Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label PROVINSI JAMBI. Show all posts
    Showing posts with label PROVINSI JAMBI. Show all posts

    Desa Megalitikum di Muak Kerinci – Jambi

    Desa Megalitikum di Muak Kerinci – Jambi. Situs peninggalan zaman megalitikum yang terletak di Desa Muak, Kabupaten Kerinci – Jambi hingga kini kondisinya sangat memprihatinkan, dan Pemkab Kerinci nampaknya belum memiliki perhatian serius untuk memelihara situs purbakala yang sangat berguna bagi pengungkapan kebudayaan pra-sejarah yang ada di daerah itu.

    Megalithikum merupakan suatu istilah kebudayaan batu besar (Mega = besar; Lithos = batu). Kebudayaan Megalithikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolithikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi.

    Beberapa peradaban megalithik yang dapat kita jumpai di Muak ini antara lain; Situs Batu Patah, Situs Batu Berrelief, Situs Batu Gong yang kesemuanya itu terletak dalam kawasan permukiman warga.

    Situs Batu Berrelief

    Batu Berrelief atau lebih dikenal dengan Batu berlukis ini berada tepat disebelah Kantor Kepala Desa Muak yang berada tepat ditengah-tengah permukiman warga desa. Situs ini terlihat kurang sekali perawatan sehingga dikhawatirkan akan mengalami kerusakan. Di lain hal, desa yang kaya akan sumber daya alam dan peninggalan pra sejarah ini kondisinya tidak sebaik desa-desa lain yang kita jumpai di Kab. Kerinci. Hal ini dilihat dari pasokan listrik yang tidak terjangkau sampai ke desa, ketersedian air bersih yang belum diperoleh, serta fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak ada dari Pemkab setempat.

    Di sisi lain, desa ini tergolong ramai dikunjungi oleh pihak luar karena merupakan jalur perlintasan propinsi yang menghubungkan Kab. Kerinci dengan Bangko – Jambi, Jikalau malam tiba, kita akan menjumpai desa yang tak berpenghuni diakibatkan tidak tersedianya pasokan listrik untuk desa. kondisi ini mengakibatkan desa ini rawan dengan tindak kejahatan yang berimbas hilangnya situs peninggalan purbakala. Begitulah yang ku tangkap dari pembicaraanku dengan Kepala Desa dan warga desa ini.

    Perjalanan 4 km dari desa mengantarkanku ke situs peninggalan megalithik berikutnya, Batu Patah, begitulah nama yang tertera ketika aku sampai di depan Situs yang telah dipagari sehingga mirip dengan kuburan para tokoh terdahulu. Sekilas terlihat situs ini seperti batu besar yang sangat panjang, akan tetapi ditengah-tengah batu ini terbelah menjadi dua bahagian sehingga nama Batu Patah pun tak lepas dinobatkan kepada batu ini. di badan batu inipun sangat jelas terlihat ukiran-ukiran yang menyerupai gambar hewan-hewan seperti gajah, kuda, kambing dan juga gambar manusia yang lagi bekerja. Hal ini menandakan bahwa pada zaman itu kehidupan masyarakatnya telah maju dan telah mengenal seni.


    Peninggalan purbakala ini hampir keseluruhannya terletak ditepi jalan besar desa yang ramai karena merupakan jalur lintas propinsi. Batu Patah inipun selain berada di tepi jalan propinsi juga terletak sitengah-tengah ladang masyarakat desa. Sehingga mudah disentuh oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab yang dapat merusak peninggalan prasejarah ini.

    Batu Gong merupakan situs ketiga peninggalan prasejarah yang dapat kita temui dengan menelusuri jalan sejauh 5 km dari Situs Batu Patah, jalan menuju ke Situs inipun tergolong sangat sepi dan setapak dikarenakan situs ini terletak ditengah-tengah ladang milik warga desa yang jauh dari jalan raya. Sehingga untuk menempuhnya kita hanya bisa berjalan kaki.



    Batu yang mirip dengan gong yang besar ini berdiameter ± 1,5 m dengan panjang ± 3 meter. Di Batu ini pun dapat kita temui ukiran-ukiran baik binatang maupun manusia yang hidup pada masa itu.

    Mungkin, kita pernah mendengar kebiasaan masyarakat dahulu yang sering memandikan benda-benda pusaka leluhur dan upacara-upacara sejenisnya. Semua itu merupakan rasa penghormatan yang tak terhingga dan merupakan salah satu upaya dari para penduduk desa untuk mensucikan benda-benda bersejarah dan merupakan bentuk syukur atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Esa sehingga hasil bumi-utamanya padi- dapat dinikmati oleh masyarakat.

    Konon di desa ini juga pernah disinggahi oleh Si Pahit Lidah (Legenda dari Sumatera Selatan) yang ditandai dengan ditemukannya Situs Batu Bertangkup, tapi sayang aku tidak sempat mengabadikan gambarnya karena saat itu matahari sudah mulai terbenam yang disertai dengan gerimis sore yang menyirami ladang-ladang desa ini.

    Sekian dulu petualanganku dari Desa Muak (desa yang kaya akan hasil bumi dan peninggalan sejarah) seakan dibiarkan begitu saja tertinggal dan terpendam bersama situs sejarahnya. Akankah desa ini terus tertinggal karena Pemkab setempat yang hanya haus akan kemewahan pribadinya saja??? Kita tunggu saja…

    Masuk Desa Muak rasanya seperti berwisata atau berada di dalam hidup dan kehidupan masa silam itu sendiri. Inilah warisan peninggalam masa lampau yang patut diketahui dan di jaga oleh kita bersama. Sudah pernah kesana apa belom? Kalau belom, saatnya mencoba untuk berkelana ke jaman tempo doeloe dengan mengunjungi Desa Muak. Tak lengkap jika hanya membaca artikel ini.

    http://obycrownz.wordpress.com/2009/05/18/megalitikum/

    Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

    Bulan ramadhan adalah bulan di mana kaum muslim diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa. Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh ummat muslim, sebab pada bulan ini adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan ke bumi. Selain bulan suci bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan, dan hidayah_Nya, sebagaimana Allah berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS 2:183) 

    “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur" [Al-Baqarah : 185] 

    Beberapa hari lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Kedatangan Ramadhan tahun ini tentu kita sambut dengan penuh kegembiraan sebagaimana bulan-bulan Ramadhan yang terdahulu, karena insya Allah, kesempatan menikmati ibadah Ramadhan kembali kita peroleh. Target utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana yang disebutkan pada ayat diatas adalah semakin mantapnya ketaqwaan kepada Allah Swt. Sebagai wujud dari rasa gembira itulah, Ramadhan tahun ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja tanpa aktivitas yang dapat meningkatkan ketaqwaan diri, keluarga dan masyarakat kita kepada Allah Swt. Maka persiapan-persiapan ke arah itu sudah harus kita lakukan, baik secara pribadi maupun berjama’ah. 

    Ada tradisi yang menarik yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia menjelang memasuki bulan Ramadhan, yaitu ziarah kubur para sesepuh dan keluarga yang telah meninggal dunia. Ziarah kubur biasanya dilakukan satu hari menjelang masuknya bulan Ramadhan. Dengan adanya tradisi ziarah kubur diharapkan bagi keluarga yang masih hidup bisa mendoakan keluarga-keluarga yang sudah meninggal dunia. Tidak hanya itu, ziarah kubur bisa dijadikan sebagai proses refleksi bahwa manusia tidak akan hidup kekal di dunia dan tiba saatnya meninggal dunia (dzikrul maut). 

    Dengan adanya tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan, banyak kalangan yang memanfaatkan momentum ini dijadikan untuk mencari rezeki. Menuai rezeki dari para peziarah merupakan agenda tahunan yang dilakukan dengan cara menjual bunga. Dengan bermodalkan beberapa jenis bunga seperti mawar, melati, kantil, kenanga, asoka, bougenvil dan potongan daun pandan yang ditata di atas sebuah nyiru (untuk membersihkan beras) atau dibungkus plastik/daun pisang, penjaja bunga ini bisa mendapatkan penghasilan dan keuntungan yang sangat lumayan. 

    Selain penjual bunga, pihak lain yang mencoba mencari rezeki diantara peziarah yang datang saat menjelang bulan puasa yaitu pembersih kubur. Bila sudah sampai di tempat perkuburan yang dituju peziarah, secara otomatis, pembersih kuburan dadakan itu langsung membersihkan dedaunan di sekitar makam. Baik menyapui dedaunan di sekitar makam sampai mencabut rumput dan mengelap batu nisan. Bila pekerjaan sudah selesai, secara otomatis peziarah akan memberikan uang tips yang jumlah cukup bervariasi. Para tukang pembersih kubur biasanya terdiri dari tiga sampai empat orang yang bermodalkan sapu lidi dan sabit. 

    Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga dalam menjalankan ibadah puasa diberi kekuatan dan ketabahan. Marhaban ya Ramadhan.

    Cerita Legenda Jambi Orang kayo Hitam

    Cerita rakyat dari Jambi – adalah salah satu dari sekian banyak cerita rakyat nusantara yang menjadi legenda hingga ke saat ini. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang terjadinya daerah wilayah Jambi. Oleh karena itu cerita rakyat ini menjadi cerita rakyat ini termasuk cerita turun temurun bagi masyarakat Jambi.


    Orang Kayo JambiTuanku Ahmad Salim dari Gujarat berlabuh di Selat Berhala, Jambi. Kemudian Ahmad Salim mendirikan pemerintahan baru yang dipimpinnya berdasarkan ajaran islam, beliau bergelar Datuk Paduko Berhalo. Istrinya adalah seorang putri Minangkabau yang bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka di karuniai 4 orang anak. Tiga diantaranya telahpun menjadi datuk di wilayah sekitar Kuala. Hanya si bungsu yang belum menjadi datuk, dia bernama Orang Kayo Hitam. 

    Orang Kayo Hitam ingin memperluas wilayah kekuasaan ayahnya sampai ke pedalaman agar keluarga mereka bisa menjadi penguasa di seluruh wilayah manapun. Untuk mendukung cita-citanya itu, Orang Kayo Hitam melakukan perjalanan dengan menggunakan sampai menuju ke arah hulu sungai. Di tengah perjalanan Orang Kayo Hitam menemukan sehelai rambut yang melilit dahan pohon. Rambut itu panjang, hitam dan berkilat menandakan pemiliknya adalah seorang gadis yang cantik jelita. Orang Kayo Hitam bermaksud ingin mencari pemilik rambut tersebut dan akan menjadikannya sebagai istrinya. Kemudian berjalanlah Orang Kayo Hitam menyusuri wilayah sekitar tempat itu sambil berharap menemukan si pemilik rambut tersebut.

    Dalam perjalanan yang panjang itu akhirnya Orang Kayo Hitam sampai di sebuah wilayah yang di sebut Temenggung Merah Mato. Di namai Temenggung Merah Mato sebab penguasa daerah itu di panggil sesuai dengan nama daerah wilayah kekuasaannya. Temenggung Merah Mato memiliki seorang putri yang bernama Putri Mayang Mangurai. Putri ini sangat cantik dan memiliki rambut yang sangat indah. Ternyata rambut yang dijumpai oleh Orang Kayo Hitam adalah rambut milik Putri Mayang Mangurai. Kemudian Orang Kayo Hitampun menyampaikan maksudnya untuk mempersunting Putri Mayang Mangurai menjadi istrinya. Namun ternyata putri itu mengajukan syarat kepada Orang Kayo Hitam. Putri meminta Orang Kayo Hitam untuk mengalahkan pengawal pribadinya.

    Setelah melewati pertempuran yang menguras tenaga, Orang Kayo Hitam dapat mengalahkan pengawal pribadi Putri Mayang. Sebagai hadiahnya Orang Kayo Hitam minta segera dinikahkan oleh sang putri. Tapi ternyata putri kembali mengajukan beberapa syarat lagi. Orang Kayo Hitam memutuskan untuk pergi ke Pulau Jawa guna memenuhi semua syarat yang diajukan sang putri. Setelah menemui berbagai kesulitan, keempat permintaan Putri Mayang Mangurai dapat dipenuhi oleh Orang Kayo Hitam. Putri merasa senang sekali karena ternyata calon suaminya adalah orang yang memiliki tekad yang kuat dan tidak pantang menyerah.

    Atas ijin ayahnya, menikahlah Putri Mayang Mangurai dengan Orang Kayo Hitam. Sebagai hadiah pernikahan pasangan pengantin ini diberikan sebuah sampan yang benama Kajang Lako dan sepasang angsa putih yang cantik. Sang ayah kemudian berpesan kepada mereka berdua agar pergi berlayar di temani dua angsa tersebut. Temenggung Merah Mato berpesan agar mereka berlayar ke wilayah Sungai Batanghari dan apabila dua angsa tersebut berhenti disuatu wilayah hingga dua hari, maka di tempat itulah mereka akan tinggal. Setelah menyusuri Sungai Batanghari, kedua angsa itu berhenti dan menginap. 

    Maka di situlah sepasang pengantin ini hidup dan beranak pinak. Orang Kayo Hitam melihat di sekitar Sungai Batanghari itu banyak sekali di tumbuhi pohon pinang. Oleh karena itu Orang Kayo Hitam menamai daerah itu dengan nama Jambi dan kemudian menjadi pusat pemerintahan. Dalam bahasa jawa Pinang di sebut jambe. Orang Kayo Hitam mendirikan kerajaan yang secara turun temurun di kerajaan di jambi di kuasai oleh anak-anak Orang Kayo Hitam.

    Orang Kayo sebagai Cerita rakyat dari Jambi ini mengisahkan tentang sejarah berdiri daerah Jambi yang dikenal sebagai daerah Angso Duo (Dua Angsa). Cerita turun temurun ini terus diingat oleh penduduk Jambi hingga sekarang.

    Cerita Legenda Jambi Putri Pinang Masak

    Pada zaman dahulu, di belakang Dusun Pasir Mayang, ada sebuah kerajaan yang bernama Limbungan. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu Putri Reno Pinang Masak. Putri ini terkenal dengan kecantikannya yang menawan hati. Tak mengherankan banyak raja dan putra raja yang menghendaki mempersuntingnya. Namun tak seorang pun raja atau putra raja yang meminang yang diterimanya. Semua pinangan ditolaknya.

    Disamping cantik, putrid ini terkenal pula berbudi luhur, arif serta bijaksana. Kebijaksanaannya dipuji-puji oleh rakyatnya. Ia adil dan jujur, rakyatnya yang miskin mendapat jaminan hidup dalam hal makan dan minum. Yang kaya, diberi luang dan kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya. Golongan rakyatnya yang kaya ini kelak harus pula menjamin kelangsungan hidup bagi yang miskin. Dengan demikian terdapat suasana yang harmonis antara sesame anggota masyarakat negeri Limbungan.


    Dalam menjalankan pemerintahannya, sang ratu dibantu oleh tiga orang huluibalang yang baginda percayai. Hulubalang yang pertama bernama Datuk Raja penghulu, terkenal sebagai orang arif dan bijaksana yang kedua bernama Datuk Dengar Kitab, seorang hulubalang yang mempunyai keistimewaan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang akan dating melalui sebuah kitab yang dimilikinya. Hulubalang yang ketiga ialah datuk Mangun, bertugas sebagai panglima perang kerajaan.

    Kecantikan Putri Reno Pinang terdengar pula sampai ke telinga raja Jawa. Lama-kelamaan raja negeri Jawa lalu mengirim utusan untuk melamar sang putri. Ternyata lamaran tersebut ditolak oleh Putri Reno Pinang Masak. Raja Jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak dengan tegas. Timbuillah kemudian tekad raja Jawa untuk bersumpah bagaimanapun akan mengambil Putri Reno Pinang Masak dengan cara kekerasan.

    Putri Retno Pinang Masak tidak takut sama sekali akan ancaman raja negeri Jawa yang telah mabuk kepayang itu. Bahkan baginda ratu sangat gemas dan geram. Baginda memandang gelagat raja Jawa tadi sebagai yang akan merusak kedaulatan negertinya. Oleh sebab itu baginda memanggil ketiga hulubalang serta mengumpulkan rakyat negerinya. Bersama-sama dicarilah bagaimana cara untuk raja jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan. Mencari jalan yang sebaik-baiknya melalui pemikiran, musyawarah dan mufakat. Akhirnya didapatkan suatu cara yang telah disepakati bersama dalam perundingan tersebut. Negeri diberi berparit. Di samping itu harus dipagar pula dengan bambu berduri. 

    Bambu yang dahan dan rantingnya harus berduri. Maka dicarilah tumbuhan tersebut. Setelah dapat maka segera ditanam berlapis-lapis, sebagai pagar negeri untuk menghalangi supaya tentara Jawa jangan masuk. Pagar inilah nanti sebgagai benteng pertahanan. Negeri Limbungan sudah dilingkupi dengan pagar bamboo berduri. Untuk keluar masuk hanya ada sebuah gerbang. Di pintu masuk, ini telah menunggu Datuk. Mangun beserta anak buahnya.

    Raja Jawa beserta tentaranya datang jalan satu-satunya untuk memasuki Limbungan adalah sebuah gerbang yang dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya. Ke sanalah raja Jawa mengarahkan serangan. Terjadilah pertempuran yuang sengit. Ternyata tentara Jawa tak kuasa sedikit pun menembus pertahanan Datuk Mangun yang didapingi oleh prajurit-prajurit serta rakyat negeri Limbungan yang tangguh. Tentara Jawa perkasa mundur dengan menderita korban besar.

    Melihat tentaranya gagal memasuki Limbungan dan menderita kekalahan besar, raja Jawa memanggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya. Maka diadakan perundingan dicari akal melalui pikiran orang banyak. Maka dapatlah suatu akal tipu muslihat. Dikumpulkan semua uang ringgit logam. Uang logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan ke setiap rumpun bambu yang berlapis-lapis tadi. Ditembakkan berulang-ulang, sepuas-puas hati tentara Jawa, sehingga uang ringgit logam itu beronggokan di celah pohon bamboo berduri tersebut. Kemudian raja Jawa beserta tentaranya pun pergilah kembali.

    Dalam pada itu ada seorang penduduk negeri Limbungan tidak disengaja, bersua dengan onggok-onggokan uang ringgit logam itu sepanjang edaran pagar bamboo negeri. Melihat uang logam itu sangat banyak terniat di hatinya untuk memberitahukan hal tersebut kepada baginda ratu. Lalu diambilnya sebuah untuk diperlihatkan kepada sang ratu di istana.

    Dimana engkau dapat ringgit logam itu, Datuk?” Tanya baginda ratu penuh keheranan.

    “Di rumpun-rumpun bamboo benteng pertahanan kita. Tuanku!” jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap. “Bertimbun banyaknya.”

    “Baiklah!” kata sang ratu pula. “Aku yakin Datuk tidak berbohong. Mari kita lihat!”

    Benar saja! Ratu menemukan uang ringgit logam bertumpukan di sela-sela rumpun bamboo. Maka setelah dirundingkan dengan semua orang diputuskan untuk mengambil semua uang logam tersebut. Untuk memudahkan pengambilannya, pohon-pohon bamboo itu pun ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke istana. Pada saat itu pula ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke Istana. Pada saat itu pula raja Jawa bersama tentaranya datang menyerbu dengan tiba-tiba. Karena benteng pertahanan tak ada lagi pasukan negeri Jawa dengan mudah masuk negeri Limbungan. Tentara beserta rakyat Limbungan tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu.

    Putri Retno Pinang Masak sadar akan kesalahannya. Ia sangat menyesal akan kealpaannya. Dengan rasa masygul diam-diam pergilah baginda seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya.

    Ternyata kemudian tahu jugalah rakyat bahwa ratunya sudah tidak ada lagi di istana. Negeri Limbungan menjadi gempar. Berusahalah rakyat mencari kemana mana. Ada yang mencari ke hulu, ada yang ke hilir, ada pula yang mencari ke darat dank e baruh (pinggir sungai). Bahkan ada yang mencari sampai ke tepi laut. Namun ratu mereka tak kunjung bersua.

    Akan halnya ketiga hulubalangnya, Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, serta Datuk Mangun bermufakat ketika itu untuk bersama-sama mencari ratu Putri Reno Pinang Masak. Mereka masuk hutan keluar hutan. Bila bertemu dengan seseorang mereka tak jemu bertanya. Namun yang dicari tak kunjung bertemu. Maka mereka lanjutkan pula perjalanan. Lurah diturun, bukit di daki. Semak-semak disinggahi kalau-kalau ada putrid Reno Pianang Masak, atau mayatnya. Ketiga hulubalang itu bertekad berpantang berbalik, pulang sebelum yang di cari bersua hidup atau mati. Kalau perlu nyawa mereka sebagai taruhannya.

    Sementara itu seorang petani desa Tenaku sedang berada di rumahnya. Ia baru saja selesai bekerja menyiangi rumput hari baru tengah hari, petani itu akan beristirahat ke pondoknya. Menjelang ia sampai ke pondoknya ia sangat terkejut, di mukanya di udara yang cerah dilihatnya melayang-layang sepotong upih pinang. Kemudian upih tersebut jatuh tak berada jauh dari tempatnya berdiri. Ia sangat heran mengapa ada upih pinang di humanya. Kalau itu upih pinang yang ada di desanya, taklah mungkin sejauh itu, diterbangkan angina. Dalam keheranan, petani itu bergegas menuju ke tempat upih jatuh tadi. Sesampai di sana ia sangat terkejut. Dilihatnya sesosok tubuh wanita cantik tergeletak memucat yang dilihatnya itu tak dikenalnya. Ia cukup hapal semua penduduk desanya. Apalagi orang yang sudah dewasa seperti yang dilihatnya. Di baliknya sebentar. Memang wajah yang tak dikenalnya sama sekali. Maka diputuskannyalah untuk memberitahukan penduduk desanya.

    Ternyata semua penduduk desa Tenaku sama dengan petani tersebut tak juga mengenal siapa gerangan orang yang meninggal secar aneh itu. Semua yang hadir menjadi gempar. Mereka saling berpandangan dan bertanya satu sama lain. Di saat demikian maka dipanggil seorang dukun.

    Dukun telah datang. Ia segera membakart kemenyan. Setelah itu dibacanya jampi-jampi ramalan. Dalam waktu yang singkat dapatlah diketahuinya siapa gerangan mayat yang berbaring di huma itu.

    “Jenazah yang kita temui ini “Katanya mengabarkan kepada orang banyak yang mengelilinginya. “Jenazah yang melayang jatuh dari udara bagaikan upih pinang ini adalah jenazah Tuan Putri Reno Pinang Masak raja negeri Limbungan!”

    Mendengar ramalan dukun tersebut semua orang yang hadir sangat terkejut. Suara bergumam berdengung bagai suara lebah terbang. Wajah-wajah yang keheranan segera berubah menjadi suram dan sedih. Terbayang kepada orang banyak itu betapa sengsaranya tuan baginda ratu negeri pada saat-saat terakhir hidupnya.

    Pada saat itu juga diambil keputusan untuk memakamkan sang putrid di huma di desa Tenaku itu. Sang ratu dimakamkan secara sederhana tanpa disaksikan rakyatnya. Rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap rakyat dan negerinya sudah berakhir. Sampai sekarang makam di desa Tenaku tersebut dinamakan “Makam Upih Jatuh”.

    Lama-kelamaan ketiga hulubalang yakni Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, dan Datuk Mangun sampai pula ke tempat Putri Reno Pinang Masak dimakamkan. Setelah mereka ketahui bahwa itu adalah makam baginda ratu Puteri Reno Pinang Masak, tiba-tiba saja mereka jatuh pingsan dan terus meninggal. Ketiga hulubalang itu dimakamkan pula di sana di samping makam Puteri Reno Pinang Masak. Sampai sekarang makam keempat orang tersebut masiha dan dikeramatkan orang pula.

    Sejarah Provinsi Jambi

    Propinsi Jambi. Sebuah wilayah yang sejak dulu telah menjadi pusat Melayu di pulau Sumatra. Tujuannya tiada lain hanya untuk kembali membangkitkan nilai nasionalisme dan kepercayaan diri bangsa ini, dengan mengenang dan mengambil nilai-nilai luhur yang pernah mereka wariskan.

    1. Pendahuluan

    Di Swarnadwipa (pulau emas) atau Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901 M). Kesultanan ini memang tidak berhubungan secara langsung dengan dua kerajaan Hindu-Buddha pra-Islam. Sekitar abad ke 6 – awal 7 M, berdiri Kerajaan Melayu (Melayu Tua) yang terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Catatan Dinasti Tang mengatakan bahwa awal abad ke 7 M dan lagi pada abad ke 9 M, Jambi mengirim duta/utusan ke Empayar China (Wang Gungwu 1958; 74). Kerajaan ini bersaing dengan Sri Wijaya untuk menjadi pusat perdagangan.

    Letak Malayu yang lebih dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga perlu menyerang Malayu yang akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya. Muaro Jambi, sebuah kompleks percandian di hilir Jambi mungkin dulu bekas pusat belajar agama Buddha sebagaimana catatan dari pendeta China I-Tsing yang berlayar dari India pada tahun 671 M. Ia belajar di Sri Wijaya selama 4 tahun dan kembali pada tahun 689 Masehi bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang ziarah Buddha. Saat itulah ia menuulis bahwa Kerajaan Malayu kini telah menjadi bagian dari Sri Wijaya.

    Setelah Sri Wijaya mulai pudar di abad ke 11 Masehi, ibu negeri dipindahkan ke Jambi (Wolters 1970: 2). Inilah Kerajaan Melayu (Melayu Muda) atau Dhamasraya yang berdiri di Muara Jambi. Sebagai sebuah bandar yang besar, Jambi juga menghasilkan berbagai rempah-rempahan dan kayu-kayuan. Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka membeli kapas, kain dan pedang. Dari Cina, sutera dan benang emas, sebagai bahan baku kain tenun songket (Hirt & Rockhill 1964; 60-2). Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singosari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singosari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung (pedalaman Minang atau Suruaso) dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347 M. Kemudian di abad ke 15, Islam mulai menyebar di Nusantara.

    2. Kesultanan Jambi

    “Tanah Pilih Pesako Betuah”. Seloka ini tertulis di lambang Kota Jambi. Dimana menurut orang tua-tua pemangku adat Melayu Jambi, kononnya Tuanku Ahmad Salim dari Gujarat (India) berlabuh di selat Berhala, Jambi dan mengislamkan orang-orang Melayu disana. Beliau bernama lengkap Syeikh Ahmad Salim bin Syeikh Sultan Al-Ariffin Sayyid Ismail. Beliau masih keturunan dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.

    Di tempat baru ini, ia membangun pemerintahan baru dengan dasar Islam, bergelar Datuk Paduko Berhalo dan menikahi seorang putri dari Minangkabau bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka dikurniakan empat orang anak, kesemuanya menjadi datuk wilayah sekitar kuala tersebut. Adapun putra bungsu yang bergelar Orang Kayo Hitam berniat untuk meluaskan wilayah hingga ke pedalaman, jika ada tuah, membangun sebuah kerajaan baru. Maka ia lalu menikahi anak dari Temenggung Merah Mato bernama Putri Mayang Mangurai. Oleh Temenggung Merah Mato, anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako. Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan agar menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru itu dan bahwa tempat yang akan dipilih sebagai tapak kerajaan baru nanti haruslah tempat dimana sepasang angsa bawaan tadi mau naik ke tebing dan mupur (berdiam) di tempat tersebut selama dua hari dua malam.

    Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua angsa naik ke darat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya, maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut “Tanah Pilih”, dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.

    3. Asal Nama “Jambi”

    ‘Jambi’ berasal dari kata ‘Jambe’ dalam bahasa Jawa yang berarti ‘Pinang’. Kemungkinan besar saat Tanah Pilih dijadikan tapak pembangunan kerajaan yang baru, pepohonan pinang banyak tumbuh disepanjang aliran sungai Batanghari, sehingga nama itu yang dipilih oleh Orang Kayo Hitam.

    Namun dari penjelasan di atas, ada versi lain yang menyebutkan bahwa kata Jambi itu justru berasal dari bahasa Arab yang di tulis dalam tulisan Arab (huruf Hijaiyah) dengan makna sahabat akrab. Demikian info dari teman bloger saya yang bernama Ridcho:

    “Berpedoman pada buku sejarah De Oudste Geschiedenis van de Archipel bahwa Kerajaan Melayu Jambi dari abad ke 7 s.d. abad ke 13 merupakan bandar atau pelabuhan dagang yang ramai. Disini berlabuh kapal-kapal dari berbagai bangsa, seperti: Portugis, India, Mesir, Cina, Arab, dan Eropa lainnya. Berkenaan dengan itu, sebuah legenda yang ditulis oleh Chaniago menceritakan bahwa sebelum Kerajaan Melayu jatuh ke dalam pengaruh Hindu, seorang puteri Melayu bernama Puteri Dewani berlayar bersama suaminya dengan kapal niaga Mesir ke Arab, dan tidak kembali. Pada waktu lain, seorang putri Melayu lain bernama Ratna Wali bersama suaminya berlayar ke Negeri Arab, dan dari sana merantau ke Ruhum Jani dengan kapal niaga Arab. Kedua peristiwa dalam legenda itu menunjukkan adanya hubungan antara orang Arab dan Mesir dengan Melayu. Mereka sudah menjalin hubungan komunikasi dan interaksi secara akrab.

    Kondisi tersebut melahirkan interpretasi bahwa nama Jambi bukan tidak mungkin berasal dari ungkapan-ungkapan orang Arab atau Mesir yang berkali-kali ke pelabuhan Melayu ini. Orang Arab atau Mesir memberikan julukan kepada rakyat Melayu pada masa itu sebagai ”Jambi”, ditulis dengan aksara Arab yang secara harfiah berarti ’sisi’ atau ’samping’, secara kinayah (figuratif) bermakna ’tetangga’ atau ’sahabat akrab’.”

    Demikianlah pendapat yang kedua, dengan alasan jika memang dulunya Orang Kayo Hitam menyebut pinang dengan kata jambe seharusnya putri pinang masak itu namanya Putri Jambe Masak. Jadi menurut saya (pendapat teman bloger saya yang bernama M.Isa. Ansyori) kata jambi itu bukannlah diambil dari bahasa Jawa, mengingat hingga sekarang masyarakat Jambi dari dulu tetap menyebut pinang dengan istilah pinang, tidak pernah menyebutnya dengan kata jambe, kecuali orang Jawa yang sudah tinggal di Jambi yang menyebutnya dengan kata jambe.
     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger