Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label Unik Jambi. Show all posts
    Showing posts with label Unik Jambi. Show all posts

    Pasar Angso duo Pasar Tertua di Provinsi Jambi


    Pasar Angso duo adalah pasar tradisional terbesar di provinsi Jambi. Di pasar ini terdapat aneka ragam barang dagangan mulai dari sayu-mayur, lauk-pauk, pakaian, perabot rumah tangga dan masih banyak lagi. Pasar tradisional ini telah menjadi sandaran hidup lebih dari 5.000 pedagang dan punya sejarah Panjang sebagai pasar yang berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain (Nomaden).



    Belakang Mall WTC Batanghari

    Dahulu kala pada awal abad ke-18, kawasan muara jambi berada di Dermaga Bom Batu. kini kawasan tersebut telah berubah menjadi Mall WTC Batanghari, dahulu di lokasi ini ada sebuah pasar tradisional kecil. orang menyebutnya Pasar Tanah Pilih. Pasar ini lah yang menjadi cikal bakal Pasar Angso duo walaupun letaknya tidak sama dengan yang sekarang berdiri. Tokoh masyarkat Jambi mengatakan pada zaman penjajahan Jepang pasar tersebut hancur. Akhirnya pasar pun pindah sekitar 500 meter ke arah tenggara, masyarakat Jambi menyebut lokasi pasar yang baru ini dengan sebutan Gang Siku.


    Pasar yang baru tersebut di bangun sangat sederhana, hanya berupa deretan meja-meja dari batu. masyarakat jambi pada saat ini menyebutnya Pasar Meja Batu. Di pasar yang baru ini, tidak hanya terhampar ikan, daging dan sayur-mayur yang dijual di atas meja batu, melainkan juga sebagai tempat orang-orang duduk mengobrol, bersantai sambil minum kopi sembari menikmati pemandangan sungai batanghari. Pada masa itu barang-barang impor dari singapura sudah banyak masuk ke Jambi berupa pakaian, kasur dan perlengkapan rumah tangga. Semua barang di kirim dari Muara menuju sungai Batanghari menggunakan Kapal. Dilokasi Pasar Angso Duo yang kini berdiri, dulunya hanyalah tempat kapal bersandar dan menurunkan barang-barang dagangan, dari situ barang-barang di angkut para kuli menuju Pasar Meja batu. Dalam perkembangannya, Pasar Meja Batu semakin ramai oleh pedagang dengan berbagai jenis barang dagangannya, gang siku menjadi sesak sepanjang jalan itu becek dan tidak nyaman lagi bagi para pembeli.


    Pada tahun 1970, sedimentasi sungai kian parah. Pemerintah daerah pun melakukan pengerukan. Tanah dan pasir hasil pengerukan di gunakan untuk menimbun di sekitar sungai sehingga terbentuklah daratan baru. Pada daratan itulah pemerintah akhirnya memindahkan kembali pusat pasar tradisional dariPasar Meja Batu. Pasar yang baru ini bernama Pasar Angso Duo resmi berdiri pada Tahun 1974, tepat di tepi sungai Batanghari. Pasar ini di bangun atas reklamasi sungai. Seiring dengan waktu Pasar Meja Batu berubah menjadi pertokoan dan disepanjang jalan penuh dengan pedagang kaki lima.

    Pasar Angso Duo Tempo Dulu





    Pasar Angso Duo Becek





    Seperti pada umumnya pasar-pasar tradisional, keberadaan Pasar Angso Duo belakangan ini mulai menimbulkan masalah. Pasar menjadi sangat kumuh, bukan lagi becek tetapi banjir ketika musim penghujan tiba. Air limpahan dari sungai Batanghari kerap naik dan merendam ke bagian belakang Pasar. Akibatnya, pasar tidak lagi nyaman bagi para pembeli. Pedagang-pedagang yang menggelar lapak di belakang pasar mulai meninggalkan lapaknya, mereka pindah ke depan pasar dan mulai menggelar dagangannya di bagian luar, memakan sebagian badan jalan umum. Pada pagi hari, jalan raya menjadi macet karena aktivitas jual-beli memenuhi sebagian jalan ditambah lagi mobil-mobil angkutan kota kerap berkerumun menunggu calon penumpang di badan jalan. Akhirnya terciptalah kesan sembrautnya Pasar Angso Duo.

    Kesembrautan Pasar Angso Duo saat ini




    Kini setelah kurang lebih 35 tahun, muncul kembali wacana memindahkanPasar Angso Duo ini ke tempat lain. Rencana lokasi baru yang dipilih hanya berjarak kurang lebih 100 meter lokasi yang lama. Lokasi ini juga berada di tepi sungai Batanghari, tetapi posisinya agak lebih tinggi daripada sungai itu. Rencana pemerintah kota Jambi akan menjadikan pasar ini menjadi pasar yang semimodern, Pasar ini tidak hanya akan menampung pedagang dalam kios dan lapak tetapi juga akan menyediakan ruko dan ruang-ruang pameran, serta tempat parkir yang lebih luas. Sedangkan Eks Pasar Angso Duonantinya akan dijadikan ruang hijau atau taman kota, untuk memberi kenyamanan bagi masyarakat Jambi.











    Keberadaan Bunker Jepang di dekat Badar Udara Sultan thaha Jambi


    Bunker adalah sejenis bangunan pertahanan militer yang biasanya di bangun didalam tanah. Tidak banyak orang yang mengetahui keberadaan Bunker Jepang yang dibangun di zaman pendudukan Jepang, yang berada di Kota Jambi. Bangunan yang terbuat dari Beton ini berukuran 4 X 4 meter yang berada di dalam kawasan Bandara Sultan Thaha Jambi.

    Letaknya yang berada persis di pinggir landasan pacu pesawat, tidak memungkinkan bagi warga masyarakat leluasa untuk bisa masuk dan mengunjungi peninggalan sejarah yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.
    Gbr. Bunker Jepang di Landasan Pacu Bandara Sultan Thaha, Kota Jambi.

    Bangunan yang berbentuk semi lingkaran tersebut masih terlihat kokoh meski sudah berusia puluhan tahun. sebuah gembok besar terlihat menggantung di pintu setinggi kurang lebih 1,5 meter yang terbuat dari baja. Jendela berbentuk persegi panjang seukuran sekitar setengah meter terlihat diberbagai sisi bangunan itu. Jendela atau lebih pas disebut lubang di tembok beton ini sepertinya merupakan tempat Serdadu Negeri Matahari Terbit (Jepang) meletakkan moncong senapannya.
    Gbr. Meja Besar di dalam Bunker Jepang.





    Gbr. Terowongan di dalam Bunker Jepang.


    Jika kita melongok lebih kedalam Bunker Jepang ini, akan terlihat ada sebuah meja besar yang terbuat dari beton yang berada di tengah ruangan berukuran sekitar 3 - 4 meter itu. Di dalam Bunker ini juga terdapat sebuah terowongan yang menghubungkan dengan Bunker lainnya yang terletak di kawasan Taman Rimba atau Kebun Binatang Kota Jambi .

    Gunung kerinci, Gunung berapi tertinggi di Indonesia


    Gunung Kerinci (juga dieja "Kerintji", dikenal sebagai Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatera, gunung berapi tertinggi di Indonesia, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe Statovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009. Gunung Kerinci terletak di Jambi dan Sumatera Barat, di pegunungan bukit barisan, dekat pantai barat dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang.





    Identitas Gunung Kerinci :

    Nama : Gunung Kerinci
    Jenis : Stratovolcano
    Bentuk : Kerucut
    Ketinggian : 3.805 m dpl
    Panjang : 25 km (16 mil)
    Lebar : 13 km (8 mil)
    Status : Aktif. Tipe A
    Letusan Terakhir : Tahun 2009
    Tipe Letusan : Tipe Hawaii
    Tipe Erupsi : Erupsi Eksplosif
    Busur / Sabuk Vulkanik : Cincin Api Pasifik
    Pertama didaki : Von Hasselt and Veth pada Tahun 1877
    Rute Termudah : Kersik Tuo



    Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatra. Gunung Kerinci ini dapat ditempuh melalui darat dari Jambi menuju Sungai Penuh melalui Bangko. Dapat juga ditempuh dari Padang, Lubuk Linggau dan Bengkulu, dengan pesawat terbang dapat mendarat di Jambi atau Padang.
    Keindahan panorama yang natural dengan kekayaan flora dan fauna dapat ditemui mulai dari dataran rendah hingga puncak Gunung Kerinci, tidak hanya untuk dinikmati tetapi sangat baik sebagai tempat penelitian dan pendidikan. Puncak Gunung Kerinci berada pada ketinggian 3.805 m dpl, disini pengunjung dapat melihat di kejauhan membentang pemandangan indah Kota Jambi, Kota Padang dan Bengkulu, bahkan Samudera Hindia yang luas dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memilikiu kawah seluas 400 X 120 meter dan berisi air yang berwarna hijau. Disebelah timur terdapat danau Bento, rawa berair jernih tertinggi di Sumatera. Dibelakang terdapat Gunung Tujuh dengan kawah yang sangat indah yang hampir tak tersentuh.




    Kondisi Topografi
    Gunung Kerinci berbentuk kerucut dengan lebar 13 km (8 mil) dan panjang 25 km (16 mil), memanjang dari utara ke selatan. Pada puncaknya di sisi timur laut terdapat kawah sedalam 600 meter (1.969 kaki) berisi air berwarna hijau. Hingga sekarang, kawah yang berukuran 400 X 120 meter ini masih berstatus aktif. Gunung Kerinci termasuk dalam bagian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). TNKS adalah sebuah wilayah konservasi yang memiliki luas 1.484.650 hektar dan terletak di wilayah empat Provinsi, yang mana sebagian besarnya berada di wilayah Provinsi Jambi. TNKS sendiri merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari utara ke selatan pulau Sumatera. Gunung Kerinci merupakan gunung tipa A aktif yang berada sekitar 130 km arah selatan Kota Padang.

    Flora dan Fauna
    Tumbuhan dataran rendah di dominasi oleh beberapa jenis mahoni, terdapat juga tumbuhan raksasa Bunga Rafflesia, Rafflesia Arnoldi dan Suweg Raksasa Amorphophallus Titanum, Serta pohon cemara juga banyak tumbuh di Gunung Kerinci. Dengan Taman Nasional Leuser, taman ini terhalang oleh danau toba dan ngarai sihanok sehingga beberapa binatang yang tidak terdapat di Taman Leuser ada disini seperti Tapir (Tapirus Indicus) dan Kuskus ( Tarsius Bancanus). Di Gunung Kerinci banyak terdapat binatang khas Sumatera seperti : gajah, badak sumatera, harimau sumatera , beruang madu, macan tutul, kecuali orang utan. Berbagai primata seperti : siamang, gibbon, monyet ekor panjang dan presbytis melaphopos. Selain itu di Gunung Kerinci juga terdapat kurang lebih 140 jenis burung.

    Air Terjun menangis Rantau Pandan Muara Bungo Jambi


    Kabupaten Bungo memiliki beberapa objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Air Terjun Tegan Kiri. Air terjun ini memiliki ketinggian 10 meter dengan panorama alam yang sangat indah dan masih asri. Air terjun ini bersumber dari perbukitan dengan ketinggian 26 meter. Air Terjun Tegan Kiri tepatnya berada di Dusun Rantau Pandan, Kecamatan Rantau Pandan. Air terjun yang kini telah menjadi sumber air bagi warga rantau pandan, ternyata memiliki cerita mistis yang beredar di kalangan masyarakat sekitar.





    Untuk menuju ke lokasi Air Terjun Tegan Kiri, kita harus menempuh perjalanan darat dengan jarak kurang lebih 30 km dari Ibukota Kabupaten Bungo, Muaro Bungo - Jambi. Pengunjung bisa menggunakan sepeda motor maupun mobil karena infrastruktur jalan menuju kesana sudah ada walaupun tidak begitu bagus, sebab aspal dibadan jalan telah banyak yang terkelupas. Untuk dapat masuk kedalam kawasan objek wisata ini terlihat palang portal penutup dan penjaga / petugas tiket masuk. Pengunjung harus membayar tiket masuk Rp.10.000/orang, lalu setelah sampai didalam, bagi yang membawa kendaraan akan diminta untuk membayar uang parkir kendaraan sebesar Rp.5.000.


    Sesampainya dilokasi, Pengunjung kembali harus menuruni tangga beton terlebih dahulu untuk mencapai titik Air Terjun Tegan Kiri ini. Namun, para pengunjung tidak akan kecewa ketika sudah sampai di air terjun, semua rasa lelah hilang sudah ketika melihat indahnya pemandangan alam disekitar air terjun.





    Air Terjun Tegan Kiri ini pertama kali ditemukan oleh Orang Kubu atau Suku Anak Dalam (SAD), mereka lantas memberitahunnya kepada penduduk dusun. Keturunan dari mereka yang menemukan air terjun ini lah yang kini menjaganya. Mereka terdiri dari 2 (dua) keluarga, yakni keluarga penjaga pintu masuk dan penjaga parkir.


    Suara tangisan yang terdengar di gemerciknya air terjun seperti tangisan seorang wanita muda (gadis), biasanya akan terdengar di saat hujan turun disertai panasnya matahari. Kendati masyarakat sekitar sering mendengar suara gadis menangis, tetapi tidak pernah diganggu oleh apapun termasuk dari sumber suara tersebut.


    Menurut masyarakat sekitar, dulunya di lokasi air terjun ini pernah tumbuh bunga bangkai. Pernah kejadian ada 2 orang anak gadis yang meninggal misterius saat memegang bunga bangkai tersebut, makanya setelah kejadian itu kawasan Air Terjun Tegan Kiri ini sering terdengar suara tangisan. Sehingga masyarakat sekitarnya berkesimpulan suara tangisan pada air terjun ini adalah suara tangisan arwah gadis tersebut.

    Kota Tua Kuala Tungkal Tanjabbar Jambi

    Sebelum abad ke-17 ditanah Tungkal ini sudah berpenghuni seperti Merlung, Tanjung Paku, Suban yang sudah dipimpin oleh seorang Demong. Jauh sebelum datangnya rombongan 199 orang dari Pariang Padang Panjang yang dipimpin oleh Datuk Andiko dan sebelum masuknya utusan Raja Johor.

    Kemudian memasuki abad ke-17 ketika itu daerah ini masih disebut Tungkal saja, daerah ini dikuasai atau dibawah Pemerintahan Raja Johor. Dimana yang menjadi Wakil Raja Johor didaerah ini pada waktu itu adalah Orang Kayo Depati. Setelah lama memerintah Orang Kayo Depati pulang ke Johor dan beliau digantikan oleh Orang Kayo Ario Santiko yang berkedudukan di Tanjung Agung (Lubuk Petai) dan Datuk Bandar Dayah yang berkedudukan di Batu Ampar, daerahnya meliputi Tanjung Rengas sampai kehilir Kuala Tungkal atau Tungkal Ilir sekarang.

    Memasuki abad ke-18 atau sekitar tahun 1841-1855 Tungkal dikuasai dan dibawah Pemerintahan Sultan Jambi yaitu Sultan Abdul Rahman Nasaruddin. Pada saat itu Kesultanan Jambi mengirim seorang Pangeran yang bernamaPangeran Badik Uzaman ke Tungkal yaitu Tungkal Ulu sekarang, kedatangannya disambut baik oleh Orang Kayo Ario Santiko dan Datuk Bandar Dayah.

    Setelah terbukanya Kota Kuala Tungkal maka semakin banyak orang mulai datang, sekitar tahun 1902 dari Suku Banjar yang bermigrasi dari Pulau Kalimantan melalui Malaysia. Mereka ini berjumlah 16 orang antara lain : H. Abdul Rasyid, Hasan, Si Tamin gelar Pak Awang, Pak Jenang, Belacan gelar Kucir, Buaji dan kemudian mereka ini berdatangan lagi dengan jumlah agak besar yaitu 56 orang yang dipimpin oleh Haji Anuari dan Iparnya Haji Baharuddin, rombongan 56 ini banyak menetap di Bram Itam Kanan dan Bram Itam Kiri. Selanjutnya datang lagi dari suku Bugis, Jawa, Suku Donok atau Suku Laut yang banyak hidup di pantai/laut, dan Cina serta India yang datang untuk berdagang.

    Pada tahun 1901 Kerajaan Jambi takluk keseluruhannya kepada Pemerintah Belanda termasuk Tanah Tungkal khususnya di Tungkal Ulu yang Konteleir Jenderalnya berkedudukan di Pematang Pauh. Sehingga pecah lah peperangan antara masyarakat Tungkal Ulu dan Merlung dengan Belanda. Karena mendapat serangan yang cukup berat akhirnya Pemerintah Belanda mengundurkan diri dan hengkang dari wilayah itu. Peperangan itu dipimpin oleh Raden Usman anak dari Badik Uzaman, Raden Usman kemudian wafat dan dimakamkan di Pelabuhan Dagang.

    Selanjutnya muncullah Pemerintahan Kerajaan Lubuk Petai yang dipimpin oleh Orang Kayo Usman dan Lubuk Petai kemudian membentuk pemerintahan baru. Pada waktu itu dibentuklah oleh H. Muhammad Dahlan Orang Kayo yang pertama dalam penyusunan pemerintahan yang baru.

    Orang Kayo pertama ini waktu masih diintip dan diserang oleh rombongan dari Jambi. Beliau diserang dan ditembak di rumahnya lalu patah. Maka bernamalah Pemerintahan itu dengan Pemerintahan Pesirah Patah sampai zaman kemerdekaan. 

    Dusun - dusun pada Pemerintahan Pesirah Patah dan asal mula namanya yaitu :
    • Dusun Lubuk Kambing tadinya berasal dari Benaluh dan Lingkis.
    • Dusun Sungai Rotan tadinya berasal dari dusun Timong Dalam.
    • Dusun Rantau Benar tadinya berasal dari Riak Runai dan Air Talun.
    • Dusun Pulau Pauh tadinya berasal dari Kampung Jelmu Pulau Embacang.
    • Dusun Penyambungan dan Lubuk Terap berasal dari Suku Teberau.
    • Dusun Merlung tadinya berasal dari Suku Pulau Ringan.
    • Dusun Tanjung Paku tadinya berasal dari Tangga Larik.
    • Dusun Rantau Badak tadinya berasal dari Dusun Lubuk Lalang dan Tanjung Kemang.
    • Dusun Mudo tadinya Talang Tungkal dan Lubuk Petai
    • Dusun Kuala Dasal yang pada waktu itu belum lahir adalah Dusun Pecang Belango.
    • Dusun Tanjung Tayas tadinya berasal dari Bumbung.
    • Dusun Pematang Pauh.
    • Dusun Batu Ampar yang sekarang menjadi Pelabuhan Dagang.
    • Dusun Taman Raja tadinya bernama Pekan atau Pasar dari Kerajaan Lubuk Petai.
    • Dusun Suban tadinya berasal dari Suban Dalam.
    • Dusun Lubuk Bernai tadinya Tanjung Getting dan Lubuk Lawas.
    • Dusun Kampung Baru.
    • Dusun Tanjung Bojo.
    • Dusun Kebun.
    • Dusun Tebing Tinggi.
    • Dusun Teluk Ketapang.
    • Dusun Senyerang.
    Marga Tungkal Ulu, terdiri dari :
    • Pasirah MT. Pahruddin
    • Pasirah Daeng Ahmad anak dari H. Dahlan (1953-1959)
    • Pasirah Zikwan Tayeb (1959-1967)
    • 1969 masa transisi perubahan marga
    • Syafei Manturidi (1969-1973)
    • Adnan Makruf (1974-1982)
    Marga Tungkal Ilir, terdiri dari :
    • Raden Syamsuddin (Pemaraf)
    • M. Jamin
    • Pasirah H. Berahim
    • Pasirah Ahmad
    • Pasirah Asmuni
    • Pasirah H.M. Taher
    Seiring bergulirnya perkembangn zaman berdasarkan keputusan Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk Pulau Sumatera di Kota Bukit Tinggi (Sumbar) pada tahun 1946 tanggal 15 April 1946, maka Pulau Sumatera dibagi menjadi 3(tiga) Provinsi, yaitu : Provinsi Sumatera Tengah, Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Sumatera Selatan. Pada waktu itu daerah Karesidenan Jambi terdiri dari Batanghari dan Sarolangun Bangko, tergabung dalam Provinsi Sumatera Tengah yang dikukuhkan dengan undang - undang darurat Nomor 19 Tahun 1957, kemudian dengan terbitnya undang - undang Nomor 61 Tahun 1958 pada tanggal 6 Januari 1958 Karesidenan Jambi menjadi Provinsi Tingkat I Jambi yang terdiri dari : Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sarolangun Bangko dan Kabupaten Kerinci.

    Pada tahun 1965 wilayah Kabupaten Batanghari dipecah menjadi 2(dua) bagian yaitu : Kabupaten Dati II Batanghari dengan Ibukotanya Kenali Asam, Kabupaten Dati II Tanjung Jabung dengan Ibukotanya Kuala Tungkal. Kabupaten Dati II Tanjung Jabung diresmikan menjadi daerah Kabupaten pada tanggal 10 Agustus 1965 yang dikukuhkan dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1965 (Lembaran Negara No.50 Tahun 1965), yang terdiri dari Kecamatan Tungkal Ulu, Kecamatan Tungkal Ilir dan Kecamatan Muara sabak.

    Setelah memasuki usianya yang ke-34 dan seiring dengan bergulirnya era Desentralisasi Daerah, dimana daerah diberi wewenang dan kekuasaan untuk mengurus rumah tangganya sendiri, Maka Kabupaten Tanjung Jabung sesuai dengan Undang - undang Nomor 54 tanggal 4 Oktober 1999 tentang pemekaran wilayah Kabupaten dalam Provinsi Jambi telah memekarkan diri menjadi wilayah yaitu :

    1. Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebagai Kabupaten Induk dengan Ibukota Kuala Tungkal.

    2.Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebagai Kabupaten hasil pemekaran dengan Ibukota Pangkalan Bulian.

    Sumber : Lembaga Adat Tanjab Barat

    Sungai Batanghari Jambi Sungai Terpanjang di Pulau Sumatera




    Sungai terpanjang di pulau Sumatera adalah Sungai Batanghari, sungai ini juga merupakan sungai terpanjang ke empat di Indonesia, dengan panjang kurang lebih 800 km dan lebar sungai antara 200-600 meter. Sungai Batanghari berasal dari kata "Batang" yang artinya Sungai dan "Hari", sehingga penyebutannya menjadi Sungai Hari. Namun, kebiasaan masyarakat lokal menyebut Sungai Hari tersebut dengan sebutan "Sungai Batanghari" dan berlaku sampai saat ini.



    Gbr. Sungai Batanghari dari udara


    Bagian terpanjang Sungai Batanghari dan muaranya memang terletak di Provinsi Jambi, sebagian kecil bagian hulunya di Provinsi Sumatera Barat. Sungai Batanghari merupakan aliran sungai yang mulai dari hulu sampai ke muaranya banyak menyimpan catatan sejarah, terutama yang berkaitan dengan peradaban Melayu. Catatan sejarah juga mencatat bahwa pada Sungai Batanghari ini lah pernah muncul suatu Kerajaan Melayu yang cukup disegani, yang kekuasaannya meliputi Pulau Sumatera sampai ke Semenanjung Malaya. Dan juga dahulunya sejak abad ke -7 sehiliran Sungai Batanghari ini sudah menjadi titik perdagangan penting bagi beberapa kerajaan yang pernah muncul di Pulau Sumatera seperti Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Dharmasraya.


    Mata air Sungai Batanghari berasal dari Gunung Rasan (2.585 m) dan yang menjadi hulu dari Sungai Batanghari ini adalah sampai kepada Danau Diatas, yang sekarang masuk kepada wilayah Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat dan mengalir ke selatan sampai ke daerah Sungai Pagu, sebelum berbelok ke arah timur. Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah yang ada di Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi, seperti : Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo,Kabupaten Batanghari, Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebelum lepas ke perairan timur Sumatera dekat Muara Sabak.



    Gbr. Transportasi Ketek di Sungai Batanghari


    Sungai Batanghari memiliki banyak sungai lain yang bermuara padanya diantaranya adalah : Sungai Batang Sangir, Sungai Batang Merangin, Sungai Batang Tebo, Sungai Batang Tembesi dan lain sebagainya. Sistem aliran sungai ini membawa banyak deposit emas, sehingga muncul nama legendaris"Swarnadwipa" (Pulau Emas) sebagai julukan dalam bahasa Sanskerta bagi Pulau Sumatera. Sama seperti sungai-sungai besar lainnya di Indonesia, Sungai Batanghari banyak dimamfaatkan untuk kebutuhan air sehari-hari, pengairan, transportasi air dan perikanan.


    Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) kurang lebih 4,9 juta hektar. Sekitar 76% DAS Batanghari berada pada Provinsi Jambi dan sisanya berada pada Provinsi Sumatera Barat.



    Gbr. Kegiatan Pertambangan Emas

    Adanya aktifitas pertambangan dan kegiatan pengusahaan (eksploitasi) hutan yang dilakukan secara mekanis sepanjang aliran sungai, telah berdampak terhadap berubahnya alur sungai, erosi di tepian sungai, pendangkalan atau sedimentasi yang tinggi di sepanjang aliran DAS Batanghari terutama sebelah hilir. Perubahan alur dan arah arus Sungai Batanghari ini mengakibatkan air sungai dengan cepat naik pada saat musim hujan datang, dan sebaliknya cepat surut saat musim kemarau. Hal ini juga diperburuk dengan meningkatnya populasi penduduk terutama pada daerah transmigrasi sedikit banyaknya akan membebani wilayah DAS Batanghari itu sendiri.


    Sebagian areal DAS Batanghari berada di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yaitu mencakup 234.000 hektar, dan di zona tengah terdapat Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) seluas 60.500 hektar.

    Monas ada loh di Jambi?

    Monas Jambi ini adanya di Kota Baru, disini juga jadi tempat nongkrong favorite anak-anak Jambi. pokoknya kalo malem, tempat ini berubah, dari tempat perkantoran menjadi tempat nongkrong anak muda. disini kalian juga bakal nemuin warung bandrek dengan musik yang kenceng-kenceng banget. asik pokoknya! x)

    itu dia sebagian tempat wisata yang paling kece di Kota Jambi. sebenarnya ada beberapa lagi sih yang keren. tapi itu aja yg mau gue bahas. dateng aja ke Jambi makanya :p
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger