Headlines News :
SELAMAT DATANG DI BLOG PARIWISATA JAMBI

    Mengenal Jambi

    Search This Blog

    Translate

    Showing posts with label Kebiasaan Masyarakat. Show all posts
    Showing posts with label Kebiasaan Masyarakat. Show all posts

    Nikmatnya Teh Kayu Aro di Kaki Gunung Kerinci




    Belum banyak diketahui bahwa salah satu teh hitam terbaik dunia berasal dari dataran tinggi di Provinsi Jambi

    Teh, siapa yang tak kenal? Ini merupakan salah satu jenis minuman paling digemari hampir sebagian besar penduduk dunia. Tradisi minum teh dapat ditemukan hampir di berbagai belahan negara mana pun. Di Jepang ada tradisi minum teh sebagai bentuk penghormatan dari tuan rumah kepada tamunya.

    Di Eropa, ada istilah tea time yaitu waktu khusus untuk menikmati teh. Di Cina, teh pastinya juga sudah mengakar kuat sejak berabad lamanya. Sementara di Indonesia, minum teh bukan lagi sekadar tradisi tetapi telah menjadi kebiasaan sehari-hari.

    Dalam hal produksi teh, Indonesia Barangkali belum banyak diketahui bahwa rupanya salah satu teh hitam terbaik dunia berasal dari Nusantara, tepatnya dari dataran tinggi di Provinsi Jambi, yaitu dari kawasan Gunung Kerinci. Di sanalah membentang Perkebunan Teh Kayu Aro yang kenikmatan dari tegukannya sebanding dengan lansekap alam yang tersaji. Perkebunan teh tersebut lokasinya berada di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

    Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, merupakan perkebunan teh tertua di Tanah Air, karena sudah ada semenjak masa penjajahan kolonial Hindia Belanda tahun 1925. Kedua, perkebunan ini merupakan yang terluas dan tertinggi kedua di dunia setelah Perkebunan Teh Darjeeling yang ada di India. Perkebunan Teh Kayu Aro memiliki luas sekira 2,500 hektar dan berada di ketinggian 1.600 m dpl. Ketiga, teh yang ditanam di Perkebunan Teh Kayu Aro adalah teh ortodox atau yang lebih dikenal dengan nama teh hitam yang merupakan teh berkualitas tinggi.

    Proses pengelolaan daun teh di Perkebunan Teh Kayu Aro hingga kini masih menggunakan cara konvensional. Serbuk-serbuk teh tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan pewarna tambahan. Bahkan, untuk menjaga kualitas teh hitam terbaik, pekerja dilarang untuk menggunakan kosmetik ketika mengolah teh. Cita rasa dan aroma teh ortodox yang dihasilkan di perkebunan ini berkualitas di dunia, jadi tidak heran jika teh kayu aro menjadi teh kegemaran Ratu Inggris dan Ratu Belanda pada masanya.

    Perkebunan Teh Kayu Aro didirikan oleh Perusahaan Belanda bernama Namlodee Venotchaat Handle Verininging Amsterdam sejak 1925. Tahun 1959, melalui PP No. 19 Tahun 1959 perkebunan ini diambil alih Pemerintah Republik Indonesia pengawasan dan pengelolaannya dilakukan oleh PT. Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI). PTPN VI hingga kini yang melakukan perawatan, pemeliharaan tanaman, pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, sampai pengemasan dan pengeksporan ke berbagai negara.

    Setiap tahunnya, Perkebunan Teh Kayu Aro bisa menghasilkan 5.500 ton teh hitam. Teh artodox grade satu (teh unggulan) ini diekspor ke Eropa, Rusia, Timur Tengah, Amerika Serikat, Asia Tengah, Pakistan, dan Asia Tenggara.

    Nah, selain dapat menikmati hamparan kebun teh yang amat luas, kita dapat pula mengunjungi pabriknya. Tentu dengan ijin dari pihak terkait.

    Karet pertanian masyarakat Jambi



    Lebih dari seratus tahun tanaman karet jenis hevea milik rakyat menopang perekonomian Jambi. Cikal bakal perkebunan ini bermula dari tren tanaman serupa di Malaka. Elsbeth Locher-Scholten (2008) yang meneliti catatan-catatan kolonial pada permulaan abad 19 menuliskan, benih tanaman ini awalnya diselundupkan dari Brasil ke Malaka pada 1890, dan kemudian diimpor oleh para pedagang Cina ke Sumatera (Jambi) dan Kalimantan. Karena kondisi ekologi dan struktur tanah Jambi yang baik dan subur, maka tanaman ini dapat tumbuh dengan mudah di mana saja.

    Namun oleh sebab tabiat masyarakat Jambi yang tidak terlalu suka repot (untuk tidak mengatakan sebagai pemalas), awalnya tanaman ini dibiarkan hidup liar di pinggiran hutan, dan sebagian lagi berkembang secara serampangan di antara komoditas lain, seperti padi dan kopi. Sehingga pengusaha-pengusaha Barat maupun petani pribumi abai memperhatikan potensi ini.

    Barulah setelah tanaman jenis hevea brasiliensis (the para rubber tree) ini memiliki prospek yang cerah di pasar dunia, Residen Jambi, Helfrich, sekitar tahun 1910-1912 menganjurkan budidaya tanaman ini secara massal, dan mendistribusikan benih-benih unggulan kepada rakyat. Pada 1918, tanaman ini telah menjadi primadona baru bagi orang Jambi. Mereka mulai mengalihkan sawah dan ladang menjadi perkebunan karet, bahkan kemudian menerapkan pertanian dengan sistem monokulltur, yakni hanya dengan menanam karet saja. Namun dalam laporan-laporan kolonial disebutkan, sebenarnya pada 1904 perkebunan karet di Jambi telah marak dilakukan secara sporadis oleh warga pribumi dan pendatang Cina.

    Masa kejayaan produksi karet di Jambi terjadi pada 1920 hingga 1925 dan 1937. Di tahun-tahun itu akumulasi pendapatan dari penjualan getah mencapai angka 46 juta gulden. Sebuah angka yang sangat menakjubkan kala itu. Dan tak pernah terulang lagi di tahun-tahun berikutnya, seiring berfluktuasinya harga jual komoditas ini di pasar dunia akibat resesi ekonomi yang terjadi pada 1930 hingga 1940-an.

    Produksi yang melimpah dan harga jual yang tinggi pada saat itu telah menjadikan rakyat Jambi makmur secara ekonomi. Zaman itu kemudian disebut sebagai “zaman koepon”. Sebuah situasi yang merujuk pada maraknya penjualan kupon-kupon panen karet milik pribumi yang dikeluarkan Belanda, guna mengatur produksi dan distribusi karet yang berlimpah itu.

    Dampak Perekonomian Bagi Rakyat Jambi

    Dalam sebuah literatur klasik tentang rakyat Jambi disebutkan, saking makmur dan kayanya rakyat Jambi kala itu—karena sebagian besar memiliki satu atau lebih perkebunan karet yang luas—mereka tidak tahu lagi untuk apa uang yang dimiliki.Menurut sahibul hikayat yang boleh dipercaya boleh tidak, sebagian orang menggunakan uang sebagai kertas pelinting tembakau dan menjadikannya rokok. . Namun sebagian lainnya membuat rumah, dan pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

    Buya Hamka dalam novel terkenalnya Di Bawah Lindungan Ka’bah yang diterbitkan pertama kali tahun 1938, menuliskan situasi orang-orang yang berangkat haji dan kaitannya dengan naiknya harga dan produksi karet di Jambi pada tahun itu. Tulisan ini, meski merupakan sebuah karya fiksi, namun dengan terang telah merekam dan menyiarkannya kepada dunia tentang situasi ekonomi yang membaik di Jambi, akibat produksi karet yang melimpah di wilayah Pesisir Timur Sumatera dan sepanjang aliran Batanghari kala itu, sehingga menjadikan masyarakatnya hidup berkecukupan.

    Sebagai dampak dari perkembangan ekonomi, selera seni masyarakat di Jambi juga mengalami pertumbuhan dan kemajuan. Jafar Rassuh, seniman dan budayawan yang juga menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Jambi dalam Ragam Hias Daerah Jambi (2008) menuliskan, zaman koepon telah membuat sense of art masyarakat Jambi berkembang secara signifikan. Hal itu terbukti dengan semaraknya ragam seni hias dalam kehidupan masyarakat Jambi.

    Perkembangan dan kemajuan itu terlihat bukan saja dari beragamnya motif pada pakaian (batik Jambi), tapi juga terlihat dari ukiran-ukiran kayu yang terdapat pada rumah-rumah masyarakat. Kini pun jika jeli, kita masih dapat melihat sisa-sisa ragam hias (ornamen) yang terdapat di rumah-rumah atau masjid tua yang dibangun pada tahun-tahun itu. Ukiran pada kayu yang biasanya diletakkan di pagar, tangga dan atap rumah itu dibuat, didatangkan dan dibeli dengan harga yang mahal. Semakin banyak, indah dan unik ukiran-ukiran itu, semakin menunjukkan status sosial yang tinggi dalam masyarakat. Dan jelas merupakan lambang kemakmuran suatu keluarga dalam masyarakat Jambi.

    Namun, hasil karet rakyat Jambi tidak hanya menopang perekonomian lokal, tapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perjuangan kemerdekaan Republik ini. Meski Usman Meng dalam bukunya Napak Tilas Provinsi Jambi (2006) tidak dengan rinci menjelaskan riwayat bantuan uang tunai sebesar 380 dollar Singapura, yang diberikan oleh para pejuang rakyat Jambi kepada pemerintah pusat pada awal-awal kemerdekaan dulu, namun dapat diduga, uang itu bersumber dari kekayaan para pejuang dan rakyat dari hasil penjualan getah di Jambi. Hal ini sangat memungkinkan, sebab sebagian besar rakyat Jambi saat itu menikmati berkah atas melimpahnya produksi dan tingginya harga karet, sehingga tidak mustahil mereka mampu menyetorkan bantuan dalam jumlah besar tersebut.

    Dalam buku Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial; Hubungan Jambi-Batavia (1830- 1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda, Elsbeth Locher-Scholten menuliskan, meski kualitas karet Jambi tidak terlalu istimewa, namun hasil produksi kala itu berada di deretan terdepan produsen karet di Hindia Timur, mengalahan daerah-daerah seperti Kalimantan dan Palembang, serta daerah-daerah lain di Pesisir Timur Sumatera.

    Hebatnya, ratusan ribu hektare perkebunan karet Jambi kala itu bukan milik pengusaha Eropa atau Belanda (VOC), tapi murni milik rakyat Jambi. Perkebunan tersebut tersebar di Kota Jambi kini, Batanghari, Muara Jambi, Muara Tembesi, Tebo dan daerah-daerah lainnya. Sehingga orang Jambi saat itu tidak mengenal kelas buruh atau kelas pekerja. Sebab tanaman karet milik rakyat itu terbagi-bagi ke dalam perkebunan-perkebunan besar dan kecil milik perseorangan (keluarga) yang digarap secara kolektif kekeluargaan. Dan diduga, situasi inilah (kemakmuran) yang membuat gerakan-gerakan kaum sosialis komunis yang sedang marak di daerah lain—pemberontakan kaum komunis di Silungkang Sumatera Barat terjadi pada 1927—tidak mampu menanamkan faham-fahamnya kepada rakyat Jambi.

    Kalaupun ada perkebunan yang dikerjakan secara upahan dan dalam skala sedang, biasanya milik tuan-tuan tanah (tauke getah) keturunan Cina, seperti Tjoa The Hokdan Tan Kim Yang. Tuan tanah yang terakhir ini dikenal sebagai pemilik Onderneming Sungai Beluru atau Onderneming Kemenyan—plesetan dari nama Tan Kim Yang oleh lidah pribumi—di kawasan Jerambah Bolong, Kabupaten Muaro Jambi kini . Para pekerja di perkebunan karet itu biasanya adalah buruh yang didatangkan dari Jawa dan Sulawesi. Nyaris waktu itu tidak ada pribumi Jambi yang menjadi kuli sadap apalagi kuli angkut getah ke gudang-gudang asap (gudang penyimpanan getah karet).

    Terdepak Sebagai Produsen Karet Terbesar dI Hindia Timur

    Cerita karet di Jambi tidak melulu tentang kesenangan atau kemakmuran belaka. Dalam suatu masa, seiring dengan gejolak harga dan resesi ekonomi yang terjadi di pasar dunia, para petani karet di Jambi sempat pula mengalami masa-masa getir. Situasi ini menjadi semakin sulit pada saat harga karet jatuh drastis pada 1930-an.

    Keadaan kemudian berbalik runyam. Masyarakat Jambi yang telah terbiasa menerapkan pertanian dengan sistem monokultur harus menanggung akibat naiknya harga komoditas lain seperti padi dan kopi. Karena bahan pokok itu harus didatangkan dari daerah-daerah lain. Tidak ada yang dapat mereka lakukan pada saat itu, selain harus membeli bahan pangan dengan harga tinggi, sambil terus berdoa agar harga karet kembali naik.

    Harga karet kembali merangkak naik pada 1937-an. Total penjualan dari produksi karet Jambi pada saat itu mencapai angka 21 juta gulden. Namun gejolak pasar akibat meletusnya perang di belahan dunia lain membuat harga karet mengalami fluktuasi. Anomali harga komoditas ini pelak memengaruhi kehidupan masyarakat hingga tahun 1941-an. Di tahun-tahun itu, Jambi sebagai produsen karet terbesar di Hindia Timur perlahan-lahan terdepak oleh Palembang dan daerah-daerah lain di Sumatera dan Kalimantan.

    Demikianlah, selain produksinya yang melimpah, kejayaan zaman koepon di Jambi juga menyisakan segelintir cerita konyol. Seorang Belanda, P.J van der Meulen dalam Memorie van Overgave (1932) mengatakan, selain menciptakan golongan elite baru dalam masyarakat, zaman koepon ini juga melahirkan para pecundang.

    Menurutnya, sebagian kecil para petani memanfaatkan tingginya harga jual karet di pasaran dengan melakukan praktik-praktik ilegal. Getah basah yang baru saja disadap dicampur dengan pasir, potongan-potongan besi, sol sepatu bekas, bahkan monyet matipun dicampurkan guna menambah berat karet pada saat ditimbang.

    Dalam catatan yang sarat dengan semangat orientalis itu juga dikatakan, karena satu-satunya transportasi untuk mengangkut karet pada saat itu adalah sungai, maka 46 persen karet yang dijual mengandung air. Sehingga karet produksi Jambi di Singapura reputasinya menjadi buruk.

    Namun bagaimanapun reputasinya, karet Jambi telah terlanjur menguasai ekspor komoditas dari wilayah lain, dan berhasil melakukan penetrasi pasar yang berdampak pada kemakmuran rakyat secara umum. Bahkan ekspor karet Jambi ke pasar dunia menguasai sekitar 90 persen ekspor sumber daya alam dari wilayah lain. Kondisi yang belum pernah terjadi lagi sesudahnya, bahkan hingga kini—di tahun 2011 ini—seiring dengan maraknya perkebunan-perkebunan sawit partikelir. Perkebunan swasta yang berjumlah puluhan bahkan ratusan ribu hektare milik segelintir pengusaha yang telah menggantikan tanaman karet milik rakyat.

    Sebuah ironi dari perubahan zaman kolonial menuju kapitalisasi pribumi terjadi. Dalam sebuah pemberitaan di Jambi Ekspres (2009) disebutkan, hingga Desember 2008 lalu, sedikitnya 41 ribu dari total 217. 935 penduduk Jambi di Kabupaten Batanghari yang nota bene pada zamannya termasuk basis perkebunan karet rakyat, hidup di bawah garis kemiskinan. Program replanting (peremajaan) karet seluas 151.830 hektare, dinilai gagal oleh banyak pihak.

    Pada Desember 2010 lalu Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi juga merilis fakta mengejutkan, angka pengangguran di provinsi ini telah mencapai 83.278 orang. Jika kondisi tersebut dianggap suatu kebangkrutan, maka ini adalah tragedi peradaban yang sangat menyesakkan dada, mengingat kejayaan rakyat Jambi di masa lalu sangat berbanding terbalik dengan kondisinya kini.

    Spirit Zaman Koepon

    Namun demikianlah, pasar dan lalu lintas barangnya adalah sesuatu yang tak terduga. Pada Desember 2011, Badan Pusat Statistik Jambi seperti dikutip Kantor Berita ANTARA pada 12/12/2011 kembali merilis data yang menggembirakan sekaligus mencengangkan. Disebutkan, karet sebagai salah satu komoditas industri di Provinsi Jambi masih menjadi penyumbang terbesar nilai ekspor Jambi ke beberapa negara tujuan. Selama periode Januari - Oktober 2011 persentase ekspor karet olahan dari Jambi mencapai 50,40 persen atau sebesar 1. 003,68 juta dolar AS, mengungguli ekspor komoditas industri lainnya di Jambi.

    Pertanyaannya, apakah data dan angka-angka yang menakjubkan itu semuanya berasal dari perkebunan karet rakyat? Atau hanya berasal dari perkebunan-perkebunan swasta milik segelintir pengusaha yang telah mengkapling-kapling tanah rakat, dan lantas menjadikan orang Jambi hanya sebagai kuli-kulinya saja? Mengingat sebagian besar lahan-lahan perkebunan rakyat kini telah banyak disulap menjadi ladang-ladang karet dan sawit partikelir. Jika memang benar maka ini adalah malapetaka, dan jelas merupakan kegagalan pemerintah yang paling fatal dalam mensejahterakan rakyat dari tanah dan sumber mata pencarian mereka sendiri.

    Jika tidak, maka bersyukurlah. Artinya, momentum zaman koepon era 20 hingga 1930-an layak dijadikan spirit bagi pemerintah maupun masyarakat Jambi, untuk meraih kembali kejayaan produksi karet dari perkebunan rakyat. Kemudian menggalang semangat ekonomi lokal yang berbasis pertanian dengan menciptakan kesadaran historis perlu pula ditanamkan dalam jiwa masyarakat Jambi.
    Karet untuk kesejahteraan rakyat Jambi dengan demikian dapat dimanifestasikan melalui semangat “kembali ke zaman koepon”, guna meraih zaman keemasan bagi masyarakat dan Pemerintah Provinsi Jambi. sehingga memiliki posisi tawar dan diperhitungkan secara luas dalam kancah nasional maupun internasional.

    Durian Kumpeh Muaro Jambi yang terkenal

    Perubahan iklim tak hanya menimbulkan bencana alam dan anomali cuaca. Perekonomian rakyat pun terimbas. Contohnya, ribuan pohon durian dan duku selama dua tahun terakhir ini mengalami masa paceklik.

    Menyusuri sepanjang Jalan Kumpeh-Suak Kandis, Muaro Jambi, Jambi, kita tidak lagi menyaksikan gegap gempita masyarakat menyambut panen durian dan duku. Sepanjang jalan itu lengang.

    Tak ada lagi pedagang durian dan duku di tepi jalan yang menjajakan hasil panen mereka dengan harga sangat murah. Pondok-pondok bambu yang dibangun warga di tengah kebun untuk menantikan jatuhnya buah durian dari pohon pun kosong. Ke manakah mereka semua?

    ”Musim ini tidak ada apa-apa. Kosong. Pohon-pohon tidak berbuah,” ujar Subari, pengelola kebun durian di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Muaro Jambi.

    Menurut Subari, sudah dua tahun terakhir kebun durian di wilayah itu tidak menghasilkan. ”Tahun lalu, memang ada sedikit hasil panen. Tapi, rasa buahnya tidak manis, sebagaimana buah durian asal Kumpeh yang dikenal selama ini: buahnya tebal, rasanya manis sedikit pahit, dan aromanya sangat wangi,” paparnya.

    Hal itu, lanjut Subari, disebabkan proses pembuahan yang diselimuti musim penghujan. ”Kalau selama proses pemasakan di pohon turun hujan, hasilnya kurang maksimal,” tambah Subari.

    Antusias

    Sejak tahun 1992, Subari mengelola dua hektar kebun durian dan duku milik saudaranya. Pada tahun-tahun lalu, panen selalu disambut antusias menjelang akhir tahun hingga awal tahun berikutnya. Para pedagang besar mendatangi petani untuk ”mengontrak” buah di pohon yang tengah panen.

    Dari lahan seluas itu, sekitar 100 pohon duku dan 50 pohon durian biasanya bisa dipanen buahnya. Meski demikian, kata Subari, khusus duku, yang seluruh buahnya dijual hanya yang berasal dari 22 batang. ”Harga jualnya Rp 1,2 juta per pohon,” ujarnya.

    ”Durian dijual satuan, dengan harga beragam, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per buah,” tambah Subari, seraya menjelaskan, satu batang durian bisa menghasilkan 400 hingga 500 buah.

    Dengan demikian, setiap musim buah, Subari bisa memperoleh minimal Rp 100 juta dari hasil panennya. ”Sebagian lagi (durian dan duku) dinikmati dan dibagi-bagikan untuk keluarga besar,” katanya.

    Mengenai minimnya panen sekarang ini, Subari menceritakan, sebenarnya dua bulan lalu pohon-pohon durian dan duku sudah mulai berbunga. Tapi, curah hujan tinggi sehingga bunga-bunga tersebut tidak menghasilkan buah. Itulah sebabnya, petani tak dapat memanen apa pun di kebun mereka.

    Pemasok terbesar

    Kecamatan Kumpeh Ulu merupakan pemasok terbesar durian dan duku asal Jambi. Hampir setiap penduduk setempat memiliki jenis buah ini secara turun-temurun. Pada musim buah, harga durian di tingkat pedagang bisa hanya Rp 3.000- Rp 5.000 per buah.

    Namun, kali ini, dengan ukuran buah yang sama besarnya, harga satu buah durian Rp 12.000-Rp 15.000. Harga jual duku pun begitu, yang dulunya hanya Rp 3.500, kini mencapai Rp 15.000 per kilogram.

    Prapto, pedagang buah di kawasan Talang Banjar, Jambi, mengatakan, sangat sulit mendapatkan buah durian dan duku di kebun warga. Ia harus berkendara sejauh 60 kilometer dari Kumpeh Ulu menuju Kumpeh Ilir untuk membeli durian langsung dari petani. ”Kalau di Kumpeh Ilir, masih ada sebagian kebun yang berbuah karena di sana tidak banyak hujan,” ujarnya.

    Terkait masalah perubahan iklim ini, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jambi, Armandelis, mengimbau agar masyarakat jangan terlalu menggantungkan perekonomian pada komoditas yang hasilnya dipetik secara tahunan. ”Masyarakat perlu menyisihkan sebagian lahannya untuk tanaman pangan, supaya tetap memperoleh penghasilan di saat durian dan duku tak berbuah,” katanya.

    Pasar beduk menjadi tradisi bulan Ramadhan

    Di Jambi setiap bulan Ramadhan tiba akan muncul Pasar Beduk. Bagi kami bulan Ramadhan terasa kurang lengkap tanpa adanya Pasar Beduk. Pasar kagetan ini buka dari sore hingga menjelang buka puasa tiba ketika beduk digebuk. 

    Dari siang hari para pedagang mulai mengelar dagangannya di kios yang telah disewa seharga Rp 200-500 ribu.

    Meski harus membayar tapi para pedagang mengaku mereka tidak akan rugi karena di bulan ini pembeli akan melonjak.

    Pasar ini selalu ramai dikunjungi warga Jambi yang ingin membeli makanan untuk buka puasa dan persiapan makan sahur. Berbagai macam makanan dan minuman di jual di sini. 

    Dari makanan ringan hingga lauk pauk. Beberapa pedagang juga menjual makanan khas Jambi seperti tempoyak ikan patin, tepe yang berbahan dasar ikan, kue padamaran, pempek, kolak kolang kaling dan lain-lain.

    Dulu Pasar Beduk hanya ada di Pasar Jambi tapi 4 tahun belakangan ini Pasar Beduk sudah menyebar ke berbagai sudut di kota Jambi bahkan tidak hanya di kota kini sudah ada di kabupaten lainnya juga. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemacetan yang tertumpu pada satu titik.

    Pasar Beduk merupakan peluang rezeki bagi masyarakat di sekitarnya karena tak dipungkiri pendapatan mereka di bulan ini akan drastis naik.

    Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah, khususnya bagi pedagang kecil seperti mereka.

    Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

    Bulan ramadhan adalah bulan di mana kaum muslim diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa. Bulan ramadhan adalah salah satu bulan yang dimuliakan oleh ummat muslim, sebab pada bulan ini adalah bulan di mana Al-Qur’an diturunkan ke bumi. Selain bulan suci bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan, dan hidayah_Nya, sebagaimana Allah berfirman:

    “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS 2:183) 

    “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur" [Al-Baqarah : 185] 

    Beberapa hari lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Kedatangan Ramadhan tahun ini tentu kita sambut dengan penuh kegembiraan sebagaimana bulan-bulan Ramadhan yang terdahulu, karena insya Allah, kesempatan menikmati ibadah Ramadhan kembali kita peroleh. Target utama dari ibadah Ramadhan sebagaimana yang disebutkan pada ayat diatas adalah semakin mantapnya ketaqwaan kepada Allah Swt. Sebagai wujud dari rasa gembira itulah, Ramadhan tahun ini tidak boleh kita lewatkan begitu saja tanpa aktivitas yang dapat meningkatkan ketaqwaan diri, keluarga dan masyarakat kita kepada Allah Swt. Maka persiapan-persiapan ke arah itu sudah harus kita lakukan, baik secara pribadi maupun berjama’ah. 

    Ada tradisi yang menarik yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia menjelang memasuki bulan Ramadhan, yaitu ziarah kubur para sesepuh dan keluarga yang telah meninggal dunia. Ziarah kubur biasanya dilakukan satu hari menjelang masuknya bulan Ramadhan. Dengan adanya tradisi ziarah kubur diharapkan bagi keluarga yang masih hidup bisa mendoakan keluarga-keluarga yang sudah meninggal dunia. Tidak hanya itu, ziarah kubur bisa dijadikan sebagai proses refleksi bahwa manusia tidak akan hidup kekal di dunia dan tiba saatnya meninggal dunia (dzikrul maut). 

    Dengan adanya tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan, banyak kalangan yang memanfaatkan momentum ini dijadikan untuk mencari rezeki. Menuai rezeki dari para peziarah merupakan agenda tahunan yang dilakukan dengan cara menjual bunga. Dengan bermodalkan beberapa jenis bunga seperti mawar, melati, kantil, kenanga, asoka, bougenvil dan potongan daun pandan yang ditata di atas sebuah nyiru (untuk membersihkan beras) atau dibungkus plastik/daun pisang, penjaja bunga ini bisa mendapatkan penghasilan dan keuntungan yang sangat lumayan. 

    Selain penjual bunga, pihak lain yang mencoba mencari rezeki diantara peziarah yang datang saat menjelang bulan puasa yaitu pembersih kubur. Bila sudah sampai di tempat perkuburan yang dituju peziarah, secara otomatis, pembersih kuburan dadakan itu langsung membersihkan dedaunan di sekitar makam. Baik menyapui dedaunan di sekitar makam sampai mencabut rumput dan mengelap batu nisan. Bila pekerjaan sudah selesai, secara otomatis peziarah akan memberikan uang tips yang jumlah cukup bervariasi. Para tukang pembersih kubur biasanya terdiri dari tiga sampai empat orang yang bermodalkan sapu lidi dan sabit. 

    Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga dalam menjalankan ibadah puasa diberi kekuatan dan ketabahan. Marhaban ya Ramadhan.

    Bajago sahur (Tradisi membangunkan orang sahur bulan Ramadhan di Jambi)

    Nyaris setiap daerah memiliki cara unik menjalankan ibadah puasa. Di Jambi, masyarakat setempat memiliki tradisi membangun warga untuk menyantap sahur yang disebut bajago sahur. Begitu juga yang dilakukan sekelompok pemuda di Kelurahan Simpang Tiga Sipin, Jambi, baru-baru ini.

    Kegiatan ini ditandai dengan pemukulan bedug yang diusung sejumlah pemuda dengan menggunakan becak. Untuk memperindah alunan nada, tak jarang mereka menepuk rebana. Sementara para pemuda lain berteriak melagukan sahuuuur, sahuuur, untuk membangunkan warga. Aktivitas ini dilakukan dengan berkeliling kampung dan biasanya dimulai sekitar pukul 01.30 hingga pukul 02.30 WIB.

    Dahulu, tradisi bajago sahur dapat ditemui hampir di setiap desa di Kota Jambi. Tapi, kini, tradisi yang dinilai cukup efektif membangunkan warga bersantap sahur ini sudah terbilang langka. Pasalnya, para pemuda yang menyempatkan diri untuk tidur di langgar atau masjid kian sedikit. Saat ini, kegiatan bajago sahur paling minim digelar sekali dalam sepekan. Itu pun di wilayah-wilayah tertentu seperti yang dilakukan sejumlah pemuda di Kelurahan Simpang Tiga Sipin Jambi tersebut.

    Mata Pencarian Masyarakat Jambi

    Mata Pencarian Masyarakat Jamb. Hubungan manusia dengan lingkungan yang mereka tempati memiliki ikatan yang kuat dan saling mempengaruhi. Demikian juga dengan kondisi alam dan masyarakat yang hidup di Desa Muara Jambi. Wilayah Desa Muara Jambi yang dibelah oleh aliran sungai Batanghari merupakan sumber daya alam yang sangat kuat mempengaruhi kehidupan masyarakat.

    Selain hamparan dataran rendah yang subur akibat kiriman Lumpur banjir sungai Batanghari. Sumber daya lainnya yang dianugerahikan sungai Batanghari kepada masyarakat desa adalah kandungan ikan. Sumber daya ini menjadi slah satu sumber mata pencaharian penduduk desa. Dengan mengunakan peralatan menangkap ikan, seperti : tajur, pancing, jala dan lukah. Kegiatan menangkap ikan dilakukan masyarakat pada waktu malam hari. Mata pancaharian lainnya yang masih berhubungan dengan mata pencaharian adalah pelayanan jasa transportasi. Sebelum adanya sarana jalan darat daerah ini, satu-satunya sarana transportasi yang biasa diman faatkan untuk bisa mencapai daerah ini adalah dengan mengunakan jasa transportasi sungai. Jasa ini menjadi primadona dan mencapai kejayaannya sebelum hadirnya sarana jalan dan mulai banyak masyarakat yang memiliki kendaraan sepeda motor.

    Sekarang jasa ini digunakan sebagai sarana penyeberangan dan digunakan untuk sarana transportasi wisata air, baik di daerah aliran sungai yang ada di Desa Muara Jambi maupun membawa pengunjung yang ingin menuju Desa Muara Jambi dengan menelusuri sungai Batanghari. Terkait dengan sarana penyeberangan yang ada di Desa Muara Jambi, lokasi daerah penyeberangan ini oleh masyarakat setempet disebut dengan nama pelayangan. Keberadaan sarana penyeberangan ini merupakan badan usaha milik desa yang dikelolah secara sarana penyeberangan ini. Setiap tahun di Desa Muara Jambi dilaksanakan kegiatan lelang pengelola sarana penyeberangan ini.

    Sebelumnya pada pelaksanaan lelang ini hanya diikuti oleh masyarakat yang memiliki modal/dana. Namun dalam kurun waktu dua tahun terakhir, cara ini dirubah menjadi lelang yang bisa diikuti oleh seluruh masyarakat Desa Muara Jambi meskipun lelang memiliki dana untuk memberikan kesempatan pada masyarakat agar memilki kesempatan yang sama untuk dampak social dan memberikan peluang bagi masyarakat desa yang tergolong berada dibawah garis kemiskinan. Jika pada saat acara lelang yang diselenggarakan setiap tahunnya mereka mendapatkan keberuntungan untuk mengelola jasa penyeberangan ini. Kesempatan ini merupakan peluang bagi mereka untuk memperbaiki taraf kehidupan meraka kearah yang lebih baik. Diperkirakan pengelola jasa penyeberangan ini bisa mendapatkan hasil kotor sebesar 3 juta setiap bulannya setelah dikurangi setoran yang harus mereka bayar ke kas desa.

    Sistem mata pencaharian utama penduduk Desa Muara Jambi yang utama adalah dari kegiatan pertanian, baik berupa padi lading maupun perkebunan seperti : Duren, Duku, Cokelat, Karet, Sawit dll. Pada saat musim behumo , selain menunggui kebun meraka yang sedang berbuah (duren,duku). Biasanya pada saat mereka juga melakukan aktifitas menanam jenis tanaman kultikultura, seperti : tomat, cabe dll.

    Selain mendapatkan penghasilan dari hasil penjualan panen buah duren dan duku. Masyarakat juga memilki sumber mata pencaharian tambahan dari pemanfaatan kebun yang ada disekitar perkarangan rumah. Biasanya disekitar perkarangan rumah ini mereka tanami pohon pisang dan tanaman apotik.

    Sumber: Draf Nominasi Daftar World Heritage, UNESCO - Situs Percandian Muarajambi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2009)

    Organisasi Masyarakat Jambi



    Kelembagaan dan Organisasi Masyarakat


    Dalam menjalani kehidupan masyarakat Muara Jambi masih menjalankan nilai-nilai tradisi yang mereka warisi dari generasi ke generasi dan dipertahankan hingga sekarang. Meski saat ini penduduk Muara Jambi tidak hanya dari keturunan Muara Maro Sebo, tetapi juga telah banyak hidup para pendatang yang berasal dari Jawa, Minang, Batak, Kerinci, Palembang. Interaksi dan hubungan social antara masyarakat asli dengan pendatang telah terjalin dengan harmonis. Wujud dari integrasi ini dapat dilihat dari kehidupan keseharian maupun dari kegiatan-kegiatan bersama yang mereka laksanakan. Ada beberapa bentuk kelembagaan dan organisasi social yang berjalan dalam kehidupan masyarakat Muara Jambi, antara lain:

    Pelarian

    Pelarian adalah sebuah kegiatan kerja sama antar beberapa orang yang bersepakat untuk melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama, pekerjaan tersebut akan dilaksanakan secara bergiliran bagi setiap anggota yang ikut serta. Umumnya kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan pelarian adalah untuk mempermudah pekerjaan yang membutuhkan tenaga yang banyak, seperti : mendirikan rumah, menanam benih padi di ladang. Misalnya kelompok pelarian RT.1 anggotanya berjumlah 5 orang, mereka bersepakat akan melakukan pekerjaan menanam padi di ladang yang mereka miliki. Kemudian mereka menyepakati bahwa pekerjaan menanam padi tersebut akan dilaksanakan dalam waktu 5 hari. Dalam kurun waktu 5 hari ini kebun mereka akan dikerjakan secara bergantian.

    Kegiatan pelarian pada umumnya dikenal dan dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat Melayu. Di kelompok masyarakat Melayu yang lain, istilah pelarian dikenal juga dengan sebutan kegiatan arian. Pada umumnya nilai-nilai yang melandasi kegiatan pelarian didasari oleh rasa tolong-menolong antar anggota kelompok dalam memudahkan kegiatan/pekerjaan. Dalam konteks kegiatan ini, ada terjadi perbedaan system pelarian yang berlaku di Muara Jambi dengan daerah lainnya. Dalam system pelarian di Muara Jambi mengenal system upah yang diberikan pada anggota yang bekerja sebagai uang ganti hari. Sementara di dearah-daerah di jambi, upah sebagai uang ganti hari tidak diberikan tetapi diganti dengan menyediakan makan dan minum.

    Beselang

    Beselang pada hakikatnya hampir sama dengan pelarian, kegiatan ini dilaksanakan juga untuk melakukan suatu pekerjaan secara bersam-sama, pekerjaan tersebut akan dilaksanakan secara bergiliran bagi setiap anggota yang ikut serta. Perbedaan antara dua bentuk kelembagaan ini adalah ; pada kegiatan beselang lebih banyak dilakukan untuk kegiatan upacara-upacara seperti perkawinan dan lain-lain. Pada umumnya hampir seluruh penduduk desa ikut dalam kegiatan ini, sementara pelarian hanya terbatas pada beberapa orang saja.

    Biasanya keluarga yang memiliki hajatan akan mengundang para penduduk desa untuk membantu pelaksanaan kegiatan hajatan yang akan dilakukan. Mulai dari kegiatan masak-masak dan kebutuhan lainnya yang terkait dalam upacara yang akan dilaksanakan. Keterlibatan seseorang pada kegiatan beselang untuk mempersiapkan upacara ini akan dibalas pada saat dia nantinya melaksanakan upacara/hajatan (perkawinan).

    Pada prinsipnya pada kegiatan pelarian dan beselang ini berlaku prinsip tolong-menolong. Azas timbal balik mutualisme berlaku pada kegiatan ini, dimana pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini akan mendapatkan keuntungan jika sama-sama telah mendapatkan bantuan dari anggota pelarian/beselang maka ia harus melakukan hal yang sama pada saat kegiatan itu dilakukan di tempat anggota yang lain. Jika seorang individu tidak dapat hadir maka disini telah terjadi kecurangan. Ketidak hadiran atau tidak dapatnya seorang anggota pelarian/beselang datang pada kegiatan itu dilakukan ditempat anggota yang lain, tidak dapat diganti dengan uang atau bentuk barang lainnya. Dalam kegiatan ini prinsip reciprositas atau hubungan timbal balik diutamakan.

    Yasinan

    Kelompok yasinan merupakan bentuk kelembagaan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan pengajian. Kegiatan ini dilaksanakan seminggu sekali, tepatnya pada malam jum’at. Kegiatan pengajian ini dilaksanakan secara bergantian dirumah-rumah penduduk. Kelompok yasinan yang ada umumnya hanya melingkupi warga yang berada dalam satu wilayah RT yang sama. Pada saat sekarang kelompok yasinan di setiap RT aktif dan punya kegiatan sendiri.

    Berjuluk dan Bertandang

    Adat dari tradisi yang ada di Desa Muara Jambi pada dasarnya memiliki kesamaan dengan kelompok masyarakat melayu lainnya yang ada di Propinsi Jambi. Beberapa tradisi dan adat yang pernah berlaku dan menjadi pedoman kehidupan masyarakat melayu masih diwarisi dan dipertahankan hingga sekarang. Namun ada juga beberapa tradisi dan adat yang ada, saat sekarang tidak ditemukan lagi ditengah kehidupan masyarakat. Hal ini tentunya disebabkan oleh beberapa hal yang terjadi seiring dengan perkembangan zaman. Tradisi yang pernah ada dan tidak dilaksanakan lagi antara lain tradisi bejuluk dan betandang.

    Pada dasarnya tradisi bejuluk dan betandang ini adalah sama, yaitu merupakan kebiasaan cara beremu seorang pemuda dengan seorang gadis. Perbedaan tradisi betandang, pertemuan antara pemuda dengan seorang si gadis dilakukan secara terbuka dimana pertemuan ini diketahui oleh orang tua si gadis. Kebiasaan dalam trdisi betandang ini dilaksanakan setelah isya. Pertemuan ini ada yang dilaksanakan di halaman rumah dan ada juga di ruang tamu.

    Sementara dalam tradisi bejuluk pertemuan yang dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi agar tidak terlihat dan diketahui orang lain. Pertemuan antara pemuda dan si gadis ini tidak berlangsung secara tatap muka, dalam artian si gadis tetap berada di dalam rumah (kamarnya) sementara si pemuda berada di luar rumah (dibawah rumah). Pertemuan dalam tradisi ini juga dilaksanakan setelah isya tetapi lebih banyak dilakukan setelah orang pada mulai tidur. Pada saat-saatini pemuda mendatangi rumah gadis pujaannya. Si pemuda harus tahu di mana kamar si gadis agar nantinya tidak salah sasaran. Pada sore harinya, si pemuda terlebih dahulu memberi tahu si gadis bahwa dia akan datang nanti malam. Pada saat pertemuan sore itu si pemuda memberitahukan juga tanda apa yang akan digunakan bahwa yang memanggil itu adalah si pemuda. Tanda yang sering digunakan adalah berupa suara/bunyi menyerupai binatang, siulan atau jenis bunyi lainya. Tanda ini menjadi hal yang sangat penting, karena dengan tanda berupa bunyi tertentu si gadis dapat mengetahui bahwa yang datang adalah pemuda yang dinantikannya, bukan pemuda lain yang juga menaruh perhatian pada dirinya.

    Jika seorang pemuda telah beberapa kali mendatangi rumah seorang gadis dengan tradisi bejuluk. Orang tua yang telah mengetahui hal ini bahwa anak laki-lakinya suka dengan si gadis. Biasanya orang tua si pemuda akan datang bertamu ke rumah si gadis untuk bertanya pada orang tua si gadis. Setelah cara ini dilaksanakan, jika si gadis belum dipinang orang lain. Pertemuan tersebut akan dilanjutkan dengan pertemuan selanjutnya yang pembicarannya membahas pertunangan dan pernikahan kedua anak mereka.

    Hajran

    Hajran adalah kesenian tradisional masyarakat Muara Jambi berupa permainan alat musik menyerupai rebana yang mengiringi alunan syair shlawat dan doa kepada nabi Muhammad yang dilantunkan secara bersama-sama. Permainan hajran biasanya dimainkan pada saat adanya upacara pernikahan. Hajran dimanikan pada malam hari sebelum mempelai laki-laki esok harinya akan melangsungkan pernikahan. Kesenian hajran ini dalam upacara pernikahan masyarakat di Muara Jambi hanya boleh ditampilkan/dimainkan di rumah mempelai laki-laki. Untuk kesenian yang sama dan bisa ditampilkan di rumah keluarga perempuan adalah kesenian Rebana Siam.

    Berodeh merupakan waktu istirahat para pemain Hajran yang berlangsung dalam durasi beberapa menit yang memisahkan babak permainan Hajran. Semakin lama permainan Hajran dilakukan maka tingkatan berodeh pun semakin banyak. Pada waktu istirahat ini para pemain memulihkan tenaga sembari disuguhi minuman dan makanan sebelum melanjutkan permainan berikutnya. Jika permainan hajran yang dilaksanakan hingga subuh biasanya dari tingkatan berodeh yang pertama hingga terakhir, sajian minuman dan makanan yang disuguhkan berbeda antara tingkatan berodeh dengan tingkatan berikutnya.

    Pada masa sekarang kegiatan hajran yang dilaksanakan hingga pagi dini hari (subuh) sudah sangat jarang dilakukan. Sudah langkahnya kegiatan ini dilaksanakan hingga subuh dikarenakan masalah biaya pelaksanaan. Butuh biaya yang tidak sedikit untuk bisa melaksanakan acara ini hingga sampai tamat. Dana yang paling besar dikeluarkan untuk kegiatan ini adalah untuk biaya makanan, besarnya dana untuk makanan ini disebabkan oleh makanan yang disajikan harus berbeda antara tingkatan-tingkatan berodeh. Makanan yang disediakan pada acara hajran untuk stiep kali berodeh, disajikan bukan hanya untuk para pemain hajran, tetapi juga disuguhkan untuk para penonton yang hadir.

    Untuk memepertahankan tradisi yang telah diwarisi agar tidak punah. Kegiatan pertunjukan hajran tetap dilestarikan dan dilaksanakan setiap kali ada upacara perkawinan. Umumnya masyarakat yang telah berniat mengundang permainan Rebana Siam dan hajran hanya melaksanakan dalam satu kali berodeh saja.

    Rebana Siam

    Rebana Siam merupakan kesenian tradisional masyarakat Muara Jambi yang hampir mirip dengan hajran. Rebana siam dimainkan untuk mengiringi alunan syair shalawat dan doa kepada Muhammad. Perbedaan antara Rebana siam dan hajran ini terletak pada jenis alat yang digunakan.

    Di Muara Jambi kesenian ini juga dimainkan pada saat pengantin pria diantar pergi menikah kerumah calon istrinya. Pada saat pengantin pria mulai berjalan meninggalkan rumah hingga sampai ditempat tujuan. Disepanjang perjalanan kesenian ini dimainkan secara terus-menerus. Rombongan pengantar pengantin ini berjalan secara parade yang dibagi atas tiga kelompok. Kelompok pertama adalah rombongan penari yang terdiri atas pemuda-pamuda yang berjalan didepan seakan-akan membuka jalan bagi rombongan.

    Kelompok yang kedua adalah kelompok pemain hajran dan terakhir adalah kelompok atau rombongan pengantin dan keluarga serta pengantar lainnya yang ikut serta.



    Sumber: Draf Nominasi Daftar World Heritage, UNESCO - Situs Percandian Muarajambi (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, 2009)

     
    Support : Creating Blog | SEPRIANO | PARIWISATA JAMBI
    Copyright © 2016. PARIWISATA JAMBI - All Rights Reserved
    Template Created by Blogger Published by Blogger
    Proudly powered by Blogger