Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts
    Showing posts with label Kebudayaan. Show all posts

    Tari Sekapur Sirih ( Tari untuk menyambut tamu kehormatan)

    Asal Usul Tari Sekapur Sirih


    Tari Sekapur Sirih merupakan kesenian tari selamat datang yang diperuntukan kepada tamu-tamu besar. Tarian sekapur sirih berasal dari Provinsi Jambi dan Riau. Tarian ini diciptakan oleh Firdaus Chatab pada tahun 1962. Pada tahun 1967 tarian ini ditata ulang oleh OK Hendri BBA. Tari ini mendeskripsikan perasaan lapang dan terbuka yang dimiliki orang-orang Jambi terhadap tamu yang berkunjung ke daerah mereka.

    Penari Dan Gerakan Dalam Tarian

    Jumlah penari dalam tarian ini ialah 9 orang penari perempuan dan 3 orang penari laki-laki. Di antara dua belas penari tersebut satu orang bertugas memegang payung, dua orang pengawal, dan sisanya menari. Gerakan melenggang, sembah tinggi, merentang kepak, berhias (memasang cincin, gelang, anting, serta bedak gincu dan calak), gerakan putar setengah, putar penuh menjadi bagian dari tarian ini. Gerakan tersebut dilakukan dalam posisi level rendah dan sedang sedangkan pola lantai yang dimainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat pementasan.

    Gerakan tarian ini terdiri dari sembah tari, yaitu tangan diangkat di atas bahu. Kemudian penari akan melakukansembah tamu, yaitu gerakan tangan yang mengangkat tangan ke atas dada. Setelah itu penyerah siri melakukan pose setengah jongkok dan setengah berdiri untuk tarian yang dilakukan di luar rumah, sementara itu gerakan lantai dilakukan untuk tarian yang dilakukan di dalam rumah.

    Properti
    1. Cerano/wadah yang berisikan lembaran daun sirih.
    2. Payung.
    3. Keris.
    Pakaian
    • Berupa baju kurung yaitu baju adat Jambi.
    Iringan Musik
    1. Biola
    2. Gambus
    3. Akordion
    4. Rebana
    5. Gong
    6. Gendang
    berikut adalah video tari tersebut

    Candi Gedong II

    Candi Gedong II. Kompleks candi ini memiliki luas berukuran 75 m x 67,5 m. di halaman tersebut berdiri bangunan Induk berukuran 9 mx 9 m dan 2 candi perwara. Candi perwara I yang terletak di sebelah timur candi induk berukuran 8 x 8 m dengan penampil di barat dan timur, candi perwara II yang terletak di sebelah selatan candi induk berukuran 5 x 5 meter dengan penampil di utara. Gapura Candi Geding II merupakan gapura candi yang kondisi pemugarannya berhasil direkontruksi berbentuk segi 20 dengan ukuran 10 x 10 meter hingga mencapai ketinggian 5,2 meter.

    Dari lokasi ini ditemukan arca gajah yang di atas punggunya dinaiki singa (Arca Gadjahsingha), dan Arca Dwarapala berukuran tinggi 1,4 meter. Arca Dwarapala ini dalam posisi berdiri dengan sikap kaki agak ditekuk sedikit/siaga. Tangan kanan memegang senjata gada dan tangan kiri memegang tameng. Tidak nampak mengenakan pakainan, hanya kain penutup bawah yang ditekuk terlihat tersenyum, walau dihiasi dengan kumis dan taring yang disamarkan.

    Model rambut diikat seperti bentuk sanggul. Kedua arca ini terbuat dari batu pasiran dan sekarang tersimpan di gedung koleksi Percandian Muara Jambi. Selain kedua arca tersebut ditemukan pula cukup banyak mata uang keping, sebuah perhiasan untuk pecahan kalung dan beberapa buah wadah keramik.

    Pada saat pembongkaran Perwara II yang terletak di sisi selatan candi induk di bagian pipih di temukan susunan bata bergambar padma di 8 penjuru mata angin. Pada ke-8 bata bergambar padma tersebut di bagian bawahnya ditemukan kepingan emas tanpa tulisan dan beberapa batu permata yang tidak digosok berukuran kecil.

    Di dalam Kompleks Candi Gedong II yang telah mengalami pemugaran pada Candi Induk, kedua candi perwara, gapura dan pagar keliling. Candi Gedong IIdibatasi oleh Menapo Pandir, Tahtulyaman dan Capung di sisi utara, sisi bagian timur terdapat Candi Gedong I, sisi selatan oleh Menapo Gedong, dan sisi barat oleh Menapo Parit Duku.

    Adat Lamaran, Hantaran, Pernikahan di Jambi

    Sedikit sekali detail tentang tata cara adat pernikahan secara adat Jambi. Ada satu blog yang cukup detail menggambarkan bagaimana pernikahan secara adat jambi, bahkan beberapa detail adatnya akan saya kutip dari sana

    Dari sekian banyak tahapan adat, baru sebagian kecil yang gw lalui. Pada umumnya, tahapan pernikahan adat jambi mirip dengan adat adat melayu pada umumnya. Karena mereka masih serumpun.. Akan tetapi, di jambi pun, adat yg berlaku tidak semuanya sama. 

    Om mertua, lahir dan gede di Tanjung Pasir, sebrang kota jambi. Kenapa dibilang sebrang? karena memang lokasinya berada di seberang pusat kota jambi, yang dibatasi oleh sungai Batanghari. Ada beberapa pakem adat yang berbeda dgn orang dari wilayah Sekernan, misalnya. Beberapa tata cara adat yang akan gw tuliskan dibawah ini, hanyalah berdasarkan pengetahuan pribadi atau pernah gw jalani. Jadi, sangat mungkin, akan berbeda dgn pakem adat Jambi yang sebenarnya.

    Lamaran

    Lamaran ini di Jambi, disebut sebagai anter tando. Sebelum diadakan acara lamaran, biasanya akan ada utusan dari pihak laki laki, yg akan bertanya, ataupun bersilahturahmi ke keluarga wanita. Utusan ini akan mencari tau, apakah wanita nya sudah ada yg melamar. Setelah itu, baru akan dilakukan prosesi lamaran.

    Lamaran ini biasanya dihadiri tuo tengganai dari kedua belah pihak keluarga. Pada saat lamaran, keluarga laki laki akan membawa syarat adat, diantaranya: 

    Cincin pengikat. Cincin ini hanya untuk dipakai wanita, bukan satu pasang. Karena, tukar cincin baru akan dilakukan saat akad nikah nanti. 

    Pakaian sepelulusan. Berupa bahan kebaya untuk akad, dan kain bawahan, bisa berupa batik atau songket. Terkadang juga dilengkapi selop dan dompet. 
    Sirih Pinang. Berupa perlengkapan untuk makan sirih, berupa daun sirih, kapur sirih, tembakau, serta pinang, yang diletakkan di tempat sirih khusus. 

    Prosesi lamaran biasanya berupa seloko seloko (seperti berbalas pantun) antar wakil keluarga terlebih dahulu, yang kira2 isinya adalah menanyakan maksud dan tujuan keluarga laki laki bertamu ke keluarga wanita. Setelah itu, prosesi lamaran itu sendiri, berupa pemasangan cincin ke calon pengantin wanitanya. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah selesai makan, maka dilakukan perundingan keluarga inti, dimana membicarakan tentang kelanjutan lamaran tadi, berupa, pembicaraan tanggal, adat dll.

    Pembicaraan yang dilakukan antara lain: 
    Tanggal pernikahan. Apakah upacara pernikahan akan dilaksanakan sepanen jagung (3 bulan) sepanen padi (6 bulan) atau yang lain 

    Adat yang digunakan. Apakah menggunakan pure adat jambi, atau ada campurannya. 
    Seserahan. Apa saja hantaran yang akan diberikan keluarga laki laki. 
    Uang adat. Uang adat disini ada 2, yaitu uang adat, dan uang selemak semanis. Klo uang adat, biasanya kecil, berkisar 50-100 ribu saja, nah, uang 

    selemak semanis ini yang cukup besar, disesuaikan dgn kemampuan keluarga laki laki. Uang selemak semanis ini, merupakan urunan atau membantu belanja untuk acara resepsi pernikahan nanti.

    Pakaian Adat

    Secara gambar, pakaian adat jambi itu seperti ini (taken from gugel)


    kalau sudah dipakai, akan menjadi seperti ini


    secara overall, mirip ya sama pakaian adat palembang… Nanti pengen deh pake kepalanya tetep kepala jambi, tapi pake kebaya.. :D

    Hantaran

    Secara adat jambi, hanterannya unik lohhhh. Dan ada beberapa barang yang harus serba 2..

    Beberapa Hantaran dlm Adat Jambi: 
    • Isi kamar, berupa tempat tidur, lemari, meja rias, kasur, bed cover, sampai gorden untuk kamar penganten 
    • Peralatan make-up 
    • Bahan pakaian/kebaya atasan dan bawahan (2 pasang) 
    • Sepatu/ selop (2 pasang) 
    • Tas (2 pcs) 
    • Baju tidur (2 pasang) 
    • Underwear (2 set) 
    • Kain panjang (2 lembar) katanya sih kalo dulu dijadiin kain basahan klo mandi di sungai (iya, dipinggir sungai batanghari, bareng buaya, ehehehhe) 
    • Peralatan Mandi berupa sabun, sampo dll, di beberapa daerah malah ada yg bawa gayung, ember yang dipitain… 
    • Perlengkapan Ibadah 
    • Bumbu dapur berupa cabe, merica, bawang, tomat, garem, beras, telur, dll, bahkan ada yg ngasih KERBAU (idup, digeret2 masuk acara, dipitain lagi dan nyengir khas kebo…). Merupakan perlambang keluarga laki laki, turut serta membantu “logistik” acara resepsi. 
    • Uang Selemak Semanis 
    Kurang lebih begitulah yang akan gw persiapkan untuk syarat adat ntar… yiuk deh, mulai hunting….

    Emangnya tanggalnya udah pasti????

    Belom sih, tapi kemungkinan besar pas liburan anak sekolah… Sesuai rikues keluarga yg punya anak yg masih sekolah.. (keluarga yang mana ya…??)

    Seloko Adat Jambi

    Seloko Adat Jambi

    Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, atau nasihat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi. Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi. Ungkapan-ungkapan seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih. Seloko adat Jambi juga merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi juga merupakan sarana masyarakatnya dalam merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan dan tujuan dari sebuah kebudayaan (Amali Muadz).

    Salah satu contoh seloko adat Jambi adalah mengenai pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan bahwasanya: “Berjenjang naik betanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah”, seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwasanya dalam mengambil keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan. Tingkatan pengambilan keputusan ini misalnya tingkat pengambilan keputusan yang tertinggi, yaitu Alam nan Barajo, sampai dengan sebuah pengambilan keputusan pada tingkatan yang paling bawah Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak.

    Seloko adat lainnya yang sangat banyak jumlahnya, misalnya seloko adat yang mengatur dalam kehidupan berkelompok (masyarakat), dalam hal pergaulan sehari-hari, dan sebagai bentuk nasihat dalam menjalani kehidupan di dunia. Seloko adat merupakan salah satu bentuk warisan leluhur yang tidak boleh dibuang begitu saja. Harus dilestarikan dan diturunkan kepada anak cucu, agar mereka mengetahui betapa generasi tua mereka adalah generasi yang menjunjung tinggi adat dan budaya ketimuran.


    Seloko Adat Jambi
    Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya begitu juga lain tempat, lain pula pepatah adatnya. Berikut ini saya sajikan beberapa pepatah adat yang ada di tengah masyarakat Jambi sebagai bagian dari khasanah kebudayaan Indonesia:


    Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito.
    (Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom)
    Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait..
    ( janganlah lain di kata lain di hati)
    Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring..
    (jangan menghianati kawan sendiri)
    Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut.
    (hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini)
    Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung.
    (hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik)
    Awak pipit nak nelan jagung
    (impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin)
    Pegi macang babungo, balik macang bapelutik.
    (istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar)

    Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu
    (Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya)
    Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti
    (Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain)

    Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi..

    PETATAH PETITIH, PANTUN, SELOKO ADAT JAMBI
    Petatah petitih adalah merupakan sastra adat jambi yang berisikan nasehat dan pandangan-pandangan serta pedoman hidup yang baik, yang berisikan petunjuk-petunjuk dalam melakukan hubungan social dalam masyarakat.
    Contohnya :
    Kurang sisik rumput menjadi
    Kurang siang jelupung tumbuh
    Artinya : Apabila dalam menghadapi setiap masalah, jika kurang hati-hati atau teliti, maka akan berakibat buruk.

    Kecik dak besebut namo
    Besak dak besebut gela
    Artinya : Antara miskin dan kaya tidak ada perbedaan, yang miskin tidak disebutkan, yang kaya tidak dikatakan kaya.

    Menarik rambut dalam tepung
    Rambut jangan putus
    Tepung jangan terserak
    Artinya : Jika menyelesaikan sesuatu maka berhati-hatilah

    Negeri aman padi menjadi
    Air jernih ikannyo jinak
    Rumput mudo kerbaunyo gemuk
    Turun kesungai cenetik keno
    Naik kedarat perangkap berisi
    Artinya : berdoa serta mengharap kebahagiaan dan keselamatan negeri

    Kalau lah memahat diatas baris
    Kalau mengaji lah diatas kitab
    Rumah sudah jadi
    Ganden dan pahat dak bebunyi lagi
    Artinya : Setiap masalah apabila sudah diselesaikan (dimufakatkan) maka tidak akan atau tidak lagi timbul masalah itu dikemudian hari.

    Supayo disisik disiangi dengan teliti
    Dak ado silang yang idak sudah
    Dak ado kusut yang idak selesai
    Artinya : Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, maka harus diteliti dengan baik dan diusahakan selesai dengan baik.

    Bejalan hendak menepi
    Supayo idak tepijak kanti
    Becakap piaro lidah
    Supayo kanti idak meludah
    Artinya: Jika hendak berbuat haruslah berhati-hati

    Di bulekkan karno nak digulingkan
    Di pipihkan karno nak dilayangkan
    Bulek aek dek pembuluh
    Bulek kato dek mufakat
    Artinya : Setiap masalah dicari jalan keluarnya, dan dicari kesepakatanya (mufakat).

    Bunyi siamang dibukit pangkah
    Turun kelukuk makan padi
    Kalau tergemang ulak langkah
    Sementaro main belum jadi
    Artinya : Orang tua ikut memperhatikan gerak-gerik atau tingkah laku atau budi pekerti anak-anaknya

    Bagaimano nian kelamnyo kabut
    Mato jangan di pejamkan
    Bagaimano susahnyo hidup
    Namun sembahyang jangan ditinggalkan
    Artinya : Bagaimanapun sulitnya hidup yang dijalani, jangan sampai meninggalkan shalat lima waktu.

    Kalau pandai berkain panjang
    Lebih dari kain sarung
    Kalu pandai berinduk semang
    Lebih dari ibu kandung
    Atrinya :contoh kisah orang yang ingin meninggalkan kampong halamanya dan ingin tinggal dikampung orang lain, disebut juga merantau.

    Bulat dapat digulingkan
    Pipih dapat dilayangkan
    Putih berkeadaan
    Merah dapat dilihat
    Panjang dapt diukur
    Berat dapat ditimbang
    Artinya : setiap keputusan seharusnya, dapat diuji kebenarannya dengan jelas menurut ukuran keadilan dan kepatutanya

    Berjenjang naik bertanggo turun
    Turun dari takak nan di atas
    Naik dari takak nan di bawah
    Artinya : Setiap dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan.

    Rumah sudah, pahat idak berbunyi
    Api padam puntung tidak berasap
    Yang terjatuh biarlah tinggal
    Yang terpijak biarlah luluh
    Artinya : Dalam menetapkan keputusan yang berat atau rumit, harus dikuatkan dengan Janji setia menurut kenyataan hukum adat tersebut sangat besar pengaruhnya dalam menata kehidupan masyarakat yang taat kepada hukum.


    Seloko Adat Jambi

    Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, amanat petuah, atau nasehat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi. Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi. Ungkapan-ungkapan Seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih.

    Seloko adat Jambi tidak hanya sekedar peribahasa, pepatah-petitih atau pantun-pantun, lebih dalam lagi seloko adat Jambi merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi sebagai suatu filsafat yang dirumuskan secara eksplisit dalam peribahasa, pepatah-petatah atau pantun-pantun tetapi masih bersifat implisit yang tersembunyi dalam fenomena kehidupan masyarakat Jambi. Seloko adat Jambi adalah sarana masyarakatnya merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan, dan tujuan dari sebuah kebudayaan.

    Seloko adat Jambi sebagai ekspresi bermakna ganda yaitu tidak terbatas pada struktur naratif yang tersurat tetapi pada dimensi-dimensi yang tersirat. Teks-teks seloko adat Jambi tidak hanya dimengerti secara harfiah tetapi hams ditafsirkan secara simbolik dan metafisik. Tujuannya adalah untuk mencari makna yang hendak disampaikan lewat teks tersebut berupa konsepsi filosofis (konsepsi paling dasariah mengenai hakikat manusia, dunia, dan Tuhan). Dengan kata lain di dalam makna harfiah atau literal, primer yang secara langsung ditunjukkan. Bersamaan dengan itu ditunjukkan pula makna lain yang tidak langsung, sekunder, kiasan dan hanya dapat dipahami berdasarkan makna yang pertama.

    Sebagai contoh, dalam hal pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan “berjenjang naik bertanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah” seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan. Mulai dari pengambil keputusan tertinggi “Alam nan Berajo” sampai pengambil keputusan di tingkat paling bawah “Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak”.

    Selanjutnya, begitu juga dalam hal berkelompok atau berorganisasi, di dalam masyarakat Jambi mengenal nilai-nilai kegotong-royongan, hal ini tergambar dalam seloko adat “Ringan samo dijinjing, berat samo dipikul, ke bukit samo mendaki, ke lurah samo menurun, malang samo merugi, belabo samo mendapat”. Dalam berorganisasi ini, juga senantiasa mengacu kepada nilai-nilai kemufakatan. Banyak seloko adat Jambi yang menggambarkan pentingnya bermufakat dalam berorganisasi, antara lain “Bulat aek dek pembuluh, bulat kato dek mufakat, Kato sorang kato bapecah kato besamo kato mufakat, duduk sorang besempit-sempit duduk besamo belapang-lapang”.

    Beberapa Seloko adat ini juga mengatur dalam hal pergaulan sehari-hari. “Bejalan Peliharo kaki, jangan sampai tepijak kanti, becakap peliharo lidah, jangan sampai kanti meludah, jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring”.

    “Batang pulai berjenjang naik, meninggalkan ruas dengan buku, Manusio berjenjang turun meninggalkan perangai dengan laku”.
    Jadi, berbuat baiklah selalu sesuai dengan akar budayo kito orang Jambi.

    Istilah azas pembuktian “ Jiko tepijak benang arang hitam tapak, jiko tersuruk di gunung kapur putih tengkuk” sehingga dalam pembuktian ini bisa dibuktikan yang salah tetap salah dan yang benar tetap benar “yang melintang patah, yang membujur lalu”.

    Contoh lainnya :


    Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait artinya janganlah lain di kata lain di hati
    Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring artinya jangan menghianati kawan sendiri
    Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut artinya hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini
    Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung artinya hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik
    Awak pipit nak nelan jagung artinya impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin
    Pegi macang babungo, balik macang bapelutik artinya istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar
    Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu artinya Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya
    Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain
    Adat selingkung negeri, undang selingkung alam
    Kampung bepagar adat, tepian bepagar bahaso
    Sawah dalam ado mutlaknyo, ladang panjang ado batasnyo
    Ambik contoh kepado yang telah sudah, ambik tuah kepado yang menang
    Rami ngeri di nan mudo, elok negeri di nan tuo
    Duduk sorang besempit-sempit, duduk basamo balapang-lapang
    Naik idak bepucuk, turun idak berakar, tengah-tengah diakuk kumbang, ke rimbo diterkam harimau, ke air ditangkap buayo.
    Jangan sampe bepanas dalam belukar.
    Anak dipangku, ponakan dibimbing.
    Ke aek bebungo pasir, ke darat bebungo rimbo adolah hak rajo
    Nan buto penumbuk tepung, nan pekak pelepas meriam, nan lumpuh penunggu rumah, nan patah pengalau ayam
    Jerat idak kan lupo pado pelanduk
    Mahal rumput daripado kudo
    Arang habis, besi binaso

    Pakaian Adat Jambi


    Busana Tradisional Melayu Jambi
    Suku Melayu Jambi adalah sebutan bagi orang-orang Melayu yang mendiami daerah sepanjang sungai Batang Hari, propinsi Jambi.
    Dalam berbusana kaum wanita sehari-hari pada awalnya hanya dikenal dengan kain dan baju tanpa lengan.
    Sedangkan kaum prianya mengenakan celana setengah ruas yang melebar pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga lebih leluasa geraknya dalam melakukan kegiatan seharihari. Pakaian untuk pria ini dilengkapi dengan kopiah sebagai penutup kepala.
    Pada perkembangan berikutnya dikenal adanya pakaian adat. Pakaian adat ini lebih mewah daripada pakaian sehari-hari yang dihiasi dengan sulaman benang emas dan pemakaian perhiasan sebagai pelengkapnya.
    a. Pakaian Adat Pria 
    Laki-laki suku Melayu Jambi dalam berpakaian adat mengenakan lacak di kepalanya.Lacak ini terbuat dari: kain beludru warna merah yang diberi kertas tebal di dalammnya agar menjadikannya keras. Tutup kepala ini memiliki dua bagian yang menjulang tinggi, dengan julangan yang lebih tinggi pada bagian depannya.
    Sebagai hiasan terdapat lukisan flora dari daun, tangkai clan bunga yang akan mekar. Bagian pinggir sebelah kanan diberi lukisan tali runci, yang diimbangi oleh penempatan bungo runci di sebelah kiri. Bungo runci ini berwarna putih dirangkai dengan benang, dapat berupa bunga asli atau tiruannya. Bajunya disebut baju kurung tanggung berlengan panjang. Disebut tanggung karena panjangnya hanya sedikit di bawah siku tidak sampai ke pergelangan tangan.
    Hal ini mengandung makna seseorang harus tangkas clan cekatan dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan. Bahannya terbuat dari beludru warna merah diberi sulaman benang emas. Bagian tengahnya terdapat motif kembang bertabur atau kembang tagapo dan kembang melati, sedang bagian pinggirnya bermotifkan kembang berangkai atau pucuk rebung. Penutup bagian bawah disebut cangge (celana).
    Bahannya masih dari beludru yang dilengkapi dengan tali sebagai ikat pinggang. Sudah menjadi kebiasaan di daerah Jambi mengenakan kain sarung songket yang dililitkan di pinggul. Tutup dadanya disebut teratai dada, karena bentuknya seperti bunga teratai dipasang melingkar leher sehingga menyerupai kerah. Kedua tangan dihiasi gelang kilat bahu terbuat dari logam celupan berlukiskan naga kuning.
    Lukisan naga ini mengandung makna bila seseorang telah diberi kekuasaan janganlah diganggu. Dikenakan pula selempang yang menyilang badan terbuat dari songket warna merah keungu-unguan sebagai pasangan kain sarung dengan motif bunga berangkai clan beranting. Bagian pinggangnya dihiasi dengan selendang tipis warna merah jambu yang pada ujung ujungnya diberi umbai-umbai warna kuning.
    Untuk memperkuat bagian pinggang ini digunakan pending berupa rantai dengan sabuk sebagai kepala terbuat dari logam. Kelengkapan lainnya adalah keris clan selop. Biasanya diselipkan di perut menyerong ke kanan melambangkan kebesaran sekaligus untuk berjaga-jaga. Sedangkan selop atau alas kaki yang berbentuk setengah sepatu berfungsi untuk melindungi kaki saat berjaalan.
    b. Pakaian Adat Wanita 
    Busana untuk perempuan terdiri dari kain sarung songket 
    dan selendang songket warna merah. Bajunya disebut baju kurung tanggung bersulam benang emas dengan motif hiasan bunga melati, kembang tagapo, dan pucuk rebung.
    Tutup kepalanya disebut pesangkon yang terbuat dari kain beludru merah dengan bagian dalam diberi kertas karton agar keras.
    Ada juga yang menyebut duri pandan karena pada bagian depan tutup kepala ini diberi hiasan dari logam berwarna kuning berbentuk duri pandan. Untuk lebih memperindah diberi sulaman emas dengan motif bunga melati pecah.
    Kelengkapan busana perempuan lebih banyak dibandingkan dengan yang dikenakan oleh pria. Pada perempuan dikenakan anting-anting atau antan dengan motif kupu-kupu atau gelang banjar. Kalungnya terdiri dari tiga jenis, yaitu kalung tapak, kalung jayo atau kalung bertingkat dan kalung rantai sembilan. Pada jari-jarinya terpasang cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau capung.
    Jumlah gelang yang dipakai pun lebih banyak meliputi gelang kilat bahu masing-masing lengan dua buah. Masih ditambah dengan gelang kano, gelang ceper dan gelang buku beban. Kesemuanya di pasang di lengan. Khusus untuk gelang buku beban bahannya berasal dari permata putih. Sementara untuk kaki dikenakan gelang nago betapo dan gelang ular melingkar. Disebut demikian karena bentuknya yang menyerupai naga dalam dongeng sedang tidur clan ular yang melingkar membentuk bulatan.
    Sedangkan unsur-unsur kelengkapan yang lain seperti teratai dada (tutup dada),pending dan sabuk (ikat pinggang), selendang, dan selop hampir sama dengan yang dikenakan pria. Bedanya bentuk motif yang lebih besar pada teratai dada dan pending.
    c. Pakaian Baselang
    Acara pada adat suku jambi dibedakan menjadi dua, kecil dan besar. Pembedaan ini mempengaruhi pada variasi pakaian yang dikenakan, khususnya yang dikenakan para gadis. Jika acaranya kecil maka pakaian yang dikenakanberfungsi ganda sebagai pakaian upacara maupun bekerja.
    Kelengkapannya dengan sarung warna merah yang dipakai sedikit di bawah lutut (tanggung) dan baju kurung berlengan tanggung yang letaknya di luar kain, -selendang warna merah dililitkan di kepala serta membawa perlengkapan lain seperti ani-ani 
    dan kiding (tempat padi).
    Pada acara besar pakaian dibedakan untuk upacara dan bekerja. Dalam rangkaian upacara tersebut terdapat hiburan sehingga pakaian yang dikenakan pun lebih bagus.
    Selendang songket yang dikenakan sebagai penutup kepala diberi sulaman benang emas dan umbai-umbai di ujungnya.

    Aneka ragam kehidupan di jambi



    Wilayah propinsi Jambi hari ini pun terbagi atas 1 Bandar Ibukota (Jambi) dan 9 daerah – mungkin agar sesuai seloka adat tadi-. Tetapi nama daerahnya telah bertukar, Yaitu :
    1). Muara Jambi – beribunegeri di Sengeti
    2). Bungo – beribunegeri di Muaro Bungo
    3). Tebo – beribunegeri di Muaro Tebo
    4). Sarolangun – beribunegeri di Sarolangun Kota
    5). Merangin/Bangko – beribunegeri di Kota Bangko
    6). Batanghari – beribunegeri di Muara Bulian
    7). Tanjung Jabung Barat – beribunegeri di Kuala Tungkal
    8). Tanjung Jabung Timur – beribunegeri di Muara Sabak
    9). Kerinci – beribunegeri di Sungai Penuh

    Pada akhir abad ke 19, di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan Pemerintahan Kerajaan.

    Wilayah administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah sebagaimana tertuang dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo” yang artinya: Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sembilan lurah yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yaitu daerah teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.

    Secara geografis keseluruhan daerah Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni:
    * Daerah Huluan Jambi: meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.
    * Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.
    * Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu peraturan pemerintahan desa di luar Jawa dan Madura, di Jambi sudah dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pemerintahan umum, pengadilan, kepolisian, dan sumber keuangan.
    * Pemerintahan marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga juga memimpin pengadilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah pemerintahan marga terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh penghulu atau kepala dusun atau Kepala Kampung.
    * Pada masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu: Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur, Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat, Karesidenan Palembang, Karesidenan Bengkulu, Karesidenan Lampung, dan Karesidenan Bangka Belitung.
    * Khusus Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam pemerintahannya dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten residen dengan mengkoordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.
    * Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerinci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan penduduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.
    * Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan merupakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud memperluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa suku ini merupakan keturunan dari percampuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut sebagai suku Weddoid.

    Gambar 3. Foto: Suku Anak Dalam (Suku Kubu)

    * Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan “jinak” diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tempat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Sedangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.
    * Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pedesaan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarangannya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup masyarakat desa.
    * Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kampung, dsb.
    * Pakaian. Pada awalnya masyarakat pedesaan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebudayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang menggelembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi dengan kopiah.
    * Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang. Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Turun Mandi, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, Ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.

    Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:
    1). Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
    2). Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila.
    3). Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
    4) Keris, melambangkan kepahlawanan dan Kejuangan;
    5). Gong, melambangkan jiwa musyawarah dan Demokrasi.

    Gambar 4. Foto: Logo Propinsi Jambi

    Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.

    Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya. Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.

    ****

    Demikianlah yang dapat disampaikan dalam tulisan singkat ini. Semoga tetap memberikan banyak manfaat bagi kita semua. Dengannya, semoga akan menjadi motivasi bagi setiap diri generasi muda untuk jauh lebih maju dari kejayaan mereka di masa lalu, dan kesadaran yang tinggi akan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh mereka.

    Sedangkan harapan kedepannya adalah, bahwa setiap generasi muda Indonesia – khususnya orang-orang Melayu dan Jambi - semakin sadar dan tidak pernah melupakan sejarah tentang jati diri mereka. Sehingga menjadi kian membuka cakrawala berpikir dan terpacu untuk terus mengejar ketinggalan serta berusaha mengukir prestasi terbaik di seantero dunia.

    Selogan Provinsi Jambi

    Seloka ini tertulis di lambang Propinsi Jambi, menggambarkan luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang merangkumi sembilan lurah dikala pemerintahan Orang Kayo Hitam, yaitu :

     VIII-IX Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan. Ada juga yang berpendapat bahwa wilayah Kesultanan Jambi dahulu meliputi 9 buah lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama : 
    1. Batang Asai 
    2.Batang Merangin 
    3. Batang Masurai 
    4. Batang Tabir 
    5. Batang Senamat 
    6. Batang Jujuhan
    7. Batang Bungo 8. Batang Tebo dan
     9. Batang Tembesi. Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi.

    Senjata Khas Jambi

    Keris Siginjai

    Hubungan Orang Kayo Hitam dengan Tanah Jawa digambarkan dalam cerita orang tuo-tuo yang mengatakan bahwa Orang Kayo Hitam pergi ke Majapahit untuk mengambil Keris bertuah, dan kelak akan menjadikannya sebagai keris pusaka Kesultanan Jambi. Keris itu dinamakan ‘Keris Siginjai’. Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun, keris Siginjai tidak hanya sekedar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jamb

    Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain keris Siginjai, ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun 1903M Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger