Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label TARIAN-DAERAH. Show all posts
    Showing posts with label TARIAN-DAERAH. Show all posts

    Tarian Tradisional Asyek Niti Naik Mahligai

    Tarian Tradisional Asyek Niti Naik Mahligai di Bumi Sakti Alam Kerinci. Kabupaten Kerinci yang berada di propinsi Jambi, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Selain daerah yang sejuk, kabupaten Kerinci juga memiliki seni budaya yang unik dan menarik, salah satunya adalah seni tari.

    Seni tari yang berkembang di daerah ini sebagian besar merupakan peninggalan tradisi pada zaman nenek moyang, yang tentunya masih berkembang sampai saat ini. Seni tari tersebut diantaranya: tari Rangguk, Sikapur Sirih, Asyek, Iyo-Iyo, Rentak Kudo dan masih banyak lagi. Di samping itu, terdapat juga tari kreasi baru yang berkembang di daerah ini. Hal ini dapat dilihat banyaknya seniman baru yang berkembang saat ini. Mereka berupaya mengembangkan dan melestarikan tari tradisi yang ada, dengan cara mengolah kembali ke dalam bentuk tari kreasi baru sesuai dengan perkembangan zaman. Namun, diantara tarian tersebut ada satu tarian yang sangat unik yaitu tari Asyek.

    Masyarakat daerah Kerinci menyebutnya dengan tari Asyek, Asik atau Asaik. KataAsyek berasal dari kata asik. Jenis tari Asyek ini adalah salah satu tari tradisi yang dulunya digunakan sebagai tari dalam upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh-roh nenek moyang dan memiliki unsur magis. Tari Asyek memiliki bermacam-macam jenisnya sesuai dengan tujuan upacara yang dilakukan. Jenis tari Asyek yang masih berkembang saat ini adalah tari Niti Naik Mahligai, Mahligai Kaco, Tolak Bala, Gagah Harimau, Mandi Taman, Mintak Lamat, Mandi malimau dan masih banyak lagi yang lainnya.

    Tari Niti Naik Mahligai yang merupakan jenis tari Asyek berkembang di daerah kecamatan Gunung Kerinci tepatnya di desa Siulak Mukai Tengah. Tari Niti Naik Mahligai termasuk jenis tari tradisional yang mengutarakan “kehendak” dan bersifat magis. Menurut Eva Bram (2006) saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Naik Mahligai, menjelaskan bahwa tari Niti Naik Mahligai berasal dari kata Niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligaiadalah tahta atau istana. 

    Tari Niti Naik mahligai memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana. Tari ini dulunya digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adatbilan salih. Menurut Muchtar Hadis (2006) salah satu tokoh seniman Kerinci menyatakanbilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki. Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai. Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3) sarana penyembuhan; (4) sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.

    Namun, seiring dengan kemajuan zaman upacara ini ditinggalkan oleh masyarakat Kerinci. Hal ini disebabkan karena faktor ideologi, teknologi, letak geografis, sosial, ekonomi dan pendidikan masyarakat Kerinci yang berubah. Karena faktor-faktor tersebut maka, tari ini mengalami perubahan fungsi dan bentuk penyajiannya. Seperti yang kita ketahui juga bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman. Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit. Selanjutnya pada tahun 1999 bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci bidang kesenian menata kembali tari ini menjadi tari Niti Naik Mahligai yang berkembang saat ini.

    Secara keseluruhan tari Niti Naik Mahligai, masih memiliki bentuk penyajian yang sederhana, seperti gerak, musik, pola lantai, property, tata rias dan tata busana. Kesederhanaan bentuk penyajian tari ini merupakan ciri khas yang dimiliki tari tradisional kerakyatan pada umumnya. Selain itu, tari ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung. 

    Atraksi tersebut diantaranya:
    1. Niti Gunung Kaco yaitu menari di atas pecahan kaca.
    2. Niti Gunung Telo yaitu berjalan di atas mangkok-mangkok keci dan berjalan di atas batang pisang yang diatasnya diletakkan telur.
    3. Niti Gunung Tajam yaitu menari di atas bambu-bambu runcing dan paku yang telah di tata.
    4. Niti Gunung Pedam yaitu menari di atas ujung pedang yang sangat runcing.
    5. Niti Gunung daun yaitu menari di atas daun kelor.
    6. Niti Laut Api yaitu menari di dalam bara api yang sangat panas.

    Menurut Eva Bram (2006) menjelaskan bahwa, keseluruhan atraksi tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Selain itu, sebelum melaksanakan pertunjukan para penari diwajibkan untuk melakukan ritual yaitu berupa persembahan terhadap nenek moyang. Agar mereka mendapat perlindungan dan diharapkan pertunjukan dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada saat pementasan mereka jarang yang mengalami cidera.

    Di samping, atraksi yang unik, para penari tari Niti Naik Mahligai menggunakan kostum tari yang unik juga yaitu pakaian adat daerah Kabupaten Kerinci yang berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning pada dada. Sedangkan untuk hiasan kepalanya menggunakan kuluk atau sungkun yang berwarna hitam dan dihiasi dengan manik-manik dan bunga sebagai penghias. Para penari menggunakan kain sebagai bawahan yang biasa di sebut dengan tahhap, kain yang digunakan adalah kain songketyang berwarna merah. Tentunya kostum yang digukan semuanya memiliki makna simbolis.

    Pada saat ini tari Niti Naik Mahligai telah mulai dikenali banyak masyarakat, bukan hanya saja masyarakat di daerah Kerinci saja namun masyarakat di luar kabupaten Kerinci pun sudah mulai mengenal tari ini. Hal ini ditunjukkan dengan penampilan pertunjukan tari Niti Naik Mahligai ke beberapa daerah seperti di Taman Mini Indonesia Indah dan di daerah lainnya. Sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan promosi produk wisata baik negeri maupun luar negeri tari Niti Naik Mahligai mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci. 

    Seperi diadakan iven Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci yang menjadi agenda rutin daerah Kerinci. Sebagai peneliti dan penulis, penulis berharap banyak kepada masyarakat dan pemerintah untuk dapat mempertahankan, mengembangkan dan melestarikan seni tradisi yang kita miliki, sebagai warisan dari nenek moyang dan untuk anak cucu kita

    SIKE REBANA KERINCI

    Kesenian ini perpaduan tiga buah seni yai seni vokal, seni gerak (tari) dan seni musik. Seni vokal (nyanyian), yang dinyanyikan merupak puji-pujian terhadap Yang Khalik Pencipta Ala Semesta (Allah SWT) dan rasul-rasulnya. Iran nyanyian Sike Rebana ini kadang-kadang diolah dalam irama Tale (nyanyian khas Kerinci). Rebai Besar selain sebagai properti dalam gerak juga berfungsi sebagai musik iringan.Tingkahan rebai yang dipukul oleh Pesike, menambah semaraknya seni ini.

    MUSIK PENGIRING TARI IYO-IYO

    MUSIK PENGIRING TARI IYO-IYO. Yo-yo berarti ya-ya, maksudnya adalah membenarkan. Tari ini juga termasuk tari adat, karena pelaksanaannya dilakukan kalau ada acara adat, misalnya acara kenduri sko (pusaka), penobatan orang adat, dan penurunan benda pusaka.

    Menurut tradisi masyarakat kerinci, apabila selesai menuai padi, dilaksanakan kenduri sko, yaitu kenduri sudah tuai yang sejalan dengan penobatan orang adat, apakah itu Depati, Ninik Mamak, Pemangku atau pun Permenti (lihat buku pertama). Pada waktu itu juga benda-benda pusaka diturunkan pada tempatnya dan diperlihatkan pada masyarakat, tanda benda-benda itu masih ada atau utuh.

    Sewaktu benda-benda itu diturunkan dari atas loteng, maka kaum wanita akan menyambutnya dengan tari iyo-iyo, terutama wanita yang tua-tua . Demikian juga ketika akan dilaksanakan penobatan orang adat, seperti Depati dan lain-lainnya, maka oleh orang yang ditunjuk, biasanya orang adat juga yang hafal akan silsilah dari orang yang dinobatkan itu, mengisahkan asal-usul orang yang dinobatkan tersebut. Kisah itu diceritakan dengan berirama tanpa teks, jadi hafal dalam kepala. Orang yang mendengarkannya, terutama kaum wanita, menjawabnya dengan menyebut “yo-yo” terus menerus, maksudnya membenarkan silsilah tersebut. Lama – kelamaan dan tanpa disadari atau memang sudah mengembangkan tangan dan menari-nari berkeliling – keliling, seolah – olah mereka sedang terbang saja. Memang gerakannya seperti elang terbang.

    Penari – penari itu ada yang sampai putus makrifatnya, sehingga mereka seolah – olah terbang saja. Kakinya tidak menginjak tanah, demikian ringannya tubuh mereka.

    Acara tari ini diiringi oleh vocal lagu “yo – yo” dan di iringi lagi dengan alat musik gendang, gong jantan, gong betina. Sebelum adanya gendang dan gong, musiknya dalah gendang bambu. Alat musik ini di tabuh oleh anak jantan sedangkan penyanyi dan penari adalah kaum wanita, yang berpasangan.

    Perkembangannya :
    Tari iyo-iyo tidak diketahui kapan lahirnya. Masuknya kesenian terdiri dari tiga tahap yaitu: 
    • Kesenian zaman prasejarah
    • Kesenian zaman masuknya kebudayaan islam
    • Kesenian zaman modern
    Pada zaman prasejarah tidak mengenal tentang agama. Setelah masuknya kebudayaan islam masuk tari iyo-iyo sampai saat ini. Tari iyo-iyo tidak mengalami perubahan karena merupakan tarian tradisional.

    B. Fungsi Musik

    Fungsi musik tari Iyo – Iyo adalah :
    • sebagai memeriahkan tari adat
    • mengiringi tarian
    • menghibur masyarakat
    C. Cara Penyajian / Penampilan Musik

    Tari iyo-iyo merupakan tarian adat yang di tampilkan pada saat upacara adat seperti kenduri sko. Tarian ini ditampilkan oleh kaum wanita pada saat penurunan benda pusaka dan di lakukan di halaman terbuka.

    D. Jenis Alat Musik

    Alat musik yang digunakan pada tari iyo-iyo ini, antara lain :
    1. Gumbe/Gembe ( Gendang Bambu). Terdiri dari seruas bamboo yang sudah tua dan sudah kering. Kulitnya kira-kira selebar dua jari dikupas dan dilubangi sebelah ujungnya, sedang yang sudah dikupas itu di buang kiri dan kanannya sedikit, sehingga bisa di pukul dan bebunyi nyaring. Disamping dibuat senarnya dari kulit bambu itu juga, yang di cukil kira-kira sebesar setengah kelingking, sebanyak dua buah. Senar ini di pasak dengan kayu kecil, sehingga senar itu terangkat ke atas. Alat pemukul senar ini adalah jari telunjuk dan jari tengah, sedangkan pemukul lidah yang telah di kupas tadi menggunakan ibu jari. Cara memakainya di letakkan di atas paha sambil duduk. Alat ini sekarang sudah punah, namun kemudian telah di gali kembali dan telah berfungsi kembali. Alat ini gunanya hanya untuk ritme, bukan untuk melodi. Bunyi senarnya mendengung dan bunyi lidahnya agak lembab.
    2. Gong. Gong merupakan salah satu alat musik yang di gunakan saat tari iyo – iyo . Gong terbuari dari tembaga. Cara memainkan gong ini adalah di pukul. 
    3. Gendang Melayu. Gendang Melayu juga termasuk salah satu alat musik dari tari iyo-iyo. Gendang melayu terbuat dari kayu dan kulit. Pada sat tari iyo-iyo gendang kayu ini diperlukan dua buah, yaitu disatukan dalam bentuk berdampingan. Cara memainkan nya adalah dipukul.
    E. Syair Lagu/ Nyanyian

    Iyo-iyo rilok tarai kayo sadou rinai iyo-iyo-iyo
    Iyo-iyo rayun jaroilah saludeang jateuh iyo-iyo-iyo
    Iyo-iyo rantok kakai kudea dibularoi iyo-iyo-iyo
    Iyo-iyo semauk tapijeak rideak ralah matai iyo-iyo-iyo

    F. Jumlah Pemusik/ Siapa Saja Yang Memainkan Alat Musiknya/ Vocal

    Tari iyo-iyo dibawakan oleh kaum wanita dengan cara berpasangan bisa berjumlah 6 orang bisa juga lebih sesuai dengan kebutuhan. Jumlah pemusik 3 orang terdiri dari 2 orang memainkan gendang dan 1 orang memainkan gong.

    G. Kostum Yang Di Gunakan

    Pada mulanya masyarakat memakai baju biasal, yaitu baju kurung, sarung, dan tapu. Tetapi sesuai dengan perkembangan zaman, mereka sudah memakai baju adat kerinci.

    http://senikerinci.blogspot.com/2012/12/blog-post.html
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger