahan olahan dari nanas ini dipasarkan di Kota Jambi dan kota-kota sekitar Jambi. Bahkan menurut Rahman distribusinya telah sampai ke Pekanbaru, Palembang dan Jakarta.

    “Saat ini di desa kami belum banyak show room yang memamerkan hasil olahan nanas, baru sekitar 3-4 show room,” katanya. Rahman mengatakan Dodol Nanas hasil produksi Desa Tangkit merupakan satu diantara oleh-oleh khas yang diburu oleh orang-orang yang berkunjung ke Jambi.

    Durian Kumpeh Muaro Jambi yang terkenal

    Perubahan iklim tak hanya menimbulkan bencana alam dan anomali cuaca. Perekonomian rakyat pun terimbas. Contohnya, ribuan pohon durian dan duku selama dua tahun terakhir ini mengalami masa paceklik.

    Menyusuri sepanjang Jalan Kumpeh-Suak Kandis, Muaro Jambi, Jambi, kita tidak lagi menyaksikan gegap gempita masyarakat menyambut panen durian dan duku. Sepanjang jalan itu lengang.

    Tak ada lagi pedagang durian dan duku di tepi jalan yang menjajakan hasil panen mereka dengan harga sangat murah. Pondok-pondok bambu yang dibangun warga di tengah kebun untuk menantikan jatuhnya buah durian dari pohon pun kosong. Ke manakah mereka semua?

    ”Musim ini tidak ada apa-apa. Kosong. Pohon-pohon tidak berbuah,” ujar Subari, pengelola kebun durian di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi.

    Menurut Subari, sudah dua tahun terakhir kebun durian di wilayah itu tidak menghasilkan. ”Tahun lalu, memang ada sedikit hasil panen. Tapi, rasa buahnya tidak manis, sebagaimana buah durian asal Kumpeh yang dikenal selama ini: buahnya tebal, rasanya manis sedikit pahit, dan aromanya sangat wangi,” paparnya.

    Hal itu, lanjut Subari, disebabkan proses pembuahan yang diselimuti musim penghujan. ”Kalau selama proses pemasakan di pohon turun hujan, hasilnya kurang maksimal,” tambah Subari.

    Antusias

    Sejak tahun 1992, Subari mengelola dua hektar kebun durian dan duku milik saudaranya. Pada tahun-tahun lalu, panen selalu disambut antusias menjelang akhir tahun hingga awal tahun berikutnya. Para pedagang besar mendatangi petani untuk ”mengontrak” buah di pohon yang tengah panen.

    Dari lahan seluas itu, sekitar 100 pohon duku dan 50 pohon durian biasanya bisa dipanen buahnya. Meski demikian, kata Subari, khusus duku, yang seluruh buahnya dijual hanya yang berasal dari 22 batang. ”Harga jualnya Rp 1,2 juta per pohon,” ujarnya.

    ”Durian dijual satuan, dengan harga beragam, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per buah,” tambah Subari, seraya menjelaskan, satu batang durian bisa menghasilkan 400 hingga 500 buah.

    Dengan demikian, setiap musim buah, Subari bisa memperoleh minimal Rp 100 juta dari hasil panennya. ”Sebagian lagi (durian dan duku) dinikmati dan dibagi-bagikan untuk keluarga besar,” katanya.

    Mengenai minimnya panen sekarang ini, Subari menceritakan, sebenarnya dua bulan lalu pohon-pohon durian dan duku sudah mulai berbunga. Tapi, curah hujan tinggi sehingga bunga-bunga tersebut tidak menghasilkan buah. Itulah sebabnya, petani tak dapat memanen apa pun di kebun mereka.

    Pemasok terbesar

    Kecamatan Kumpeh Ulu merupakan pemasok terbesar durian dan duku asal Jambi. Hampir setiap penduduk setempat memiliki jenis buah ini secara turun-temurun. Pada musim buah, harga durian di tingkat pedagang bisa hanya Rp 3.000- Rp 5.000 per buah.

    Namun, kali ini, dengan ukuran buah yang sama besarnya, harga satu buah durian Rp 12.000-Rp 15.000. Harga jual duku pun begitu, yang dulunya hanya Rp 3.500, kini mencapai Rp 15.000 per kilogram.

    Prapto, pedagang buah di kawasan Talang Banjar, Jambi, mengatakan, sangat sulit mendapatkan buah durian dan duku di kebun warga. Ia harus berkendara sejauh 60 kilometer dari Kumpeh Ulu menuju Kumpeh Ilir untuk membeli durian langsung dari petani. ”Kalau di Kumpeh Ilir, masih ada sebagian kebun yang berbuah karena di sana tidak banyak hujan,” ujarnya.

    Terkait masalah perubahan iklim ini, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, Armandelis, mengimbau agar masyarakat jangan terlalu menggantungkan perekonomian pada komoditas yang hasilnya dipetik secara tahunan. ”Masyarakat perlu menyisihkan sebagian lahannya untuk tanaman pangan, supaya tetap memperoleh penghasilan di saat durian dan duku tak berbuah,” katanya.

    Kanal dan Kolam Kuno

    a. Kolam Telago Rajo

    Keberadaan Kolam Telago Rajo ditemukan pada pertengahan tahun 1970-an, kepastian fungsi Kolam Telago Rajo belum jelas, tetapi sedikit dapat disimpulkan keberadaan kolam tersebut dikaitkan dengan tempat waduk control supaya air tidak menggenangi lingkungan candi dan persedian air bersih masyarakat masa lalu. Kolam Telago Rajo terletak 100 meter sebalah tenggra Candi Gumpung. Kolam ini terbuat dari gunduhan tanah dan bagian tepi berupa gunduhan yang berbentuk persegi panjang ukuran 130 x 100 meter dan kedalamannya sekitar 2 sampai 3 meter dari permukaan tanah sekarang. Lebar bidang gunduhan ini mencapai 20 meter. Dari hasil inventaris menunjukkan selain kolam Telago Rajo juga terdapat kolam-kolam kuno tersebar di dekat beberapa bangunan candi.

    b. Kanal Kuno

    Bagian penting dari Situs Percandian Muarajambi selain bangunan candi, kolam kuno dan menapo, yaitu adanya kanal-kanal yang mengelilingi kawasan percandian. Kanal-kanal inilah yang dahulu disamping berfungsi sebagai symbol kosmologis dalam konteks budhisme, juga berfungsi sebagai srana transportasi antar candi dan sabuk pengamanan kawasan yang disucikan. Keberadaan kanal-kanal ini masih dapat ditelusuri dengan nama : Sungai Melayu, Sungai Buluran Kecil, Sungai Jambi, Parit Jonor, Parit Sekapung, Sungai Buluran Dlam, Sungtai Buluran Keli, Buluran Paku, dan Sungai Selat.

    Bukit Sengalo/Bukit Perak

    Bukit yang terbentuk hanya dari gunduhan tanah ini terletak paling barat dari gugusan situs Muarajambi. Tepatnya di wilayah Desa Batu, Kecamatan Maroseb. Kabupaten Muarajambi. Jalan menuju lokasi bukit Sngalo adalah melalui jalan ke Desa Danau Lame, kemudian di lanjutkan kea rah barat kurang lebih 1 kilometer manuju Bukit Sengalo. Bukit ini merupakan bukit buatan yang terdiri atas gunduhan utama dan gunduhan jalan masuk. Gunduhan ini berukuran 30 x 30 meter dan gunduhan jalan masuk mendaki yang memanjang arah timur barat. Bagian puncak gunduhan terbentuk lubang besar yang kabarnya terbuat dari pengggalian air di masa lalu. Sekeliling Bukui Sengalo saat ini adalah perkebunan kelapa sawit. 

    Sumber: Draf Nominasi Daftar World Heritage, UNESCO - Situs Percandian Muarajambi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2009)

    Arca Dwarapala

    Arca Dwarapala merupakan salah satu arca yang ditemukan di Kawasan Percandian Muarajambi. Arca Dwarapala ditemukan pada Bulan April 2002 di depan reruntuhan Gapura Candi gedong II. Arca tersebut ditemukan pada saat dilakukan ekskavasi arkeologi di lokasi gapura keliling candi.

    Arca Dwarapala sering disebut dengan arca penjaga bangunan suci atau candi. Umumnya arca penjaga ini berpasangan atau 2 buah, berkedudukan di depan sisi kanan dan kiri gerbang atau gapura pintu masuk candi.

    Sebagai penjaga gerbang, umumnya anatomi tubuh maupun atribut yang dikenakan digambarkan seram, menakutkan, atau garang. Misalnya mata melotot, gigi bertaring badan gemuk, dan membawa senjata serta memakai atribut menyeramkan yakni gelang dari ular, kalung tengkorak, dll. Namun Arca Dwarapala dari Candi Gedong II ini penggambarannya lebih tenang dari Arca Dwarapala pada umumnya, kesan penjaga hanya ditunjukkan pada atribut senjata gada dan perisai, suatu bentuk yang sedikit berbeda apabila dibandingkan dengan arca dwarapala dari candi-candi di Jawa maupun penjaga pada Pura Agama Hindu di Bali.

    Objek Wisata di Kabupaten Muara Jambi

    Objek Wisata di Kabupaten Muara Jambi. Kabupaten Muara Jambi dengan ibukota Sengeti dan pusat pemerintahannya berada di Bukit Cinto Kenang terletak + 34 km dari Kota Jambi.


    1. Kompleks Candi Muara Jambi

    Lokasi peninggalan sejarah kerajaan Melayu ini terletak di kecamatan Maro Sebo Desa Muara Jambi yang berjarak 25 km sebelah timur laut Kota Jambi. Secara keseluruhan peninggalan purbakala yang terdapat didalam situs Muara Jambi terdiri atas lebih dari 80 buah menapo gundukan tanah yang dipugar kemungkinan akan menjadi candi-candi atau pewara.

    Tinggalan lain yang tidak kalah menarik adalah adanya kolam besar yang terkenal dengan nama kolam Telago Rajo. Kolam ini merupakan tempat penampungan air dimasa lalu. 6 bangunan candi, diantaranya telah dipugar yaitu candi Gumpung, candi ringgi, candi Kembar Batu, candi Astano, candi Gedong I dan candi c.aorrg II, dan 4 buah bangunan candi yang belum dipugar, yaitu candi Tinggi II dan candi Kedaton, Candi Koto Mahligai dan candi Sialang, Dari bentuk bangunan dan peninggalan benda-benda sejarah yang terdapat di kawasan candi.

    Muara Jambi menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan kebudayaan Budhis rentang abad VII s.d ke XIII Masehi, Salah satu penemuan arca di candi Gumpung memperlihatkan adanya ciri -ciri yang banyak persamaannya dengan arca Prajnaparamita dari zaman

    Singosari. Sayangnya arca Prajnaparamita muara Jambi ini tidak berkepala lagi.

    Pada candi Muara Jambi banyak dijumpai fragmen porselen berbentuk mangkok, guci, tempayan dan pot bunga dari dinasti Sung abad X dan dinasti Ching abad XVIII-XIX. Disamping itu juga ditemui arca-arca, gong yang bertuliskan huruf Cina. Kesemua tinggalan itu sebagian besar ditempatkan di museum situs dan sebagian lagi sudah menjadi koleksi Museum Negeri Jambi.

    2. Tarman ACI

    Taman ACI terdapat di Desa Kasang Pudak 17 km dari Kota Jambi yang merupakan kawasan rekreasi buatan. Dalam kawasan ini dapat dilakukan kegiatan berperahu, memancing dan arena bermain anak-anak.

    Kompleks Candi Kembarbatu

    Kompleks Candi Kembar batu terletak 250 meter disebelah tenggara Candi Tinggi, sedangkan luas lahan Candi Kembarbatu 59 x 63 meter. Komponen Kompleks Candi Kembarbatu antara lain : 1 candi induk, 5 perwara yang telah dipagar, 2 perwara yang belum dipagar, 2 stuktur bagunan yang belum diketahui fungsinya, pagar keliling, gapura dan parit keliling.

    Secara keseluruhan komponen bangunan yang ada di Kompleks Candi Kembarbatu terbuat dari bata. Arah hadap candi induk menghadap ke timur, perwara I menghadap ke timur barat, perwara II dan V menghadap ke timur dan perwara II dan perwara IV mengahadap ke utara. 

    Candi-candi yang terdapat di kompleks Candi Kembarbatu sebagai berikut. Candi induk 11,39 m x 11,33 m x 2,85 m, Perwara I 11,60 mx 11 m x 1,86 m, Perwara II 3,7 m x 3,45 m x 1,30 m. Perwara III 8,09 m x 5, 79 m x 1,46 m, perwara IV 12,32 m x 12,17 m x 0,65 m, Perwara V 5,10 m x 5,07 m x 0,92 m. 2 buah bangunan perwara yang masing-masing terletak di timur dan selatan mempunyai lubang-lubang yang dahulunya merupakan tempat berdirinya tiang-tiang kayu. Lubang tersebut ada yang berbentuk bulat dan ada pula yang berbentuk persegi.

    Artefak yang ditemukan di Candi Kembarbatu ini antara lain adalah gong perunggu yang bertuliskan huruf cina kuno dan kepingan emas berbentuk kelopak bunga.

    Candi Tinggi 2

    Candi Tinggi 2. Candi ini terletak di sebelah selatan Candi Tinggi. Mempunyai pagar keliling ukuran 54 x 38,5 meter dan sebuah gapura di bagin timur ukuran 10 x 7,5 meter. Candi Induk terletak dibagian halaman tengah sebelah utara hanya tidak tepat searah gapura, tapi bergeser kesebelah kiri. Arah hadap candi induk ini sesuai dengan posisi penampilannya yang menghadap timur.

    Candi induk ini mempunyai selasar di bagian timur, sehingga terlihar seperti mempunyai 2 undukan menuju bagian atas Candi. Candi induk ini juga terlihat mempunyai 2 masa bangunan, hal ini tampak pada saat dilakukan pembongkaran susunan bagian luar bangunan yang memperlihatkan adanya susunan bata lain yang rapi di bagian dalam. Terlihat bahwa susunan bata lain yang rapi dibagian dalam. Terlihat bahwa susunan bata bangunan luar saat ini merupakan susunan bata tambahan setelah susunan dalam.

    Di depan Candi induk ini berdiri sebuah Candi Perwara berukuran 9 x 9 meter dengan struktur bata hanya disekelilingnya saja, bagian tengah berisi tahan. Pada bagian tengah di sisi timur dan barat Candi Perwara terdapat susunan bata yang menjorok keluar dengan ukuran 2,5 x 0,5 meter.

    Perwara lain yang belum dapat di rekonstruksi terdapat di sebelah barat Candi Induk. Sekurangnya terdapat 3 buah bangunan yang masih berdiri di tempat ini dengan kondisi sudah rusak walau profilnya sebagian masih dapat terlihat. Kerusakan bangunan ini dikarenakan pernah tumbuh pohon besar disekitarnya.

    Antara Candi Induk dan Candi Perwara di bagian barat sekeliling tanah tersebut dipasangi dengan susunan lantai bata. Susunan lantai bata ini ada yang berupa susunan bata utuh dan ada juga yang terdiri atas susunan bata pecahan.

    Candi Tinggi 1, Situs percandian Muara jambi

    Candi Tinggi 1, Situs percandian Muara jambi. Candi Tinggi merupakan salah satu candi di kompleks Situs percandian Muara jambi yang pertama kali menyebut Candi Tinggi yaitu F.M. Schnitger dalam laporannya tahun 1937, meskipun ada kesalahan dalam penyebutan deskripsi dengan Candi Gumpung.

    Luas kompleks Candi Tinggi 2,92 Ha dari 1 bangunan Induk, 5 bangunan perwara dan pagar keliling. Pagar keliling candi berukuran 90 x 74 meter. Bangunan Induknya telah dipagar berdenah bujursangkar, berukuran 16 x 16 meter dengan tingginya 7,6 m. penampil bangunan terletak di sisi selatan berukuran 5 x 7 meter dan memiliki anak tangga.

    Candi ini memiliki 2 buah selasar yang masing-masing terletak pada bagian di atas kaki candi dan di atas tubuh candi. 2 buah susunan anak tangga masing-masing terhubung dengan selasar kaki candi dan selasar tubuh candi.

    Kedua selasar ini berbentuk datar mengelilingi candi. Di selasar kaki candi tepar di kiri kanan depan tangga masuk terdapat susunan bata berbentuk persegi panjang ukuran 1 x 1 meter dengan tinggi 1 meter. Pada awalnya bangunan ini dibangun dalam 2 tahap strukutur bangunan yang lebih tua ditemukan masih tetap utuh di bagian dalam bagunan.

    Sedangkan bangunan perwara berbentuk bujursangkar terletak menyebar di timur laut, barat, barat daya dan selatan dari bangunan induk. Keadaan sekarang ini bangunan perawara tersebut yang tersisa hanya bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Perwara di selatan candi induk berukuran 11 x 11 meter dengan bagian tengah terisi susunan bata, perwara di barat daya berukuran 7 x 7 meter dengan susunan bata hanya disekelilingi saja, bagian tengahnnya hanya tanah. Dua perwara berjajar kembar di sisi barat laut masing-masing berukuran 4 x 4 meter. Dan sebuah lagi berada di sudut timur laut berukuran 3,5 x 3,5 meter.

    Gapura besar berdenah segi 20 berukuran 12 x 12 meter menuju kearah candi ini terletak ditengah pagar keliling sisi timur, namun di bagian barat pagar keliling juga terdapat gapura dengan ukuran yang lebih kecil. Candi Tinggi dibatasi bagian utara oleh Parit Johor dan kebun, bagian timur oleh halaman luar candi, bagian selatan oleh jalan setapak, dan bagian barat oleh halaman luar candi.

    Candi Gumpung

    Candi Gumpung. Bangunan Candi Gumpungmerupakan salah satu kawasan candi yang cukup luas dan besar yang ada di Kawasan Kompleks percandian Muara Jambi. Candi Gumpung ini memiliki halaman yang dibatasi dengan pagar keliling berbentuk bujur sangkar yang berukuran 150 meter X 155 meter, sedangkan bangunan induk yang ada di dalam pagar ini berukuran 17,9 meter X 17,3 meter dan menghadap ke arah timur.

    Tata ruang Candi Gumpung ini terbagi atas beberapa ruang yang masing-masing berpagar bata dilengkapi pintu gerbang masuk. Kini, pagar-pagar dan pintu masuk hanya tersisa di bagian bawahnya dan selebihnya telah hilang. Pemugaran candi ini telah dilakukan pada tahun 1982, dan hanya berhasil mengembalikan struktur bangunan yang masih tersisa.

    Di Candi Gumpung ini, ditemukan prasasti-prasasti emas berisi data-data mengenai asal-muasal candi ini. dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa candi ini merupakan Candi Umat Budha yang dibangun pada pertengahan abad ke-9 hingga permulaan abad ke-10 masehi. Hal ini juga didukung dengan adanya temuan arca Prajnaparamitha serta artefak lain yang berhubungan dengan ajaran Budha.

    Candi Gumpung merupakan candi terluar dan terdekat dari pintu masuk kawasan percandian Muara Jambi, dengan lapangan sekeliling candi yang luas sehingga digemari oleh para wisatawan.

    Candi Gedong II

    Candi Gedong II. Kompleks candi ini memiliki luas berukuran 75 m x 67,5 m. di halaman tersebut berdiri bangunan Induk berukuran 9 mx 9 m dan 2 candi perwara. Candi perwara I yang terletak di sebelah timur candi induk berukuran 8 x 8 m dengan penampil di barat dan timur, candi perwara II yang terletak di sebelah selatan candi induk berukuran 5 x 5 meter dengan penampil di utara. Gapura Candi Geding II merupakan gapura candi yang kondisi pemugarannya berhasil direkontruksi berbentuk segi 20 dengan ukuran 10 x 10 meter hingga mencapai ketinggian 5,2 meter.

    Dari lokasi ini ditemukan arca gajah yang di atas punggunya dinaiki singa (Arca Gadjahsingha), dan Arca Dwarapala berukuran tinggi 1,4 meter. Arca Dwarapala ini dalam posisi berdiri dengan sikap kaki agak ditekuk sedikit/siaga. Tangan kanan memegang senjata gada dan tangan kiri memegang tameng. Tidak nampak mengenakan pakainan, hanya kain penutup bawah yang ditekuk terlihat tersenyum, walau dihiasi dengan kumis dan taring yang disamarkan.

    Model rambut diikat seperti bentuk sanggul. Kedua arca ini terbuat dari batu pasiran dan sekarang tersimpan di gedung koleksi Percandian Muara Jambi. Selain kedua arca tersebut ditemukan pula cukup banyak mata uang keping, sebuah perhiasan untuk pecahan kalung dan beberapa buah wadah keramik.

    Pada saat pembongkaran Perwara II yang terletak di sisi selatan candi induk di bagian pipih di temukan susunan bata bergambar padma di 8 penjuru mata angin. Pada ke-8 bata bergambar padma tersebut di bagian bawahnya ditemukan kepingan emas tanpa tulisan dan beberapa batu permata yang tidak digosok berukuran kecil.

    Di dalam Kompleks Candi Gedong II yang telah mengalami pemugaran pada Candi Induk, kedua candi perwara, gapura dan pagar keliling. Candi Gedong IIdibatasi oleh Menapo Pandir, Tahtulyaman dan Capung di sisi utara, sisi bagian timur terdapat Candi Gedong I, sisi selatan oleh Menapo Gedong, dan sisi barat oleh Menapo Parit Duku.

    Kompleks Percandian Muaro Jambi

    Situs purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian Hindu-Buddha yang terluas di Indonesia. Situs ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu dari abad ke-11, dan termasuk sebagai salah satu candi kuno terluas di kawasan Asia Tenggara. Lokasinya di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Tepatnya di tepi Sungai Batang Hari.

    Dari kota Jambi, situs ini dapat dijangkau melalui jalan darat sekitar 30 menit ke arah timur menuju Pelabuhan Talang Duku, kemudian dilanjutkan dengan menyeberangi Sungai Batanghari ke Desa Muaro Jambi.

    Luas kompleks percandian ini mencapai 2.612 hektar. Sebagai sebuah mahakarya, kebesaran situs ini terlihat dari arsitektur dan sisa-sisa bangunan yang ada.

    Kompleks Candi Muaro Jambi

    Di kompleks situs ini tak hanya terdapat candi, namun juga berbagai artefak kuno seperti keramik, manik-manik, mata uang kuno, arca, dan lain-lain. Ada 8 kompleks percandian, dan sebuah kolam kuno yang oleh penduduk setempat dinamai Kolam Telago Tajo. Kolam ini berukuran 100 x 200 mdengan kedalaman 2-3 m dari permukaan tanah. Selain itu diperkirakan lebih dari 60 buah menapo, atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno yang juga terdapat di sana.

    Masih di dalam kompleks situs, terdapat museum Situs yang menjadi pusat informasi dan tempat penyimpanan koleksi temuan purbakala yang berasal dari situs. Di antara peninggalan yang ditemukan, terdapat Arca Prajnaparamita yang berwujud Dewi Kebijaksanaan menurut agama Budha Tantrayana, yang menjadi simbol tercapainya kebenaran tertinggi (sunyata) yang berupa unsur wanita (Sakti).

    Terdapat pula belanga yang merupakan temuan wadah logam terbesar dari Situs Muaro Jambo. Belanga ini memiliki berat 160 kg serta tinggi 67 cm, dengan diameter 106 cm. Penduduk setempat menemukannya saat sedang menggali tanah tak jauh dari kompleks Candi Kedaton. Candi-candi yang juga berada di kompleks situs ini antara lain Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Astano, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, Candi Kedaton, Candi Kotomahligai.

    Awalnya situs ini tidak banyak dikenal orang. Baru pada tahun 1820, seorang perwira Inggis, S.C Crooke mengunjungi daerah tersebut berdasarkan laporan dari penduduk setempat. Kemudian pada tahun 1935-1936, F.M. Schnitger melakukan ekspedisi ke daerah tersebut dan melakukan penggalian di situs Muaro Jambi.

    Sayangnya, keberadaan situs ini terancam rusak akibat perindustrian batubara dan sawit. Padahal, Kompleks Percandian Muaro Jambi pernah menjadi pusat pendidikan agama Buddha, selain Nalnda di India. Kawasan ini pun memiliki peran penting di bidang perdagangan dan diplomasi, karena terltak di jalur Maritime Silk Road.

    Pada tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi diajukan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger