Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label wisata religi. Show all posts
    Showing posts with label wisata religi. Show all posts

    Sejarah singkat Masjid seribu tiang (Masjid Agung Al Falah Jambi)

    Sejarah singkat Masjid seribu tiang (Masjid Agung Al Falah Jambi)
    Masjid Seribu Tiang – Pernah ke Jambi? Sangat tak lengkap jika anda belum mengunjungi salah satu bangunan penting di kota ini, yaitu Masjid Al-Falah atau yang lebih populer disebut masjid seribu tiang oleh masyarakat setempat. Masjid ini sama seperti masjid-masjid raya yang ada di beberapa kota besar lainnya, maka dari itu, masjid ini termasuk dari beberapa bangunan penting yang menjadi cirri khas Provinsi Jambi.

    Masjid Seribu Tiang Lokasi dan Akomodasi Masjid Agung Al-Falah atau yang sering disebut dengan masjid seribu tiang ini terletak di jalan Sultan Thaha nomor 60, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Masjid yang berada di tengah-tengah kota jambi ini berada di Ruas jalan yang sama dengan pasar Induk Angso Duo, PDAM Tirta Mayang, dan juga Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Anda bisa menggunakan berbagai macam transportasi untuk menuju ke masjid Agung Al-Falah ini. Anda bisa menggunakan kendaraan sendiri atau kendaraan pribadi dan anda juga bisa menggunakan angkutan umum atau angkot. Jika anda menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa dengan mudah menemukan lokasi dari masjid agung al falah ini. Karena letaknya yang berada di tengah-tengah kota jambi dan masjid agung Al-Falah ini juga merupakan ikon atau simbol kota Jambi. 

    Lalu, jika anda menggunakan kendaraan umum atau angkot, anda tidak perlu khawatir, karena untuk menuju Jalan Sultan Thaha ini, banyak sekali pilihan angkot yang bisa anda gunakan. Beberapa jurusan atau rute angkot yang melintasi daerah ini antara lain angkot jurursan Mayang, jurusan Simpang Rimbo, jurusan Sipin-Telanaipura, jurusan Broni-Telanaipura, dan jurusan Broni-Seberang. Jika anda menaiki salah satu angkot dengan rute atau jurusan diatas, anda bisa stop di jalan Sultan Thaha, atau di depan Sekolah Dasar Al-Falah (SD Al-Falah). Biaya ongkos yang harus anda keluarkan untuk membayar angkutan kota atau angkot ini adalah sebesar Rp 2.000 per orang.

    Selain menggunakan angkutan kota atau angkot, anda juga bisa menggunakan jasa sewa mobil atau rental mobil yang tersedia dikota Jambi. Biaya sewa atau rental mobil ini tergantung dengan lama pemakaian dan jenis mobil yang ingin kita gunakan. Selain itu, anda juga bisa menggunakan taksi. Tetapi untuk menemukan taksi di kota Jambi ini tidak segampang menemukan taksi seperti dikota-kota besar seperti Jakarta , Medan, Palembang dll. Walaupun sulit, bukan berarti tidak ada. 

    Tarif untuk taksi ini sendiri beragam, tergantung kesepakatan kita dengan si sopir taksi tersebut. Sejarah Singkat Dulunya tanah dimana Masjid Seribu Tiang ini berdiri adalah istana tanah pilih Sultan Thaha. Suatu hari istana ini dihancurkan oleh koloni Belanda karena terjadinya pembatalan perjanjian oleh Sultan Thaha karena menurut sultan, perjanjian yang diajukan oleh Belanda cukup merugikan masyarakat Jambi.

    Setelah diproklamasikannya kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dan tepat pada tanggal 29 September 1980, Masjid Agung Al-Falah ini diresmikan oleh Bapak Soeharto, yang menjabat sebagai Presiden RI pada waktu itu. Wisata Masjid Agung Al-Falah ini dibangun diatas lahan tanah sebesar 2,7 Ha dan memiliki luas bangunan sebesar 4.600 meter persegi, masjid ini adalah masjid terbesar di kota Jambi. Masa pembangunannya pun cukup memakan waktu lama, kurang lebih dalam kurun waktu sekitar 9 tahun bangunan untuk menyelesaikan bangunan ini.

    Menurut informasi yang ada Masjid Agung Al-Falah ini dibangun mulai tahun 1971 sampai selesai di tahun 1980. Walaupun lebih dikenal dengan nama masjid seribu tiang, tapi tiang penyangga (pilar) yang ada di masjid ini hanya sebanyak 256 buah. Memang cukup banyak, maka dari itu masjid ini popular dengan sebutan tersebut, Masjid Seribu Tiang. 

    Bagian Pinggir Masjid Masjid Agung Al-Falah ini bentuk bangunannya memang mirip seperti sebuah pendopo terbuka yang memiliki banyak tiang-tiang penyangga (pilar) serta, adanya sebuah kubah besar di bagian atasnya dengan warna beragam dan tulisan kaligrafi yang terbuat dari kaca. Bentuk bangunan Masjid Agung Al-Falah yang memiliki konsep terbuka atau tanpa sekat seperti ini menimbulkan kesan ramah. Ya, masjid ini tidak memiliki pintu ataupun dinding. 

    Hanya berdiri dengan ratusan tiang penyangganya. Pada bagian tengah Masjid Agung Al-Falah ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang sangat indah, lalu di tengah-tengah masjid ini terdapat delapan buah tiang penyangga yang berwarna kuning keemasan ditambah dengan ukiran-ukiran yang cantik di bagian tengah.

    Masjid Tips

    1. Sebelum berangkat ke Masjid seribu tiang ini ada baiknya jika anda memakai pakaian yang sopan, rapi, bersih, sehingga setidaknya anda sedikit menghormati tempat suci tersebut.

    2. Perhatikan lagi waktu dan hari kunjungan anda, jika anda hanya ingin sekedar melihat – melihat untuk mengagumi kemegahan masjid seribu tiang ini saja, ada baiknya jika anda datang pada hari biasa, bukan hari jum’at atau hari-hari besar islam lainnya.

    3. Bila anda kurang tahu persis alamat dari tempat ini, cukup bertanya saja kepada penduduk sekitar, anda tidak usah ragu untuk bertanya, mereka pasti akan memberi tahu secara detail.

    4. Perhatikan barang bawaan ada,hanya untuk berjaga-jaga, meski disana adalah tempat suci, di jaman sperti ini tidak menutup kemungkinan jika disana terjadi tindak kriminal. Jadi jangan ragu untuk menikmati wisata yang tak hanya bernilai religi, melainkan juga menjadi ikon dari sebuah provinsi. Selain mudah di jangkau, tidak mengeluarkan biaya yang cukup banyak juga. Jadi tak perlu ragu lagi untuk datang ke masjid ini, karena kurang lengkap rasanya jika datang ke Jambi tapi tidak mengunjungi bangunan yang penting di Provinsi ini. Selamat bersenang-senang.

    Perkembangan Pesantren di Jambi

    Pondok Pesantren Nurul Iman

    Jika kita berbicara tentang sejarah dan perkembangan Pondok Pesantren di Jambi ini, maka hal tersebut tidak terlepas dari keberadaan Langgar Putih yang banyak mempengaruhi keberadaan Pesantren-pesantren di Jambi. Langgar Putih berlokasi di Kelurahan Ulu Gedong, didirikan pada tahun 1868 oleh Asy Syeh Khotib Mas’ud, selain sebagai tempat peribadatan masyarakat Ulu Gedong dan masyarakat Seberang Kota Jambi, Langgar Putih juga dijadikan sebagai sarana pendidikan Agama Islam. Setelah beliau wafat ditahun 1889, usaha beliau dilanjutkan oleh keponakannya sekaligus anak angkatnya yaitu Guru Haji Abdul Majid Jambi, yang pada waktu belajarnya di Mekkah seangkatan dengan Syekh Ahmad Khotib al-MinangKabawi.

    Pada masa Guru Haji Abdul Majid Jambi inilah di Langgar Putih mulai mengadakan pengajian Kitab Kuning di daerah Kesultanan Jambi dan berlangsung hingga tahun 1904 karena beliau harus hijrah ke Mekkah gua menghindari penangkapan penjajah Belanda. Hal tersebut karena selain sebagai seorang Guru beliau juga sebagai penasehat Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi.

    Di Mekkah beliau kembali membuka pengajian di rumah kediamannya di Kampung Samiyah, diantara muridnya adalah :
    • H. Ahmad bin Abdusy Syakur, Pendiri Madrasah Sa’adatuddaren Tahtul Yaman.
    • H. Ibrahim bin H. Abdul Madjid, Pendiri dan Mudir pertama Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong.
    • H. Abdus Shamad bin H.Ibrahim Hoofd, Penghulu yang pertama.
    • Kemas H. Muhammad Saleh binKemas H. Muhammad Yasin, pendiri Madrasah Nurul Islam Tanjung Pasir.
    • H. Usman bin H. Ali, pendiri Madrasah Al Jauharain Tanjung Johor.
    • Syekh Muhammad Djamil Jaho, di Jaho Sumatera Barat.
    • Sulaiman Ar-Rosuli Candung.
    • Sayyid Alwi bin Muhammad bin Syihab, Sungai Asam Jambi.
    • Pengajian di Langgar Putih kembali dibuka oleh Haji Ibrahim Putra Guru Haji Abdul Majid Jambi yang mendirikan Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong. Langgar Putih ini berfungsi sebagai lembaga pendidikan kembali pada tahun 1946 hingga tahun 1951 oleh K.H. Abdul Qodir Ibrahim.
    Pondok Pesantren Nurul Iman ini adalah salah satu hasil rintisan sebuah organisasi sosial bernama Perukunan “Tsamaratul Insan”, organisasi yang didirikan berdasarkan izin Residen Negeri Jambi nomor 1636 sebagaimana tercantum dalam peraturan pendiriannya yang dibuat di
    Jambi pada tanggal 10 Nopember 1915, bertepatan dengan 1 Zulqa’idah 1333 H.

    Organisasi sosial “Tsamaratul Insan” ini, sebagaimana terlihat pada peraturan (akta) pendiriannya, mempunyai maksud dan tujuan untuk mempersatukan masyarakat Islam Jambi dan mengkoordinir mereka terutama dalam masalah-masalah sosial seperti kemalangan, kematian, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.

    Organisasi ini pada awal berdirinya dipimpin oleh :
    • H. Abdus Shamad bin H.Ibrahim (Hoofd Penghulu Jambi)
    • H. Ibrahim bin H. AbdulMadjid (Kampung Tengah)
    • H. Ahmad bin Abdusy Syakur (Kampung Tahtul Yaman)
    • H. Usman bin H. Ali (Kampung Tanjung Johor)
    • Kemas H. Muhammad Saleh binKemas H. Muhammad Yasin (Kampung Tanjung Pasir)
    • Sayyid Alwi bin Muhammad bin Syihab (Kampung Pasar).
    • Melalui organisasi inilah, mereka kemudian merintis berdirinya Nurul Iman dan tiga Madrasah tertua lainnya di Jambi, yaitu Sa’adatud Darein di Kampung Tahtul Yaman, Nurul Islam di kampung Tanjung Pasir dan al-Jauharein Kampung Tanjung Johor.
    Tsamaratul Insan mempunyai program kerja pengembangan kesejahteraan masyarakat seberang. Empat butir perencanaan sebagai hasil pemikiran ulama saat itu dalam mengantisipasi masa depan tertulis dalam dokumen perukunan, yaitu:

    • Membuka perkebunan yang hasilnya dipergunakan untuk kelangsungan hidup organisasi
    • Mendirikan pesantren sebagai tempat mengajarkan ilmu pengetahuan agama
    • Memakmurkan masjid dan surau serta memelihara tanah pemakaman kaum Muslimin
    • Mengadakan tanah wakaf dan rumah sakit bagi kaum Muslimin, yang hasilnya dimanfaatkan bagi kepentingan perjuangan agama.
    Pada tahun 1915 pengurus Tsamaratul Insan mulai mewujudkan programnya, antara lain mendirikan Pesantren Buluh. Dinamai “Buluh” karena bahan bangunan pesantren terbuat dan bambu (buluh). Pada mulanya kegiatan pesantren ini baru dalam tahap mengajarkan baca-tulis huruf al-Qur’an kepada anak-anak setempat. Pelajaran ini mendapatkan perhatian sangat besar, sehingga banyak di antara penduduk yang mengirimkan anak mereka belajar ke pesantren.

    Guru H. Abdul Shamad, yang Hoofd Penghulu itu berusaha meyakinkan Belanda, bahwa pembangunan pesantren hanya dimaksudkan sebagai tempat mempelajari ilmu keislaman bagi para santri. Bila pemerintah Belanda melarangnya, dapat menimbulkan keresahan dan ketidak-senangan rakyat terhadap Belanda. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah Belanda akhlrnya menyetujui rencana pembangunan pesantren yang lebih permanen. Untuk mengawasi pelaksanaan pembangunannya, Belanda mengirim Sayyid Alibin Abdurrahman al-Musawwa, seorang pengusaha keturunan Arab dan Palembang yang mengetahui masalah bangunan, sekaligus bertindak sebagai perpanjangan tangan Belanda mengawasi kegiatan pesantren. Karena dia keturunan Arab yang faham masalah agama, dia dianggap sebagai ulama, tetapi bukan guru.

    Dengan bergotong-royong, dibangunlah gedung pesantren yang permanen sebagai pengganti Pesantren Buluh, yang dibeni nama Nurul Iman, sebagai pesantren pertama di seluruh daerah Jambi pada masa itu.

    Pesantren Sa'adatuddarrein Tahtul Yaman Jambi

    Adalah KH. Abdul Majid setelah gugurnya Sulthan Thaha Saipuddin merasa bahwa keberadaannya didaerah Jambi mulai terancam oleh Belanda. Atas saran beberapa pihak, beliau hijrah ke negeri Makkah Al Mukarromah, dikota suci ini beliau mengajar murid-muridnya yang berasal dari pelbagai suku bangsa dan dari negerinya asalnyapun banyak murid-murid yang menuntut ilmu darinya. Kelak murid-murid beliau inilah yang mendirikan beberapa madrasah dan pondok pesantren dikawasan kota seberang, diantaranya ialah KH.Ahmad Syukur yang mendirikan Pondok Pesantren Sa’adatuddaren. Sedangkan KH. Abdul Majid sendiri sekembalinya dari Makkah mendirikan madrasah Nurul Iman dikelurahan Ulu Gedong yang sekarang ini.

    Seperti yang diceritakan tadi KH. Abdul Majid sukses menghasilkan tokoh-tokoh keagamaan di Makkah, salah seorang anak didiknya yaitu KH. Ahmad Syukur setelah cukup lama menimba ilmu, akhirnya kembali kenegara asalnya Indonesia, tepatnya didaerah kota seberang yang pada masa itu lebih dikenal dengan nama Iskandariah Tahtul Yaman. Ikatan Persaudaraan yang terjalin dari Makkah tidaklah putus setelah mereka kembali kedaerah masing-masing, bahkan tetap terjaga dan terpelihara. Untuk menjaga kelestarian Ikatan tersebut mereka membentuk secara Forum Persaudaraan yang diberi nama dengan Tsamaratul Ihsan yang bergerak dibidang sosial keagamaan dan dakwah.

    Forum inilah yang merupakan cikal bakal timbulnya ide untuk mendirikan Lembaga Pendidikan Keagamaan didaerah mereka masing-masing. Barangkali timbul suatu pertanyaan kenapa mereka tidak mendirikan satu Lembaga Pendidikan saja? Sehingga seperti yang kita dapati dewasa ini ada beberapa pondok pesantren yang berdiri dibeberapa kawasan.

    Barangkali yang bisa dikemukakan disini ialah perbedaan jarak yang cukup jauh antara satu kampung dengan kampung yang lainnya, maka pada tahun 1915 M/1333 H atas izin Allah SWT didirikanlah Lembaga Pendidikan Islam yang diberi nama “ Sa’adatuddaren” oleh KH. Ahmad Syukur. Pemberian nama ini memiliki nilai filosofis tersendiri, sebab secara bahasa artinya ialah “ Kebahagiaan Dua Negeri”. Penamaan ini menimbulkan kesan bahwa lembaga pendidikan ini tidaklah selalu berorientasi pada kehidupan di negeri akhirat saja, tetapi kehidupan dunia tetap mendapatkan porsi perhatian yang cukup dikalangan penduduk kampung Iskandariah. Beliau (KH. Ahmad Syukur) lebih akrab dipanggil dengan sebutan Guru Gemuk, karena sebutan Kiyai tidaklah begitu populer dikalangan masyarakat Jambi pada waktu itu.

    Beliau sendiri hanya sempat memimpin lebih kurang enam tahun. Pada tahun 1921 beliau wafat dalam usia terbilang muda yaitu 47 tahun. Tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh muridnya KH. Abdurrahman yang menjabat selama lebih kurang satu tahun dan dilanjutkan oleh murid Guru Gemuk yang lain yaitu KH. Abu Bakar Saipuddin pada tahun 1923 M hingga masa penjajahan Jepang.

    Kemudian kepemimpinan Lembaga Pendidikan ini dijabat secara berurutan oleh KH. Abdullah Syargawi (Guru Sidol), KH. Tengku M. Zuhdy (Guru Jubah Hitam), KH. Abdul ‘Aziz (Guru Jantan), KH. Ahmad Zaini H. Abd. Qodir ( Guru Zaini). Setelah pulang KH. M. Jeddawi Abu Bakar dari Makkah Al Mukarromah, kepemimpinan langsung dipegang oleh KH. M. Jeddawi dan setelah beliau wafat yaitu pada tahun 1989, kepemimpinan lembaga ini dipegang kembali oleh KH. Ahmad Zaini dan hanya berlangsung selama delapan bulan dikarenakan kesehatan dan usia beliau sudah lanjut, maka kepemimpinan lembaga ini dipegang oleh Ki. Abdul Qodir Mahyuddin mulai tahun 1990 sampai dengan tahun 2003 dan dilanjutkan oleh KH. Helmi Abdul Majid sampai saat ini.

    Organisasi yang ada di Pondok Pesantren Sa’adatuddaren :
    Sebagaimana lazimnya suatu Lembaga Pendidikan agar dapat berjalan normal dan terjaga kontinuitasnya tentu saja memerlukan suatu sistem yang terpola dan terpadu. Di Pondok Pesantren Sa’adatuddaren pada mulanya tidak terdapat lembaga-lembaga khusus yang membantu dan mengawasi kinerja-kinerja Pimpinan Pondok dan Staf-stafnya. Hingga pada suatu waktu timbullah ide pembentukan Yayasan Sa’adatuddaren dengan yayasan ini keberadaan Pondok Pesantren Sa’adatuddaren semakin diakui.
    Adapun tingkat dan jenjang Struktur Pondok Pesantren Sa’adatuddaren yaitu :
    1. Mudir pondok/Pimpinan
    2. Wakil mudi
    3. Dewan guru
    4. TMI
    5. Rois Mu’allimin
    6. Administrasi
    7. Mudir pelaksana tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah
    8. Pengasuh santri
    9. Majelis asatizah
    10. OPPS
    11. Santri/Santriwati

    Ciri khas dan keunggulan pondok pesantren Sa’adatuddaren :
    Banyak upaya yang dilakukan oleh bagian pengasuh dan pengajaran Pondok pesantren Sa’adatuddaren dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan dengan memadukan sistem klasik dengan sistem modern dengan tetap menstabilkan identitas klasik yaitu kurikulum yang ditetapkan sendiri oleh pondok sejak awal berdiri. Dengan memperdalam kajian kitab kuning diharapkan santri yang telah menamatkan pendidikan disini sudah mampu dan mandiri untuk langsung terjun ketengah-tengah masyarakat didaerahnya masing-masing, karena sistem yang diterapkan yaitu untuk mencetak tenaga mu’allim/ pengajar dan pendidik dibidang Diniyyah. Materi-materi pelajaran mencakup :
    Ø Ilmu Lughoh ‘Arabiah :
    Ilmu tata bahasa arab (Ilmu Nahwu)
    Kitab-kitab yang digunakan dalam disiplin ini adalah : Matan A-Jurumiyah, Mukhtasar Jiddan, Kawakibuddurriyah, Qhotrotunnada Wa Ballusshoda, Al Fiyah, Ibnu ‘Aqil.
    Ø Ilmu Tafsir :
    Kitab-kitab yang digunakan antara lain adalah : Al Jalaein,
    Ø Ilmu Balaghoh :
    Meliputi kitab-kitab : Qowaidul Lughoh,
    Ø Ilmu Diniyyah ialah : Ilmu Fikih, Ushul Fikih, Ushul Hadist, Tafsir. Tauhid dan Tasawwuf.
    Ø Ghoiruddiniyyah meliputi : Mantiq, Tarekh, Ilmu ‘Arudh, Falaq, Bahasa inggris, dan persiapan jenazah.
    Demikianlah sejarah ringkas Pondok Pesantren Sa’adatuddaren Tahtul Yaman Kota Jambi.

    Sejarah Masjid Agung Kuala Tungkal

    Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal merupakan salah salah masjid tua di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

    Sejarah perkembangan Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal tidak terlepas dari sejarah perkembangan pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Menurut sejarah pemerintahan zaman dahulu, perkembangan masjid itu tidak terlepas dengan tiga hal yaitu, pemerintahan, pendidikan, dan masjid.

    Pada waktu itu daerah ini, bahkan seluruh daerah Pantai Timur Provinsi Jambi dihuni oleh suku Laut yang masih beragam Animisme dan sedkit sekali suku Melayu yang beragama Islam, namun baru nama, belum amaliyahnya. Sebab belum adanya sarana ibadah, guru agama dan da’i. Kekosongan dapat di isi oleh suku Banjar yang diantaranya terdapat guru-guru agama.

    Sejak itulah bermunculan rumah ibadah dan madrasah dengan bentuk yang sangat darurat dan sederhana sekali. Di Kuala Tungkal berdiri satu masjid dan madrasah pertam akali didirikan di Parit III Kelurahan Tungkal II Kecamatan Tungkal Ilir, untuk shalat jama’ah dan jumat. Kemudian menyusul di Parit II Tungkal IV di dirikan sebuah Surau oleh suku Melayu.
    Namun beberapa tahun berjalan timbullah perpecahan antara suku Banjar dan Melayu. Suku Banjar mengelola Masjid di Parit III dan suku Melayu mengelola Surau di Parit II. Perpecahan ini disebabkan oleh masalah khilafiyahan/furu’iyah, perpecahan ini menguntungkan Pemerintahan Hindia Belanda pada waktu itu.

    Untuk menghindari perpecahan tersebut, maka tokoh ulama’ dan tua tengganai kedua belah pihak mengadakan musyawara. Dicapailah mufakat bahwa akan dibangun sebuah masjid besar yang terletak di antara kedua masjid tersebut sedangkan kedua masjd tersebut diturunkan fungsinya menjdi surau.

    Pada tahun 1940 tepatnya dibangunlah masjid besar tersebut diatas tanah wakaf dari H. Badaruddin seluas + 107,7 M x 47,7 M namun pemancangan tiang pertamanya baru dilaksanakan pada zaman Pemerintahan Jepang pada tahun 1943 dengan bangunan berukuran 25 x 25 M pondasi tanah, tiang kayu dan besi, dinding papan kapur, atap tingkat pertama genteng dan tingkat kedua atap sirap, kubah serta mirhab beratap seng.

    Masjid Agung Sebagai Pusat Penyiaran Agama Islam Karena lokasinya berdampingan dengan madrasah Al-Hidayatul Islamiyah yang di dirikan oleh KH. M. Daud Arif pada tahun yang hampir bersamaan dan pengelolaannya pun orang yang sama. Maka masjid ini merupakan pusat penyiaran agama Islam di Kuala Tungkal antara lain, Mengadakan pengajian Ilmu-ilmu agama, Tauhid, Fiqh, Tasauf, tafsir, dan Hadits serta Qira’atul Qur’an secara terjadwal.

    Mengadakan ceramah-ceramah agama ketempat-tempat lain, rumah-rumah penduduk dan lainnya. Selain itu juga masjid ini juga Sebagai Markas Pejuang Kemerdekaan.Masjid Agung juga difungsikan sebagai markas kegiatan gerakan Kemerdekan RI membentuk barisan Hisbullah dan Selempang Merah untuk Pemuda dan mengelorakan kemerdekaan bangsa.

    Sehingga di kalangan jama’ahnya banyak yang menjadi pemimpin dan anggota Barisan Selempang Merah dan banyak yang gugur dalam perang kemerdekaan RI. Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkaldalamsejarahperkembangannya sudah mengalami renovasi atau perbaikan fisik bangunan di berbagai bagiannya yaitu mulai serambi, tempat wudhu, toilet, kantor, ruang perpustakaan, ruang rapat dan ruangan kantor MUI, kantor petugas dan pagar.

    Renovasi serambi kanan dan serambi kiri Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal tersebut diselesaikan atau dibangun pada tahun 2002 M, dengan dana dari swadaya dan APBD Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar Rp. 497.071.000,- (empat ratus sembilan puluh tujuh juta tujuh puluh satu ribu rupiah) termasuk renovasi tempat wudhu dan toilet.

    Sampai sekarang Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal terdiri dari ruang tempat shalat bagian dalam dan luar, serambi kanan, serambi kiri, dan serambi depan, serta bangunan penunjang lainnya. Selain itu terdapat style Arab pada beberapa kaligrafi dan mihrob yang berbentuk lengkung. Seperti halnya masjid-masjid tua yang lain Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal tidak terlepas dengan keberadaan menara. Sampai sekarang Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal memiliki satu menara yang digunakan sebagai tempat untuk tempat pengeras suara dan pemancar Radio.

    Masjid Agung Al-Istiqamah ini juga memiliki atap yang berbentuk Kubah (berbentuk lengkung setengah bulat). Di samping kanan Masjid Agung Al-Istiqamah juga terdapat lembaga pendidikan MI/SD, MTs dan Aliyah yang kesemuanya dalam naungan Yayasan PHI. Untuk masuk kedalam Masjid Agung Al-Istiqamah Kuala Tungkal ada enam buah pintu utama, yaitu berada di depan dua buah pintu, di samping kanan ada dua buah pintu dan di samping kiri juga ada dua buah pintu. Pintupintu tersebut terbuat dari kayu Jati dan terukir dengan indah.

    Masjid tersebut juga memiliki empat tiang utama masjid yang ukurannya cukup besar-besar dan 12 tiang utama serambi masjid. Sementara untuk kelantai dua harus melalui dua buah tangga yang berada disebelah kiri dan kanan dalam teras masjid. Dalam keseharian masjid ini. Di gunakan. Sembahyang jamaah, dan pada bulan ramadhan ini. Setiap waktu Terutama waktu dzhuhur. Dan A’shar, ada sekitar 450 jamaah yang bersembahyang di masjid tersebut. ” Kalau waktu Zhuhur, biasanya ada 450 jamaah di sini , 300 murid PHI dan lainya dari jamaah umum, papar. Ahmad Yani (50) kaum masjid ini.

    Dikatakannya pada bula puasa ini Msjid Agung setiap pagi menggelar kegiatan pengajian, tafsir al Jalalain, yang di ada hingga menjelang zhuhur. “Dulu kegiatannya sore, karena pesertanya banyak yang ngantuk makanya di ganti pagi,papar lelaki yang sudah dua belas tahun menekuni profesi ini.

    Selain itu pada bulan Ramadhan ini masjid ini pada sore hari juga mengadakan kegiatan buka puasa bersama , dan biasanya kegiatan ini di mulai dengan kultum dan ceramah. Selain. Shalat tarawih pada malam harinya juga selalu di gelar, biasanya bacaan surat pada tarawih setiap malam menghabiskan bacaan stu juz , alqur’an .
    Dulu bacaan shalat tarawih selalu khatam satu jus setiap malam, tapi karena imamnya sudah uzhur, sekarang tidak di lakukan lagi karena belum ada pengganti yang berani tampil

    Masjid Al Falah Empelu Masjid tertua di Bungo

    Masjid menandakan adanya ajaran Islam di tempat itu. Di Kabupaten Bungo, perkembangan Islam terlihat dari keberadaan Masjid Al Falah, yang didirikan sejak 1812. Bagaimana sejarahnya?

    Masjid Al Falah terletak di Dusun Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo. Masjid kuno dengan bangunan bergaya melayu itu dibangun pada 1812. Pengerjaan masjid tersebut dikerjakan secara bertahap. Sehingga akhirnya bentuk bangunan itu cukup megah, seperti sekarang.

    Beberapa tokoh masyarakat setempat mengatakan, Dusun Empelu pernah dipimpin oleh seorang Rio Agung Niat Tuanku Kitab. Rio Agung Niat Tuanku Kitab disebut-sebut merupakan Rio pertama di wilayah itu. Rio Agung mengajak masyarakat Desa Empelu untuk bergotong royong mengambil kayu di hutan, untuk membangun sebuah rumah ibadah yang pada saat itu disebut pertama kali sebagai Surau Al Falah.

    Pendirian awal Masjid Al Falah dikerjakan oleh Rio Agung bersama masyarakat, atas titah Pangeran Anom. Saat didirikan, bentuk bangunan Masjid Al Falah masih berbentuk rumah panggung yang terdiri dari beberapa tiang. “Dahulunya, masjid tersebut beratap daun rumbia, dengan dinding dari kayu, lantai dari bilah (buluh, red), bentuknya seperti biasa menyerupai rumah adat Bungo. Nama masjid masih disebut sebagai rumah surau, kata orang dulu. Bentuknya pun sangat sederhana, jauh dari bentuk saat ini,” ujar seorang pengurus Masjid Al Falah, Rifai, saat disambangi Jambi Independent di rumahnya, usai shalat Zuhur, Minggu (11/4).

    Alat yang digunakan juga cukup sederhana. Penggunaan masjid tersebut juga untuk kepentingan kemasyarakatan dan pemerintahan. Pada 1827, Surau Al Falah direhab menjadi bangunan berbatu dengan tembok dari semen. Pengerjaan bangunan dikerjakan oleh Abu Kasim dari Pulau Jawa dan telah lama tinggal di Malaysia.

    Saat itu, Surau Al Falah diubah namanya menjadi Masjid Al Falah oleh Pangeran Anom dibawah pimpinan Raja Demak dari, Pulau Jawa. Pada 1837, bangunan masjid kembali direhab. Proses pengerjaan rehab bangunan masjid, dikerjakan oleh seorang pekerja dari Bukit tinggi bernama Mangali.

    Saat itu bangunan mulai tampak indah, dengan keindahan seni arsitektur bangunan serta interior yang cukup menarik. Selain itu, terkandung pula simbol-simbol atau makna-makna yang cukup luas dari bentuk fisik bangunan. “Ada makna dari masjid itu, dari tangga yang ada di sekitar masjid, bila dihitung jumlahnya 17. Itu menandakan bahwa shalat lima waktu ada tujuh belas rakaat,” ujar Rifai.

    Pada 1850, kembali dilakukan pemugaran, memperbarui dua menara rendah. Menara itu terletak di sudut depan masjid, seperti saat ini. Pada saat itu, Desa Empelu dipimpin oleh Rio Abdul Kadir. Pada masa kepemimpinannya, penyelesaian pembangunan Masjid Al Falah Desa Empelu dikatakan rampung.

    Pada 1856, dilakukan atap masjid ditukar menjadi seng. Pada 1867, dilakukan kembali pengerjaan masjid dengan menukar tiang menara tinggi sebanyak 8 batang yang merupakan tiang dasar kaki menara. Bahan tiang yang awalnya dari kulim, diganti dengan tiang dari kayu bulim. Kayu tersebut menurut cerita tokoh masyarakat setempat, diperoleh dan diambil secara bergotong royong oleh masyarakat Desa Empelu dari daerah Bukit Bulim (daerah Bukit Kemang).

    Masjid Ikhsaniyyah (Masjid Tertua di Kota Jambi)

    COLLECTIE TROPENMUSEUM Moskee Djambi TMnr 10016663.jpg
    Masjid Ikhsaniyyah

    Masjid Ikhsaniyyah
    LetakJambiJambiIndonesia
    Afiliasi agamaIslam
    Deskripsi arsitektur
    Jenis arsitekturMasjid
    Spesifikasi
    Masjid Ikhsaniyyah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Batu adalah masjid tertua di kota Jambi, provinsiJambi. Masjid ini terletak di seberang pusat Kota Jambi yang dibelah sungai Batanghari, tepatnya di kawasan Olak Kemang, kecamatan Danau Teluk, Jambi.

    Sejarah

    Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh seorang habib bernama Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo.
    Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi waktu itu yang sudah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

    Ciri khas

    Bangunan dalam masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada di bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari masjid ini adalah banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi masjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.

    Tradisi Sumpah

    Sekitar tahun 60-an, masjid Ikhsaniyyah merupakan tempat orang menyelesaikan sengketa. Jika ada orang berselisih perihal kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa perkara itu ke masjid dan mengambil sumpah dengan disaksikan para pendudk dan pemuka agama.
    Menurut Habib Salim, seorang pengurus masjid, masjid ini diyakini memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah palsu di dalamnya, maka dia akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Masjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani mengambil risiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.
    Namun sayang, tradisi itu sudah hilang sama sekali. Tak ada lagi orang yang menjadikan masjid itu sebagai sarana mempertemukan kebenaran dan mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yang mengetahui kisah tersebut.

    Dipugar Belanda

    Pada tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadad Daarain, Pesantren Jauharain, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
    Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui masjid. Disepakati dana pembangunan masjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar masjid. Saat itu tahun menunjukkan angka 1935.
    Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. para tokoh masyarakat meminta izin kepada Belanda. lalu masuklah permohonan pemugaran masjid ke pemerintah Belanda yang ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya masjid.
    Tahulah Belanda bahwa Masjid Batu tersebut merupakan peninggalan Sayyid Idrus yang merupakan salah seorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Karena menganggap bahwa masjid tersebut bernilai sejarah sebagai masjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial mengambil alih pembangunan masjid. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar mengelilingi masjid.[1]

    Masjid Seribu Tiang (Mesjid Agung Al Falah Jambi)



    Masjid Agung Al-Falah
    Masjid Agung Al-Falah Masjid Seribu Tiang.jpg
    LetakJambiJambiIndonesia
    Afiliasi agamaIslam
    Deskripsi arsitektur
    Jenis arsitekturMasjid
    Pembukaan tanah1971
    Tahun selesai1980
    Spesifikasi
    Masjid Agung Al-Falah merupakan masjid terbesar di JambiIndonesia. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang, meskipun jumlah tiangnya hanya 256 buah.[1] Masjid ini dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980. Bangunan masjid ini memang hanya seperti sebuah pendopo terbuka dengan banyak tiang penyangga dan satu kubah besar di atasnya. Bentuk bangunan dengan konsep keterbukaan tanpa sekat seperti ini menghasilkan konsep ramah.

    Sejarah Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi

    Mihrab dan dinding depan Masjid Al-Falah Kota Jambi
    Tanah lokasi di mana Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan dan benteng Belanda. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan sejarawan Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini berdiri di lahan bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin.
    Pada tahun 1858, Saat terpilih menjadi sultan di kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan mendiang ayahandanya, karena perjanjian tersebut sangat merugikan kesultanan Jambi. Saat itu, Balanda sangat marah dan mengancam akan menyerang Istana.
    Namun Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe. Pasukan Belanda melakukan serangan balasan dan membumi hanguskan komplek Istana Tanah Pilih. Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat pemerintahan Keresidenan. Di era kemerdekaan sampai tahun 1970an lokasi tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi.
    Pada awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971. Para alim ulama dan tokoh tokoh Jambi diantaranya M.O. Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah, dan gubernur saat itu (Tambunan atau Nur Admadibrata ) Sepakat untuk membangun masjid agung di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI. Salah satu alasan kenapa masjid yang dibangun di lokasi bersejarah tersebut adalah mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid. Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya oleh presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980.
    Masjid kebanggaan warga Jambi ini berdiri diatas lahan seluas lebih dari 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, dan mampu menampung 10 ribu jamaah sekaligus. Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Kalaupun ada renovasi hanya penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid. dan mengganti pembungkus tiang pada tahun 2008.

    Arsitektural Masjid Agung Al-Falah

    Interior Masjid Al-Falah Kota Jambi
    Masjid agung Al-Falah kota Jambi dibangun lengkap dengan kubah besar dan menara yang menjulang. Keseluruhan bangunan masjid menggunakan material beton bertulang. Bila dipandang sepintas lalu, jejeran tiang tiang masjid berwarna putih yang ramping di masjid ini memiliki kemiripan dengan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yang dibangun jauh lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.
    Jejeran ratusan tiang di masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama merupakan tiang tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang kedua berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid. penggunaan material tembaga untuk menutup tiang tiang silinder ini memberikan kesan antik namun megah pada interior masjid Al-Falah.
    Di rancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan, mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.
    Sementara bagian dalam kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring besar di bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an bewarna emas. Sebuah lampu gantung berukuran sangat besar berbahan tembaga memperindah tampilan ruang di bawah kubah.
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger