Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label KERINCI-. Show all posts
    Showing posts with label KERINCI-. Show all posts

    Sejarah Kabupaten Kerinci


    Nama ‘Kerinci’ berasal dari bahasa Tamil “Kurinci”. Tanah Tamil dapat dibagi menjadi empat kawasan yang dinamakan menurut bunga yang khas untuk masing-masing daerah. Bunga yang khas untuk daerah pegunungan ialah bunga Kurinci (Latin Strobilanthus. Dengan demikian Kurinci juga berarti ‘kawasan pegunungan’.

    Di zaman dahulu Sumatra dikenal dengan istilah Swarnadwipa atau Swarnabhumi (tanah atau pulau emas). Kala itu Kerinci, Lebong dan Minangkabau menjadi wilayah penghasil emas utama di Indonesia (walaupun kebanyakan sumber emas terdapat di luar Kabupaten Kerinci di daerah Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin). Di daerah Kerinci banyak ditemukan batu-batuan Megalitik dari zaman Perunggu (Bronze Age) dengan pengaruh Budha termasuk keramik Tiongkok. Hal ini menunjukkan wilayah ini telah banyak berhubungan dengan dunia luar.

    Awalnya ‘Kerinci’ adalah nama sebuah gunung dan danau (tasik), tetapi kemudian wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan begitu daerahnya disebut sebagai Kerinci (“Kurinchai” atau “Kunchai” atau “Kinchai” dalam bahasa setempat), dan penduduknya pun disebut sebagai orang Kerinci.

    Sejarah Kerinci

    Menurut Tambo Alam Minangkabau, Daerah Rantau Pesisir Barat (Pasisie Barek) pada masa Kerajaan Alam Minangkabau meliputi wilayah-wilayah sepanjang pesisir barat Sumatra bahagian tengah mulai dari Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Muko-muko (Bengkulu) dan Kerinci. Dengan demikian Kerinci merupakan daerah Minangkabau.

    Pada waktu Indonesia merdeka, Sumatera bahagian tengah mulai dipecah menjadi 3 provinsi:

    1. Sumatera Barat (meliputi daerah Minangkabau)

    2. Riau (meliputi wilayah kesultanan Siak, Pelalawan,Rokan,Indragiri, Riau-Lingga ditambah Rantau Minangkabau Kampar dan Kuantan)

    3. Jambi (meliputi bekas wilayah kesultanan Jambi ditambah Rantau Minangkabau Kerinci)

    Dengan demikian sebenarnya Orang Kerinci hidup dengan budaya Minangkabau namun menjadi orang Jambi.

    Letak Kerinci

    Kerinci berada di ujung barat Provinsi Jambi, berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat (Minangkabau) di sebagian barat dan utara. Di selatan mereka berbatasan dengan Provinsi Bengkulu.

    Daerah Kerinci ditetapkan sebagai sebuah Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi, dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Daerah Kerinci memiliki luas 4.200 km2 terdiri atas 11 kecamatan (yang merupakan rangkaian kampung atau pemukimam). Statistik tahun 1996 menunjukkan populasi suku Kerinci sekitar 300.000 jiwa.


    Jauh sebelum Indonesia merdeka, Kerinci merupakan kawasan yang telah memiliki kekuasaan politik tersendiri.Sebelum Belanda masuk Kerinci mencatat tiga fase sejarahnya yaitu: Periode Kerajaan Manjuto atau Kerajaan Pamuncak Nan Tigo Kaum, Periode Depati, dan Periode Depati IV Alam Kerinci. Kerajaan Manjuto, sebuah kerajaan yang berada di antara Kerajaaan Minangkabau dan Kerajaan Jambi, beribukotakan di Pulau Sangkar. Berikutnya, pada dua periode Depati, Pulau Sangkar memainkan peran sentral sebagai salah satu dari empat pusat kekuasaan di Kerinci (Rasyid Yakin, hal. 4 -14).

    Tetapi semenjak Belanda mulai menduduki Kerinci pada 1914, peran sentral Pulau Sangkar secara politik pemerintahan mulai mengalami penyusutan. Ketika Belanda menetapkan Kerinci sebagai sebuah afdelling dalam kekuasaaan Karesidenan Jambi (1904) maupun di bawah Karesidenan Sumatera Barat (1921), dan ketika Kerinci menjadi sebuah kabupaten sendiri dalam wilayah Propinsi Jambi (pada 1958), Pulau Sangkar hanyalah sebuah ibukota kemendapoan (sebuah unit pemerintahan setingkat di bawah kecamatan dan setingkat di atas desa).

    Budaya Kerinci

    Budaya Kerinci sangat khas. Tari-tariannya adat merupakan campuran Minang dan Kerinci serta Melayu. Misalnya, Tari Joged Sitinjau Laut. Lagu-lagu Kerinci juga terkenal unik. Pakaian adatnya juga sangat indah. Rumah suku Kerinci disebut “Larik” karena terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang bersambung-sambung. Di Jambi, Kerinci adalah satu-satunya wilayah yang menganut adat Perpatih Minangkabau (Matrilineal).

    Bahasa Kerinci

    Bahasa Kerinci termasuk salah satu anak cabang bahasa Austronesia yang dituturkan dengan dialek Kerinci. Bagi masyarakat bagian pesisir barat Minangkabau, Bahasa Kerinci tidak begitu asing, namun menjadi agak aneh bagi orang daerah lain di Jambi yang condong ke Melayu Palembang dan Melayu Riau. Salah satu yang khas dari dialek Kerinci di antaranya adalah melafalkan ‘i’ menjadi ‘ai’ misal: ‘Orang Kerinci pergi ke Jambi’ diucapkan ‘Uhang Kinchai lalau ka Jamboi’, atau melafalkan ‘a’ menjadi ‘ea’ atau ‘oi’ misal : “bila” menjadi “bilea”, “atas menjadi “atoih”, “Tadi menjadi “tadoih”.

    Ada lebih dari 30 dialek bahasa yang berbeda di tiap-tiap desa di daerah Kerinci. Seperti pengucapan ‘Anda’, di Desa Lempur (Kec. Gunung Raya) diucapakan dengan ‘Kaya’ sedangkan di Kec. Sungai Penuh diucapakan dengan ‘Kayo’. Perbedaan dialek ini juga ditandai dengan dengan perbedaan budaya yang ada di masing-masing desa di Kerinci.

    Sumber : Data Pemkab Kerinci

    Nikmatnya Teh Kayu Aro di Kaki Gunung Kerinci




    Belum banyak diketahui bahwa salah satu teh hitam terbaik dunia berasal dari dataran tinggi di Provinsi Jambi

    Teh, siapa yang tak kenal? Ini merupakan salah satu jenis minuman paling digemari hampir sebagian besar penduduk dunia. Tradisi minum teh dapat ditemukan hampir di berbagai belahan negara mana pun. Di Jepang ada tradisi minum teh sebagai bentuk penghormatan dari tuan rumah kepada tamunya.

    Di Eropa, ada istilah tea time yaitu waktu khusus untuk menikmati teh. Di Cina, teh pastinya juga sudah mengakar kuat sejak berabad lamanya. Sementara di Indonesia, minum teh bukan lagi sekadar tradisi tetapi telah menjadi kebiasaan sehari-hari.

    Dalam hal produksi teh, Indonesia Barangkali belum banyak diketahui bahwa rupanya salah satu teh hitam terbaik dunia berasal dari Nusantara, tepatnya dari dataran tinggi di Provinsi Jambi, yaitu dari kawasan Gunung Kerinci. Di sanalah membentang Perkebunan Teh Kayu Aro yang kenikmatan dari tegukannya sebanding dengan lansekap alam yang tersaji. Perkebunan teh tersebut lokasinya berada di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

    Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, merupakan perkebunan teh tertua di Tanah Air, karena sudah ada semenjak masa penjajahan kolonial Hindia Belanda tahun 1925. Kedua, perkebunan ini merupakan yang terluas dan tertinggi kedua di dunia setelah Perkebunan Teh Darjeeling yang ada di India. Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki luas sekira 2,500 hektar dan berada di ketinggian 1.600 m dpl. Ketiga, teh yang ditanam di Perkebunan Teh Kayu Aro adalah teh ortodox atau yang lebih dikenal dengan nama teh hitam yang merupakan teh berkualitas tinggi.

    Proses pengelolaan daun teh di Perkebunan Teh Kayu Aro hingga kini masih menggunakan cara konvensional. Serbuk-serbuk teh tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan pewarna tambahan. Bahkan, untuk menjaga kualitas teh hitam terbaik, pekerja dilarang untuk menggunakan kosmetik ketika mengolah teh. Cita rasa dan aroma teh ortodox yang dihasilkan di perkebunan ini berkualitas di dunia, jadi tidak heran jika teh kayu aro menjadi teh kegemaran Ratu Inggris dan Ratu Belanda pada masanya.

    Perkebunan Teh Kayu Aro didirikan oleh Perusahaan Belanda bernama Namlodee Venotchaat Handle Verininging Amsterdam sejak 1925. Tahun 1959, melalui PP No. 19 Tahun 1959 perkebunan ini diambil alih Pemerintah Republik Indonesia pengawasan dan pengelolaannya dilakukan oleh PT. Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI). PTPN VI hingga kini yang melakukan perawatan, pemeliharaan tanaman, pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, sampai pengemasan dan pengeksporan ke berbagai negara.

    Setiap tahunnya, Perkebunan Teh Kayu Aro bisa menghasilkan 5.500 ton teh hitam. Teh artodox grade satu (teh unggulan) ini diekspor ke Eropa, Rusia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Asia Tengah, Pakistan, dan Asia Tenggara.

    Nah, selain dapat menikmati hamparan kebun teh yang amat luas, kita dapat pula mengunjungi pabriknya. Tentu dengan ijin dari pihak terkait.

    “Uhang Pandak” : Legenda orang Kerdil dari gunung kerinci




    Orang Pendek adalah misteri sejarah alam terbesar di Asia; ahli binatang telah mendaftarkan laporan kera misterius di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Propinsi Jambi, lebih dari 150 tahun. Sampai hari ini, binatang yang di Kerinci dikenal sebagai “uhang pandak”, tetapi juga karena variasi yang membingungkan dari nama dialek setempat, sampai sekarang masih belum teridentifikasi oleh ilmuwan.

    Orang pendek ialah nama yang diberikan kepada seekor binatang (manusia?) yang sudah dilihat banyak orang selama ratusan tahun yang kerap muncul di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi. Walaupun tak sedikit orang yang pernah melihatnya, keberadaan orang pendek hingga sekarang masih merupakan teka-teki. Tidak ada seorangpun yang tahu, sebenarnya makhluk jenis apakah yang sering disebut sebagai orang pendek itu. 

    Tidak pernah ada laporan yang mengabarkan bahwa seseorang pernah menangkap atau bahkan menemukan jasad makhluk ini, namun hal itu berbanding terbalik dengan banyaknya laporan dari beberapa orang yang mengatakan pernah melihat makhluk tersebut. Sekedar informasi, Orang pendek ini masuk kedalam salah satu studi Cryptozoology. Ekspediasi pencarian Orang Pendek sudah beberapa kali di lakukan di Kawasan Kerinci, Salah satunya adalah ekspedisi yang didanai oleh National Geographic Society. National Geographic sangat tertarik mengenai legenda Orang Pendek di Kerinci, Jambi, beberapa peneliti telah mereka kirimkan kesana untuk melakukan penelitian mengenai makhluk tersebut.

    Adapun cerita mengenai orang pendek pertama kali ditemukan dalam catatan penjelajah Marco Polo tahun 1292, saat ia bertualang ke Asia. Walau diyakini keberadaannya oleh penduduk setempat, makhluk ini dipandang hanya sebagai mitos oleh para ilmuwan, seperti halnya yeti di Himalaya dan monster Loch Ness Inggris Raya.

    Sejauh ini, para saksi yang mengaku pernah melihat Orang Pendek menggambarkan tubuh fisiknya sebagai makhluk yang berjalan tegap (berjalan dengan dua kaki) tinggi sekitar satu meter (diantara 85 cm hingga 130 cm) dan memiliki banyak bulu diseluruh badan. Bahkan tak sedikit pula yang menggambarkannya dengan membawa berbagai macam peralatan berburu, seperti semacam tombak.

    Legenda Mengenai Orang Pendek sudah secara turun temurun dikisahkan di dalam kebudayaan masyarakat Suku anak dalam. Mungkin bisa dibilang, Suku Anak Dalam sudah terlalu lama berbagi tempat dengan para Orang Pendek di kawasan tersebut. Walaupun demikian, jalinan sosial diantara mereka tidak pernah ada. Sejak dahulu Suku Anak Dalam bahkan tidak pernah menjalin kontak langsung dengan makhluk-makhluk ini, mereka memang sering terlihat, namun tak pernah sekalipun warga dari suku anak dalam dapat mendekatinya. 

    Ada suatu kisah mengenai keputusasaan para Suku Anak Dalam yang mencoba mencari tahu identitas dari makhluk-makhluk ini, mereka hendak menangkapnya namun selalu gagal. Pencarian lokasi dimana mereka membangun komunitas mereka di kawasan Taman Nasional juga pernah dilakukan, namun juga tidak pernah ditemukan.

    Awal tahun 1900-an, dimana saat itu Indonesia masih merupakan jajahan Belanda, tak sedikit pula laporan datang dari para WNA. Namun yang paling terkenal adalah Kesaksian Mr. Van Heerwarden di tahun 1923. Mr. Van Heerwarden adalah seorang zoologiest, dan disekitar tahun itu ia sedang melakukan penelitian di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

    Pada suatu catatan kisahnya, ia menuliskan mengenai pertemuannya dengan beberapa makhluk gelap dengan banyak bulu di badan. Tinggi tubuh mereka ia gambarkan setinggi anak kecil berusia 3-4 tahun, namun dengan bentuk wajah yang lebih tua dan dengan rambut hitam sebahu. Mr. Heerwarden sadar mereka bukan sejenis siamang maupun perimata lainnya. Ia tahu makhluk-makhluk itu menyadari keberadaan dirinya saat itu, sehingga mereka berlari menghindar. Satu hal yang membuat Mr. Heerwarden tak habis pikir, semua makhluk itu memiliki persenjataan berbentuk tombak dan mereka berjalan tegak. Semenjak itu, Mr. Heerwarden terus berusaha mencari tahu makhluk tersebut, namun usahanya selalu tidak berbuah hasil.

    Sumber-sumber dari para saksi memang sangat dibutuhkan bagi para peneliti yang didanai oleh National Gographic Society untuk mencari tahu keberadaan Orang Pendek. Dua orang peneliti dari Inggris, Debbie Martyr dan Jeremy Holden sudah lama mengabadikan dirinya untuk terus menerus melakukan ekspedisi terhadap eksistensi Orang Pendek. Namun, sejak pertama kali mereka datang ke Taman Nasional Kerinci di tahun 1990, sejauh ini hasil yang didapat masih jauh dari kata memuaskan. Lain dengan peneliti lainnya, Debbie dan Jeremy datang ke Indonesia dengan dibiayai oleh Organisasi Flora dan Fauna Internasional (http://fauna-flora.org). 

    Dalam ekspedisi yang dinamakan “Project Orang Pendek” ini, mereka terlibat penelitian panjang disana. Secara sistematik, usaha-usaha yang mereka lakukan dalam ekspedisi ini antara lain adalah pengumpulan informasi dari beberapa saksi mata untuk mengetahui lokasi-lokasi di mana mereka sering dikabarkan muncul. Kemudian ada metode menjebak pada suatu tempat dimana disana terdapat beberapa kamera yang selalu siap untuk menangkap aktivitas mereka. Rasa putus asa dan frustasi selalu menghinggap di diri mereka ketika hasil ekspedisi selama ini belum mendapat hasil yang memuaskan.

    Hubungan Kekerabatan Yang Hilang

    Beberapa pakar Cryptozoology mengatakan bahwa Orang Pendek mungkin memiliki hubungan yang hilang dengan manusia. Apakah mereka merupakan sisa-sisa dari genus Australopithecus?

    Banyak Paleontologiest mengatakan bahwa jika anggota Australopithecus masih ada yang bertahan hidup hingga hari ini, maka mereka lebih suka digambarkan sebagai seekor siamang. Pertanyaan mengenai identitas Orang Pendek yang banyak dikaitkan dengan genus Australopitechus ini sedikit pudar dengan ditemukannya fosil dari beberapa spesies manusia kerdil di Flores beberapa waktu yang lalu. Fosil manusia-manusia kerdil “Hobbit” berjalan tegak inilah yang kemudian disebut sebagai Homo Floresiensis. 

    Ciri-ciri fisik spesies ini sangat mirip dengan penggambaran mengenai Orang Pendek, dimana mereka memiliki tinggi badan tidak lebih dari satu seperempat meter, berjalan tegak dengan dua kaki dan telah dapat mengembangkan perkakas/alat berburu sederhana serta telah mampu menciptakan api. Homo Floresiensis diperkirakan hidup diantara 35000 – 18000 tahun yang lalu.

    Apakah Orang Pendek benar-benar merupakan sisa-sisa dari Homo Floresiensis yang masih dapat bertahan hidup? Secara jujur, para peneliti belum dapat menjawabnya. Peneliti mengetahui bahwa setiap saksi mata yang berhasil mereka temui mengatakan lebih mempercayai Orang Pendek sebagai seekor binatang. Debbie Martyr dan Jeremy Holden, juga mempertahankan pendapat mereka bahwa Orang Pendek adalah seekor siamang luar biasa dan bukan hominid.

    Tambahan :

    Ciri lain yang ane ketahui berdasarkan informasi dari teman2 yang berasal dari kerinci,selain bertubuh kerdil orang tersebut juga tidak memiliki belahan di bagian atas bibir,n bentuk telapak kaki ny nya juga terbalik,jarinya di bagian belakang dan tumit di bagian depan..

    Desa Megalitikum di Muak Kerinci – Jambi

    Desa Megalitikum di Muak Kerinci – Jambi. Situs peninggalan zaman megalitikum yang terletak di Desa Muak, Kabupaten Kerinci – Jambi hingga kini kondisinya sangat memprihatinkan, dan Pemkab Kerinci nampaknya belum memiliki perhatian serius untuk memelihara situs purbakala yang sangat berguna bagi pengungkapan kebudayaan pra-sejarah yang ada di daerah itu.

    Megalithikum merupakan suatu istilah kebudayaan batu besar (Mega = besar; Lithos = batu). Kebudayaan Megalithikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolithikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi.

    Beberapa peradaban megalithik yang dapat kita jumpai di Muak ini antara lain; Situs Batu Patah, Situs Batu Berrelief, Situs Batu Gong yang kesemuanya itu terletak dalam kawasan permukiman warga.

    Situs Batu Berrelief

    Batu Berrelief atau lebih dikenal dengan Batu berlukis ini berada tepat disebelah Kantor Kepala Desa Muak yang berada tepat ditengah-tengah permukiman warga desa. Situs ini terlihat kurang sekali perawatan sehingga dikhawatirkan akan mengalami kerusakan. Di lain hal, desa yang kaya akan sumber daya alam dan peninggalan pra sejarah ini kondisinya tidak sebaik desa-desa lain yang kita jumpai di Kab. Kerinci. Hal ini dilihat dari pasokan listrik yang tidak terjangkau sampai ke desa, ketersedian air bersih yang belum diperoleh, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak ada dari Pemkab setempat.

    Di sisi lain, desa ini tergolong ramai dikunjungi oleh pihak luar karena merupakan jalur perlintasan propinsi yang menghubungkan Kab. Kerinci dengan Bangko – Jambi, Jikalau malam tiba, kita akan menjumpai desa yang tak berpenghuni diakibatkan tidak tersedianya pasokan listrik untuk desa. kondisi ini mengakibatkan desa ini rawan dengan tindak kejahatan yang berimbas hilangnya situs peninggalan purbakala. Begitulah yang ku tangkap dari pembicaraanku dengan Kepala Desa dan warga desa ini.

    Perjalanan 4 km dari desa mengantarkanku ke situs peninggalan megalithik berikutnya, Batu Patah, begitulah nama yang tertera ketika aku sampai di depan Situs yang telah dipagari sehingga mirip dengan kuburan para tokoh terdahulu. Sekilas terlihat situs ini seperti batu besar yang sangat panjang, akan tetapi ditengah-tengah batu ini terbelah menjadi dua bahagian sehingga nama Batu Patah pun tak lepas dinobatkan kepada batu ini. di badan batu inipun sangat jelas terlihat ukiran-ukiran yang menyerupai gambar hewan-hewan seperti gajah, kuda, kambing dan juga gambar manusia yang lagi bekerja. Hal ini menandakan bahwa pada zaman itu kehidupan masyarakatnya telah maju dan telah mengenal seni.


    Peninggalan purbakala ini hampir keseluruhannya terletak ditepi jalan besar desa yang ramai karena merupakan jalur lintas propinsi. Batu Patah inipun selain berada di tepi jalan propinsi juga terletak sitengah-tengah ladang masyarakat desa. Sehingga mudah disentuh oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab yang dapat merusak peninggalan prasejarah ini.

    Batu Gong merupakan situs ketiga peninggalan prasejarah yang dapat kita temui dengan menelusuri jalan sejauh 5 km dari Situs Batu Patah, jalan menuju ke Situs inipun tergolong sangat sepi dan setapak dikarenakan situs ini terletak ditengah-tengah ladang milik warga desa yang jauh dari jalan raya. Sehingga untuk menempuhnya kita hanya bisa berjalan kaki.



    Batu yang mirip dengan gong yang besar ini berdiameter ± 1,5 m dengan panjang ± 3 meter. Di Batu ini pun dapat kita temui ukiran-ukiran baik binatang maupun manusia yang hidup pada masa itu.

    Mungkin, kita pernah mendengar kebiasaan masyarakat dahulu yang sering memandikan benda-benda pusaka leluhur dan upacara-upacara sejenisnya. Semua itu merupakan rasa penghormatan yang tak terhingga dan merupakan salah satu upaya dari para penduduk desa untuk mensucikan benda-benda bersejarah dan merupakan bentuk syukur atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Esa sehingga hasil bumi-utamanya padi- dapat dinikmati oleh masyarakat.

    Konon di desa ini juga pernah disinggahi oleh Si Pahit Lidah (Legenda dari Sumatera Selatan) yang ditandai dengan ditemukannya Situs Batu Bertangkup, tapi sayang aku tidak sempat mengabadikan gambarnya karena saat itu matahari sudah mulai terbenam yang disertai dengan gerimis sore yang menyirami ladang-ladang desa ini.

    Sekian dulu petualanganku dari Desa Muak (desa yang kaya akan hasil bumi dan peninggalan sejarah) seakan dibiarkan begitu saja tertinggal dan terpendam bersama situs sejarahnya. Akankah desa ini terus tertinggal karena Pemkab setempat yang hanya haus akan kemewahan pribadinya saja??? Kita tunggu saja…

    Masuk Desa Muak rasanya seperti berwisata atau berada di dalam hidup dan kehidupan masa silam itu sendiri. Inilah warisan peninggalam masa lampau yang patut diketahui dan di jaga oleh kita bersama. Sudah pernah kesana apa belom? Kalau belom, saatnya mencoba untuk berkelana ke jaman tempo doeloe dengan mengunjungi Desa Muak. Tak lengkap jika hanya membaca artikel ini.

    http://obycrownz.wordpress.com/2009/05/18/megalitikum/

    SUKU KERINCI

    SUKU KERINCI. Suku Kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci, Jambi.

    Kata Kerinci berasal dari bahasa Tamil Kurinji yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India Selatan pada ketinggian di atas 1800m. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan.

    Suku Kerinci sebagaimana juga halnya dengan suku-suku lain di Sumatra termasuk ras Mongoloid Selatan berbahasa Austronesia.

    Berdasarkan bahasa dan adat-istiadat suku Kerinci termasuk dalam kategori Melayu, dan paling dekat dengan Minangkabau dan Melayu Jambi. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antar satu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).

    Suku Kerinci memiliki aksara yang disebut surat incung yang merupakan salah satu variasi surat ulu.

    Sebagian penulis seperti Van Vollenhoven memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatera Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau.

    Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal.

    Sebagaimana diketahui dari Naskah Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua yang ditemukan di Kerinci, pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja maka ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.

    Satu kelompok masyarakat di dalam satu kesatuan dusun dipimpin oleh kepala dusun, yang juga berfungsi sebagai Kepala Adat atau Tetua Adat. Adat istiadat masyarakat dusun dibina oleh para pemimpin yang jabatannya yaitu Depati dan Ninik Mamak. Dibawah Depati ada Permenti (Rio, Datuk dan Pemangku) merupakan gelar adat yang mempunyai kekuatan dalam segala masalah kehidupan masyarakat adat.Wilayah Depati Ninik Mamak disebut ‘ajun arah’. Struktur pemerintahan Kedepatian:
    • Depati Mudo Terawang Lidah berpusat di Desa PENAWAR
    • Depati Empat Pemangku Lima Delapan Helai Kain Alam Kerinci, berpusat di Rawang;
    • Depati Empat Tiga Helai Kain, berpusat di Pulau Sangkar;
    • Pegawe Rajo Pegawe Jenang Suluh Bindang Alam Kerinci, berpusat di Sungai Penuh;
    • Siliring Panjang atau Kelambu Rajo, berpusat di Lolo;
    • Depati Gembalo Sembah Tigo Luhah Pemuncak Tanah Mendapo Semurup,berpusat di Semurup ;
    • Lekuk Limo Puluh Tumbi, bepusat di Lempur;
    Kekuatan Depati menurut adat dikisahkan memenggal putus, memakan habis, membunuh mati. Depati mempunyai hak yang tertinggi untuk memutuskan suatu perkara. Dalam dusun ada 4 pilar yang disebut golongan 4 jenis, yaitu golongan adat, ulama, cendekiawan dan pemuda. Keempat pilar ini merupakan pemimpin formal sebelum belanda masuk Kerinci 1903. Sesudah tahun 1903, golongan 4 jenis berubah menjadi informal leader. Pemerintahan dusun(pemerintahan Depati) tidak bersifat otokrasi. Segala maslah dusun, anak kemenakan selalu diselesaikan dengan musyawarah mufakat.

    Ninik Mamak mempunyai kekuatan menyelesaikan masalah di dalam kalbunya masing-masing. Dusun terdiri dari beberapa luhah. Luhah terdiri dari beberapa perut dan perut terdiri dari beberapa pintu, didalam pintu ada lagi sikat-sikat. Bentuk pemerintahan Kerinci sebelum kedatangan Belanda dengan system demokrasi asli, merupakan system otonomi murni. Eksekutif adalah Depati dan Ninik Mamak. Legislatif adalah Orang tuo Cerdik Pandai sebagai penasihat pemerintahan. Depati juga mempunyai kekuasaan menghukum dan mendenda diatur dengan adat yang berlaku dengan demikian dwifungsi Depati ini adalah sebagai Yudikatif dusun. Ini pun berlaku sampai sekarang untuk pemerintah desa, juga pada Zaman penjajahan Belanda dan Jepang dipergunakan untuk kepentingan memperkuat penjajahannya di Kerinci.

    Masyarakat Kerinci menarik garis keturunan secara matrilineal, artinya seorang yang dilahirkan menurut garis ibu menurut suku ibu. Suami harus tunduk dan taat pada tenganai rumah, yaitu saudara laki-laki dari istrinya. Dalam masyarakat Kerinci perkawinan dilaksanakan menurut adat istiadat yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam.

    Hubungan kekerabatan di Kerinci mempunyai rasa kekeluargaan yang mendalam. Rasa sosial, tolong-menolong, kegotongroyongan tetap tertanam dalam jiwa masyarakat Kerinci. Antara satu keluarga dengan keluarga lainnya ada rasa kebersamaan dan keakraban. Ini ditandai dengan adanya panggilan-panggilan pasa saudara-saudara dengan nama panggilan yang khas. Karenanya keluarga atau antar keluarga sangat peka terhadap lingkungan atau keluarga lain. Antara orang tua dengan anak, saudara-saudara perempuan seibu, begitupun saudara-saudara laki-laki merupakan hubungan yang potensial dalam menggerakkan suatu kegiatan tertentu.

    Struktur kesatuan masyarakat Kerinci dari besar sampai yang kecil, yaitu kemendapoan, dusun, kalbu, perut, pintu dan sikat. Dalam musyawarah adat mempunyai tingkatan musyawarah adat, pertimbangan dan hukum adat, berjenjang naik, bertangga turun, menurut sko yang tiga takah, yaitu sko Tengganai, sko Ninik Mamak dan sko Depati.

    Perbedaan kelas dalam masyarakat Kerinci tidak begitu menyolok. Stratifikasi sosial masyarakat Kerinci hanya berlaku dalam kesatuan dusun atau antara dusun pecahan dusun induk. Kesatuan ulayat negeri atau dusun disebut parit bersudut empat. Segala masalah yang terjadi baik masalah warisan, kriminal, tanah dan sebagainya selalu disesuaikan menurut hukum adat yang berlaku.

    Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir

    Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir terletak di Desa Tanjung Pauh Hilir, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º06’9.01” LS dan 101º26’0.35” BT.

    Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir dibangun pada tahun 1920 dengan denah bujur sangkar yang berukuran 18,5 x 18,5 m. Pada mulanya masjid ini terbuat dari kayu dan beratap ijuk, tetapi sekarang telah direnovasi oleh masyarakat setempat sehingga menjadi berlantai ubin keramik bermotif bunga, berdinding tembok, dan beratap seng. Pada bagian depan masjid terdapat 2 buah kolam yang berbentuk oval dan persegi panjang dengan ukuran 5 x 8 m dan 3 x 5 m. Kolam tersebut digunakan sebagai tempat bersuci.
    Seperti masjid-masjid kuno di Kerinci, masjid ini memiliki atap berbentuk tumpang 3 dengan kubah pada bagian atasnya. Pada bagian puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk bulan sabit. Selain itu,mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif geometris, serta tempelan tegel keramik. Pada bagian depan pintu terdapat tangga naik yang pipi tangganya juga dihias dengan tempelan tegel keramik. Pada dinding masjid dihiasi dengan tempelan tegel keramik. Pada setiap sisinya juga terdapat 4 buah jendela berdaun ganda.

    Keunikan masjid ini terletak pada pada 1 buah tiang saka guru berdiameter 0,6 m yang dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan terletak ditengah-tengah ruang utama masjid. Tiang saka guru ini dikelilingi oleh 4 buah tiang yang berdiameter 0,4 m. Keempat buah tiang tersebut dikelilingi oleh 8 buah tiang yang berdiameter 0,4 m.

    Mihrab masjid terletak di sebelah barat. Pada dinding barat mihrab terdapat jendela kaca yang berbentuk lingkaran dan dilengkapi dengan teralis besi bermotif bintang. Pada bagian depan mihrab terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan tempelan tegel keramik. Mihrab ini mempunyai atap gabungan antara bentuk limas dan kubah yang pada bagian puncaknya terdapat mustaka berbentuk bulan sabit. Mimbar masjid memiliki atap berbentuk limas, ukuran mimbar 2,10 x 1,80 x 2,25 m dan dihias dengan ukiran motif sulur-suluran dan geometris, serta tempelan tegel keramik. Pada bagian depan terdapat bentuk lengkung yang dihias dengan ukiran motif bunga cengkeh.

    Masjid Kuno Lempur Tengah

    Masjid Kuno Lempur Tengah terletak di Desa Lempur Tengah, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 02º14’51.89” LS dan 101º32’42.16” BT. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 M, kemudian sejak tahun 1940 sudah tidak difungsikan lagi karena masyarakat telah membangun masjid yang lebih besar. 

    Masjid Kuno Lempur Tengah sangat unik, dan termasuk masjid kayu yang dianggap masih utuh. Sebagaimana layaknya bangunan kayu di Kerinci, arsitektur bangunan termasuk kategori rumah panggung. Hal ini tampak pada bagian lantai terbuat dari susunan papan kayu, meskipun bagian kolong telah ditutup dengan dinding bata.

    Keunikan lain dari Masjid lempur Tengah, yaitu interior ruang masjid dan dinding luar penuh dengan pahatan motif geometris dan flora. Termasuk adanya motif terawangan sulur gelung yang terdapat pada keempat sudut dinging. Sedangkan atapnya sendiri berbentuk tumpang dua dengan kemuncak berbentuk gada. 

    Atap tersebut ditopang oleh 12 tiang kayu berbentuk segi delapan. Empat buah tiang saka guru berpahat motif tumpal, sulur-suluran, dan tali, sedang delapan buah tiang saka rawa.

    Masjid Kuno Lempur Mudik

    Masjid Kuno Lempur Mudik terletak di Desa Lempur Mudik, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Secara astronomis berada pada koordinat 01º15’22” LS dan 101º32’34.45” BT. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 M, seperti halnya masjid kuno Lempur Tengah, demikian pula Masjid Kuno Lempur Mudik sejak tahun 1931 sudah tidak difungsikan dan tergantikan dengan masjid baru yang lebih besar dan luas. 

    Semula masjid ini terbuat dari kayu dan beratap ijuk, namun sekarang telah diubah menjadi bangunan semi permanen dengan lantai semen dan beratap seng. Masjid Kuno Lempur Mudik memiliki atap berbentuk tumpang 2, pada bagian kemuncak berbentuk bulan sabit dan bintang.

    Masjid berdenah bujur sangkar berukuran 11 x 11 m, kontruksinya ditopang oleh 16 buah tiang kayu yang berbentuk segi delapan. Empat buah tiang saka guru berdiameter 0,75 m dan dua belas saka rawa masing-masing berdiameter 0,61 m. Keseluruhan tiang dan permukaannya dipahat dengan motif sulur-suluran, sedangkan pada dinding kayu berukir motif flora, tali, medalion, dan baluster. 

    Ukiran ini merupakan hasil seni pahat khas masyarakat Kerinci, dan yang sangat mengesankan yaitu ukiran terawangan sulur gelung yang ditempatkan pada keempat sudut dinding bangunan. Kekhasan Masjid Lempur Mudik yang mempunyai kesamaan dengan masjid-masjid kuno di Kerinci, yaitu adanya tempat muadzin mengumandangkan adzan yang berupa panggung kecil dan terletak menempel tiang saka guru.

    Danau Belibis

    Danau Belibis, sesuai namanya dimana di danau ini banyak terdapat populasi belibis yang hidup di sekitar danau. Danau belibis terletak di atas ketinggian lebih dari 1000 m dpl tepat di kaki Gunung Kerinci yang merupakan gunung api aktif tertinggi di Indonesia (3805 m dpl). Secara geografis danau ini berada di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Kecamatan Kayu Aro Barat, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

    Secara geografis, Danau Belibis merupakan danau tektonik yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Hal ini dapat kita lihat dari posisinya yang tepat berada di puncak sebuah bukit. Danau ini merupakan danau air tawar meskipun kualitas air yang tidak terlalu banyak namun tetap selalu ada. Di pinggiran danau masih terdapat berbagai satwa alam yang masih terjaga, antara lain burung hutan, monyet, dan sebagainya. Termasuk beberapa hewan lain seperti ular serta harimau meski sekarang jarang ditemui.

    Bagi masyarakat Kayu Aro, Danau Belibis bukanlah danau biasa karena merupakan danau yang memiliki sejuta cerita dan misteri. Selain itu, jarang sekali orang-orang yang berkunjung ke danau tersebut membuatnya misterius danau tersebut.

    Penulis sendiri sudah dua kali mengunjungi danau ini dan aksesnya bisa melalui beberapa desa yaitu: Kebun Baru, N1, Gunung Labu dan Giri Mulyo. Akses menuju danau tersebut belum begitu bagus sehingga kita lebih baik berjalan kaki sambil menikmati pemandangan alam berupa kebun-kebun petani di sekitar jalan menuju danau.

    Sebagaimana cerita orang-orang tua, meskipun banyak versi yang berbeda tetapi kebanyakan mereka menceritakan bahwa belibis-belibis penghuni Danau Belibis, merupakan perwujudan dari manusia-manusia yang sempat hilang di danau tersebut. Mereka adalah sekelompok pekerja dalam satu mandoran ketika mengadakan kunjungan ke danau tersebut. Mereka semua tidak ada yang pulang ke rumah dan menjadi belibis penunggu danau. Hal itu terjadi ketika awal muasal pembukaan Perkebunan Teh oleh Pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi cerita tersebut semakin digali semakin panjang bahkan semakin menggelitik serta membuat bulu kuduk yang mendengarnya langsung berdiri.

    Menampihkan semua cerita-cerita misterius tersebut, kita seharusnya sadar akan semua yang alam berikan. Kita harus menjaganya. Ironis, ketika saya berkunjung ke danau tersebut, kondisi hutan sudah berubah menjadi lahan pertanian, tepat di pintu rimba menuju danau merupakan ladang masyarakat. Ironis daerah yang seharunya dijaga kelestraian, apalagi berada dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

    Kawasan hutan yang seharusnya menjadi tempat serapan air, kini telah beralih fungsi menjadi ladang masyarakat, hal itu bisa kita lihat sepanjang jalan. Padahal sebenarnya sudah ada batas rambahan hutan tetapi itulah manusia, tidak mempunyai rasa puas akan yang telah ada. Dapat dikatakan kalau Gunung Kerinci belum gundul maka belum berhenti merambah hutan.

    Kesadaran yang rendah terhadap perlindungan alam sesungguhnya akan berimbas pada masyarakat itu sendiri. Hal yang paling nyata adalah kurangnya sumber air yang ada, kekeringan saat musim kemarau. Seharusnya kondisi di kaki gunung dengan alam yang terjaga dapat menjamin persediaan air. Akan tetapi, saat ini kondisi sumber air banyak yang berkurang bahkan mati. Ketika penulis masih kecil, masih teringat anak-anak mandi di sungai dengan riangnya tapi sekarang debit air yang ada hanya beberapa sentimeter, bahkan batu kali pun terlihat. Hal ini merupakan, efek nyata dari rusaknya alam, khusunya di kawasan kaki Gunung Kerinci.

    Semoga tulisan ini memberikan tidak hanya informasi tetapi juga pesan agar kita menjaga alam dengan segala yang ada. Menjaga alam akan memberikan manfaat kepada kita dan kehidupan. Karena kehidupan bukan hanya saat ini tetapi juga akan datang.

    Objek Wisata di Kabupaten Kerinci


    OBJEK WISATA ALAM

    Taman Nasional Kerinci Seb1at (TNKS).

    Kawasan TNKS merupakan hutan belantara tropis yang asli mempunyai luas areal 1.368.000 ha. terbentang di empat wilayah provinsi yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi. Empat puluh lima persen (45%) dari kawasan TNKS atau 422.190 ha. berada diwilayah provinsi Jambi membentang dari wilayah kabupaten Bungo Tebo, Sarolangun, Merangin dan Kerinci sendiri. Sedangkan pusat kawasan TNKS terletak di kabupaten Kerinci dengan ibukota Sungai Penuh dengan jarak lebih kurang 491km dari kota Jambi. 
    Kabupaten Kerinci yang merupakan enclave terbesar didunia, memiliki potensi alam dan budaya yang sangat menarik. Jenis flora yang ada dikawasan tersebut lebih dari 4000 macam dan didominasi oleh famili Dipterocar, Leguminase dan Ericarare. Sedangkan jenis fauna yang terdapat dikawasan TNKS terdiri dari 30 jenis mamalia. 139 jenis burung, 10 jenis reptil, 6 jenis amphibi dan 6 jenis primata.
    Sedangkan satwa langka yang terdapat di kawasan tersebut adalah badak, gajah, tapir, harimau sumatra, macan akar, siamang, ungko dan simpai.

    Menurut penduduk dalam kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang kebudayaan, rekreasi dan pariwisata, Sedangkan fungsinya sebagai perbandingan penyangga sistem penyangga kehidupan, pengawasan
    keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya serta pemanfaatannya secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

    Pada saat ini kantor TNKS di Sugai Penuh hanya dapat dicapai melaui jalan darat dari Padang, Jambi, Bengkulu dan Palembang. Dari kota-kota tersebut, Sungai Penuh dapat dicapai lewat jalan utama 

    Dikawasan ini terdapat gunung vulkano aktif tertinggi di pulau Sumatra yaitu Gunung Kerinci (3.805 M DPL). Cekungan kawahnya dari sisi ke sisi berukuran 600 x 100 m2 dengan daerah lava aktif yang berwarna hijau kekuning-kuningan 120 x 100 m2. Suhu udara di daerah puncak berkisar 5 - 10"C bahkan dapat mencapai dibawah 0"C pada musim kemarau.
    Dikaki gunung ini terhampar perkebunan teh PTP. VIII kayu Aro dengan luas 6.000 ha. 

    Disamping itu terdapat pula Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau air tawar tertinggi di Asia Tenggara (1.996 M DPL) dengann ukuran panjang lebih kurang 4,5 km dan lebar lebih kurang 3 km serta dkelilingi oleh tujuh gunung dengan ketinggian 2.700 M DPL. 

    Objek lain yang dapat dinikmati disekitar kawasan ini adalah :
    • Danau Belibis : Dengan luas lebih kurang 2 ha. yang berperan sebagai sumber air bagi  berbagai kehidupan diluar timur gunung Kerinci dan juga merupakan tempat minum  berbagai jenis satwa. 
    • Air terjun Telun Berasap : Dengan tinggi lebih kurang 45m dan lebar 10m mengeluarkansuara gemuruh dan menimbulkan uap-uap air menyerupai asap. Air terjun Telun Berasap terletak diperbatasan antara kabupaten Solok, Sumbar dengan kabupaten Kerinci, Jambi 
    • Air panas Semurup : Terletak 11km dari Sungai Penuh yang merupakan air panas alami sebagai hasil kegiatan vulkanik masa lalu. Luas permukaan air panas Semurup ini kuranglebih 75 m2 dengan kedalaman lebih kurang 4m. Dapat kita saksikan ssemburan air dan gelombang yang naik ke permukaan. Di bagian tepinya pengunjung dapat merebus pisang, jagung dan teiur selama kurang lebih 15 menit.
    • Goa Kasah : Yang terletak pada ketinggian 1.400 M DPL dan merupakan suatu tempat sakral bagi masyarakat setempat. Hai ini herkaitan derrgan ditemukannya tempat duduk yang terbuat dari batu dan lukisan didinding yang menyerupai babi hutan dan wanita berambut terurai. Didalam goa ini terdapat beberapa goa-goa kecil yang membentuk ruangan-ruangan kecil. Ukuran ruang utmanya 15 x 8m dengan ketinggian langit-langit 15 m. Goa ini terletak 5 km dari desa Kersik Tuo. Dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam.
    • Rawa Ladeh Panjang : Rawa ini mempunyai luas 150 ha. merupakan lahan basah yang unik dan menarik karena merupakan rawa gambut tertinggi di Sumatra (1.950 M DPL),  dapat dicapai dengan berjalan kaki dari desa Kebun Baru lebih kurang 1jam.
    • Bukit Tapan : Merupakan cagar alam yang dimaksud untuk perlindungan tipe ekosistem khas setempat, Dikawasan ini dapat ditemui tegakan murni pinus Kerinci (pinus merkusi strain kerinci) yang mempunyai kulit batang halus. Bukit Tapan berada lebih kurang 17 km  dari Sungai Penuh.
    • Danau Kerinci : Danau ini dengan luas 5.O00 ha merupakan salah satu danau terbesar di Sumatra disamping Danau Toba di Sumatra utara, Danau Singkarak di Sumatra Barat.  Pada danau ini terdapat tumbuhan air seperti enceng gondok, ganggang dan ikan danau  sepert ikan baraun ikan semah dan koan.
    • Air terjun Tujuh Tingkat : Bagi wisitawan yang senang dengan kegiatan cross country  atau wisata a1am, objek wisata ini merupakan tempat yang cocok untuk kegiatan itu. Untuk  mencapai objek wisata, wisatawan harus melewati hutan produksi kayu manis dan hutan  lindung Seperti namanya, objek ini memiliki air terjun tujuh tingkat. Air terjun tujuh tingkat  pertama tingginya lebih kurang 6 meter yang merupakan air sungai yang jatuh pada tebing  terjal. Menyusuri sungai ini kearah hulu akan ditemui pula air terjun tingkat ke dua yang  tingginya 50 meterdan air yang jatuh seperti butir-butir uap air. Seterusnya pendakian dapat  di teruskan ke tingka ke tujuh melalui hutan lindung yang banyak terdapat tumbuh-tumbuhan  rotan manau. Bagi petualang pemula cukup sampai ke air terjun tingkat kedua.
    Desa Koto Lebu Tinggi atau Desa Mukai Tinggi kecamatan Gunung Kerinci merupakan perjalanan keair terjun tingkat ini. Untuk mencapai kedua desa tersebut harus menempuh perjalanan jauh lebih kurang 16 km dari kota Sungai Penuh dengan kendaraan bus.

    OBJEK WISATA BUDAYA
    1. Mesjid kuno Pondok Tinggi dan rumah panjang (Rumah Larik Kereta ) Mesjid kuno Pondok Tinggi dibangun pada tahun 1874 dan daya tampung 2000 orang  jamaah. Disamping mempunyai relif-relif yang anggun dan juga tempat azan yang unik.  mesjid ini merupakan bangunan hasil perpaduan Arab dan Roma .
    2. Makam Depati Parbo.
    3. Mesjid Keramat di Pulau Tengah

    Tarian Tradisional Asyek Niti Naik Mahligai

    Tarian Tradisional Asyek Niti Naik Mahligai di Bumi Sakti Alam Kerinci. Kabupaten Kerinci yang berada di propinsi Jambi, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Selain daerah yang sejuk, kabupaten Kerinci juga memiliki seni budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah seni tari.

    Seni tari yang berkembang di daerah ini sebagian besar merupakan peninggalan tradisi pada zaman nenek moyang, yang tentunya masih berkembang sampai saat ini. Seni tari tersebut diantaranya: tari Rangguk, Sikapur Sirih, Asyek, Iyo-Iyo, Rentak Kudo dan masih banyak lagi. Di samping itu, terdapat juga tari kreasi baru yang berkembang di daerah ini. Hal ini dapat dilihat banyaknya seniman baru yang berkembang saat ini. Mereka berupaya mengembangkan dan melestarikan tari tradisi yang ada, dengan cara mengolah kembali ke dalam bentuk tari kreasi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, diantara tarian tersebut ada satu tarian yang sangat unik yaitu tari Asyek.

    Masyarakat daerah Kerinci menyebutnya dengan tari Asyek, Asik atau Asaik. KataAsyek berasal dari kata asik. Jenis tari Asyek ini adalah salah satu tari tradisi yang dulunya digunakan sebagai tari dalam upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh-roh nenek moyang dan memiliki unsur magis. Tari Asyek memiliki bermacam-macam jenisnya sesuai dengan tujuan upacara yang dilakukan. Jenis tari Asyek yang masih berkembang saat ini adalah tari Niti Naik Mahligai, Mahligai Kaco, Tolak Bala, Gagah Harimau, Mandi Taman, Mintak Lamat, Mandi malimau dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Tari Niti Naik Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Naik Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis. Menurut Eva Bram (2006) saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Naik Mahligai, menjelaskan bahwa tari Niti Naik Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligaiadalah tahta atau istana. 

    Tari Niti Naik mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adatbilan salih. Menurut Muchtar Hadis (2006) salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakanbilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki. Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3) sarana penyembuhan; (4) sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.

    Namun, seiring dengan kemajuan zaman upacara ini ditinggalkan oleh masyarakat Kerinci. Hal ini disebabkan karena faktor ideologi, teknologi, letak geografis, sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat Kerinci yang berubah. Karena faktor-faktor tersebut maka, tari ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk penyajiannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman. Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit. Selanjutnya pada tahun 1999 bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci bidang kesenian menata kembali tari ini menjadi tari Niti Naik Mahligai yang berkembang saat ini.

    Secara keseluruhan tari Niti Naik Mahligai, masih memiliki bentuk penyajian yang sederhana, seperti gerak, musik, pola lantai, property, tata rias dan tata busana. Kesederhanaan bentuk penyajian tari ini merupakan ciri khas yang dimiliki tari tradisional kerakyatan pada umumnya. Selain itu, tari ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung. 

    Atraksi tersebut diantaranya:
    1. Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca.
    2. Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang pisang yang diatasnya diletakkan telur.
    3. Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah di tata.
    4. Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.
    5. Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor.
    6. Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas.

    Menurut Eva Bram (2006) menjelaskan bahwa, keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Selain itu, sebelum melaksanakan pertunjukan para penari diwajibkan untuk melakukan ritual yaitu berupa persembahan terhadap nenek moyang. Agar mereka mendapat perlindungan dan diharapkan pertunjukan dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada saat pementasan mereka jarang yang mengalami cidera.

    Di samping, atraksi yang unik, para penari tari Niti Naik Mahligai menggunakan kostum tari yang unik juga yaitu pakaian adat daerah Kabupaten Kerinci yang berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning pada dada. Sedangkan untuk hiasan kepalanya menggunakan kuluk atau sungkun yang berwarna hitam dan dihiasi dengan manik-manik dan bunga sebagai penghias. Para penari menggunakan kain sebagai bawahan yang biasa di sebut dengan tahhap, kain yang digunakan adalah kain songketyang berwarna merah. Tentunya kostum yang digukan semuanya memiliki makna simbolis.

    Pada saat ini tari Niti Naik Mahligai telah mulai dikenali banyak masyarakat, bukan hanya saja masyarakat di daerah Kerinci saja namun masyarakat di luar kabupaten Kerinci pun sudah mulai mengenal tari ini. Hal ini ditunjukkan dengan penampilan pertunjukan tari Niti Naik Mahligai ke beberapa daerah seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan di daerah lainnya. Sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan promosi produk wisata baik negeri maupun luar negeri tari Niti Naik Mahligai mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci. 

    Seperi diadakan iven Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci yang menjadi agenda rutin daerah Kerinci. Sebagai peneliti dan penulis, penulis berharap banyak kepada masyarakat dan pemerintah untuk dapat mempertahankan, mengembangkan dan melestarikan seni tradisi yang kita miliki, sebagai warisan dari nenek moyang dan untuk anak cucu kita

    SIKE REBANA KERINCI

    Kesenian ini perpaduan tiga buah seni yai seni vokal, seni gerak (tari) dan seni musik. Seni vokal (nyanyian), yang dinyanyikan merupak puji-pujian terhadap Yang Khalik Pencipta Ala Semesta (Allah SWT) dan rasul-rasulnya. Iran nyanyian Sike Rebana ini kadang-kadang diolah dalam irama Tale (nyanyian khas Kerinci). Rebai Besar selain sebagai properti dalam gerak juga berfungsi sebagai musik iringan.Tingkahan rebai yang dipukul oleh Pesike, menambah semaraknya seni ini.

    MUSIK PENGIRING TARI IYO-IYO

    MUSIK PENGIRING TARI IYO-IYO. Yo-yo berarti ya-ya, maksudnya adalah membenarkan. Tari ini juga termasuk tari adat, karena pelaksanaannya dilakukan kalau ada acara adat, misalnya acara kenduri sko (pusaka), penobatan orang adat, dan penurunan benda pusaka.

    Menurut tradisi masyarakat kerinci, apabila selesai menuai padi, dilaksanakan kenduri sko, yaitu kenduri sudah tuai yang sejalan dengan penobatan orang adat, apakah itu Depati, Ninik Mamak, Pemangku atau pun Permenti (lihat buku pertama). Pada waktu itu juga benda-benda pusaka diturunkan pada tempatnya dan diperlihatkan pada masyarakat, tanda benda-benda itu masih ada atau utuh.

    Sewaktu benda-benda itu diturunkan dari atas loteng, maka kaum wanita akan menyambutnya dengan tari iyo-iyo, terutama wanita yang tua-tua . Demikian juga ketika akan dilaksanakan penobatan orang adat, seperti Depati dan lain-lainnya, maka oleh orang yang ditunjuk, biasanya orang adat juga yang hafal akan silsilah dari orang yang dinobatkan itu, mengisahkan asal-usul orang yang dinobatkan tersebut. Kisah itu diceritakan dengan berirama tanpa teks, jadi hafal dalam kepala. Orang yang mendengarkannya, terutama kaum wanita, menjawabnya dengan menyebut “yo-yo” terus menerus, maksudnya membenarkan silsilah tersebut. Lama – kelamaan dan tanpa disadari atau memang sudah mengembangkan tangan dan menari-nari berkeliling – keliling, seolah – olah mereka sedang terbang saja. Memang gerakannya seperti elang terbang.

    Penari – penari itu ada yang sampai putus makrifatnya, sehingga mereka seolah – olah terbang saja. Kakinya tidak menginjak tanah, demikian ringannya tubuh mereka.

    Acara tari ini diiringi oleh vocal lagu “yo – yo” dan di iringi lagi dengan alat musik gendang, gong jantan, gong betina. Sebelum adanya gendang dan gong, musiknya dalah gendang bambu. Alat musik ini di tabuh oleh anak jantan sedangkan penyanyi dan penari adalah kaum wanita, yang berpasangan.

    Perkembangannya :
    Tari iyo-iyo tidak diketahui kapan lahirnya. Masuknya kesenian terdiri dari tiga tahap yaitu: 
    • Kesenian zaman prasejarah
    • Kesenian zaman masuknya kebudayaan islam
    • Kesenian zaman modern
    Pada zaman prasejarah tidak mengenal tentang agama. Setelah masuknya kebudayaan islam masuk tari iyo-iyo sampai saat ini. Tari iyo-iyo tidak mengalami perubahan karena merupakan tarian tradisional.

    B. Fungsi Musik

    Fungsi musik tari Iyo – Iyo adalah :
    • sebagai memeriahkan tari adat
    • mengiringi tarian
    • menghibur masyarakat
    C. Cara Penyajian / Penampilan Musik

    Tari iyo-iyo merupakan tarian adat yang di tampilkan pada saat upacara adat seperti kenduri sko. Tarian ini ditampilkan oleh kaum wanita pada saat penurunan benda pusaka dan di lakukan di halaman terbuka.

    D. Jenis Alat Musik

    Alat musik yang digunakan pada tari iyo-iyo ini, antara lain :
    1. Gumbe/Gembe ( Gendang Bambu). Terdiri dari seruas bamboo yang sudah tua dan sudah kering. Kulitnya kira-kira selebar dua jari dikupas dan dilubangi sebelah ujungnya, sedang yang sudah dikupas itu di buang kiri dan kanannya sedikit, sehingga bisa di pukul dan bebunyi nyaring. Disamping dibuat senarnya dari kulit bambu itu juga, yang di cukil kira-kira sebesar setengah kelingking, sebanyak dua buah. Senar ini di pasak dengan kayu kecil, sehingga senar itu terangkat ke atas. Alat pemukul senar ini adalah jari telunjuk dan jari tengah, sedangkan pemukul lidah yang telah di kupas tadi menggunakan ibu jari. Cara memakainya di letakkan di atas paha sambil duduk. Alat ini sekarang sudah punah, namun kemudian telah di gali kembali dan telah berfungsi kembali. Alat ini gunanya hanya untuk ritme, bukan untuk melodi. Bunyi senarnya mendengung dan bunyi lidahnya agak lembab.
    2. Gong. Gong merupakan salah satu alat musik yang di gunakan saat tari iyo – iyo . Gong terbuari dari tembaga. Cara memainkan gong ini adalah di pukul. 
    3. Gendang Melayu. Gendang Melayu juga termasuk salah satu alat musik dari tari iyo-iyo. Gendang melayu terbuat dari kayu dan kulit. Pada sat tari iyo-iyo gendang kayu ini diperlukan dua buah, yaitu disatukan dalam bentuk berdampingan. Cara memainkan nya adalah dipukul.
    E. Syair Lagu/ Nyanyian

    Iyo-iyo rilok tarai kayo sadou rinai iyo-iyo-iyo
    Iyo-iyo rayun jaroilah saludeang jateuh iyo-iyo-iyo
    Iyo-iyo rantok kakai kudea dibularoi iyo-iyo-iyo
    Iyo-iyo semauk tapijeak rideak ralah matai iyo-iyo-iyo

    F. Jumlah Pemusik/ Siapa Saja Yang Memainkan Alat Musiknya/ Vocal

    Tari iyo-iyo dibawakan oleh kaum wanita dengan cara berpasangan bisa berjumlah 6 orang bisa juga lebih sesuai dengan kebutuhan. Jumlah pemusik 3 orang terdiri dari 2 orang memainkan gendang dan 1 orang memainkan gong.

    G. Kostum Yang Di Gunakan

    Pada mulanya masyarakat memakai baju biasal, yaitu baju kurung, sarung, dan tapu. Tetapi sesuai dengan perkembangan zaman, mereka sudah memakai baju adat kerinci.

    http://senikerinci.blogspot.com/2012/12/blog-post.html

    MUSIK PENGIRING TARI RANGGUK

    MUSIK PENGIRING TARI RANGGUK, Tari Rangguk merupakan tarian tradisional Kabupaten Kerinci. Untuk menuju Kabupaten Kerinci, mengawali perjalanan dari Kota Jambi mengunaka umum atau kendaraan pribadi. Perjalanan dari Jambi menuju Kabupaten Kerinci lebih kurang 10 jam dengan jarak tempuh sekitar 500 kilometer. Selain dari kota Jambi, dapt juga melakukan perjalanan dari kota Padang, Sumatera Barat selama lebih kurang 7 jam dengan jarak tempuh sekitar 278 kilometer.

    Menurut sejarahnya, masyarakat Kerinci telah mengenal Tari Rangguk sejak dulu. Di Jambi, tarian ini diyakini muncul atas ide dari seorang ulama dari Dusun Cupak, Kabupaten Kerinci. Konon, sekitar abad ke-19, ulama itu menunaikan ibadah haji. Ketika berada di tanah suci Mekkah, ulama itu menyempatkan untuk belajar ilmu agama dan kesenian tradisional dari Arab yakni menabuh rebana sambil menganggukkan kepala.
    Setelah kembali ke kampung halamannya, ulama itu berdakwah menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat Kerinci. Untuk menarik perhatian masyarakat, beliau berdakwah sambil memainkan alat musik rebana yang diikuti dengan gerakan menganggukkan kepala dan melantunkan pantun dan pujian kepada Allah.

    Usaha itu menuai hasil, masyarakat Kerinci lambat laun mulai tertarik untuk belajar agama Islam. Mereka juga belajar memainkan rebana dan melantunkan pujian kepada Allah sambil menganggukkan kepala. Tak lama kemudian, ulama itu meninggal dunia. Meskipun ulama itu telah tiada, masyarakat Kerinci tetap menyebarkan ajaran agama Islam dan berdakwah hingga ke seluruh daerah di Kabupaten Kerinci. Dalam perkembangannya, gerakan anggukan kepala yang dimainkan mengikuti lantunan musik rebana ini kemudian dikenal dengan nama Tari Rangguk.

    Tari Rangguk banyak mengandung nilai estetika( keindahan) dan ilai spiritual yang bersumber ajaran Islam. Hal ini tercermin dalam gerakan-gerakan kepala (mengangguk-angguk), irama musik (tabuhan rebana), serta beberapa selingan pantun puji-pujian. Gerakan tari yang disajikan oleh para penari diambil dari beberapa gerakan seperti liukan tumbuhan-tumbuhan, gerak riang hewan, dan lenggak-lenggok manusia yang dikombinasikan menjadi satu. Dan tidak kalah penting dari pelaksanaan Tari Rangguk adalah nilai spiritual yang melekat sebagai ungkapan rasa syukur dan ketakwaan kepada Sang Penciptanya (Allah SWT).
    Dalam perkembangannya, gerakan tari rangguk ini disesuaikan dengan suasana dan tempat tari tersebut dimainkan. Ketika tari dibawakan untuk hiburan, para pemainnya menabuh rebana dan mengangguk hanya sembari duduk melingkar. Tetapi jika tari dibawakan untuk menyambut tamu, para penari melakukan tari sembari berdiri (berbaris) dengan memukul rebana, sementara kepala mengangguk-angguk kepada tamu sebagai simbol ucapan selamat datang.

    Selain sebagai hiburan dan untuk menyambut tamu, tari rangguk ini juga dibawakan pada pesta adat masyarakat Kerinci, seperti Keduri Sko (pesta pusaka) dan pemberian gelar luhah untuk pemimpin negeri. Keduri Sko (pesta pusaka) biasanya diadakan pada acara seperti pengangkatan atau pemberian gelar adat, seperti pemberian gelar Rio Depati, Mangku, Datuk, serta pimpinan suku.

    A. Sejarah dan Perkembangan Tari Rangguk

    Pada dahulu kala seni budaya kumun sangat maju, karena kumun makmur, cukup pangan, cukup sandang. Mungkin saat itu yang dialami masyarakat adil, makmur dan merata. Di kumun sawah yang luas, ternak yang banyak, ladang terbentang luas yang menghasilkan kopi, tembakau, kulit manis, plowijo.

    Negeri kumun pemerintahnya sangat guyub, azas gotong royang yang dasarnya ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.Pusat kesenian daerah kumun adalah dikoto tuo tempat para petinggi asyik masyuk hingga larut malam. Dari sanalah tercipta tari rangguk yang sudah menjadi tari khas daerah kumun. Yang tari rangguk kebanyakan memakai gerak kepala diangguk-anggukkan dalam arti bersukaria.

    Pada masa dulu tari ini dibawakan oleh orang dewasa. Tapi seiring berkembangnya zaman, saat ini tari rangguk dapat dibawakan oleh siapa saja baik anak-anak, maupun dewasa. Hingga saat ini tari rangguk masih berkembang dengan baik dan terus ditampilkan saat acara-acara adat. Dan sketsa tarinya pun semakin bervariasi.

    Tari rangguk pada saat ini masih berkembang di daerah kumun bahkan tari rangguk ini sering di laksanak an pada acara adat dan acara kedatangan orang penting misal nya bapak walikota dan unsur muspida lainnya , tari rangguk ini di mainkan atau di tarikan oleh para perempuan yang di dalam satu grup tari tersebut terdapat satu orang yang menjadi ratu dan ratu nya yang memiliki ciri-ciri misalnya lincah dalam melaksanakan tari,cantik,pokok nya memiliki kelebihan dari pada anggota tari yang lainnya dan orang tersebut mengatakan tari rangguk memiliki ciri yang khas misalnya tari rangguk ini dengan memukul gedang sambil menari dengan cara seksama akan menghasilkan bunyi yang indah dan gerakan yang sangat bagus tidak semua orang yang biasa menari rangguk ini ,dan tari rangguk ini bukan hanya berkembang di daerah kumun saja tapi juga berkembang di daerah lainnya yang berada di daerah kerinci dan semua tari rangguk yang ada di kerinci semua nya sama tapi hanya cara atau pola penyajian nya saja yang berbeda mungkin di setiap kerinci memiliki lirik yang sama , walaupun berbeda tapi maksud dan tujuan nya sama .

    B. Fungsi

    Sesuai perkembangan zaman, Rangguk berubah fungsinya, sebelumnya menjadi hiburan kini menjadi sebuah tarian khusus upacara penyambutan tamu. Dengan tekstur melingkar dan kemudian alunan rebana serta pantun pun mulai dimainkan. Bagi kaum wanita, dianggap tabu untuk melakukan tarian ini.Nilai filosofis tarian Rangguk tercipta pada gerakan tubuh seirama dengan pantun, menyelaraskan berbagai makhluk hidup di bumi ini. Tarian ini juga mengandung unsur religius, agar setiap manusia selalu bersyukur dan menambah ketakwaannya kepada Allah SWT.

    Awalnya, Tari Rangguk hanya dijadikan media syiar agama Islam. Kini, Rangguk juga dimainkan sebagai pertunjukan hiburan. Biasanya, tarian ini dimainkan ketika Kabupaten Kerinci menyelenggarakan Festival Danau Kerinci.

    Tari ini dimainkan. Jika dimainkan untuk pertunjukan hiburan, penari Rangguk me mainkan gerakan anggukan kepala sambil menabuh rebana dengan posisi duduk melingkar. Namun jika tarian ini dimainkan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan, penari Rangguk menabuh rebana dengan posisi berdiri. Sesekali, mereka juga memainkan gerakan tangan mengikuti lantunan musik rebana dan pujian kepada Allah. Gerakan utama yakni anggukan kepala dimainkan sebagai simbol ucapan selamat datang kepada tamu kehormatan.

    Tidak terlepas dari tujuan awal yakni syiar agama, nuansa Islam begitu terasa ketika Tari Rangguk dimainkan. Selama pertunjukan berlangsung, tarian ini dimainkan oleh 5 hingga 10 orang pemain yang mengenakan pakaian serba tertutup. Untuk pemain lelaki, mereka mengenakan pakaian lengan panjang sebagai atasan dan celana panjang sebagai bawahan. Sementara pemain perempuan mengenakan baju lengan panjang sebagai atasan dan kain panjang sebagai bawahan. Tidak ketinggalan, penari perempuan me ngenakan kerudung dari kain sebagai penutup kepala.

    C. Cara Penyajian/Alat Musik Yang Di Gunakan

    1. Jenis Alat Musik

    Tari rangguk ini memakai rebana yang ditabuh oleh masing-masing penari sambil menyanyi dan rebana besar yang ditabuh oleh anggota lain, selain itu para penari bernyanyi bersama anggota penyanyi.
    • Alat musik yang digunakan oleh para laki-laki yang bertugas sebagai penabuh gendang.
    • Alat musik yang di gunakan oleh para penari rangguk.
    Bahan pembuatannya:

    Rebana ini terbuat dari bahan kulit hewan, seperti kulit sapi maupun kambing yang dipasang pada kayu yang sudah diukir sedemikia rupa membentuk seperti setengah lingkaran.

    Cara memainkannya:

    Rebana dipukul sehingga menghasilkan bunyi yang menjadi pengiring tari rangguk tsb.

    B. Syair Lagu

    Pada umumnya lagu-lagu bernada ria dan gembira. Tari ini mempunyai keistimewaan yakni menari sesuai sketsa tari sambil menyanyi dan memukul rebana.

    Lirik lagu

    Ranauk Kau...lasilah rumpun padoi
    Palah laditimpo lasi kayu aro 2x
    Takah lutauk susan nialah jaroi
    Minta niala maooh dikulah pado kayo 2x

    Dibudere ujeang ladirimbo
    Daleang niala padoi dibulah darea jangea 2x
    Dibucare kito niala muko
    Daleang niala ratai dikulah carea jangea 2x

    Tanjung Pauh Punai lah dimurindau
    Tampek niala putai dikulah tiko sanjo 2x
    Ralah lamo kamai lah dimurindau
    Kinai lah baru masu kito lah dibusuo 2x

    Balea palea lad di lah rabuih tinggai
    Padoi lah dimunjadoi Karang lah diku tutauk 2x
    Kayoa balek kamai lah dingan tingga
    Apo nialah rubeng ratailah kamai rindau 2x

    C. Jumlah Pemusik

    Jumlah pemusik biasanya berjumlah 4 orang. Dengan 2 orang laki-laki sebagai penabuh gendang Dan 2 orang perempuan sebagai penyanyi/vokal

    D. Kostum yang Digunakan

    Para penari memakai pakaian adat kerinci yaitu:
    baju kurung berukir keemasan serta kuluk berbenang emas

    Hingga saat ini pakaian nya sudah banyak perubahan dari pakaian sebelumnya , pakaian-pakaian di bawah ini merupakan perkembangan dari pakaian tari rangguk.

    http://senikerinci.blogspot.com/2012/12/musik-pengiring-tari-rangguk.html

    Danau Kaco lempur

    Danau Kaco lempur. Legenda dan cerita rakyat tumbuh dan berkembang.kali ini misteri kerinci mengajak anda menelusuri cerita rakyat Lempur dan misteri yang ada di danau kaco.cerita ini dari berbagai sumber.yang layak dipercaya.

    Gunung Raya-Misterikerinci Puti suluh makan adalah seorang wanita cantik dizamannya. Puti suluh makan berasal dari Tanjung Gagak, berdekatan dengan Muara air Dikit atau Ujung Buki Pematang suo. Dusun Tanjung Gagak dikuasai raja gagak. Nama gagak diambil dari nama sejenis burung yaitu burung gagak.

    Puti suluh makan menurut kunun dilahirkan didusun Tanjung Gagak dan dibersarkan disana. Menurut riwayat sebelumnya “ Puti suluh makan “ bernama putrid letak ( maaf, kemaluan ) melinta kenapa diberi nama demikian ?.Sebab diberi nama melintang karena ada keanehan pada kemaluan atau vagina, adapun yang terdapat pada kemaluan adalah melintang. Dengan keanehan letak vagina itulah maka diberinama letak melintang.

    Wajah cantik, dimiliki oleh gadis letak melintang ini membuat para pemuda dan anak-anak remaja yang ada di desa Tanjung Banuang Dusun Tinggi dan Tanjung Kasri Kegirangan. Dalam wilayah pemuncak nan tigo kaum, punya keinginan atau jatuh cinta kepada puti letak melintang, sehingga namanya begitu populer seantaro negeri itu.
    Karena kecantikan dan kemolekannya banyak anak-anak raja dan pemuda waktu itu berkeinginan melamarnya.. Namun Puti Letak Melintang setiap lamaran diterima oleh Bapaknya sulit sekali raja gagak menolak lamaran. Sehingga lamaran sudah bertumpuk membuat raja gagak bingung siapa diantara mereka diterima lamarannya.

    Titipan tanda ikatan janji seperti emas dan intan diberikan anak raja dan pemuda seantaro kawasan negeri itu kepada Puti letak Melintang telah memenuhi kendi kecil, terbuat dari tanah.Keinginan anak raja dan pemuda terhadap puti membuat cerita pada versi lain pada ayahna Puti Letak Melintang juaga jatuh hcinta pada anaknya, hingga membuat niat durjana dan gilanya bangkit, bahkan ingin menikah dengan anaknya untuk dijadikan isteri.

    Makin hari keinginan menikahni anak makin kuat, maka akhirnya niat jahat untuk mesum dengan anak sendiri diketahui oleh isterinya, rupanya terjadilah pertengkaran antara raja gagak dengan isteri, serta timbul niat jahat membunuh isterinya.Setelah isterinya meninggal raja gagak membawa anaknya Puti untuk pindah ke Gunung Kunyit bagian barat, dipinggiran Sungai Manjuto. Kemudian menetap disana dan mendirikan desa, sekarng masih ada bekas atau peninggalan didesa itu diberi nama Dusun Batong Limok Purot.

    Kawasan yang dihuni oleh Raja gagak dan anaknya puti beserta rakyatnya tidak aman untuk tinggal disana, karena diganggu oleh ular yang banyak sekali, baik dalam maupun luar rumah. Merasa tidak aman tinggal di negeri itu, maka raja gagak membawa anaknya lari dari rakyatnya dengan membawa emas dan intan yang dipersembahkan sebagai tanda ikatan janji dari anak raja dan pemuda setempat yang tersimpan di kendi tanah.

    Sewaktu dibawa lari, tidak beberapa lama kemudian, konon kabar waktu itu anaknya hamil oleh bapak sendiri. Kemudian raja gagak punya rencana ingin pergi ke Tanjung Kasri. Setelah sampai di Muara Lambing Sungai Manjuto, raja gagak membatalkan niatnya.Kepergian raja gagak hendak menyembunyikan emas dna intan dalam kendi ke dalam lubuk Muara Labing ,setlah disembunyikan beberapa saat ternyata tidak bisa. Karena membiaakan cahaya kemilau pada alam sekitarnya. Dengan demikian kelak takut diambil siapa saja yang akan lewat dekas sana “ kalau saya simpan, karena kemilau pada alam sekitar, nanti diambil orang. Lebih baik saya simpan di tempat yang lebih aman” Kata Raja Gagak membathin

    Kemudian Raja Gagak mengambil kembali kendi Guci tadi dan berjalan mengikuti Arus Sungai Manjuto-Lempur, tidak beberapa jauh dari Sungai Manjuto Raja Gagak menyembunyikan emas dan intan didasar Danau Kaco.“ Saya simpan didasar Danau Kaco Saja.Inikan jauh dari pantauan orang “ Kata Raja Gagak dengan membenamkan ke Dasar Danau Kaco.

    Bahkan menurut riwayat Kendi Emas dan Intan yang berkilau didasar Danau Kaco diyakini masyarakat setempat masih tersimpan didasar Danau Kaco Itu. Percobaan pengambilan emas ini telah membuat Lisyuar Yusuf warga Koto Payang meninggal dunia.Kemudian setelah Raja Gagak menyembunyikan atau menyimpan emas dan intan di dasar Danau Kaco, maka melanjutkan perjalanan menuju Bukit lintang. Beserta anaknya “ Puti Letak Melintang “ setelah sampai di puncak bukit lintang. Raja gagak berpikir panjang dan panik. Karena anaknya sudah hamil dari perbuatannya sendiri disisi lain memikirkan emas da intan sudah banyak diambil dari tanda ikatan cnta dari anak-anak raja.

    Karena sudah hamil dan sangat malu, maka raja berpantun “ Bukit Lintang, kena cahaya matahari pagi. Puti Letak Melintang bila membawa membikin intang ( problem ) bila ditinggal membawa sedih hati" Aku malu pada diriku dan pinangan orang kutolak. Lebih baik aku membunuh Puti Letak Melintang “. Katanya membathin dalam hati. Setelah Raja Gagak Berpantun, kemudian ia memotong dan membunuh anaknya dengan keris.

    Puti Letak melintang dimakamkan di Puncak Bukit Lintang, tepatnya dipuncak Bukit Lintang kanan jalan Ipuh-Lempur. Sementara terdapat Buyang tapan yang selalu dibawanya dan berupa sebentuk jangki. Barang tersebut terbuat dari bambo kepunyaan bukit melintang bergulir dan jatuh kearah bukit giwo.Konon, Buyang ini menjelma menjadi ular sawo, ular besar.

    Versi lain berkembang, Puli suluh Makan bila makan dalam gelap telunjuk jarinya bercahaya, bagaikan lampu ( suluh ). Cerita lain, buyang tapan yang menjelma jadi ular bisa diketemukan bila anda menempuh perjalanan ipuh lempur. Cerita ini diangkat dari cerita rakyat lempur ( sumber terpilih )

    http://jonmisteri-kerinci.blogspot.com/2008/01/danau-kaco-lempur.html

    Danau Kaco Kerinci

    Danau Kaco Kerinci. Danau Kaco merupakan danau yang terlentak di Kabupaten Kerinci,Jambi. Tepatnya di Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya. Danau ini berada di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan situs warisanUNESCO. Danau ini memiliki luas sekitar 90 meter persegi dan memiliki kedalaman yang belum diketahui. Danau kaco dapat memancarkan cahaya terang di malam hari pancaran cahaya itu semakin terang pada saat malam bulan purnama atau malam tanggal 15 penanggalan Hijriah

    Keunikan

    Danau Kaco memiliki keunikan yang khas yang jarang dimiliki oleh danau-danau lain yang ada di Indonesia. Keunikan tersebut seperti Danau Kaco dapat mengeluarkan cahaya yang terang, terutama pada saat bulan purnama. Jika wisatawan datang ke Danau Kaco pada saat bulan purnama maka para wisatawan tidak membutuhkan alat bantu penerangan karena air danau dapat mengeluarkan cahaya yang cukup terang. Jika dilihat dari kejauhan cahaya yang dipancarkan oleh Danau Kaco akan terlihat seperti lampu yang diarahkan kelangit

    Cerita Rakyat

    Menurut kepercayaan warga setempat, cahaya yang dikeluarkan dari dasar Danau Kaco merupakan cahaya intan yang tersimpan di dasar air. Intan tersebut disimpan oleh Raja Gagak, yang berkuasa pada saat itu. Menurut sesepuh desa, intan yang disimpan Raja Gagak di dasar Danau Kaco adalah intan titipan yang merupakan ikatan janji pangeran-pangeran yang ingin melawar putri Raja Gagak yang bernama Putri Napal Melintang. Semua lamaran anak raja yang di Kerinci diterima oleh Raja Gagak, akhirnya dia kebingungan ingin nerima pelamar yang mana Putri Nepal Melintang sendiri dikenal dengan wajah yang sangat cantik sehingga ia disukai oleh pemuda yang ada pada zaman itu. Bahkan karena kecantikannya ia disukai oleh ayahnya sendiri. Raja Gagak membawa lari putrinya beserta perhiasan Intannya yang dititipkan oleh pengeran sebagai tanda janji. Konon intan yang dibawa lari oleh Raja Gagak disimpan di dasar Danau Kaco. Sampai saat ini warga Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya masih mempercayai bahwa intan tersebut masih tersimpan di dasar danau

    Akses

    Danau Kaco dapat dicapai melalui jalur darat dimulai dari Kota jambi ke sungai Penuh. Jarak antara Jambi ke Sungai Penuh sekitar 500 km dengan waktu tempuh 10-11 jam.Selanjutnya dari Sungai Penuh dilanjutkan ke desa terdekat yaitu Desa Lempur,Kecamatan Gunung Raya dalam waktu 45 Menit dengan kendaraan roda empat atau pun roda dua. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki menyelusuri hutan selama 3-5 jam. Selama perjalanan pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang masih sangat asri, salah satunya kita disuguhkan oleh pemandangan air terjun yang dapat kita lihat sewaktu dalam perjalanan
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger